Kata Mereka, Aku Pelakor

Kata Mereka, Aku Pelakor
Dedemit


__ADS_3

Siang itu, Evelyn mendatangi perusahaan milik sang mertua. Sengaja Evelyn datang lebih awal. Wanita itu takut jika Ivander dan Qeiza mengelabuinya. Evelyn sangat yakin, jika Ivander akan mengajak Qeiza makan siang bersama sang mertua— Andreas Bratajaya.


Rencananya, Evelyn akan memaksa Ivander, agar dirinya juga ikut dalam acara makan siang bersama itu. Wanita itu paham, mengapa Andreas tak ingin dirinya ikut serta. Pria lanjut usia itu memang sangat membencinya. Pun dengan dirinya. Evelyn sangat membenci Andreas.


Tapi, Evelyn tak akan membiarkan dirinya menjadi orang yang tak dianggap di klan Bratajaya. Dirinya adalah istri pertama dari Ivander Bratajaya. Harusnya, dia yang mendampingi Ivander ke manapun. Dia tidak rela jika Qeiza yang mendapatkan posisi itu.


Dengan menebar senyuman kepada seluruh staff perusahaan, Evelyn berjalan dengan anggun menuju ruang kantor Ivander dan Qeiza.


“Ivan, mana?” tanya Evelyn begitu berada di ruangan yang sama dengan Qeiza.


“Loh, bukannya Mas Ivan sudah memberitahukan kepada Mba Ev, jika Mas Ivan siang ini akan makan bersama Papi dan Ivon,” jelas Qeiza. Wanita itu pun memersilakan Evelyn duduk di sofa.


“Kamu kok tidak diajak?”


Sembari tersenyum Qeiza menggelengkan kepalanya. “Mungkin ada hal penting yang akan disampaikan Papi kepada kedua anaknya, Mba,” jelas Qeiza.


“Kamu percaya kalau Ivan sedang makan siang dengan Papi dan Ivon. Bisa saja dia makan siang bersama wanita lain, Qei. Bagaimana kalau itu terjadi?”


Evelyn kembali memprovokasi wanita itu. Dia ingin Qeiza menaruh rasa curiga pada Ivander dan juga Andreas. Tapi, tentu saja Qeiza tak terprovokasi. Wanita itu percaya pada sang suami.


“Tidak mungkin lah, Mba. Saya percaya kepada Mas Ivan.”


Evelyn menarik salah satu sudut bibirnya. Wanita itu tersenyum sembari mengejek Qeiza. “Bisa saja, Qei. Buktinya tiba-tiba Ivander menikahi kamu tanpa sepengetahuan saya. Bisa saja dia melakukan hal itu kembali.”


Qeiza terdiam. Wanita itu tak tau berkata apa-apa. Perbuatan mereka yang sengaja membiarkan Evelyn tak hadir dalam resepsi pernikahan antara dirinya dengan Ivander, memang salah.


“Ya ... Walaupun aku tau, kalau Ivander melakukannya, pasti karena desakan Pak Tua itu! Dia memang tidak menyukaiku. Itu semua karena aku tidak mau memberinya seorang cucu. Mertuamu itu mengancam Ivan. Makanya Ivan mau menuruti perintah Pak Tua itu!”

__ADS_1


Qeiza sedikit terperangah mendengar ocehan Evelyn. Ada setitik ragu di hati Qeiza saat mendengar kakak madunya itu mengatakan tentang ancaman. Setau Qeiza, Andreas tak pernah memberikan ancaman pada suaminya. Ivander sendiri yang jatuh hati padanya. Walau, kala itu, memang Andreas lah yang meminta sang suami untuk mengenal dirinya lebih dekat.


Benarkah apa yang dikatakan oleh Evelyn? Benarkah Ivander diancam agar mau menikahinya? Ancaman seperti apa yang bisa membuat Ivander mau berpoligami?


Tapi, Qeiza kembali teringat akan ucapan Ivander malam tadi. Evelyn memang pintar memainkan situasi. Sepertinya itulah ucapan sang suami. Walau berusaha untuk tak memercayai ucapan Evelyn, namun apa yang dikatakan oleh wanita itu, sedikit mengganggu pikirannya.


“Bagaimana kehidupan ranjang kalian? Pasti hambar ya? Kalau melihat sikap kamu yang berpura-pura seperti wanita lugu seperti ini, Ivander pasti merasa bosan. Dia itu suka wanita nakal dengan dada montok seperti aku ini,” ucap Evelyn sembari membusungkan dadanya.


“Maksudnya berpura-pura lugu, apa ya Mba?” tanya Qeiza. Wanita itu merasa sedikit tersinggung dengan apa yang diucapkan oleh Evelyn. Kakak madunya itu seolah mengatakan jika dirinya adalah wanita munafik.


“Sudahlah Qei. Di sini tidak ada siapapun selain kita berdua. Jadi, kamu tidak perlu memakai topeng di depanku. Aku tau kalau kamu itu wanita licik.”


“Maaf Mba. Saya tidak mengerti maksud Mba Ev. Saya sama sekali tidak memakai topeng. Saya memang seperti ini, apa adanya,” ucap Qeiza membela diri.


“Apa kamu merasa, kalau kamu itu memang wanita lugu? Iya? Mana ada wanita lugu merampas suami orang! Dasar munafik! Sudahlah, kalau kita hanya berdua, kita blak-blakan saja!”


“Tapi, aku sih bersyukur ya, kalau kamu tetap memakai topeng lugumu itu hingga ke aktivitas ranjang. Biar Ivander merasa jenuh, lalu mencariku. Soalnya Ivander paling suka kalau miliknya masuk ke mulutku. Kemarin saja dia minta aku kulum sampai dua kali,” cebik Evelyn. Wanita itu begitu membanggakan betapa Ivander menggilainya di atas ranjang. Sementara Qeiza hanya mendengarkan dengan mulut sedikit menganga. Wanita itu sama sekali tak pernah melakukan hal itu untuk Ivander. Namun, Qeiza berkali-kali menikmati saat sang suami membenamkan kepala pada bagian sensitifnya itu.


Apa dirinya harus melakukan hal yang sama, sepertinya yang dilakukan Evelyn? Karena Qeiza selalu merasa tak bisa mengimbangi permainan sang suami yang begitu perkasa itu.


“Kalau posisimu lagi di atas, apa Ivan juga suka menggenggam dadamu?” tanya Evelyn sembari tersenyum remeh. Terlebih Qeiza menjawab pertanyaan itu dengan menggelengkan kepala. Evelyn lantas menatap dada Qeiza, “punyamu kecil begitu.”


Evelyn berpura-pura tengah menahan tawanya. Wanita itu begitu bangga dengan asetnya yang penuh dan menantang.


“Maksud saya ... Saya tidak pernah berada di atas Mba,” ucap Qeiza kikuk. Wanita itu sebenarnya tak mau membicarakan masalah ranjang, terlebih dengan kakak madunya. Tapi, tatapan dan mimik Evelyn yang begitu meremehkannya, membuat Qeiza terpaksa membalas ucapan kakak madunya itu. Qeiza juga ingin sekali mengatakan, jika Ivander juga menggilai dadanya walaupun tak terlalu seksi seperti milik Evelyn. Tapi, Qeiza sangat yakin, jika sang suami menyukai tubuhnya.


“Duh ... kasihan sekali. Makanya, jangan berpura-pura lugu! Jadinya kan rugi sendiri. Kalau Ivan, selalu suka saat melihatku bergerak liar di atas tubuhnya. Ivan pasti gemas sekali kalau melihat tubuh seksiku di atas tubuhnya!”

__ADS_1


“Maaf Mba, saya tidak pernah berpura-pura lugu!”


Kali ini Evelyn tak menahan tawanya. Wanita itu tertawa lepas. Namun, dirinya sama sekali tak menggubris ucapan Qeiza. Bagi dirinya, Qeiza tetaplah wanita munafik.


“Kalau begitu, ayo kita makan siang bersama. Kamu diberikan uang saku kan oleh Ivan. Kamu yang traktir!”


“Maaf Mba, saya bawa bekal makanan.”


“Berikan saja sama orang lain. Saya tidak mau tau, kamu harus mentraktir saya makan. Saya ingin makan pasta di restoran Hotel Mulia. Ayo cepat!” perintah Evelyn.


Terpaksa Qeiza menganggukkan kepalanya. Wanita itu terlebih dulu mengetikkan sesuatu pada layar ponselnya. Qeiza meminta izin kepada Ivander untuk pergi makan siang bersama Evelyn di sebuah restoran mewah.


“Ayo cepat. Kita harus jalan bersama. Biar aku menggandengmu. Orang-orang harus melihat keharmonisan kita!”


Lagi, terpaksa Qeiza mengikuti keinginan Evelyn. Wanita itu juga tak ingin kembali jadi bahan gunjingan, jika dirinya terlihat tak akur dengan Evelyn. Mungkin, dengan terlihat akur seperti ini, dengan Evelyn yang merangkul lengannya seperti ini, penilaian buruk seluruh staff akan berubah menjadi baik.


Namun, agaknya hal yang diinginkan oleh Qeiza tak terwujud. Pasalnya, para staff malah melihat dirinya dengan tatapan jijik.


“Bu Evelyn benar-benar berhati malaikat ya.”


“Lihat deh, betapa Bu Evelyn begitu berjiwa besar. Dia mau loh, menggandeng wanita laknat yang sudah merebut suaminya!”


“Terlihat sekali perbedaan antara Bu Evelyn yang seperti bidadari dengan dedemit itu!”


“Memang tak tau diri ya si dedemit itu!”


Dedemit, adalah julukan baru yang disematkan untuk Qeiza, saat itu

__ADS_1


__ADS_2