Kata Mereka, Aku Pelakor

Kata Mereka, Aku Pelakor
Ngidam


__ADS_3

Di trimester pertama kehamilannya, banyak yang berbeda dari sikap Qeiza. Dan salah hal yang perubahan yang paling dirasakan oleh Ivander adalah tingkat kepercayaan Qeiza yang berkurang padanya. Sejak mengandung, entah mengapa wanita itu selalu merasa curiga pada sang suami. Kecemburuan wanita itu meningkat seribu persen.


Sebelum berangkat ke kantor, ada saja wejangan yang diucapkan oleh Qeiza.


“Mas jangan suka tebar pesona ke para sekretaris ya!”


“Jangan menatap wanita lain lebih dari dua detik!”


“Jangan pakai parfum kalau ke kantor!”


Qeiza benar-benar merasa resah jika sang suami berangkat ke kantor. Penampilan Ivander yang menarik, selalu membuat Qeiza berpikir berlebihan. Wanita itu takut Ivander akan berselingkuh dan meninggalkannya.


Ivander yang selalu terlihat menawan di usianya yang sudah menginjak empat puluh tahun, membuat Ivander banyak digilai oleh kaum hawa. Qeiza tak mau hal itu terjadi. Qeiza tak mau sang suami terlihat menarik di mata para wanita. Qeiza takut Ivander akan tergoda pada salah satu wanita yang menyukai suaminya itu.


Seperti yang terjadi hari ini, Qeiza meminta Ivander untuk berpenampilan seadanya jika pergi ke kantor. Benar-benar seadanya. Ivander tak diperbolehkan menyisir rambutnya saat pergi ke kantor. Pria itu juga diminta oleh Qeiza untuk memakai kemeja lengan panjang dengan ukuran jumbo. Sehingga Ivander terlihat seperti layangan putus yang tengah melayang ke sana ke mari. Tampilan pria itu benar-benar terlihat kacau.


Ivona terkekeh-kekeh saat melihat penampilan sang kakak lelaki yang biasa terlihat rapi dan harum, kini terlihat berantakan.


“Mas tidak mandi ya? Bisa-bisanya ke kantor tapi tidak mandi!” pekik Ivona sembari tertawa terbahak-bahak.


“Qei sekarang benar-benar aneh, Von. Coba kamu lihat penampilan, Mas,” keluh Ivander.


“Kenapa? Mas terlihat cocok kok, menggunakan style pakaian seperti ini. Kenapa tidak dari dulu saja.” Kembali Ivona tertawa terbahak-bahak. Sementara Ivander hanya bisa menghela napas kasar mendengar ucapan sang adik.


“Ini semua karena Qei. Beberapa hari lalu dia berbelanja pakaian dan membelikan beberapa kemeja kebesaran ini. Mas dipaksa untuk memakainya. Mas bahkan tidak boleh menyisir rambut, tidak boleh memakai parfum sejak beberapa hari lalu. Mas tidak boleh senyum dengan wanita lain, tidak boleh berpakaian rapi, bahkan pakaian Mas tidak boleh disetrika biar terlihat lecek.”


Ivona semakin terbahak-bahak mendengar ucapan Ivander. Wanita yang baru saja kembali dari perjalanan dinas benar-benar merasa terhibur dengan penampilan sang kakak lelaki.

__ADS_1


“Tapi sepertinya Mas sangat nyaman dengan penampilan baru Mas ini.”


“Nyaman apanya?! Semua orang, mulai dari lobby sampai depan pintu itu, semua karyawan melirik mas dengan tatapan aneh! Belakangan ini Mas jadi malas berangkat ke kantor.”


“Hahaha ... Mungkin itu karena bawaan bayi, Mas. Yasudah, mas bekerja dari rumah saja. Temani Qei,” ucap Ivona.


“Qei marah kalau Mas tidak pergi bekerja. Seolah dia benar-benar merasa senang melihat Mas ditatap aneh oleh orang sekantor. Setiap hari dia melakukan panggilan video demi melihat ekspresi para staff saat menatap Mas! Dia ingin memastikan tidak ada wanita yang mengagumi, Mas.”


Ivona benar-benar tak bisa berhenti terkekeh. Wanita itu bahkan sampai menangis karena tak bisa berhenti tertawa.


“Jangan tertawa terus, Von! Tolong beri Mas ide agar Qeiza menghentikan sikap anehnya itu!”


Ivona berusaha sekuat tenaga menahan rasa menggelitik di perutnya. Melihat sang kakak lelaki terlihat frustasi oleh sikap Qeiza, membuat Ivona sedikit merasa kasihan.


“Wanita hamil itu biasanya lebih sensitif, Mas. Mungkin Qei merasa cemburu jika banyak wanita yang menatap kagum pada Mas.”


Ivona yang masih berusaha menahan tawanya, memberikan saran agar Qeiza kembali ke perusahaan. Menemani Ivander sepanjang waktu, agar wanita itu tidak selalu merasa was-was.


“Mas tidak ingin Qei lelah. Mas lebih senang kalau Qei di rumah saja, mengurus Qia, menunggu Mas pulang bekerja, lalu melayani Mas setiap malam.”


“Dasar maniak!” cebik Ivona. “Istri lagi hamil muda pun dibajak juga!”


“Kamu tidak perlu repot-repot memikirkan itu. Qei saja mau kok!” ucap Ivander membela diri. Walau dirinya memang tak bisa menahan hasrat jika berada di dekat Qeiza, tapi, sejak mengandung, sang istri pun terlihat lebih berg*irah dari biasanya. Tentu saja Ivander merasa sangat senang akan hal itu.


“Yasudah, terserah Mas saja. Kalau Mas mau terus berpenampilan seperti ini sampai Qei lahiran, yasudah,” cebik Ivona. Adik perempuan Ivander Bratajaya itu pun melangkah pergi dari ruangan sang kakak.


“Kalau Mas berubah pikiran. Mas tinggal siapkan sofa bed. Jadi, kalau Qei lelah, dia bisa tiduran di sini,” ucap Ivona sebelum benar-benar meninggalkan ruangan CEO itu.

__ADS_1


***


Saat Ivander bingung dengan tingkah sang istri, Evelyn juga tengah menikmati hidupnya. Hari pertama dirinya keluar dari sel tahanan dan menjadi tahanan kota, Evelyn diantarkan oleh pengacaranya ke sebuah klinik kecantikan. Wanita itu melakukan perawatan mulai dari ujung rambut hingga kaki. Begitupun dengan Alex. Pria yang juga dibebaskan oleh Evelyn, ikut merasakan nikmatnya perawatan dengan kosmetik-kosmetik termahal di klinik itu.


Seharian penuh Evelyn memanjakan dirinya. Kini wanita itu tengah membayar biaya perawatan bersama kekasih barunya. Beberapa pasang mata terus menatap Evelyn sembari berbisik.


“Itu bukannya wanita yang berselingkuh dengan tiga orang pria itu?”


“Bukannya dia dipenjara ya?”


Evelyn berusaha tak menanggapi omongan miring terhadapnya. Wanita itu beranggapan, berita viral seperti itu, pasti akan hilang dengan cepat.


Namun, tampaknya semua itu tak berjalan sesuai dengan ingin Evelyn. Ada yang menyebarkan video wanita itu hingga ramai masyarakat membicarakan perihal bebasnya Evelyn dari penjara. Pihak kepolisian pun terpaksa harus memberikan klarifikasi tentang bebasnya Evelyn.


Wanita itu terpaksa kembali digelandang ke penjara. Evelyn berang, dirinya sudah menggelontorkan banyak dana agar dapat keluar dari penjara. Namun, belum satu Minggu menghirup udara bebas, wanita itu kembali dibawa ke balik jeruji.


“Bu, kita bisa bebaskan Bu Evelyn. Asal, ibu jangan muncul di ruang publik dalam kurun waktu satu atau dua bulan. Kalaupun muncul, sebisa mungkin pakai penutup wajah seperti masker atau apapun itu. Agar tak menimbulkan kegaduhan di masyarakat.”


Walau merasa repot, tapi wanita itu menurut. Evelyn tak lagi muncul ke hadapan publik. Wanita itu hanya berdiam di rumah mewahnya selama satu bulan. Walau merasa bosan, tapi, tinggal hanya berdua saja dengan Alex di rumah mewah itu, membuat rasa bosan itu lenyap.


Pria itu selalu bisa memberinya kepuasan kapan saja dia inginkan. Evelyn jatuh cinta pada Alex. Apa saja yang diminta oleh pria itu, Evelyn selalu mengabulkannya.


Evelyn juga mengajak pria itu berlibur ke luar negeri. Dengan uang yang dimilikinya, walau dengan status tahanan kota, Evelyn bersama Alex dapat terbang ke mana pun yang dia inginkan.


Wanita itu mengajak Alex ke New York. Salah satu tempat belanja kesukaannya. Evelyn memberikan pakaian serba mewah pada pria itu. Evelyn benar-benar menikmati harta pemberian Ivander yang masih memenuhi rekeningnya.


Evelyn bahkan rela pindah ke sebuah apartemen dan menjual rumah mewah miliknya, demi mengabulkan setiap permintaan Alex. Wanita itu benar-benar tergila-gila pada permainan Alex yang cenderung kasar. Alex seakan menjadi candu baginya. Alex pun begitu setia mendampingi Evelyn dan melayani wanita itu bak ratu.

__ADS_1


Evelyn merasa, ini adalah saat-saat paling bahagia di dalam hidupnya.


__ADS_2