
“Kapan aku mengabaikan kamu, Mas?”
Ivander tersenyum. Pria itu menggenggam jemari Qeiza, lalu membawa sang istri beranjak dari ranjang dan berdiri di hadapannya.
“Kamu tidak pernah mengabaikanku. Kamu bahkan selalu menyempatkan diri untuk melayaniku di sela-sela kesibukanmu mengurusi Sean. Aku hanya rindu saat-saat kita hanya berdua. Aku sangat rindu. Apa aku tidak boleh meminta waktumu sebentar saja, Qei? Please ...”
Melihat wajah Ivander yang begitu memelas, membuat hati Qeiza tersentuh. Wanita itu akhirnya melunak. Qeiza menganggukkan kepalanya. Dirinya akan berusaha melepaskan keresahan yang sejak tadi mengganjal di hatinya. Dia akan menyerahkan diri pada Ivander, seutuhnya, selama 72 jam ke depan.
Qeiza berjinjit dan mulai mendaratkan bibirnya ke bibir sang suami. Wanita itu mulai mengulum bibir pria itu. Hal itu tentu saja membuat senyum Ivander terkembang. Pria itu pun membalasnya dengan lembut. Sepasang suami istri itu, kini mulai terhanyut dengan permainan mereka sendiri. Tubuh mereka pun sudah menempel dengan erat.
Ivander mulai membuka kancing pada dress yang dikenakan Qeiza hingga ke batas pinggang. Kedua dada wanita itu pun menyembul keluar. Ivander tentu saja tak tinggal diam. Dengan bra menyusui yang dikenakan Qeiza, memudahkan pria itu untuk meloloskan kedua benda kenyal itu dari sarangnya.
Dengan bibirnya yang terkunci oleh bibir Ivander, erangan Qeiza menjadi tertahan. Ivander yang menyukai suara erangan Qeiza, memutuskan untuk berpindah posisi ke belakang tubuh wanita itu. Dia ingin mendengar suara indah Qeiza saat mengerang menahan rasa nikmat yang menjalar di tubuhnya.
Ivander gegas menenggelamkan wajahnya pada lekuk leher Qeiza, begitu berada di belakang tubuh wanita itu. Dengan jemari yang terus memelintir puncak dada Qeiza, membuat wanita tak bisa menahan erangannya. Erangan Qeiza pun lolos begitu saja. Bukan hanya itu, ASI Qeiza pun juga meluncur keluar begitu saja.
Ivander membuka pita yang terjalin di belakang dress, hingga dress yang dikenakan Qeiza itu, lepas begitu saja dari tubuh wanita itu. Ivander pun gegas merebahkan Qeiza di atas tumpukan kelopak mawar yang berada di atas ranjang. Pria itu ingin segera menyantap hidangannya.
Dikelilingi kelopak-kelopak bunga mawar yang begitu harum, Qeiza membuka lebar kakinya. Wanita itu menyambut kedatangan sang suami di bawah sana.
Qeiza melenguh saat sang suami mulai memasukinya. Ivander benar-benar melakukannya dengan lembut. Pria itu sengaja memasuki Qeiza secara perlahan-lahan. Dia begitu menikmati proses itu.
Jika di rumah, Ivander harus menyelesaikannya sesegera mungkin. Hal itu dilakukan Ivander dengan agar ketika Sean terbangun, mereka sudah menyelesaikan permainan itu.
__ADS_1
Tapi, kini, tak ada siapapun di sana. Dirinya hanya berdua saja dengan Qeiza. Dia bisa memuaskan diri, berlama-lama di dalam tubuh Qeiza sembari menikmati dua benda kenyal yang sesekali mengalirkan ASI.
Saat tubuh Qeiza mulai mengejang, Ivander memeluk erat wanita itu, lalu menyerang Qeiza dengan brutal hingga wanita itu merasakan puncak kenikmatan secara beruntun. Tubuh Qeiza mendadak lemas. Ivander pun tersenyum puas. Sudah lama dia tak memasuki Qeiza selama ini. Tak ada lagi kata yang bisa mewakili perasaannya selain teramat puas.
Ivander pun membawa Qeiza dalam dekapannya, kemudian saling berbincang hangat setelah pertempuran panas itu. Hal inilah yang begitu dirindukan oleh Ivander. Bercengkrama dengan mesra setelah mereka menyelesaikan ronde pertama.
“Saat-saat santai seperti ini yang begitu aku rindukan, Sayang. Sudah lama kita tak melakukannya.”
“Maaf ya Mas, kalau aku tidak punya waktu banyak untuk kamu. Aku harus mengurusi Sean. Nanti, kalau Sean sudah lebih besar, kita bisa menghabiskan banyak waktu berdua,” ujar Qeiza.
“Aku tidak masalah dengan hal itu, Sayang. Aku mengerti. Hanya saja, sesekali kita perlu menghabiskan waktu hanya berdua,” ucap Ivander. Qeiza pun setuju akan hal itu. Saat-saat seperti inilah yang akan terus membuat hubungan mereka semakin hangat. Ivander dan Qeiza bahkan sudah membuat perjanjian, akan kembali melakukan hal ini empat bulan ke depan. Menghabiskan waktu hanya berdua saja.
Sepasang suami istri itu terus berbincang hangat. Mereka membahas masa-masa sewaktu Ivander mulai terpikat pada pesona Qeiza. Dan waktu yang mereka habiskan selama di Madura adalah waktu yang paling berkesan.
Di sana, pertama kalinya Ivander mencumbu Qeiza dengan intens. Ivander tergelak saat Qeiza bercerita jika saat itu dirinya benar-benar terhanyut akan permainan pria itu.
“Mas yakin, kalau kamu tidak akan bisa menolaknya. Apalagi permainan Mas sangat hebat. Iya kan?”
Qeiza memukul dada pria itu, lalu membenamkan wajahnya di sana. Sifat malu-malu Qeiza inilah yang membuat rasa gemas Ivander pada wanita itu tak pernah pudar.
“Sewaktu di Gili Labak, saat kamu tidur memunggungi Mas, rasanya Mas ingin sekali menerkam kamu!”
“Loh, memangnya Mas belum tidur saat itu?” tanya Qeiza. Wanita itu ingat betul, saat dirinya berbalik badan dan menatap Ivander, pria itu tengah terlelap.
__ADS_1
“Mas terus memandangi punggung kamu, Sayang. Bo'kong kamu ini benar-benar menggoda,” ucap Ivander seraya meremas bo'kong sang istri.
“Bahkan Mas mendengar sewaktu kamu mengatakan, “kenapa kamu harus memiliki istri, Pak?” Begitu kalau tidak salah.”
Qeiza yang kembali merasa malu, kembali menenggelamkan wajahnya pada dada bidang sang suami.
“Mas ini membuat aku malu saja!” rengeknya. Ivander kembali tergelak melihat sikap sang istri.
Bagaimana mungkin dia bisa tak jatuh cinta setiap hari pada wanita yang berada dalam dekapannya itu? Qeiza benar-benar begitu menggemaskan.
“Untungnya, sekarang Mas bisa menerkam kamu kapan saja,” ucap Ivander sembari tergelak. Qeiza kembali memukul dada pria itu.
Siang itu, mereka melakukannya sekali lagi sebelum menikmati santap siang yang telah dipesan oleh Ivander, sewaktu mereka melakukan check in.
Hari itu Ivander benar-benar menikmati Qeiza dengan lahap. Dia memasuki wanita itu berkali-kali. Jemari nakal pria itu bahkan selalu menggoda Qeiza di bawah sana, saat wanita itu tengah memompa ASI nya.
Qeiza terus merintih selama proses memompa ASI . Permainan jari Ivander di pangkal pahanya, membuat hasil ASI perahan itu semakin banyak.
“Mas nakal,” lirih Qeiza yang baru saja mencapai puncaknya karena permainan jemari Ivander.
Ivander hanya tersenyum menanggapinya. Qeiza pun terkulai di dada sang suami yang duduk persis di belakangnya.
“Pokoknya, selama di sini, kamu tidak akan Mas biarkan bersantai. Kalau mau bersantai-santai, nanti malam saja. Saat waktunya tidur,” ucap Ivander.
__ADS_1
Qeiza tertawa kecil mendengar ucapan sang suami.
“Pokoknya, besok pagi, Mas harus memijat aku. Tubuhku mau rontok!”