Kata Mereka, Aku Pelakor

Kata Mereka, Aku Pelakor
Kebebasan


__ADS_3

Tepat pukul 00:00 WIB, Ivander terbangun karena ponselnya berbunyi. Bunyi pengingat dari ponsel Ivander, tak hanya membuat pria itu terbangun, Qeiza pun ikut terbangun karenanya. Ivander mengucek mata. Pria itu menggapai ponselnya yang berada di dalam laci meja, yang ada di samping ranjang.


“Ada apa, Mas?” tanya Qeiza.


Ivander tersenyum lembut sembari menggelengkan kepalanya. “Tidak ada apa-apa. Cuma pengingat, kalau besok aku harus datang ke kantor notaris, untuk mengurusi akta perceraian, sekaligus surat-surat pengalihan aset yang jadi harta gono-gini.”


Qeiza menganggukkan kepalanya seraya mengucapkan huruf O. “Semoga semua lancar ya, Mas,” ucap wanita itu.


“Semuanya harus berjalan lancar,” ucap Ivander seraya mengelus rambut Qeiza. “Yasudah, kamu tidur lagi.”


Ivander terus mengusap-usap dahi Qeiza hingga wanita itu kembali terlelap. Ivander kembali menatap ponselnya, lalu melirik pada sang istri yang sudah pulas.


“Maaf karena aku sudah membohongi kamu, Sayang,” ucap Ivander.


Pria itu kembali membaca tulisan yang tertera pada layar ponselnya.


“Harusnya, hari ini kita merayakan ulang tahun pernikahan yang ke sebelas, Ev. Miris sekali. Akta perceraian kita keluar, tepat di hari ulang tahun pernikahan kita. Lusa, mungkin akan jadi pertemuan kita yang terakhir,” lirih pria itu.


Dan, di pertemuan terakhir itu, Ivander benar-benar mempersiapkan dirinya. Pria itu berdandan lebih rapi dari biasanya. Ivander bahkan menggunakan pakaian terbaiknya. Dia memang ingin terlihat lebih segar dan tampan, hari itu.


“Sepertinya, Mas sangat menanti sekali datangnya hari ini!” ketus Qeiza. Wanita itu kesal melihat sang suami terlihat begitu rapi, tampan dan harum. Ivander bahkan sudah berdiri di depan cermin selama sepuluh menit.


“Mas memang sudah menanti lama,” jawab Ivander santai.


“Rindu ya, dengan mantan istri!”


Pria itu seketika menghentikan aktivitasnya. Kini dia tau, alasan mengapa sang istri sedari tadi menatapnya dengan tajam. Qeiza tengah cemburu. Ivander gemas sekali melihat sikap cemburu wanita itu. Ivander pun berniat untuk menggoda Qeiza sebentar lagi.


“Bukannya rindu. Aku hanya tidak sabar untuk segera bertemu.”


Wajah Qeiza semakin bertekuk. Wanita itu menghentak kakinya. Tampaknya Qeiza hendak beranjak dari walk in closet. Ivander sengaja membiarkan wanita itu dan tak menahannya. Hal itu pun membuat Qeiza bertambah kesal.


Padahal Ivander dan Evelyn sudah resmi berpisah. Tapi, sang suami malah berpenampilan begitu istimewa saat ingin menemui mantan istrinya. Apa sang suami akan mengajak wanita itu kembali rujuk?

__ADS_1


Dirinya tidak akan menyetujuinya jika itu terjadi. Dia tak akan rela dimadu. Walau dia datang ke kehidupan Ivander sebagai istri kedua. Tapi, kini dia sudah menjadi istri satu-satunya dari seorang Ivander Bratajaya. Dia tak mau pria itu menikah lagi, walau dengan mantan istrinya.


Begitulah pikir Qeiza.


Qeiza terus berjalan sembari menghentak-hentak kakinya. Hatinya benar-benar dibakar cemburu.


Namun, saat wanita itu tengah merapikan ranjang, Ivander memeluknya dari belakang.


“Sekarang, di hati dan pikiranku hanya ada seorang wanita. Wanita itu bernama Qeiza Hikaru. Aku berpenampilan begini, biar wanita itu tau, kalau setelah diurusi oleh kamu, aku menjadi lebih segar.”


“Gombal!”


Ivander terkekeh-kekeh. Makin hari Qeiza semakin menggemaskan, menurutnya. Pria itu semakin mengeratkan pelukannya. Ivander bahkan membenamkan wajahnya pada lekuk leher Qeiza dan meninggalkan jejak-jejak kepemilikan di sana.


“Aku mencintaimu, Qei. Sangat mencintaimu,” lirih Ivander.


“Aku akan membuat dia berpikir jika aku datang karena merindukannya. Aku juga akan mengatakan hal-hal yang membuatnya tersanjung. Lalu, aku serahkan akta cerai itu padanya. Biar dia tau, kalau aku benar-benar sudah tak Sudi lagi menjadi suaminya.”


Qeiza melepaskan dekapan sang suami. Wanita itu berbalik badan dan menatap Ivander. “Jahat kamu, Mas!”


“Ya, rencana Mas yang jahat. Buat dia terbang melayang kemudian dihempaskan. Begitu kan rencananya?”


Ivander mengangguk dengan antusias. “Itu namanya jahat, Mas. Jangan begitu. Kasihan Mba Ev. Dia kan sudah mendapatkan balasannya.”


“Kasihan Qei?”


“Iya Mas. Kasihan. Jangan begitu.”


“Yasudah, kalau begitu, nanti di penjara, aku dan dia sayang-sayangan, peluk-pelukan.”


Qeiza seketika cemberut mendengar ucapan sang suami. “Ya tidak perlu sayang-sayangan juga!” ketus Qeiza. “Cari kesempatan saja!”


Ivander terkekeh mendengar kekesalan Qeiza. “Loh, tadi katanya kasihan. Di sana, pasti tidak ada yang peluk-peluk dia,” ucap Ivander yang masih terkekeh. Qeiza semakin cemberut mendengarnya. Ivander pun membawa Qeiza dalam dekapannya, lalu menghujani wajah sang istri dengan banyak kecupan. Sepasang suami istri itu benar-benar terlihat seperti muda-mudi yang tengah kasmaran.

__ADS_1


“Sayang ... Orang seperti dia tidak perlu dikasihani. Apa dia meras kasihan saat memfitnah kamu? Aku masih ingat betul, kamu setiap hari menangis karena fitnah itu. Kamu sampai harus terapi untuk memulihkan mentalmu. Yang aku lakukan ini, tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan yang sudah dia lakukan terhadap kita, terlebih terhadap kamu. Jadi, biarkan aku memberi sedikit pelajaran padanya.”


Terpaksa Qeiza menganggukkan kepalanya. Wanita itu sebenarnya tak mau membalas dendam pada Evelyn. Bagi Qeiza, dengan dipenjaranya Evelyn, itu sudah balasan yang lebih dari cukup.


***


Benar saja apa yang dipikirkan oleh Ivander. Wanita yang memakai seragam tahanan itu, begitu sumringah melihat kehadirannya. Wanita itu bahkan memuji penampilannya. Ivander pun mengingatkan kembali hari ulang tahun pernikahannya dengan Evelyn, yang membuat wajah sumringah wanita itu semakin bersinar.


Dan, wajah wanita sumringah itu mendadak pucat, saat Ivander menyerahkan akta perceraian pernikahan mereka. Ada perasaan puas saat melihat perubahan raut wajah Evelyn.


Setelah berjalan memberikan akta perceraian itu pada seorang pengacara, Ivander meninggalkan Evelyn yang masih terpaku, begitu saja.


Ivander merasa pundaknya menjadi begitu ringan. Beban yang selama ini terasa begitu berat, kini sudah terlepas. Akhirnya, dia terbebas dari wanita liar itu. Tak pernah terpikirkan olehnya, jika berpisah dengan Evelyn membuatnya merasa begitu bahagia.


Dan, kebahagian itu bertambah, kala Ivander kembali ke kediamannya.


Qeiza baru saja keluar dari toilet. Wanita itu bahkan masih berada persis di pintu masuknya.


“Kenapa Sayang? Kok kamu bengong di sana?” tanya Ivander.


Qeiza yang merasa terkejut dengan kehadiran Ivander, hampir saja menjatuhkan beberapa benda pipih yang ada di genggamannya.


“Mas, sudah kembali?”


Ivander mengangguk seraya melangkahkan kakinya, mendekati sang istri. “Kamu kenapa?” tanya pria itu sekali lagi.


Qeiza tersenyum sumringah sembari menunjukkan salah satu benda pipih yang ada di genggamannya.


“Sepertinya, aku hamil, Mas.”


...****************...


Jejak 🐾

__ADS_1


Secara definisi, walk in closet sebetulnya merupakan sebuah ruangan untuk menyimpan pakaian seseorang seperti pakaian, sepatu, dasi, ikat pinggang, perhiasan, dan lainnya. Ruangan ini juga bisa menjadi tempat untuk berpakaian dan merias wajah


__ADS_2