
Siang itu, saat Ivander baru saja menyaksikan sebuah foto yang dikirimkan oleh sang adik ipar, sebuah notifikasi masuk di ponselnya.
My true love adalah nama yang dibuat Ivander untuk menandai Qeiza di ponselnya.
“Ev ke kantor,” ucap Ivander datar.
“Mau apa dia di sana?”
“Tadinya dia mau mengajakku makan siang bersama. Tapi aku sudah mengatakan kalau akan makan siang bersama Papi. Dan sekarang Qei minta izin makan siang bersama dengan Ev di Hotel Mulia. Aku harus susul Qei ke sana. Perasaanku tidak enak.”
Ivander beranjak dari sana secepat mungkin. Namun, pria itu kembali ke menemui sang ayah dan kedua adiknya.
“Foto itu, apa kamu yang mengambilnya sendiri?”
“Bukan Mas. Tapi night club itu milik teman sekolah kami. Sudah sejak lama dia mengatakan jika Ev sering ke sana. Dan aku meminta bukti. Lalu dia kirimkan foto ini. Aku juga meminta foto Ev di dalam klub malam itu. Tapi, dia tidak mau memberikannya. Karena apa yang ada di dalam club bersifat privasi. Dia harus menjaga kerahasiaan pelanggannya,” jelas Anggara.
“Tapi, Mas tau kan itu club apa?”
Ivander mengangguk dengan pasti. Pria itu lalu kembali meninggalkan kediaman sang ayah. Ivander harus menyusul Qeiza dan Evelyn. Entah mengapa Ivander memiliki firasat yang tak enak. Ivander bahkan membalas pesan yang dikirimkan oleh Qeiza tadi. Wanita itu harus terus memberikan kabar padanya.
Potret Evelyn yang hendak masuk ke sebuah klub malam lah yang membuat perasaan Ivander tak menentu, karena Qeiza bersama wanita liar itu.
Liar memang sebuah kata yang tepat— menurut Ivander— untuk menggambarkan sosok Evelyn. Klub malam yang didatangi Evelyn adalah sebuah klub malam terkenal di Ibu Kota. Klub malam itu tak hanya menyuguhkan berbagai minuman yang memabukkan. Klub itu juga menyuguhkan hiburan tari-tarian yang mencengangkan.
Bukan hanya sekadar tari-tarian biasa. Klub itu menyajikan penari tanpa busana yang meliuk-liukkan tubuhnya di hadapan para pengunjung.
Klub itu juga terdiri dari dua bar. Bar khusus untuk pria, serta bar khusus untuk wanita. Tentu saja Bar untuk wanita menampilkan penari pria tanpa busana.
Ternyata di sanalah Evelyn memuaskan hasrat liarnya. Dan sekarang, Ivander merasa khawatir jika Qeiza dijerumuskan oleh Evelyn ke tempat itu.
Beberapa saat kemudian, Qeiza kembali mengirimkan kabar jika dirinya sudah tiba di restoran dan sudah memesan makanan.
__ADS_1
Ivander sedikit bisa bernapas lega, karena nampaknya Evelyn tak bertindak sejauh yang dia pikirkan.
Sementara itu, di kediamannya, Andreas meminta Anggara untuk menyelidiki Evelyn lebih jauh. Mereka harus bisa mendapatkan bukti jika tindakan Evelyn sudah melewati batas. Pria lanjut usia itu, menginginkan agar Ivander membuang wanita itu secepatnya.
Namun, membuang wanita licik itu harus dengan cara yang tepat. Jika tidak, Qeiza lah yang akan menanggung akibatnya. Qeiza akan semakin dipandang buruk jika Ivander menceraikan Evelyn tanpa alasan.
***
Qeiza tengah menikmati santap makan siangnya bersama Evelyn. Wanita itu bahkan sudah menghabiskan separuh porsi makanannya. Qeiza menyantap dengan lahap spaghetti carbonara yang menjadi menu pilihan untuk santap siangnya.
Qeiza dan Evelyn hanya saling diam sembari menyantap hidangan mereka masing-masing. Qeiza sibuk menikmati santap siangnya sembari sesekali membalas pesan-pesan yang dikirimkan oleh Ivander. Sementara Evelyn sedari tadi sibuk dengan ponselnya. Bahkan wanita itu hanya menyentuh makan siangnya sesekali.
Namun, tiba-tiba senyum Evelyn terkembang kala menatap seorang pria yang berjalan menghampirinya.
“Hai Ev,” ucap pria itu. Evelyn sontak berdiri lalu mendaratkan pipinya ke pipi pria itu, bergantian kiri dan kanan. Evelyn bahkan terlihat membisikkan sesuatu pada pria itu.
“Siapa wanita mungil ini, Ev?”
“Jeremy,” ucap pria itu sembari menyodorkan tangannya ke hadapan Qeiza.
Tanpa rasa curiga, Qeiza pun membalas uluran tangan pria yang kini dia ketahui bernama Jeremy.
“Qeiza,” ucapnya yang ikut memperkenalkan diri. Senyum Jeremy semakin lebar saat jemarinya menyentuh jemari-jemari mungil Qeiza. Saat Qeiza hendak menarik tangannya, Jeremy tak membiarkan hal itu. Evelyn berpamitan. Wanita itu mengatakan jika dirinya ingin pergi ke toilet, sebentar. Sejak itu, Jeremy semakin menjadi.
Sembari tersenyum nakal, Jeremy terus menggenggam jemari Qeiza. Qeiza terus berusaha menarik tangannya. Wanita itu bahkan secara terang-terangan meminta agar Jeremy melepaskan tangannya. Namun pria itu tak menggubrisnya. Dengan jemari yang masih bertaut, pria itu duduk di samping Qeiza.
Perlakuan pria itu membuat Qeiza kembali teringat akan peristiwa pelecehan yang dialaminya di Madura, beberapa waktu lalu. Qeiza terus menarik paksa jemarinya, namun pria itu tetap pada posisinya. Pria bernama Jeremy itu malah menggenggam jemari Qeiza dengan kedua tangannya. Jeremy pun menarik paksa tangan Qeiza hingga menyentuh bibir pria itu. Di kecupnya punggung tangan Qeiza.
Sementara Evelyn mengabadikan adegan itu dengan ponselnya. Gegas wanita itu mengirimkan potret Qeiza bersama Jeremy, kepada Ivander.
“Hon, aku tidak menyangka, ternyata Qeiza seperti ini. Tadi aku melihat Qei di Hotel, lalu aku ikuti. Tapi, saat aku mau menegur dia, ternyata istrimu itu sudah ada janji dengan teman prianya. Nanti, jangan marahi dia. Tanya saja baik-baik.”
__ADS_1
Seperti itulah pesan yang dikirimkan oleh Evelyn.
Ivander tengah berada di halaman parkir hotel saat membaca pesan yang dikirimkan oleh Evelyn. Jemari Ivander mengepal. Pria itu merasa geram melihat potret yang dikirimkan oleh Evelyn. Dengan langkah seribu, pria itu menghampiri kedua istrinya.
Mata Ivander menyala. Kedua rahangnya mengeras. Pria itu kini sudah berada di restoran yang sama dengan kedua istrinya. Matanya menyorot tajam pada seorang pria yang kini tengah berusaha mencium pipi Qeiza.
Ivander menoleh ke kiri dan ke kanan. Dirinya mencari keberadaan Evelyn. Hanya perlu waktu beberapa detik, Ivander sudah menemukan wanita itu tengah tersenyum sembari sibuk dengan ponsel yang berada dalam genggamannya.
Apa yang dilakukan oleh wanita itu?
Apa dia begitu bahagia karena Qeiza ketahuan sedang berselingkuh?
Tak mau berlama-lama menahan gejolak amarahnya, Ivander melangkah dengan tegas, menghampiri Qeiza.
Bammm!!!
Ivander melayangkan telapak tangannya, pada meja di hadapan Qeiza dan Jeremy.
Evelyn yang sibuk sedari tadi sibuk dengan ponselnya, menoleh. Mata wanita itu membulat saat menyaksikan Ivander berada di sana.
Kenapa Ivander berada di sana?
Sejak kapan pria itu ada di sana?
Evelyn menatap layar ponselnya. Terlihat jelas jika Ivander sudah membaca pesan yang dikirimkannya beberapa menit yang lalu.
Apa Ivander makan siang bersama Andreas di sekitar hotel? Kenapa cepat sekali sang suami sudah berada di restoran yang sama dengannya?
“Siapa dia Qei?! Kenapa dia menggenggam tangan kamu seperti itu! Aku bahkan melihat dia mengecupnya. Jelaskan padaku dia siapa?!”
Suara Ivander begitu menggelegar. Evelyn kini tersenyum sumringah.
__ADS_1
“Tamatlah riwayatmu, Qei!”