Kata Mereka, Aku Pelakor

Kata Mereka, Aku Pelakor
Janji Raka dan Qiana


__ADS_3

Rintik-rintik hujan tengah membasahi Ibu Kota, malam ini. Acara pembacaan surat wasiat Andreas Bratajaya, berakhir dengan makan malam bersama Jody dan Niko.


Jody yang selama ini berperan sebagai asisten pribadi Andreas, kini memilih untuk berwirausaha. Andreas rupanya telah memberikan sebidang tanah untuk asisten pribadinya itu.


Andreas hendak mewujudkan mimpi Jody ingin menjadi peternak lele. Tak tanggung-tanggung, Andreas membeli 10 hektar lahan. Bahkan separuh lahan itu sudah mulai dilakukan pembiakan ikan lele.


Dan kini, Jody akan berfokus pada apa yang diberikan Andreas padanya. Jody akan mewujudkan mimpinya yang tertunda di salah satu desa di Jawa Barat.


Pembacaan surat wasiat itu juga menyisakan satu kisah manis bagi Qeiza. Kedekatan batin antara Ivander dan Qiana benar-benar membuat Qeiza bahagia.


“Mas kok bisa sih terpikirkan membuat perjanjian seperti itu dengan Qia?” tanya Qeiza, saat dirinya baru saja masuk ke dalam pelukan sang suami, setelah berhasil membuat Sean tertidur di ranjang bayinya.


“Itu terjadi begitu saja, Qei. Rasanya Mas tidak rela jika Qia terlalu cepat dekat dengan pria lain,” lirih Ivander.


“Selama ini kan hanya Mas yang pria yang dicintai Qia. Mas kan cinta pertamanya Qia. Jadi, Mas rasanya tidak rela Qia membagi cintanya pada pria lain.”


Senyum sumringah Qeiza pun semakin terpancar. Wanita itu teramat bahagia. Bagaimana tidak? Ivander bukan ayah kandung Qiana, tapi pria itu melabeli dirinya sebagai cinta pertama bagi Qiana. Bukankah itu artinya Ivander benar-benar menganggap Qiana sebagai anaknya sendiri?


Bahkan, walau Sean hadir ke dunia, rasa sayang dan perhatian pria itu kepada Qiana, sama sekali tak berkurang.


Qeiza yang kini tengah duduk di ranjang bersama sang suami, semakin mengeratkan pelukannya pada pria itu.


“Terima kasih ya, Mas.”


“Terima kasih untuk apa, Sayang?” tanya Ivander.


“Terima kasih karena Mas begitu menyayangi Qia. Bahkan Mas tidak pernah membeda-bedakan antara Qia dan Sean. Padahal Qia itu kan—”


Ivander seketika menghentikan ucapan Qeiza.


“Qia itu anakku Qei. Qia itu putri sulung ku. Walau darahku tak mengalir di tubuhnya. Walau gen ku tidak ada dalam tubuhnya. Tapi hatiku ada di dirinya. Dia tumbuh besar dengan kasih sayangku. Qiana itu putriku. Tidak ada yang bisa menyangkalnya. Tolong jangan katakan hal lain tentang itu. Dia putri pertamaku.”


Dengan air mata yang sama sekali tak bisa dibendungnya, Qeiza menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


“Iya Mas. Qia adalah putri Mas, dan Mas adalah cinta pertamanya Qia,” ucap Qeiza.


“Iya ... Aku adalah cinta pertamanya. Aku adalah Papanya. Selamanya akan terus begitu,” tegas Ivander.


“Dan aku adalah wanita yang sangat beruntung bisa memiliki kamu di hidupku, Mas. Aku sangat mencintaimu,” ungkap Qeiza.


Ivander melepaskan dekapan Qeiza. Pria itu menegakkan tubuhnya dan menatap Qeiza dengan tajam.


“Kalau begitu, buktikan rasa cintamu itu,” bisik Ivander.


Gegas Ivander melucuti seluruh pakaian yang dikenakan Qeiza, lalu menanggalkan seluruh pakaian miliknya juga. Tanpa busana sehelai pun, sepasang suami istri itu kini duduk saling berhadapan.


Perlahan sepasang suami istri itu semakin mendekat hingga menempel erat. Gerakan panggul yang saling menyambut, membuat erangan-erangan halus keluar begitu saja dari bibir Ivander dan Qeiza.


Ditemani suara rintik hujan di luar sana, kini, sepasang suami istri itu saling melampiaskan rasa cinta mereka yang begitu menggebu, mabuk dalam lautan penuh gairah.


Tak hanya malam itu, malam-malam selanjutnya pun tak kalah bergairah. Qeiza dan Ivander bahkan merencanakan perjalanan bulan madu mereka yang ketiga.


Kali ini, Qeiza begitu menantikan perjalanan bulan madunya bersama Ivander. Tak tanggung, mereka melakukan perjalanan itu selama sembilan hari.


Sean yang sudah berusia satu tahun, membuat Qeiza tak terlalu berat berpisah dengan kedua buah hatinya. Bahkan Qeiza tak sabar untuk segera tiba di negeri dua benua itu.


Cappadocia adalah tempat yang paling ingin dikunjungi oleh Qeiza. Wanita itu bahkan rela kembali menaiki pesawat selama satu setengah jam setelah tiba di kota Istanbul, walaupun sudah menempuh waktu 16 jam perjalanan hingga tiba Istanbul, demi mengunjungi Cappadocia.


Istri Ivander Bratajaya itu ingin menaiki balon udara sembari menikmati pemandangan di sekitar Cappadocia yang begitu luar biasa.


Qeiza juga mengajak Ivander untuk menginap di sebuah hotel yang berada di dalam gua. Walaupun menginap di dalam hotel yang terbuat dari gua bebatuan, tapi hotel tempat Qeiza dan Ivander menginap sangatlah cantik. Terasnya menawarkan pemandangan Cappadocia yang tak tertandingi.


Pagi pertama Qeiza di kota Cappadocia, mata Qeiza begitu berbinar saat menyaksikan matahari terbit dari balkon kamarnya.


Dan saat petang, Qeiza dan Ivander dapat menyaksikan puluhan balon udara yang tengah terbang di udara.


Hotel memiliki kamar dalam gua juga kamar dengan gaya tradisional Ottoman serta Yunani. Semua kamar didekorasi kerajinan, karpet, dan tirai.

__ADS_1


Selama lima hari di Cappadocia, setiap pagi, wanita itu menemukan teras yang dipenuhi prasmanan sarapan lezat. Sepasang suami istri itu selalu menikmati santap sarapan mereka sembari menyaksikan matahari terbit.


Qeiza benar-benar bahagia berada di kota indah itu. Selain menaiki balon udara dan mengunjungi toko karpet, beberapakali Ivander mengajak sang Istri menjelajahi kota Cappadocia dengan mengendarai ATV selama tiga jam.


Dan sebelum meninggalkan Cappadocia dan kembali ke Istanbul petang terakhir Qeiza dan Ivander di kota yang penuh bebatuan bersejarah itu, mereka menghubungi Qiana dan Sean. Menyapa anak-anak kesayangan mereka sekaligus memperlihatkan keindahan senja di Cappadocia.


“Wah ... Indah sekali,” seri Qiana begitu melihat puluhan balon udara melayang.


“Iya Sayang. Memang indah sekali. Setiap hari Mama dan Papa melihat pemandangan seperti ini selama di Cappadocia.”


“Nanti, kalau ada kesempatan, kita semua berlibur ke sini ya,” ujar Ivander. Qiana seketika menekuk wajahnya. Kenapa sang ayah harus mengatakan jika ada kesempatan? Padahal, sewaktu kedua orang tuanya menghabiskan waktu staycation di hotel, dia dan sang adik langsung menyusul beberapa hari kemudian. Tapi, di tempat seindah itu, sang ayah mengatakan akan mengajak dirinya berlibur jika mempunyai kesempatan.


“Qia kenapa Sayang?” tanya Ivander.


“Qia ingin berlibur ke sana! Qia ingin naik balon udara seperti itu! Kenapa Papa hanya mengajak Mama?!”


Belum sempat Ivander menjawab kekesalan Qiana, sambungan video tiba-tiba terputus. Qeiza dan Ivander terkejut karena saluran internet mereka tersendat. Qiana pun semakin merasa kesal karena dia tak dapat terhubung kembali dengan kedua orang tuanya. Padahal dia belum puas menatapi keindahan balon udara yang tengah melayang di udara.


“Qia jangan cemberut begitu. Qia jelek kalau sedang cemberut,” ucap Raka yang memang sejak kemarin menginap di kediaman Qeiza dan Ivander.


“Habisnya Qia kesal karena Papa hanya mengajak Mama berlibur. Qia kan juga ingin melihat balon udara seperti itu,” rengeknya.


Raka tersenyum dan menggenggam jemari Qiana. “Mas janji, suatu saat nanti, Mas akan mengajak Qia berlibur ke sana. Tidak hanya melihat balon udara. Tapi, kita juga akan menaikinya. Bagaimana?”


Mata gadis berusia delapan tahun itu seketika berbinar.


“Kita bisa naik balon udara itu Mas?!” tanya Qiana. Raka menganggukkan kepalanya. “Bisa. Kamu mau kan naik balon udara itu bersama Mas?”


“Mau Mas! Qia Mau!” pekik Qiana.


Raka menyodorkan jari kelingkingnya, “kita akan menaiki balon udara itu bersama. Janji?” ucap Raka. Qiana pun menautkan kelingkingnya pada kelingking Raka.


“Iya Mas, Qia janji.”

__ADS_1


__ADS_2