
Andreas masih dalam kondisi kritis saat Ivander dan Ivona tiba di sana. Kedua anak kandung Andreas itu pun meminta untuk diperbolehkan menjenguk sang ayah.
“Hanya boleh satu orang saja yang masuk,” ujar Dokter Ibra, dokter pribadi keluarga Bratajaya. “Nanti bergantian saja.”
“Mas,” lirih Ivona. Ivander menganggukkan kepalanya.
“Iya Von. Kamu saja yang lebih dulu. Mas akan menjenguk Papi setelah kamu,” ucap Ivander.
Sepasang kakak beradik itu pun bergantian menjenguk ayah mereka yang tidak sadarkan diri. Waktu menjenguk selama sepuluh menit itu, dihabiskan Ivona dengan menangis sembari meminta sang ayah untuk sadar. Namun, Andreas masih dengan kondisi semula. Pria itu masih tak sadarkan diri.
Sementara Ivander, pria itu menepati janjinya. Dia mengungkapkan rasa terima kasihnya pada sang ayahanda. Pria itu berdiri di sisi ranjang sembari menatap pilu pada ayahnya terbujur di sana.
“Ivan tidak tau, apa jadinya hidup Ivan kalau tidak ada Papi. Papi yang selalu memakaikan dasi pada Ivan. Papi yang selalu mengajarkan tentang kepemimpinan pada Ivan. Papi yang sudah mengajarkan Ivan banyak hal. Bahkan, Papi juga yang memilihkan jodoh terbaik untuk Ivan.
Ivan sangat berterima kasih pada Tuhan karena telah memilihkan Papi sebagai orang tua Ivan di dunia ini. Jika Papi sudah lelah. Jika Papi begitu merindukan Mami. Ivan ikhlas, Pi.”
Walau berusaha tegar, tapi Ivander tetap menangis tersedu-sedu. Mengikhlaskan kepergian orang yang begitu kita cintai, pastilah terasa sangat berat. Namun, Ivander tau, dari keterangan dokter, Andreas bisa bertahan karena bantuan dari peralatan medis. Jika satu saja peralatan medis itu tercabut, maka, nyawa Andreas akan pergi begitu saja.
“Pi ... Papi seorang ayah yang sangat baik. Papi juga seorang kakek terbaik. Kami semua mencintai Papi.”
Usai Ivander mengungkapkan isi hatinya pada sang ayah, monitor alat vital menampilkan garis lurus. Tanda bahwa kondisi vital seperti EKG (elektrokardiogram) atau detak jantung, respirasi, saturasi (kadar oksigen dalam darah), dan tekanan darah, tak lagi berfungsi. Tangis Ivander semakin pecah menyadari hal itu.
Walau sudah mengikhlaskan, tapi kondisi ini begitu berat buat Ivander. Pria itu bahkan jatuh tersungkur. Kakinya tak lagi kuat menopang tubuhnya.
Seorang perawat masuk ke ruangan itu, persis di saat Ivander jatuh tersungkur. Saat melihat tampilan monitor, perawat itu gegas memanggil dokter.
Ivander pun dibopong keluar dari ruang ICU itu. Melihat sang suami yang begitu lemah, Qeiza gegas menghampiri. Sementara Ivona seketika berjongkok dan menangis tersedu-sedu. Raka yang berada di sisi Ivona, segera memeluk dan berusaha menenangkan ibunya.
“Mas,” lirih Qeiza dan membawa sang suami ke dalam dekapannya. Tangis Ivander semakin pecah. “Papi sudah tidak ada, Qei. Papi sudah pergi,” ucap Ivander seraya memukuli dadanya.
“Ikhlaskan Mas. Kita harus ikhlas,” ucap Qeiza. Ivander tau, dia harus ikhlas, tapi rasa sakit di hatinya tak bisa dibendung. Pria itu kehilangan sahabat terbaiknya.
Anggara yang baru saja tiba di sana, setelah mengurusi administrasi penyewaan pesawat pribadi yang mereka tumpangi tadi, langsung menghampiri Melati.
“Bu, saya minta tolong untuk bawa anak-anak pulang. Kasihan mereka kalau terus berada di sini,” ucap Anggara. Bukan tanpa alasan Anggara mengatakan hal itu. Melihat orang tuanya tengah menangis sesenggukan, Mika dan Sean mendadak ikut menangis histeris.
Melati dan kedua pengasuh Mika dan Sean, membawa ketiga anak-anak itu meninggalkan rumah sakit. Hanya Raka saja yang memang memaksa untuk tetap berada di rumah sakit.
...****************...
__ADS_1
Suasana duka masih terasa begitu mendalam di rumah mewah keluarga Bratajaya. Ivona dan Ivander masih begitu terpukul atas kematian sang ayahanda. Bahkan satu minggu setelah kepergian sang ayahanda, baik keluarga kecil Ivander maupun Ivona, masih menginap di rumah peninggalan orang tua mereka.
Dan, satu hari setelah memperingati acara 100 hari berpulangnya Andreas Bratajaya, Jody— asisten pribadi Andreas— datang ke rumah besar Bratajaya bersama seseorang yang menjadi kuasa hukum Andreas. Kebetulan, anak dan cucu Andreas Bratajaya masih menginap di rumah besar Bratajaya itu.
“Om Nino,” sapa Ivander. Pria lanjut usia yang dipanggil Ivander dengan sebutan 'Om Nino' itupun membalas jabatan tangan Ivander.
“Om mau membacakan wasiat Papi kalian,” ujar Nino.
“Loh, bukannya pembagian saham dan aset perusahaan sudah dibacakan waktu itu?”
“Masih ada harta dan aset pribadi, yang tidak berhubungan dengan perusahaan yang belum dibagikan,” jawab Nino.
Dan, sore itu, setelah seluruh anggota keluarga Bratajaya berkumpul di ruang keluarga, mendengarkan Nino membacakan surat wasiat yang dibuat oleh Andreas Bratajaya, tiga bulan sebelum wafat.
“Seluruh tabungan uang, deposito, dan saham akan dibagikan secara rata kepada keempat cucu Pak Andreas— Raka, Qiana, Mika dan Sean. Semua nominalnya tertera di surat ini,” ucap Nino seraya memberikan lembaranRumah besar ini, diwariskan sepenuhnya kepada Raka— cucu pertamanya.”
Ivander dan Ivona tersenyum lembut sembari menatap Raka yang tengah menganga. Pria remaja itu tak menyangka jika dirinyalah yang diberikan mandat untuk menempati rumah sang kakek.
“Raka tidak berani tinggal di sini sendiri. Raka juga belum cukup umur untuk mengatur rumah ini sendirian,” ucap Raka. Semua orang dewasa tertawa mendengar ucapan pria remaja itu.
“Tenang saja Raka. Raka tidak harus menempati rumah ini sekarang, kok. Raka bisa menempatinya, nanti. Saat Raka sudah merasa cukup umur dan berani tinggal terpisah dari orang tua,” jelas Nino.
“Atau ... Kamu bisa tinggal di sini, nanti setelah menikah. Kamu bisa ajak istrimu tinggal di sini,” ujar Ivona.
Telinga Raka seketika berubah warna menjadi merah. Ivona pun menyadari hal itu. Wanita itu bahkan memang sengaja memancing sang anak sulung.
“Wah ... iya, benar. Telinganya merah!” pekik Anggara yang duduk di hadapan Raka.
“Wah ... Jangan-jangan Raka sudah punya kekasih nih,” ledek Qeiza.
Kali ini bukan hanya telinga Raka yang memerah, tapi seluruh wajah cucu pertama Andreas itu, kini memerah. Raka tertunduk malu.
“Ternyata benar-benar punya kekasih ya?” tanya Ivander. Kembali semua orang dewasa yang berada di ruang keluarga itu tertawa melihat sikap Raka.
“Kekasih itu pacaran ya?” tanya Qiana. Semua mata kini tertuju pada gadis berusia delapan tahun itu.
“Memangnya Qia tau, apa itu pacaran?!” pekik Qeiza. Qiana menganggukkan kepalanya.
“Di sekolah, temen aku pacaran. Rio dan Ify.”
__ADS_1
“Apa?!”
Semua orang kini terperangah mendengar penuturan Qiana.
“Anak SD zaman now,” ucap Ivona sembari menggelengkan kepalanya.
“Rio dan Ify dimarahi oleh Bu Guru. Kata Bu Guru, anak kecil tidak boleh pacaran,” lanjut Qiana. Seluruh orang dewasa yang ada di ruangan itu pun menyetujuinya. Mereka juga mengatakan jika apa yang dikatakan oleh guru gadis kecil itu adalah benar. Mereka juga mengultimatum Qiana agar tidak boleh berkencan seperti temannya.
“Iya ... Qia juga tidak mau pacaran. Kan Qia masih kecil. Nanti saja pacarannya kalau sudah SMP seperti Mas Raka,” celoteh Qiana.
Mata Ivander membulat karena. Pria paruh baya itu gegas meminta selembar kertas pada Jody, lalu menuliskan sesuatu di atasnya. Ivander juga meminjam bak stempel dari Nino.
“Ayo Qia, tekan jempol kamu di bak stempel ini,” ujar Ivander seraya menyodorkan bak stempel yang baru saja dipinjamnya dari Nino.
Qiana lantas menuruti saja semua perintah Ivander. Gadis kecil itu menekan ibu jarinya pada bak stempel yang berwarna biru itu. Lalu Ivander mengarahkan Qiana agar membubuhkan cap jempolnya pada kertas yang telah ditulis oleh Ivander sebelumnya.
“Ini apa, Pa?”
“Qia ... Lain kali, sebelum membubuhkan cap jempol ataupun tanda tangan, kamu harus membaca isi suratnya dulu,” jelas Raka.
Mendengar ucapan Raka, Qiana pun mengambil kembali surat yang telah diberikannya pada sang ayah. Qiana pun membaca isi surat itu. Dahi gadis kecil itu berkerut.
“Kenapa Qia baru boleh pacaran setelah usia 20 tahun? Mas Raka saja pacaran usia 12 tahun?” tanya Qiana.
“Mas tidak sedang berpacaran, Qi!”
“Loh, tadi katanya Mas Raka pacaran seperti temannya Qia?”
“Tidak! Itu bohong,” sanggah Raka.
“Jadi, Mas Raka akan pacaran setelah usia 20 tahun juga? Sama seperti Qia?”
“Tidak tau,” jawab Raka.
“Mas Raka itu laki-laki, dia bebas mau pacaran usai berapa saja. Pokoknya Qia tidak boleh berpacaran sebelum usia 20 tahun. Qia sudah membubuhi surat ini dengan cap jempol Qia. Kalau Qia melanggar janji ini, Qia bisa dipenjara!” pekik Ivander.
“Qia tidak mau di penjara, Pa!” ucap gadis kecil itu. “Qia janji kok tidak akan pacaran.”
Ivander tersenyum mendengar janji sang anak sulung.
__ADS_1
Acara pembacaan surat wasiat itupun diakhiri dengan tawa seluruh anggota keluarga besar Bratajaya.