
Sejak dulu, Evelyn benci sekali dengan Andreas. Pria tua itu seolah tak pernah suka padanya. Apapun yang diperbuatnya selalu salah di mata Andreas. Terlebih pilihannya untuk tak memiliki anak. Padahal sang suami tak masalah dengan pilihannya, kenapa justru mertuanya yang merasa keberatan?
Dan sekarang, bertambah bencilah Evelyn terhadap sang mertua. Ancaman Andreas untuk tak memasukkan nama Ivander dalam daftar penerima warisan, membuat Evelyn takut. Dia sadar, selama ini, secara tak langsung kemewahan yang dinikmatinya, fasilitas yang didapatkannya adalah dari kekayaan sang mertua.
Evelyn tak mau hidup susah. Jika sang mertua mencabut sang suami dari daftar penerima warisan, semua kemewahan yang selama ini disombongkannya akan musnah. Dirinya tak akan bisa berpesta pora bersama para sahabatnya.
Mau tak mau, dirinya harus menuruti perintah Andreas untuk membujuk Qeiza agar mau menikah dengan Ivander. Janda beranak satu itu benar-benar membuatnya repot kali ini. Bagaimana mungkin dia harus membujuk seorang wanita agar bersedia menjadi madunya?
Harusnya, tak ada wanita yang bisa menolak pesona seorang Ivander Bratajaya. Walaupun sudah berumur 37 tahun, pria itu masih terlihat gagah. Sangat gagah malah. Terlebih sang suami adalah calon penerus Bratajaya Corporation.
“Bisa-bisanya janda itu menolak lamaran Ivan. Merepotkan sekali!”
Evelyn terpaksa membatalkan janji dengan para sahabatnya. Sore itu, Evelyn bersiap ke kediaman Qeiza. Dari sang mertua Evelyn tau alamat rumah Qeiza. Dari sang mertua pula Evelyn tau, jika Qeiza pasti sudah tiba di rumah, karena wanita itu dipersilakan untuk pulang lebih dulu.
Walau saat itu Qeiza merasa bingung, namun wanita itu gegas meninggalkan kantor. Mungkin Ivander sudah tak mau berlama-lama melihat dirinya, pikir Qeiza.
Dan Evelyn tiba di kediaman Qeiza, satu jam setelah janda beranak satu itu tiba di rumahnya.
“Bu Evelyn,” lirih Qeiza, saat melihat wanita yang baru saja turun dari mobil mewah berwarna hitam metalik, mobil yang beberapa menit lalu memasuki halaman rumahnya.
Qeiza yang tengah duduk di teras bersama anak dan ibunya, mendadak berdiri dan menyambut nyonya pertama di klan Bratajaya itu.
“Hai, Qei. Apa kabar?”
“Ba - baik, Bu. Ada apa ya Bu? Kenapa Ibu ke rumah saya? Apa ada yang bisa saya bantu?”
Evelyn tak terlalu mendengarkan ucapan Qeiza, karena dirinya tengah memerhatikan setiap sudut rumah yang ditinggali Qeiza dan keluarganya. Ada rasa jijik saat Evelyn membayangkan dirinya akan melepas sepatu dan masuk ke rumah yang kecil itu.
“Boleh saya masuk? Ada hal serius yang ingin saya bicarakan mengenai Ivan,” ucap Evelyn tanpa memandang wajah Qeiza. Wanita itu masih sibuk memantau kondisi rumah itu.
__ADS_1
Sementara Qeiza seketika bergeming saat mendengar nama Ivander disebut. Wanita itu tak tau harus berbuat apa? Pikirannya terus mencari-cari persoalan apa yang menyebabkan nyonya pertama Bratajaya itu, datang jauh-jauh dan menghampirinya. Hal apa yang ingin dibicarakan oleh Evelyn padanya?
Apakah wanita itu akan memintanya untuk mengundurkan diri, agar tak lagi menggoda suaminya? Ataukah Evelyn akan menyerahkan segepok uang di dalam amplop sebagai bayaran karena dirinya bersedia meninggalkan Ivander?
Tampaknya Qeiza terlalu banyak menonton drama!
“Kamu tidak memerbolehkan saya masuk ke rumahmu ini?!” ketus Evelyn. Wanita itu hampir saja tak bisa menahan emosinya. Dirinya sudah menurunkan gengsi dan harga diri untuk bisa mendatangi rumah Qeiza yang menurutnya kumuh itu. Tapi janda beranak satu itu seolah tak mengizinkannya untuk masuk ke rumah kumuh itu.
“Ma - maaf Bu. Si - silakan masuk,” ucap Qeiza gugup.
Walau meras jijik, Evelyn tetap melepas sepatunya dan masuk ke rumah Qeiza. Janda beranak satu itu pun memersilakan Evelyn duduk, sementara dia mengambil minuman untuk menjamu istri dari pria yang dicintainya itu.
“Silakan diminum, Bu.”
“Tak perlu repot-repot. Saya baru selesai makan. Saya ke sini hanya ingin berbicara denganmu, Qei.”
Evelyn membenarkan duduknya. Wanita itu mengambil posisi miring, hingga dia bisa memegang ujung jemari Qeiza. Walau tentu saja Evelyn merasa jijik saat melakukannya.
“Ini perihal suami saya,” ucap Evelyn.
Wajah Qeiza terlihat tegang. “Pak Ivan?” tanya Qeiza. Pertanyaan yang tak seharusnya ditanyakan. Namun Evelyn tetap menganggukkan kepalanya.
“Terimalah lamaran Ivan, Qei,” lirihnya tanpa basa-basi. Evelyn memasang ekspresi memohon, hingga membuat Qeiza terperangah, menatap tak percaya dengan apa yang diucapkan Evelyn.
Evelyn meminta dirinya untuk menikah dengan Ivander? Benarkah apa yang didengarnya ini?
“Kamu mau kan, menerima lamaran Ivan?”
“Maaf Bu. Saya tidak bisa menerima pria beristri sebagai suami saya.”
__ADS_1
Angkuh sekali janda ini, pikir Evelyn.
Tidak mau menerima pria beristri. Jangan-jangan janda beranak satu itu menginginkan Ivander menceraikannya, baru dia mau menikah dengan Ivander. Dasar picik!
Evelyn bertambah kesal. Namun, wanita itu berusaha menahan emosinya. Dia tak mau gagal membujuk Qeiza. Dia tak mau Ivander tak memeroleh warisan. Dia juga tak mau sampai harus berpisah dari Ivander. Tidak akan dia biarkan janda beranak satu itu yang menikmati harta kekayaan Ivander. Terlebih secara terang-terangan Andreas akan memberikan warisan pada Ivander, saat sang suami menikahi Qeiza.
“Tolong kasihani saya, Qei. Saya tidak bisa kalau harus berpisah dengan Ivan. Saya sangat mencintainya.”
“Iya Bu. Saya tau. Saya tau kalau Ibu dan Pak Ivan saling mencintai.”
Seketika Evelyn tersenyum tipis. “Baguslah kalau dia sadar posisinya ada di mana!”
“Maka dari itu, saya tidak mau merusak kebahagiaan kalian. Saya tak ingin hadir di tengah-tengah cinta kalian. Saya tak akan sanggup berbagi suami. Terlebih saya tau, ke mana dia lebih condong,” lirih Qeiza.
“Mertua saya menginginkan seorang anak dari Ivander, Qei. Dan aku tidak bisa mengabulkannya. Tolong lah saya, Qei. Saya butuh bantuanmu. Saya ingin Kamu memberikan keturunan untuk Ivan.”
Mata Qeiza membeliak. Bagaimana mungkin seorang wanita meminta anak dari wanita lain?
“Saya bukan wanita penghasil anak, Bu!”
Evelyn sedikit terperanjat saat mendengar hardikan Qeiza. Sepertinya janda beranak satu itu tersinggung. Walaupun faktanya, wanita itu dinikahi Ivander memang untuk melahirkan anak untuk pria itu, tapi Evelyn tak mau Qeiza berubah pikiran.
“Maaf. Saya tidak bermaksud merendahkan. Tapi saya butuh kamu sebagai madu, Qei. Saya kurang sempurna dalam menjadi seorang istri. Walaupun Ivan tak pernah memersalahkan hal itu, tapi berbeda dengan mertua saya. Dia sangat kolot. Dia ingin Kamu menjadi menantunya. Tolonglah saya, Qei.”
Qeiza bergeming. Setiap kata yang terlontar dari bibir Evelyn bagaikan sebuah belati yang mengiris hati Qeiza. Setiap perkataan yang diucapkan Evelyn semakin menegaskan, jika Ivander ingin menikahinya hanya karena butuh seorang anak. Ucapan Evelyn membuat Qeiza tersadar, bahwa pria itu sangat mencintai Evelyn.
Evelyn melepas semua harga dirinya. Bayangan akan kehilangan warisan Andreas, membuat wanita itu berlutut di hadapan Qeiza.
“Tolong saya, Qei”
__ADS_1