
“Kita bicaranya di kamar saja. Mas rindu sekali dengan kamu,” ucap Ivander, seraya menegakkan tubuhnya yang baru saja terjerembab ke lantai akibat tendangan Qeiza. Qeiza menganggukkan kepalanya, wanita itu merapikan selimut yang dikenakan oleh Qiana, mengecup puncak kepala anaknya itu, sebelum beranjak dari ranjang.
Qeiza baru menjulurkan kedua kakinya, saat tiba-tiba Ivander menyelipkan tangannya di bawah lipatan kaki wanita itu. Qeiza hampir saja berteriak saat sang suami tiba-tiba mengangkat tubuhnya.
Ivander langsung menghempaskan sang istri ke atas ranjang. Pria itu kemudian merangkak dan kembali menyingkap daster yang dikenakan Qeiza hingga menumpuk di pinggang istrinya itu. Tak lupa Ivander meloloskan secarik kain yang menutupi bagian sensitif sang istri. Pria itu pun membenamkan wajahnya di sana.
Langit masih teramat gelap di luar sana. Masih perlu beberapa jam lagi hingga mentari memancarkan cahaya dengan malu-malu. Qeiza bahkan masih setengah mengantuk saat Ivander mulai menyesapi pusat inti miliknya. Pria itu tampaknya begitu berhasrat.
Apa Evelyn tak memberikan pelayanan yang memuaskan, hingga pria itu begitu beringas melahapnya di bawah sana?
Ataukah istri pertamanya itu sama sekali tak memberikan pelayanan?
Qeiza tak dapat lagi menahan diri. Wanita itu mengerang dengan kencang hingga akhirnya menegang. Kantuk yang tadi masih dirasanya kini hilang dalam sekejap.
Ivander pun sepertinya tak dapat lagi menahan diri. Rasa rindu yang membuncah, hingga rasa bersalah karena telah menyatu dengan Evelyn, membuat pria itu dengan secepat kilat melepaskan seluruh pakaiannya. Begitupun dengan pakaian wanita yang kini tengah menikmati masa puncaknya.
Qeiza mendelik, saat Ivander tiba-tiba melesakkan seluruh senjatanya. Setelah Ivander melahap kewanitaannya dengan rakus, Qeiza pikir, Ivander akan langsung bermanuver dengan brutal. Hingga mereka dapat menyelesaikan permainan itu dengan cepat, lalu sekadar melakukan percakapan ringan sebelum akhirnya terlelap.
Namun, apa yang dibayangkan oleh Qeiza, meleset. Pria itu malah melakukan penyatuan dengan lembut. Ivander bahkan mengecup lembut bibir merah muda milik Qeiza, hingga wanita itu terbuai. Dengan panggul yang bergerak maju mundur dengan lembut, Ivander dan Qeiza saling bertukar saliva, menyalurkan seluruh rasa kasih dan sayang mereka.
Perlakuan lembut Ivander kembali membuat Qeiza menggeliat. Wanita itu semakin melebarkan kakinya, seiring ciuman mereka yang perlahan-lahan semakin panas. Ivander tetap mempertahankan temponya di bawah sana, walau Qeiza mulai menuntut lebih.
Suara d*sah yang tertahan dari bibir wanita itu, membuat Ivander beringsut. Pria itu kini beralih pada dua benda kegemarannya. Ivander yang menyesapnya dengan kuat, membuat Qeiza semakin blingsatan di bawah sana.
Dan saat Ivander mulai bermanuver dengan brutal, Qeiza seketika memekik. Tubuh wanita itu menegang untuk kedua kalinya.
__ADS_1
Ivander merasa miliknya seperti dicengkeram oleh Qeiza di bawah sana. Ivander mengeram, melampiaskan rasa nikmat tiada tara yang mengalir di seluruh tubuhnya. Tapi, pria itu tak mau kalah secepat itu. Pria itu semakin menyeruput dengan keras, dua benda kegemarannya itu bergantian, kiri dan kanan. Qeiza pun kembali terlena dengan permainan sang suami. Terlebih Ivander semakin menghujam dengan brutal di bawah sana.
Ivander memang terlalu jantan, menurut Qeiza. Pria itu seolah tak pernah lelah membuatnya mencapai puncak berkali-kali. Hal yang tak pernah dirasa Qeiza di pernikahan sebelumnya. Terkadang Qeiza merasa rendah diri, karena dirinya tak bisa mengimbangi keperkasaan sang suami. Dirinya kalah berkali-kali pada lidah, mulut dan kejantanan pria itu.
Kini, lagi-lagi Qeiza mengerang karena serangan bertubi-tubi yang dilancarkan oleh Ivander di seluruh bagian sensitif tubuhnya. Qeiza sudah hampir menegang. Wanita itu hampir menuju puncak.
“Tahan sebentar, Sayang. Tunggu aku,” rintih Ivander.
Pria itu kini membenamkan wajahnya pada ceruk leher Qeiza. Mendekap erat tubuh Qeiza, semakin brutal lah Ivander menghujam wanita itu di bawah sana. Qeiza semakin blingsatan. Wanita itu berusaha keras untuk menahan kewanitaannya agar tak meledak lebih dulu.
Dirinya harus bisa mengimbangi sang suami. Begitulah pikir Qeiza. Qeiza pun berusaha sekuat tenaga. Wanita itu mencengkeram erat rambut Ivander. Semakin brutal Ivander di bawah sana, semakin erat juga cengkeraman Qeiza pada rambut pria itu.
Suara erangan Qeiza semakin kencang. Wanita itu sudah tak dapat lagi menahan diri. Beruntung, Ivander yang lebih dulu menyemburkan laharnya. Disusul oleh Qeiza yang kini berteriak melampiaskan rasa nikmat yang dia tahan sedari tadi.
Qeiza terkulai lemah di bawah sang suami. Namun Ivander tampaknya masih belum mau memisahkan diri. Pria itu masih mendekap erat sang istri. Bahkan, panggul pria itu kembali bergerak maju mundur selama beberapa detik.
Ivander melepaskan dekapannya. Pria itu kini menatap Qeiza, sembari bertumpu dengan salah satu lengannya.
Dengan memancarkan senyuman lembut, Ivander membelai wajah sang istri.
“I love you so much, Qei.”
Ivander kemudian melayangkan sebuah kecupan lembut pada bibir wanita yang masih berada di bawah tubuhnya itu. Qeiza tentu saja sangat berbunga saat itu. Pria itu menyatakan cinta setelah memberikan kepuasan tiada tara padanya.
Setelahnya, Ivander beringsut. Lalu mengeluarkan bagian tubuhnya dari dalam tubuh Qeiza. Kini pria itu merebahkan diri di samping Qeiza.
__ADS_1
“Sini, Qei,” ucapnya. Pria itu meminta Qeiza untuk masuk dalam dekapannya. Mereka saling diam beberapa saat. Hanya Ivander yang terus menerus bergerak membelai punggung wanita itu. Hingga Qeiza tiba-tiba menanyakan hal yang membuat Ivander kecewa.
“Kenapa Mas pulang ke sini?”
Ivander menghela napas kasar. Pria itu bahkan tak lagi mengusap-usap punggung Qeiza.
“Memangnya Mas dilarang pulang ke sini!” ketus Ivander.
“Tapi, ini kan jadwalnya Mba Ev.”
Ivander kembali menghela napas kasar. Qeiza pun menyadari jika sang suami tak menyukai pembahasan yang dia bawa.
“Bukannya aku tidak senang Mas pulang ke sini. Aku ... Aku hanya takut Mba Ev marah. Aku sudah menahan Mas selama satu bulan di sini. Dan Mas baru beberapa jam di sana, lalu pulang ke sini. Apa Mba Ev tidak akan marah? Apa dia mengizinkan sewaktu Mas mengatakan akan pulang ke sini? Tengah malam begini?”
“Yang pertama. Kamu tidak pernah menahan Mas untuk tinggal bersamamu. Mas yang memang selalu ingin dekat dengan kamu. Mas tidak nyaman berada dekat dengan Ev. Bahkan hal itu terjadi, jauh sebelum kita menikah,” jelas Ivander.
“Yang kedua. Mas tidak minta izin pulang ke sini. Karena saat Mas pergi, dia sudah tertidur nyenyak. Dan dia tidak akan marah, karena dia tidak akan menyadarinya m Evelyn akan bangun siang hari. Jadi, setelah dia terlelap, Mas pergi jam berapapun, dia tidak akan menyadarinya. Jadi, menurut Mas, tidak perlu meminta izin dari Ev.”
Qeiza hanya mengangguk mendengar penuturan sang suami. Sebenarnya ada hal lain yang ingin ditanyakan oleh wanita itu. Seperti kenapa Ivander terlihat begitu kesal saat membicarakan perihal Evelyn? Bukankah Evelyn adalah wanita yang sangat dicintainya? Apa karena wanita yang dicintai oleh suaminya itu, tak melayani pria itu?
Tapi, Qeiza urung menanyakan. Qeiza takut kalau hatinya akan sakit saat mendengar jawaban Ivander. Dirinya pasti akan merasa sakit saat Ivander mengatakan Evelyn sedang tak bisa melayaninya, hingga pria itu memutuskan untuk datang padanya.
Qeiza takut pada kenyataan bahwa pria itu hanya menganggapnya sebagai pengganti Evelyn.
Tapi, pertanyaan Ivander membuat wanita itu terperangah.
__ADS_1
“Menurutmu, bagaimana kalau Mas menceraikan Evelyn?”