
Malam itu, Ivander pulang ke kediaman istri pertamanya. Walau pria itu melakukannya dengan terpaksa. Evelyn yang sudah tau jika Ivander akan datang, menyambut pria itu dengan senyum sumringah. Evelyn berlari dan memeluk erat Ivander, begitu pria itu masuk ke kamar. Evelyn bahkan menghujani wajah sang suami dengan ribuan kecupan, seakan wanita itu begitu mendambakan kehadiran Ivander di sana.
Sementara Ivander yang sudah terlanjur merasa jijik dengan perbuatan Evelyn, ingin sekali menghempaskan tubuh wanita itu agar terlepas darinya. Namun, Ivander berusaha menahan semua rasa keditaksukaannya pada Evelyn. Dia tak mau semua rencana yang sudah disusun bersama keluarganya, hancur begitu saja karena dirinya tak bisa menahan perasaan itu.
“Kamu terlihat lelah sekali, Hon,” ucap Evelyn seraya bergelayut manja di lengan Ivander. Ivander hanya menjawabnya dengan berdehem.
Tak mau Evelyn berlama-lama mengambil kesempatan untuk bermanja padanya, Ivander memutuskan untuk membersihkan tubuhnya. Pria itu mengisi bathtub dengan air hangat. Sengaja Ivander merendam tubuhnya dengan air hangat. Pria itu sengaja mengulur waktu agar tak terlalu cepat bertemu Evelyn.
Sudah hampir dua puluh menit Ivander berada di sana. Evelyn mulai merasa kesal menunggu sang suami. Padahal dia ingin berbincang dengan pria itu. Evelyn penasaran sekali mengenai proses perceraian pria itu dengan Qeiza. Rasanya dia sudah tidak sabar melihat Ivander mendepak Qeiza dari kehidupannya. Evelyn juga ingin kembali merayu Ivander, agar pria itu mau menyewa seorang wanita untuk mengandung anak mereka. Evelyn sudah menemukan seorang wanita yang mau mengandung anaknya dan Ivander. Wanita itu bahkan sudah mendapatkan rumah sakit dan dokter yang bersedia melakukan hal itu untuknya. Mereka hanya tinggal melakukan rangkaian program penyewaan rahim itu.
Sampai lelah Evelyn menunggu pria itu, namun Ivander masih betah di dalam. Dan pria itu baru muncul dari balik ruangan, setelah tiga puluh menit berada di sana. Evelyn yang sedari tadi cemberut, mendadak memasang wajah sumringah.
“Kamu lama sekali Hon. Ngapain sih di dalam sana?”
“Aku habis berendam,” jawab pria itu. Ivander menghampiri Evelyn yang tengah duduk di ranjang. Pria itu langsung merebahkan badannya. Ivander bahkan menutup mata agar Evelyn tak mengganggunya. Dia tak mau melakukan penyatuan dengan wanita itu lagi. Bukan hanya tak ada lagi rasa cinta yang tersimpan, sejak menyaksikan adegan Evelyn bersama tiga orang pria di villa, dirinya merasa jijik pada wanita itu.
“Yasudah, kamu istirahat saja, Hon. Aku juga sangat lelah.”
Ucapan Evelyn begitu menggelitik di telinga Ivander, pria itu membuka mata dan melirik ke arah Evelyn.
“Habis ngapain kamu?” tanya Ivander. Pria itu penasaran dengan jawaban yang akan dilontarkan oleh Evelyn. Walau pria itu tau, apa saja yang dilakukan oleh istri pertamanya itu saat menginap dua malam di Villa.
“Aku kan baru pulang dari Villa, Hon. Jadi, masih lelah karena perjalanan jauh.”
Tanpa sadar Ivander berdecih. Ingin rasanya pria itu mengungkapkan jika dia mengetahui kegiatan wanita itu.
__ADS_1
“Kamu setiap ke villa ngapain saja? Sepertinya kamu sering sekali ke sana?”
“Hanya kumpul-kumpul dengan teman-teman saja. Pesta kecil-kecilan.”
“Kenapa harus selalu di sana. Bukannya teman-teman kamu sosialita semua. Masa selalu kamu yang menyediakan villa.”
“Suami-suami mereka tidak sebaik kamu, Hon,” ucap Evelyn.
Baik? Maksudmu bodoh?! Aku akui aku memang lelaki bodoh yang selalu percaya dan tunduk pada wanita jal*Ng sepertimu!
Evelyn seketika merebahkan tubuhnya dan menjadikan lengan Ivander sebagai bantalnya.
“Yasudah, ayo kita istirahat, Hon.”
***
Sebelum fajar menyingsing, saat Evelyn benar-benar tidur dengan lelap, Ivander menyambar ponsel wanita itu. Ivander ingin mencari bukti-bukti yang dia perlukan pada ponsel istri pertamanya itu. Tapi, sayang, Evelyn menggunakan sidik jari sebagai kunci pembuka ponselnya, dan Ivander tak berani menarik jemari Evelyn. Pria itu takut jika tiba-tiba Evelyn terbangun.
Pria itu mengumpat dalam hati. Harusnya dia tak perlu berpura-pura tidur. Harusnya dia memberikan wanita itu minuman yang sudah dibubuhi obat tidur—seperti rencana yang sudah dirancang Ivona. Ivander menyesali kebodohannya.
Ivander pun tak meneruskan mencari bukti itu. Pria itu malah bersiap dengan baju kerjanya. Tentu saja pria itu tidak langsung berangkat ke perusahaan karena saat itu masih pukul 02:00 dini hari. Ivander mengendarai kendaraannya dengan laju. Pria itu tak sabar ingin bertemu sang pujaan hati. Satu malam tanpa kehadiran Qeiza di sisinya, sudah membuat pria itu merasa rindu.
Tidak seperti kala itu, hari ini Ivander sudah memberitahukan pada Qeiza jika dirinya akan datang. Wanita itu sengaja memasang alarm, agar dia sudah terbangun saat Ivander dalam perjalanan pulang.
Dan, saat Ivander tiba di sana, Qeiza sudah menantinya dengan senyum sumringah. Wanita itu bahkan sudah menyiapkan piyama untuk dikenakan sang suami. Ivander pun gegas mengganti pakaiannya.
__ADS_1
Ivander langsung membawa Qeiza dalam dekapannya, lalu mereka saling bertukar saliva. Qeiza menatap Ivander dengan sayu. Jemari Ivander yang sedari tadi menggodanya membuat wanita itu menginginkan hal lebih dari sekadar bercumbu.
“Sabar ya. Harusnya hasil pemeriksaan laboratorium Mas, keluar hari ini,” ucap Ivander. Pria itu memang langsung melakukan pemeriksaan laboratorium saat mengetahui Evelyn dimasuki oleh beberapa pria. Ivander tak mau jika dirinya positif memiliki penyakit tertentu, dia akan menularkannya pada Qeiza.
“Mas ... Kita menikah sudah satu bulan lebih. Jika Mas memiliki penyakit, aku pasti sudah tertular. Jadi, kalau kita melakukannya sekarang, bukannya sama saja?”
Ivander tersenyum lembut, ditariknya wanita itu hingga kembali berada dalam dekap hangatnya.
“Sayang ... Jika ternyata hasil pemeriksaan laboratorium nanti, aku memiliki penyakit menular, aku minta maaf karena mungkin aku sudah menularkannya kepada kamu. Dari lubuk hati aku yang paling dalam, aku meminta maaf darimu. Tapi, bagaimana jika karena penyatuan kita malam ini, anak itu hadir di rahim kamu. Dia bisa saja juga tertular oleh penyakit itu. Aku tidak mau, Qei. Aku tidak mau kalau anak kita menanggung penyakit akibat kebodohan papanya ini.
“Mas takut Qei ... Mas takut sekali. Apa kamu akan membenci Mas, kalau Mas positif mengidap penyakit menjijikkan itu, Qei?”
Qeiza mengeratkan pelukannya. Sebenarnya, Qeiza juga takut jika terkena penyakit tidak bisa disembuhkan itu. Tapi, tak mungkin dia menunjukkan kekhawatiran itu di hadapan sang suami yang merasa bersalah padanya itu.
“Kita hadapi ini sama-sama, Mas. Aku tidak akan meninggalkan kamu jika kamu tidak melepaskan aku lebih dulu, Mas.”
Kalimat yang dilontarkan oleh Qeiza, bagaikan oase di padang pasir, benar-benar membuat Ivander merasa lega. Dikecupnya lama puncak kepala sang istri sebagai tanda rasa terima kasihnya pada Qeiza.
“Mas beruntung karena memiliki kamu di hidup Mas, Qei. Mas sangat bahagia bisa menjadi pendamping hidupmu. Andai Mas bisa kembali ke masa lalu, Mas tidak akan membiarkan kamu kenal dengan pria manapun. Setelah kamu lulus sekolah, akan langsung Mas nikahi!”
Qeiza terkekeh-kekeh mendengar khayalan sang suami. Wanita itu melirik jam yang tertempel di tembok kamar. Masih pukul tiga dini hari.
Sepasang suami istri itu pun memutuskan untuk memejamkan mata sembari menanti fajar menyapa.
Dan hari ini pun, Ivander mengantarkan Qeiza dan Qiana ke sekolah gadis kecil itu. Sebuah kecupan di dahi Qeiza, menjadi awal dari perpisahan mereka. Karena hari ini pun, Ivander akan kembali ke kediaman Evelyn.
__ADS_1