
Setelah menghabiskan dua malam hanya berdua dengan sang suami, kini Qeiza akan menghabiskan waktu bersama keluarga kecilnya. Hari itu benar-benar membuat Qeiza bahagia.
Pagi itu, Ivander mengajak Qiana dan Sean berenang bersama di kolam renang ekslusif yang ada di hotel tersebut. Hanya keluarga mereka yang menikmati fasilitas itu. Karena kolam renang itu hanya diperuntukkan bagi pelanggan yang memesan kamar presidential suite, yang hanya tersedia satu buah di hotel itu.
“Qia ... Maaf ya, karena Papa hanya bisa mengajak Qia staycation di hotel,” ucap Ivander saat mereka baru saja kembali ke kamar mewah itu, sehabis berenang.
“Tidak apa-apa Papa. Liburan seperti ini juga Qia senang kok. Hotelnya juga keren sekali. Qia suka!” pekik gadis kecil itu. Ivander dan Qeiza tersenyum kecil mendengar ungkapan kegembiraan sang anak.
“Nanti, saat liburan sekolah tiba, Papa janji akan mengajak Qia dan Sean berlibur ke luar negeri.”
“Beneran Pa?!”
Ivander menganggukkan kepalanya, “tentu saja benar. Qia mau pergi ke mana?”
“Disneyland!” ucap gadis kecil itu dengan antusias. “Teman-teman Qia kalau liburan selalu ke Disneyland, Pa.”
“Liburan sekolah, kita sekeluarga akan berlibur ke Disneyland, Jepang. Bagaimana, deal?” ucap Ivander seraya mengulurkan tangannya pada Qiana. Gadis kecil itu pun langsung menyambut uluran tangan sang ayah sambung. Namun, belum sempat kedua tangan anak dan ayah itu berjabatan, Qeiza menghalanginya.
“Enak saja main deal-dealan berdua!” cebik Qeiza.
Baik Qiana maupun Ivander, mengerutkan dahi. Mereka serempak menatap Qeiza dengan wajah bingung.
“Kenapa Sayang?” tanya Ivander.
“Tau tuh. Mama kenapa sih?!” ucap Qiana tak senang. Pasalnya gadis kecil itu memang sudah lama berharap bisa pergi ke Disneyland.
“Liburan sekolah nanti, Qia mau berlibur ke Disneyland?” tanya Qeiza. Qiana menganggukkan kepalanya.
“Oke ... Kalau Qia mau berlibur ke Disneyland. Pastikan kamu mendapatkan nilai yang baik di sekolah.”
“Walaupun Qia tidak pernah juara kelas, tapi, nilai Qia kan selalu bagus, Ma! Qia tidak pernah mendapatkan nilai jelek. Tapi, kalau Mama mengharapkan Qia juara satu, dua atau tiga, itu mustahil! Itu namanya Mama memang tidak mengizinkan Qia berlibur ke Disneyland!” ketus gadis kecil itu.
Qiana memang tumbuh menjadi gadis kecil yang mandiri, ketus dan selalu mengungkapkan perasaannya dengan gamblang. Ekspresi kesal Qiana, serta tangannya yang bersidekap di atas dada, membuat Qeiza tersenyum menahan geli.
“Kok malah ngambek!” cebik Qeiza.
__ADS_1
“Mama kan tidak bilang kalau Qia harus mendapatkan juara satu, dua atau tiga. Mama hanya minta nilai Qia tetap baik. Sama seperti semester-semester yang lalu. Kalau bisa lebih baik lagi, ya lebih bagus.”
“Tidak harus juara kelas?” tanya Qiana. Qeiza menggelengkan kepalanya.
“Tapi kan nilai Qia memang selalu baik?” tanya gadis kecil itu heran.
“Iya benar, nilai Qia memang selalu baik. Tapi, Mama tidak mau karena terbuai dengan liburan ke luar negeri, nanti Qia jadi malas belajar dan sibuk memikirkan liburan,” jelas Qeiza.
“Iya Ma ... Qia janji. Nilai Qia kan tetap baik. Qia juga akan belajar lebih giat agar nilai Qia bisa lebih baik!” janji gadis kecil itu. Qeiza dan Ivander tersenyum mendengar ucapan Qiana.
“Jadi bagaimana? Liburan sekolah nanti, kita berlibur ke Jepang, deal or no deal?”
Secepat kilat Qiana menyambar jemari Ivander seraya mengucapkan, “deal!” pekiknya.
...****************...
Lima bulan kemudian, saat liburan sekolah tiba, Ivander pun menepati janjinya pada Qiana. Mereka pergi berlibur ke Negeri Sakura.
Bahkan mereka tidak berlibur sendirian. Ivander mengajak Ivona dan keluarga kecilnya untuk turut menghabiskan waktu liburan sekolah bersama-sama. Ivander juga mengajak Andreas turut serta dalam perjalanan itu. Tapi, sayangnya, pria lanjut usia itu memilih untuk tidak ikut berlibur bersama anak cucunya.
Seluruh anggota Bratajaya sudah membujuknya, namun Andreas kekeuh dengan pendiriannya. Tubuh rentanya membuat pria lanjut usia itu hanya ingin bersantai di kediamannya. Dia tak ingin tubuhnya yang semakin hari semakin lemah, mengganggu waktu liburan cucu-cucunya.
***
“Papa, kita akan langsung pergi ke Disneyland?” tanya Qiana.
Saat itu pukul 09:10 waktu Jepang, dan pesawat yang mereka tumpangi baru saja mendarat.
“Hari ini kita istirahat dulu ya, Nak. Besok pagi, kita akan langsung ke Disneyland,” jawab Ivander.
“Ke Disneysea juga Pa?”
“Tidak akan sempat kalau dalam satu hari kita mengunjungi dua taman bermain. Jadwal ke Disneysea besok lusa,” jawab Ivander. Mata Qiana tambah berbinar. Gadis kecil itu bertepuk tangan karena senang.
“Kamu ini apa tidak lelah setelah tujuh jam lebih naik pesawat? Sudah tanya-tanya tempat wisata saja. Mama saja lelah sekali. Mengantuk juga,” ujar Qeiza.
__ADS_1
Qiana tentu saja menggelengkan kepalanya dengan cepat.
“Qia masih semangat!” ujar gadis kecil itu.
“Jelas saja semangat. Wong selama perjalanan kamu tidur terus di pesawat. Iya kan Ras?” ujar Melati kepada pengasuh Qiana dan Sean. Wanita yang bernama Laras itu mengangguk dan mencubit gemas hidung Qiana. Sementara putri sulung Qeiza dan Ivander itu, hanya terkekeh mendengar ucapan sang nenek.
“Nanti, di hari keempat, kita akan pergi ke tempat yang sudah di request oleh Mas Raka,” ucap Ivander sembari merangkul anak sulung Ivona dan Anggara yang kini berusia dua belas tahun.
“Memangnya Mas Raka mau ke mana?”
“Universal Studio Japan,” jawab anak lelaki yang kini beranjak remaja itu. “Tapi, kalau kamu tidak suka, kita bisa skip tempat itu. Kita pergi ke tempat yang kamu sukai saja.”
Ivona dan Anggara saling pandang. Dahi kedua orang tua kandung Raka itu berkerut.
“Yakin kamu mau skip ke Universal Studio? Bukannya sudah dari tahun lalu kamu ingin pergi ke sana?” tanya Ivona. Anggara memberikan anggukan, tanda bahwa pria itu memiliki pertanyaan yang sama dengan sang istri.
“Tidak masalah Mi, Pi. Kalau Qia tidak menyukai Universal Studio, tidak apa-apa. Kita bisa pergi ke tempat yang disukai oleh Qia saja.”
Ivona dan Anggara kembali saling pandang. Ada yang aneh dengan putra sulung mereka. Raka yang biasanya tak mau mengalah itu, kini rela tak pergi ke tempat yang sudah lama ingin dikunjunginya. Sepertinya, mengikuti kelas akselerasi membuat anak mereka menjadi lebih cepat dewasa. Raka yang seharusnya masih duduk di kelas 1 SMP, kini baru saja mendapatkan rapor sekolah untuk lanjut ke kelas 3 SMP.
“Memangnya di Universal Studio itu seru, Mas?” tanya Qiana.
“Seru, Dek. Nanti Mas kasih lihat video-video tentang Universal Studio di Jepang. Setelah itu Qia bisa memutuskan, mau liburan ke sana atau tidak,” ujar Raka.
“Kalau Mas Raka yang mengatakan di sana itu seru, Qia percaya kok! Ayo, nanti kita ke sana!” seru Qiana. Wajah Raka seketika sumringah mendengar ucapan Qiana. Pria remaja itu mengangguk antusias.
“Tapi, selama liburan, Qia harus terus di samping Mas, ya!” ucap Raka.
Qia menganggukkan kepalanya. Raka adalah sosok pria yang sangat disayangi oleh Qiana, setelah Ivander. Mereka saling mengenal sejak Qiana berusia empat tahun, dan sudah hampir tiga tahun mereka menjadi saudara sepupu. Raka menjadi kakak lelaki yang sangat dibanggakan oleh Qiana.
“Qia akan selalu di samping Mas Raka. Biar Qia ketularan pintar seperti Mas Raka!” pekik gadis kecil itu.
“Qia janji ya, akan selalu berada di samping Mas,” ucap Raka sembari menyodorkan kelingkingnya pada gadis kecil itu. Dengan cepat Qiana menautkan kelingkingnya pada kelingking Raka.
“Iya Mas. Qia janji.”
__ADS_1
Haneda Internasional Airport menjadi saksi atas janji yang diucapkan oleh Qiana. Janji yang membuat wajah Raka bersemu merah.
Ivona dan Anggara kembali saling pandang.