Kata Mereka, Aku Pelakor

Kata Mereka, Aku Pelakor
Bagian dari rencana


__ADS_3

Siang itu, Ivander menggenggam erat jemari Qeiza. Pria itu menyeret Qeiza setelah berhasil melayangkan sebuah kepalan tangan pada rahang Jeremy. Pria dengan bentuk tubuh atletis itu tersungkur.


Evelyn berlari menghampiri Jeremy, yang kini tengah duduk di lantai sembari mengusap-usap rahangnya yang terkena bogeman mentah dari Ivander.


“Kamu tidak apa-apa Beb?” tanya Evelyn panik. Wanita itu melihat sebuah lebam pada wajah Jeremy.


“Aku minta bayaran lebih, ya Beb. Kamu tidak bilang ada acara pemukulan seperti ini. Coba saja lihat rahangku ini, pasti sudah biru karena ditonjok suaminya si mungil tadi!”


“Kamu tidak perlu khawatir soal bayaran. Memangnya selama ini aku selalu membayar murah? Tidak kan? Dan sepertinya, apa yang aku rencanakan ini, lebih dari berhasil. Ivan sepertinya sangat marah dengan istri mudanya itu. Aku akan bayar dua kali lipat.”


Jeremy tersenyum sumringah. Bayangan pundi-pundi rupiah akan kembali mengisi rekeningnya. Memang tak salah jika dirinya selalu menuruti keinginan Evelyn. Wanita itu tak pernah pelit padanya. Evelyn memang sering memberi bayaran lebih atas jasanya. Asal wanita itu merasa puas dengan kinerjanya, Evelyn tak segan-segan memberikan bayaran dua hingga tiga kali lipat.


Sementara itu, di halaman parkir hotel Qeiza tengah menangis sesenggukan. Sedari tadi Ivander menyeretnya hingga dia setengah berlari mengikuti langkah kaki suaminya itu.


Qeiza benar-benar takut Ivander salah sangka padanya. Wanita itu tak menyangka jika Evelyn bisa menjebaknya seperti itu. Mengajaknya untuk makan siang bersama, lalu mengenalkan seorang pria untuk menggoda dirinya. Qeiza tak menyangka jika Ivander telah mengetahui keberadaannya di restoran hotel, hingga bisa memergokinya seperti itu. Ivander tiba persis saat Jeremy hampir memeluk dirinya dan mengecup pipinya.


Qeiza teringat, jika Ivander juga mengetahui perihal Jeremy yang mengecup punggung tangannya.


Sebenarnya sejak kapan suaminya itu tiba di restoran?


Qeiza terus menangis, hingga mereka tiba di depan mobil pria itu. Ivander membuka pintu mobil dan meminta Qeiza itu segera masuk. Tapi Qeiza bergeming. Wanita itu berdiri sembari menatap Ivander dengan mata memerah dan air mata yang sudah tertumpah sedari tadi.


Ivander tercekat. Pria itu terkejut melihat mata Qeiza begitu merah. Sepertinya, sepanjang jalan tadi, wanita itu terus menangis. Ivander menatap iba pada istri pertamanya itu. Dibawanya Qeiza ke dalam dekapannya.


“Sudah, jangan menangis Sayang.”


Bukannya berhenti, tangisan Qeiza malah semakin kencang. Air mata wanita itu semakin mengucur deras. Tubuh Qeiza bahkan gemetar.


“Aku tidak kenal pria itu, Mas. Mba Ev yang mengenalkan dia di sana. Aku sudah berusaha untuk melepaskan tangannya yang terus meremas jemariku,” jelas Qeiza dengan suara bergetar.


“Aku ingin teriak dan berontak, tapi, tiba-tiba aku teringat peristiwa di Madura. Aku takut sekali, Mas.”


Ivander mengecup puncak kepala sang istri berkali-kali. Pria itu berusaha menenangkan sang istri yang terus gemetar. Trauma karena pelecehan yang pernah dialaminya, perasaan takut jika Ivander akan marah dan membencinya, membuat tubuh Qeiza bergetar hebat.

__ADS_1


“Aku percaya kamu, Sayang. Aku sangat percaya.”


Ungkapan rasa percaya Ivander padanya, membuat Qeiza merasa sedikit tenang. Wanita itu mendongakkan kepalanya, menatap sang suami yang menatapnya dengan lembut.


“Ayo, kita pulang,” ajak Ivander. Qeiza menganggukkan kepalanya dalam dekapan pria itu.


Sepanjang perjalanan, sepasang suami istri itu hanya diam. Ivander tau jika sang istri tengah meras resah. Qeiza pasti masih berpikir dirinya benar-benar marah. Terlebih wanita itu teringat akan peristiwa yang terjadi beberapa bulan lalu. Ivander ingat betul bagaimana tubuh Qeiza bergetar begitu hebat.


Ivander terus menggenggam jemari sang istri sepanjang perjalanan. Pria itu hanya diam, tak mengeluarkan sepatah kata pun. Ivander berharap Qeiza merasa tenang. Berharap wanita itu merasakan bahwa dirinya tak marah sedikit pun, bahwa dirinya benar-benar percaya dengan apa yang dijelaskan oleh Qeiza tadi.


Bukannya tak mau menjelaskan apa yang tengah dilakoninya. Tapi Ivander ingin menjelaskan sikapnya yang tadi, jika kondisi Qeiza sudah tenang, dan mereka tengah dalam suasana santai.


Sesekali Ivander mengecup tangan Qeiza yang ada di genggamannya. Pria itu kembali menunjukkan bahwa dia akan selalu memercayai Qeiza.


“Ayo turun,” ucap Ivander begitu sepasang suami istri itu tiba di kediaman mereka.


Melati terkejut saat mendapati Qeiza dan Ivander pulang lebih awal. Baru pukul 14:00 WIB saat mereka tiba. Bahkan Qiana baru saja beranjak tidur siang.


“Pekerjaan di kantor sudah selesai, Bu. Jadi kita bisa pulang lebih awal,” jawab Ivander kepada anak mertua yang menanyai mereka. Sementara Qeiza hanya diam dan terus melangkah menuju kamar tidur.


Ivander mengganti baju kerjanya. Pria itu bahkan telah membersihkan tubuhnya lebih dulu. Sementara Qeiza, wanita itu sedari tadi tak berpindah posisi. Qeiza masih duduk di tepi ranjang.


“Kamu mandi dulu. Kalau perlu berendam air hangat. Tenangkan pikiranmu. Setelah itu kita bisa ngobrol dengan santai.”


“Qeiza terpaksa menganggukkan kepalanya. Padahal, sebenarnya wanita itu ingin segera menjelaskan kepada Ivander, kejadian yang sebenarnya terjadi di restoran mewah itu.


“Take your time. Rilex Qei. Yang harus kamu ingat, Mas percaya sepenuhnya sama kamu. Sekarang kamu tenangkan pikiran, Mas mau menenangkan cacing-cacing di perut Mas ini. Mas belum sempat makan siang, tadi.”


“Mau aku siapkan makan siang dulu, Mas?”


Ivander tersenyum lembut. Pria itu menghampiri Qeiza dan mengecup puncak kepala wanita itu. “Tidak perlu, Sayang. Ayo, sekarang kamu mandi. Mas sudah siapkan air hangat di bathtub.”


Qeiza mengangguk dan tersenyum kecil. Begitu Ivander keluar dari ruangan itu, Qeiza pun melangkah dengan gontai menuju kamar mandi yang luas itu. Qeiza menatap bathtub yang sudah digenangi oleh air hangat, lengkap dengan lilin aromaterapi yang sudah menyala di sekitarnya.

__ADS_1


Ivander ternyata benar-benar menginginkan wanita itu untuk bersantai, menenangkan diri sembari berendam air hangat.


***


Ivander baru saja selesai menyantap makan siangnya. Pria itu hanya menyantap sedikit menu makan siangnya. Bukan karena dia tak suka dengan makanan yang tersaji, tapi pria itu terus memikirkan Qeiza yang masih terlihat resah.


Sementara Qeiza masih belum keluar dari dalam sana. Pria itu memutuskan untuk membantu sang istri agar lebih merasa rilex.


Dengan perlahan, Ivander membuka pintu kamar mandi yang bahkan tak tertutup rapat. Sepertinya sang istri benar-benar tengah banyak beban pikiran. Wanita itu bahkan lupa untuk menutup pintu kamar mandi.


Ivander menatap Qeiza yang setengah berbaring sembari memejamkan matanya. Ivander berjalan perlahan menghampiri wanita itu. Pria itu lantas memijat pundak sang istri.


Qeiza terkejut saat tiba-tiba ada jemari yang memijat pundaknya. Qeiza menegakkan duduknya dan menoleh.


“Mas, bikin kaget saja!”


Ivander tersenyum lembut. Menatap Qeiza tanpa busana seperti itu, membuat niat Ivander berubah.


Padahal, Ivander berniat untuk memijat pundak Qeiza agar wanita itu merasa bertambah rilex. Tapi, justru pria itu lah yang harus menenangkan bagian tubuhnya yang perlahan mulai menegang.


Detik itu juga, Ivander mencumbu mesra sang istri kemudian melakukan penyatuan di sana.


***


“Ev, sepertinya sering pergi ke klub, untuk menyaksikan pertunjukan penari tanpa busana,” ucap Ivander, saat sepasang suami istri itu sudah bersantai sembari berpelukan di ranjang. Berendam air hangat, sekaligus melakukan ritual intim dengan sang suami, sepertinya membuat Qeiza sudah bisa benar-benar bersantai.


Namun, mendengar penuturan Ivander, wanita itu merasa terkejut. Qeiza bahkan seketika menegakkan tubuhnya.


“Saat Mas membaca pesan yang kamu kirimkan, perasaan Mas sudah resah. Mas takut Ev mengajak kamu ke klub itu.”


Qeiza begitu tekun mendengarkan penjelasan Ivander. Pria itu juga menyeritakan rencana yang akan dilakukannya bersama Andreas, Ivona dan Anggara. Bahkan, menyeret Qeiza seperti tadi adalah bagian dari rencana itu. Mereka membiarkan Evelyn merasa di atas awan.


Ivander ingin mengikuti permainan istri pertamanya itu. Bahkan, dirinya akan berencana untuk tinggal di kediaman gadis itu selama beberapa hari, bahkan mungkin hitungan Minggu. Ivander ingin mengumpulkan banyak bukti.

__ADS_1


“Selama berapa Minggu, Mas? Ini bukan alasan Mas saja kan, agar bisa terus bersama Mba Ev?”


__ADS_2