
Dakwaan delapan tahun penjara, membuat kaki Evelyn lemas. Wanita itu tidak bisa membayangkan tinggal selama delapan tahun di tempat yang seperti neraka itu. Evelyn menangis meraung-raung saat hakim membacakan dakwaannya. Wanita itu berlari menghampiri Ivander lalu bersujud di hadapan pria itu.
“Tolong aku, Van. Aku tidak mau dipenjara. Bantu aku. Tolong Carikan pengacara hebat untukku.”
Ivander bergeming. Pria itu bukan hanya tak membalas ucapan Evelyn. Ivander bahkan enggan menatap wajah wanita itu.
“Van! Kenapa kamu begitu kejam padaku! Ini semua pasti karena hasutan dari Papimu itu kan?! Tidak ingatkah kamu saat-saat kita bersama selama hampir sepuluh tahun!” teriak Evelyn. Wanita itu histeris hingga harus diamankan oleh beberapa aparat yang bertugas mengamankan area persidangan.
Evelyn berontak. Wanita itu tak mau kembali duduk di bangku terdakwa. Evelyn meronta-ronta dan sembari berteriak-teriak mencaci Ivander. Namun Ivander tetap bergeming di sana.
***
Satu bulan berlalu sejak pembacaan dakwaan kasus Evelyn. Itu artinya, sudah hampir tiga bulan wanita itu berada dalam sel tahanan. Evelyn yang terbiasa mengkonsumsi makanan sekelas hotel bintang lima, membuat wanita itu tak berselera makan. Terlebih saat awal di sel tahanan, wanita itu tidak makan sama sekali hingga jatuh sakit sebelum jadwal persidangan. Wanita itu pun terlihat lebih kurus dari biasanya.
Tidak hanya itu, tak lagi pernah melakukan perawatan tubuh selama hampir tiga bulan membuat wajahnya kusam, rambutnya tak lagi tertata rapi. Evelyn bahkan tak lagi wangi seperti biasanya.
Saat itu Evelyn sedang memijat seorang wanita yang menjadi pemimpin di dalam sel tahanan. Rambut Evelyn ditarik karena wanita itu merasa kesal.
“Keluarkan tenagamu! Main gila dengan tiga pria, kamu sanggup! Giliran disuruh memijat, tak bertenaga!”
Evelyn menjerit-jerit kesakitan. Wanita itu terus mencengkeram kuat rambutnya.
“Bukan tenagaku yang tidak ada, tapi badanmu terlalu tebal!” teriak Evelyn. Wanita yang menjadi pemimpin di sel tahanan itu bangkit dari duduknya. Masih dengan mencengkeram erat rambut Evelyn, wanita itu menarik rambut Evelyn.
Evelyn berjalan terseok-seok saat rambutnya di tarik paksa mengikuti langkah kaki wanita itu.
__ADS_1
Bammm!
Bagai sebuah cakram, wanita yang menjadi pemimpin di sel tahanan itu, melempar Evelyn sekuat tenaga, hingga kepala wanita itu menghantam dinding. Evelyn menjerit. Pelipisnya mengeluarkan darah. Baru saja Evelyn hendak menegakkan tubuhnya, wanita tadi sudah mencengkeram lehernya. Evelyn matanya melotot. Dirinya tak bisa bernapas.
Evelyn merasa ini adalah akhir hidupnya.
Namun nasib Evelyn ternyata tak setragis itu. Beruntung salah seorang sipir menghampiri sel mereka.
“Hei, lepaskan!” ucap sipir itu. Wanita itu pun melepaskan jemarinya dari leher mulus Evelyn. Evelyn pun terbatuk-batuk karena sedari tadi tercekik.
“Bu Evelyn, ada yang ingin bertemu. Ayo ikut saya.”
Mengikuti langkah kaki sang sipir, akhirnya Evelyn tiba di tempat penjengukkan. Wajah Evelyn mendadak sumringah saat melihat Ivander duduk di sana. Sudah satu bulan sejak terakhir kali dia bertemu Ivander di persidangan.
Apa Ivander akhirnya sadar, bahwa pria itu tak bisa hidup tanpa pelayanan darinya?
Evelyn tersenyum kecil saat memikirkan hal itu. Ternyata memang tak ada yang bisa memuaskan Ivander di ranjang selain dirinya. Dia tau, pria itu masih tergila-gila padanya. Pada aksinya di atas ranjang.
Apa Ivander akan membebaskannya?
Dengan senyum sumringah, Evelyn duduk tepat di hadapan Ivander.
“Kamu terlihat semakin tampan, Van.”
Ivander bergeming. Pria itu hanya menampilkan senyuman tipis, lalu mengeluarkan sejumlah berkas.
__ADS_1
“Harusnya hari ini adalah anniversary pernikahan kita yang kesebelas,” ucap pria itu.
Evelyn semakin sumringah. Wanita itu semakin yakin jika Ivander akan membebaskan dirinya dari tahanan. Pria itu masih mengingat hari ulang tahun pernikahan mereka. Bisa dipastikan Ivander masih mencintai dirinya. Ivander belum melupakannya. Mungkin, pria itu baru tersadar jika sangat membutuhkan dirinya. Begitulah pikir Evelyn.
“Namun, sayangnya, sejak kemarin, hubungan kita resmi berakhir. Aku ke sini hanya ingin mengantarkan akta perceraian kita.”
Wajah Evelyn yang tadi sumringah, seketika membeku. Pria itu datang menemuinya hari ini, bukan untuk membebaskannya dari penjara, melainkan membebaskan dirinya dari pernikahan mereka.
“Kenapa kamu tega sekali denganku, Van. Kamu tega menyeraikan aku saat aku di penjara. Aku tau, kamu pasti sudah terhasut oleh kata-kata Papimu yang kolot itu. Aku tau, sebenarnya kamu tidak ingin menyeraikan aku. Aku tau kalau kamu masih tergila-gila padaku!” ucap Evelyn.
Evelyn masih mengiba. Jemarinya masih menggenggam dan mengguncang lengan Ivander. Wanita itu terus mengiba.
“Menghasut? Kamu menuduh Papi menghasutku? Ternyata selama ini kamu selalu berpikir kalau aku ini orang bodoh ya?!” ketus Ivander.
“Ya ... Aku akui, selama ini aku memang bodoh. Bodoh karena selalu terpedaya oleh tipu muslihatmu. Tapi, aku tidak sebodoh itu, Ev. Mengetahui fakta perselingkuhanmu yang ternyata sudah dimulai sejak dulu, bahkan menyaksikan secara langsung kamu bergumul dengan beberapa pria, aku tidak butuh hasutan dari siapapun untuk menyeraikan kamu, Ev. Bertahun-tahun kamu mengelabuiku, aku rasa kamu pantas mendapatkan semua ini.”
Evelyn seketika menarik jemarinya. Wanita itu kini menatap tajam pada pria yang kini sudah resmi menjadi mantan suaminya. Ivander bukan lagi sosok yang sama seperti dulu. Tak ada lagi cinta di mata pria itu.
“Kamu tenang saja. Setelah keluar dari penjara ini, kamu tidak akan langsung menjadi miskin. Rumah yang biasa kamu tempati itu, ambillah. Walau harusnya dibagi dua, tapi aku ikhlas memberikannya. Tak ada satu barangpun aku ambil dari sana selain pakaian dan berkas-berkas kantor. Ini surat-surat kepemilikan rumah, dan mobil, juga bukti transfer uang tunai sebesar sepuluh miliar. Kamu bisa membeli puluhan pria dengan uang itu. Semua surat ini akan aku titipkan di notaris biasa, kamu tau kan? Nanti kalau kamu sudah bebas, kamu bisa mendatanginya.”
Usai mengungkapkan apa yang ingin dia sampaikan, Ivander berlalu begitu saja, meninggalkan Evelyn yang masih terdiam. Wanita mengatur siasat sebelum seorang sipir kembali membawanya masuk ke sel.
Beberapa hari setelah kunjungan Ivander, Evelyn terlihat berbicara dengan salah satu sipir. Dan tiga Minggu setelahnya, Evelyn dibebaskan. Wanita itu menghabiskan satu per empat dari uang yang diberikan oleh Ivander, dihabiskannya untuk bisa bebas dari penjara.
Ternyata, Evelyn bukan hanya membebaskan dirinya sendiri, wanita itu juga membebaskan seorang pria. Pria yang membuat hasratnya terus menggebu hanya dengan menatap pria itu. Dialah salah satu pria yang dibawa oleh Jeremy ke hadapannya, waktu itu. Entah mengapa Evelyn begitu tergila-gila pada pria itu. Pria itu pun bersedia mendampingi Evelyn.
__ADS_1