Kata Mereka, Aku Pelakor

Kata Mereka, Aku Pelakor
Kecemburuan Qeiza


__ADS_3

Walaupun Ivander sudah menjelaskan rencana yang akan dijalankannya, Qeiza tetap merasa cemburu. Entahlah, apa dia berhak merasa untuk cemburu atau tidak. Dirinya adalah istri kedua seorang Ivander Bratajaya. Bukankah harusnya Evelyn yang merasa cemburu pada dirinya?


Bisa saja Evelyn mengunjungi klub itu karena merasa kesepian, akibat Ivander selalu bersamanya. Tapi, entah mengapa sejak Ivander menyatakan jika dirinya adalah satu-satunya wanita yang ada di hati dan pikiran pria itu, Qeiza merasa Ivander hanya miliknya seorang. Wanita itu mulai merasa bahwa dirinya mempunyai hak untuk cemburu.


“Ivona akan membelikan obat tidur untuk dia. Jadi, kamu tak perlu khawatir. Tidak akan terjadi lagi hal seperti semalam.”


“Hal seperti semalam? Hal seperti apa?”


Ivander menghela napas kasar. Kecemburuan seorang wanita yang dicintainya. Hal ini tak pernah dia rasakan sebelumnya. Sejak dekat dengan Evelyn, wanita itu tak pernah terlihat cemburu. Bahkan, saat dirinya menyatakan akan menikah lagi, Evelyn pun tak terlihat cemburu. Wanita itu hanya peduli pada uangnya.


“Hal yang membuat aku sangat merasa bersalah kepadamu. Aku benar-benar merasa bersalah karena telah menduakanmu.”


Mengertilah Qeiza tentang hal apa yang dibicarakan oleh Ivander. Ivander merasa bersalah padanya, padahal wanita yang dinikmatinya itu adalah istri sahnya. Rasa bersalah itu pastilah karena Ivander sangat mencintai Qeiza. Pria itu jujur mengenai perasaannya pada Evelyn yang tak tersisa.


Tapi, walau merasa bersalah, kenapa pria itu tetap melanjutkan permainannya dengan Evelyn? Apa karena permainan wanita itu sangat hebat? Seperti yang diceritakan Evelyn padanya, siang tadi.


“Mas, Mba Ev itu istri kamu. Kamu tak perlu merasa bersalah karena memberikannya nafkah batin. Justru itu adalah kewajiban kamu. Dan aku tau, kalau Mas sangat menyukai permainan Mba Ev di atas ranjang.”


Ivander terperangah. Pria itu menatap heran pada sang istri. Dia tau Qeiza tengah diliputi rasa cemburu, sekarang. Sayangnya, pria itu tidak tau, bagaimana cara menghadapi pasangan yang tengah cemburu?


Ivander pun berusaha membuat Qeiza tak lagi kesal padanya. Pria itu dengan santainya menyeritakan apa yang terjadi antara dirinya dengan Evelyn, malam itu.


Namun, apa yang diharapkan oleh Ivander, tak sesuai dengan apa yang terjadi. Marah wanita itu bukannya hilang, malah semakin menjadi. Qeiza malah bertambah kesal padanya. Wanita itu bahkan beranjak dari ranjang, lalu memakai pakaiannya dan meninggalkan Ivander sendiri di sana.


“Padahal aku sudah berkata jujur. Apa dia tidak percaya?” lirih pria itu.


Ivander menyeritakan apa yang dialaminya pada sang adik. Qeiza bahkan sudah satu jam meninggalkannya di kamar. Wanita itu masih belum kembali. Sepertinya Qeiza benar-benar kesal padanya.


“Mas ... Mas ... Sudah tau Qei sedang cemburu, tapi mas malah menyeritakan aktivitas ranjang yang Mas perbuat dengan wanita liar itu. Pantas saja jika Qei bertambah marah!”


Begitulah ocehan Ivona, saat Ivander menyeritakan keluh kesahnya pada sang adik.


“Tapi kan Mas menyeritakan yang sebenarnya, Von. Harusnya Qeiza senang dong saat Mas bilang, kalau Mas sama sekali tak punya hasrat lagi dengan Ev. Mas benar-benar tidak berhasrat lagi walau Ev menggunakan pakaian super seksi. Tapi, yang di bawah ini loh, tidak bisa diajak kompromi.”

__ADS_1


Ivona yang masih berada di kantor, hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar penuturan sang kakak.


“Beri saran dong, Von. Mas harus apa?”


“Ya, bujuk si Qei. Tunjukkan kalau memang Mas sama sekali tak berhasrat pada wanita liar itu. Tunjukkan kalau Mas hanya cinta dan takluk sama Qeiza.”


“Loh, Mas sudah tunjukkan kok. Mas juga sudah katakan dengan jujur pada Qei. Hanya melihat paha Qei sedikit saja Mas sudah bangkit. Berbeda dengan bersama Ev, semalam. Wanita itu sampai berusaha ekstra untuk menggoda Mas di bawah sana, baru 'itu' Mas bisa bangkit. Dan, sekarang, saat Mas beritahu kalau Mas terpaksa balik ke kediaman Ev. Qeiza malah curiga, kalau aku kembali ke rumah Ev karena memang sangat menyukai permainan Ev di atas ranjang!”


Ivona memijat pelipisnya. “Qei lagi ngambek dan Mas mau menginap di rumah si liar itu?!”


“Bukankah itu rencana kita? Mas harus kembali ke sana agar Ev tidak curiga kan? Bukankah Ev harus berpikir jika hubungan Mas dengan Qei menjadi renggang karena rencananya dia?”


“Iya ... Tapi kan tidak harus kembali ke sana saat Qei masih merajuk seperti itu. Malam ini, Mas harus temani Qei. Jangan kembali ke sana!”


“Terus, kalau Ev bertanya, Mas harus jawab apa? Dia pasti curiga kalau Mas tidak kembali ke sana dan malah menginap di sini.”


Lagi, Ivona menghela napas kasar. Wanita beranak dua itu, rasanya ingin sekali menjambak rambut Ivander dan menghempaskan kepala kakak lelakinya itu ke tembok.


“Mas, lebih baik kamu pelihara kucing deh,” ucap Ivona malas.


“Bukan masalah Qei suka kucing atau tidak!”


“Terus? Kenapa harus pelihara kucing?”


“Dari pada Mas pelihara be*go, lebih baik pelihara kucing kan!”


Ivander yang tadinya berniat memecahkan masalahnya dengan menghubungi Ivona, kini malah menjadi emosi mendengar ucapan sang adik.


“Maksud kamu apa, Von?!”


“Lagian, Mas tuh dari dulu masih saja begitu. Pantas jika Ev selalu menyetir Mas. Be*go dipelihara sih! Kucing tuh dipelihara!” umpat Ivona.


Ivander bergeming. Pria itu menatap ponselnya. Ivona secara tiba-tiba memutuskan panggilan teleponnya. Sementara sang istri masih belum juga kembali ke kamar.

__ADS_1


“Aku juga tidak mau kembali ke rumah Ev. Tapi harus pakai alasan apa biar dia percaya kalau hubunganku dengan Qei merenggang?”


Pria itu bermonolog. Dirinya juga tak ingin kembali ke kediaman Evelyn. Dirinya sudah benar-benar muak. Benar apa yang dikatakan oleh sang ayah, waktu itu. Harusnya dia menceraikan Evelyn sejak lama. Ivander menyesal karena pernah merasa kasihan pada wanita itu jika harus menyeraikannya.


Ponsel Ivander seketika berbunyi, saat pria itu masih dalam lamunan penyesalannya. Nama Evelyn terpampang pada layar ponselnya. Wanita itu pasti ingin tau mengenai hubungannya dengan Qeiza.


“Kamu nanti pulang ke sini atau tidak, Hon?”


Dahi Ivander berkerut. Pria itu tak menyangka jika Evelyn menghadirkan sebuah pilihan. Kembali atau tidak ke kediaman wanita itu. Tadinya Ivander pikir, Evelyn sudah pasti akan memintanya untuk kembali ke sana.


“Entahlah,” jawab Ivander malas.


Di ujung telepon, Evelyn tersenyum sumringah. Dari nada suara Ivander, pria itu jelas sekali seperti orang yang tengah dilanda frustasi. Sudah pasti Ivander dan Qeiza habis bertengkar hebat. Begitulah pikir Evelyn.


“Aku tau, ini pasti berat buat kamu, Hon. Kamu protes saja dengan Papi kamu itu. Ternyata, wanita yang dijodohkannya tidak sebaik itu.”


Ucapan Evelyn memberikan Ivander sebuah ide.


“Iya. Aku memang sedang di rumah Papi.”


“Kamu menginap saja di sana. Nanti, kalau sudah tenang, kamu bisa kembali ke sini.”


“Iya,” jawab Ivander singkat. Pria itu akhirnya bisa bernapas lega. Dia tak harus memikirkan alasan dirinya tak kembali ke kediaman wanita liar itu. Dirinya bisa membujuk Qeiza dengan lebih leluasa.


“Oh iya, Hon. Temanku tadi memberikan ide. Kamu tidak perlu menikahi wanita lain jika ingin mendapatkan anak. Ada kenalanku yang bersedia mengandung anak kita. Wanita dengan rahim bayaran. Jadi, kamu ceraikan saja wanita yang berpura-pura lugu seperti Qeiza itu!”


Ivander terpaku. Bisa-bisanya Evelyn memikirkan untukmu menyewa seorang wanita yang mau mengandung bayinya!


“Wanita ular seperti Qeiza itu, hanya akan menjadi masalah buat kehidupan kamu,” ucap Evelyn.


“Aku mau istirahat, kepalaku pusing.”


Tanpa menunggu jawaban Evelyn, Ivander memutuskan panggilan telepon itu secara sepihak.

__ADS_1


“Wanita seperti apa yang sudah kunikahi selama sepuluh tahun ini?!”


__ADS_2