
Evelyn merasa tubuhnya sedikit bertenaga pasca melakukan radioterapi, tiga hari lalu. Hari ini dirinya sudah diperbolehkan untuk kembali ke kediamannya. Setelah bersiap-siap, Evelyn pun meninggalkan rumah sakit tanpa membayar sepeserpun biaya perobatan karena Qeiza sudah melunasi semuanya.
Menaiki angkutan kota, Evelyn menuju sebuah klub malam, tempat di mana dia tinggal selama ini. Sebenarnya, wanita itu dianjurkan untuk melakukan perawatan hingga satu Minggu ke depan, kemudian kembali melakukan tindakan radioterapi. Tapi, tentu saja wanita itu tak terus berada di rumah sakit hingga Minggu depan. seorang wanita tengah berjalan tertatih-tatih di pinggir jalan. Selain tak ada lagi yang menjadi penjamin, Evelyn tak memiliki uang sepeser pun untuk dirawat di rumah sakit.
Lima belas menit menaiki kendaraan umum, wanita itu akhirnya tiba persis di depan klub malam tempatnya tinggal sekaligus bekerja.
Dengan tertatih dia memasuki klub tersebut dan langsung berjalan menuju sebuah ruangan yang berada persis di belakang klub. Namun, betapa terkejutnya Evelyn, saat melihat sebuah koper berwarna jingga berada tepat di depan pintu ruang tidurnya.
“Kenapa koperku berada di luar?” gumamnya. Evelyn menarik koper tersebut dan mengambil kunci dari dalam tasnya. Mencoba untuk membuka pintu, namun wanita itu tak berhasil melakukannya.
“Kenapa kuncinya tidak berfungsi?” tanyanya bingung.
Seorang pria melangkah menghampirinya. “Hai, Ev, kau tidak boleh lagi tinggal di sini. Pergi sana!” ujarnya.
“Tidak boleh tinggal di sini? Terus aku harus tinggal di mana Bang?” tanyanya pada pria itu.
“Mana aku tau kau mau tinggal di mana?! Yang jelas, Boss berpesan agar kau pergi dari sini!”
Evelyn mengambil ponselnya. Wanita itu tak mau percaya begitu saja pada pria yang bertugas menjaga keamanan klub malam. Dia menghubungi Leonard. Pemilik klub malam yang juga merupakan temannya.
“Le, kenapa aku tidak boleh lagi menempati ruangan di belakang?” tanya Evelyn begitu sambungan telepon itu terhubung pada Leonard.
“Izinkan aku tinggal malam ini saja, Le. Besok, sehabis bekerja, aku akan mencari tempat tinggal di sekitar klub. Aku baru pulang dari rumah sakit, Le. Aku butuh istirahat sebentar sebelum membersihkan klub.”
“Maaf Ev. Kamu juga tidak boleh lagi untuk bekerja di klub milikku. Aku harap kamu segera angkat kaki dari sana!”
Leonard memutuskan panggilan telepon itu secara sepihak. Pria itu tak mau berbasa-basi dengan Evelyn. Dia tidak akan membiarkan wanita berpenyakit itu berada di klub malam miliknya.
Evelyn masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Klub malam adalah satu-satunya harapan agar dia bisa bertahan hidup. Dia bisa mendapatkan gaji sekaligus tempat tinggal di sana. Jika dia diusir dari sana, ke mana lagi dia akan mencari tempat bernaung?
“Bagaimana, Boss pasti bilang kalau kau tak boleh di sini kan? Beberapa hari lalu Boss meminta aku untuk mengusir kau jika kau datang ke sini.”
__ADS_1
Evelyn tak mau menanggapi ucapan pria berotot itu. Dia duduk persis di depan tempat yang sudah beberapa bulan menjadi kediamannya.
“Pergi sana!” usir pria berotot itu. Evelyn bergeming. Wanita itu tak memedulikan ucapan pria itu. Evelyn berulangkali menghubungi Leonard, namun pria itu tak mau menjawab panggilan telepon darinya. Berulangkali Evelyn menghubungi, berulangkali juga Leonard menolak panggilan telepon itu.
“Mau pergi sendiri atau dipaksa!” ancam pria berotot itu. Evelyn sama sekali tak takut dengan ancaman itu. Dia lebih takut akan dirinya yang tak lagi punya tempat untuk bernaung. Tak ada tempat untuk tidur, tak ada pekerjaan untuk mendapatkan uang.
Evelyn terus menghubungi Leonard walau pria itu terus menolak panggilan telepon darinya. Dan sepertinya Leonard telah bosan mendengar ponselnya berdering berulang-ulang kali.
“Br3ngsek Leon! Nomorku sepertinya diblokir!” umpat Evelyn.
“Boss sudah tidak mau lagi kau ada di sini! Ayo cepat pergi! Kalau kamu pria, sudah aku seret kau sedari tadi! Ayo cepat, pergi sana!”
“Aku tidak akan pergi sampai Leonard menjelaskan alasan dia mengusirku dari sini!
“Aki tidak akan pergi dari sini sampai Leonard menjelaskan alasan kenapa dia mengusir dan memecatku dari sini! Aku bekerja dengan sangat baik, aku juga tidak pernah berbuat ulah selama di sini!” teriak Evelyn.
Pria berotot itu menggelengkan kepalanya melihat betapa keras kepalanya Evelyn. Dia pun menghubungi Leonard dan memberitahukan perihal Evelyn yang tak kunjung pergi dari tempat itu.
Seperti itulah perintah Leonard. Pria berotot itu pun langsung menjalankan perintah dari pemilik klub malam itu. Dia menyeret Evelyn keluar dari sana. Evelyn meronta-ronta. Wanita itu berteriak-teriak meminta untuk dilepaskan.
Lepaskan aku! Lepaskan aku! Dasar orang br3ngsek, beraninya hanya dengan wanita!”
Pria berotot itu tentu saja tak memedulikan umpatan yang terlontar dari mulut Evelyn. Dia terus menyeret Evelyn, menggeret koper wanita itu, lalu menghempaskannya begitu saja hingga Evelyn terjerembab.
“Wanita keras kepala seperti kau ini memang cocok diperlakukan kasar! Jangan pernah kembali ke sini!”
Evelyn yang tak terima, tetap menunggu di sana. Dia berteriak-teriak memaki Leonard bagai orang kehilangan akal.
“Akan aku hancurkan klub malam ini. Klub malam bi4dab! Pemiliknya pun bi4dab! Akan aku bocorkan rahasia di klub ini. Bilang sama Leonard!”
Ancaman Evelyn ternyata berhasil. Para pria berotot itu menghubungi Leonard. Dan tiga puluh menit berselang, Leonard pun tiba di sana.
__ADS_1
Evelyn tengah meringkuk menahan sakit saat Leonard tiba di sana. Dengan kakinya, Leonard menggeser tubuh Evelyn hingga wanita itu terlentang.
“Angkat dia dan masukkan ke gudang!” perintah Leonard.
Kedua pria itu dengan cepat menjalankan perintah. Mereka mengangkat tubuh Evelyn dan meletakkannya di gudang.
“Ikat dia! Jangan beri makan dan minum hingga mati, lalu buang mayatnya!”
Mendengar jika dirinya akan diikat, Evelyn berteriak, memohon ampunan pada pemilik klub malam itu.
“Jangan Le, aku mohon jangan,” lirih wanita itu.
“Aku sedang sakit berat, Le. Tolong jangan siksa aku. Tanpa kamu membunuhku, hidupku juga tidak akan lama lagi, Le. Aku mohon kasihani aku.”
“Sekarang kau minta dikasihani. Tadi kau mengancam mau membongkar rahasia klub!”
“Aku hanya menggertak, Le. Aku butuh tempat tinggal dan pekerjaan, Le. Tolong aku.”
Leonard berdecih. Pemilik klub malam itu menyampaikan pada Evelyn, jika dirinya sudah tau penyakit apa yang diderita oleh wanita itu.
“Aku tertular penyakit ini, pasti karena salah satu penarimu yang pernah tidur denganku, Le. Atau mungkin darimu? Kamu kan juga pernah beberapa kali mencicipi tubuhku. Apa kamu lupa itu, Le?!”
Cih.
Leonard meludahi wajah Evelyn. “aku sudah melakukan pemeriksaan, seluruh penariku juga. Dan tidak ada yang mengidap penyakit itu satu orang pun! Kau ingin keluar dari gudang ini dengan keadaan masih bernyawa atau sudah mati?”
Tentu saja tubuh Evelyn bergetar mendengar ucapan Leonard.
“Kalau ada satu rahasia klub terbongkar, aku akan mencari kamu ke mana pun dan langsung mengeksekusi saat itu juga.”
Leonard mengeluarkan puluhan lembar uang seratus ribu ke hadapan Evelyn.
__ADS_1
“Karena aku pernah terkesan dengan permainan mu, aku berbaik hati memberikan uang ini. Pergi jauh-jauh dari sini dan jangan pernah kembali lagi ke sini. Aku tak mau klub milikku bangkrut karena orang-orang tau mengenai penyakit salah satu babu di klub ini!”