
“Ada apa, Sayang?” tanya Ivander. Qeiza menjawabnya dengan menggelengkan kepala, “tidak ada apa-apa, Mas.”
“Kamu itu tidak pintar berbohong, Qei. Apa yang dia katakan sampai kamu sedih seperti ini?!”
“Mba Ev tidak berkata apa-apa, Mas. Ayo kita pulang saja,” lirih Qeiza.
Ivander tentu tidak percaya begitu saja. Pria itu menitipkan Qeiza pada perawat yang ada di sana.
“Kamu tunggu di sini. Mas mau berbicara sebentar dengan dia,” titah Ivander.
Saat Ivander hendak melangkah, Qeiza menahan lengan pria itu.
“Mas mau membicarakan hal apa dengan Mba Ev?”
“Mas hanya ingin memberikan pencerahan padanya. Agar dia mengerti cara membalas kebaikan seseorang.”
Qeiza terus menahan laju sang suami. Tapi, Ivander masih kekeuh dengan keinginannya. Dia harus berbicara dengan Evelyn, saat itu juga. Seketika Ivander menerobos masuk ke ruangan di mana Evelyn di rawat.
Sementara Qeiza hanya bisa menatap punggung sang suami yang kini telah menghilang ke balik pintu ruang rawat inap di mana Evelyn berada.
Sebenarnya, Qeiza tak ingin Ivander kembali bertemu Evelyn. Terlebih mereka hanya berdua saja di ruangan itu. Walau tak meragukan cinta Ivander untuknya, Qeiza masih merasa tak nyaman jika melihat sang suami hanya berdua saja dengan mantan kakak madunya itu.
Mba Ev butuh pertolongan, Qei. Dia sedang sakit parah. Tidak terjadi apa-apa antara Mas Ivan dan Mba Ev di dalam sana. Jangan cemburu berlebihan seperti kemarin.
Qeiza terus bermonolog. Wanita itu hanya bisa menahan semburat rasa cemburu yang muncul di hatinya. Rasa kasihan atas penyakit yang diderita oleh Evelyn membuat Qeiza berhasil mengabaikan rasa cemburunya.
Dan Ivander kini telah berada di ruangan yang sama dengan Evelyn. Menghampiri wanita itu dengan sedikit berteriak.
“Apa yang kamu katakan pada orang yang sudah menyelamatkan nyawamu?!”
Evelyn terperanjat saat Ivander tiba-tiba menerobos masuk untuk menemuinya. Qeiza pasti sudah melaporkan apa yang dia ucapkan pada Ivander. Begitulah pikir Evelyn.
“Hon ... Kenapa?”
“Berhenti memanggilku dengan sebutan itu, Ev. Aku jijik mendengarnya! Aku bukan lagi pasangamu. Kita sudah bercerai. Kita sudah tak ada hubungan apapun lagi. Bukankah sudah aku katakan itu padamu?!” cecar Ivander.
__ADS_1
“Mungkin secara hukum kita sudah resmi berpisah. Tapi, aku tau Van. Aku tau kalau namaku tak sepenuhnya terhapus dari hatimu.”
Ivander menggeleng-gelengkan kepalanya. Pria itu berdecih.
“Aku sudah benar-benar muak dengan tingkahmu ini. Berhentilah berkhayal. Asal kamu tau, namamu di hatiku sudah lama hilang. Bahkan, itu terjadi sebelum aku menikahi Qeiza. Jadi, jangan pernah berpikir jika aku masih menaruh hati padamu. Sedikit pun tidak, Ev!” tegas Ivander.
“Kalau begitu untuk apa kamu menjadi penanggung jawab pengobatanku? Itu karena masih ada sedikit rasa peduli di hatimu untukku, Van. Aku tidak percaya jika kamu mengatakan cinta kamu padaku pudar begitu saja. Kamu menggilai aku selama sepuluh tahun lebih, Van! Aku yakin rasa itu masih ada di lubuk hatimu yang paling dalam. Kamu hanya tidak menyadarinya saja. Dan itu pasti karena kamu masih menggebu-gebu dengan istri barumu itu. Nanti juga kamu akan menyadari jika akulah wanita yang benar-benar kamu cintai.”
Ivander tertawa terbahak-bahak. Mantan istrinya itu mengatakan hal yang sama sekali tak masuk akal, pikirnya.
Bagaimana wanita itu bisa begitu percaya diri?
“Kamu itu harusnya berterima kasih kepada Qeiza, Ev. Waktu melihatmu terkapar, Qiana lah yang memaksaku untuk menolong mu. Jika bukan karena Qia, aku tidak akan Sudi untuk menolong mu. Kamu pingsan saat aku hendak menolong mu. Makanya aku buru-buru membawamu ke IGD agar aku tak perlu lagi mengurusi mu. Tapi, sayangnya pihak rumah sakit membutuhkan seorang penanggung jawab agar kamu bisa ditangani. Terpaksa aku mengurusi hal itu. Apa kamu tau, anak kecil yang menolongmu itu, bernama Qiana. Dia anak kandung Qeiza,” jelas Ivander.
Mulut Evelyn menganga. Dirinya tak menyangka jika anak kecil baik hati yang menolongnya itu adalah anak kandung dari wanita yang telah merebut suaminya.
“Dan sekarang, saat berulangkali aku menolak permintaan rumah sakit untuk menjadi penanggung jawab atas tindakan kemoterapi mu, Qeiza lah yang mengajukan diri. Dia sama sekali tidak menaruh dendam pada apa yang telah kamu perbuat, Ev. Dia ikhlas menolong mu. Bahkan dia mengabaikan ucapan ku agar tak lagi membantumu.
“Setelah mempunyai istri berhati malaikat seperti Qeiza, apa kamu pikir, masih ada perasaan yang tersisa di hatiku, untuk seorang wanita pengkhianat sepertimu?”
Evelyn sadar, penyakit yang diderita ini, pasti membuat Ivander tak mau kembali memadu kasih dengannya. Tapi, setidaknya pria itu mau memberikan tempat tinggal yang layak untuknya. Itu sudah buat Evelyn.
Namun, apa yang diinginkan oleh Evelyn hanyalah sebuah harapan yang tak akan mungkin jadi kenyataan. Ivander benar-benar membenci dirinya. Pria itu hadir di hadapannya kini, hanya untuk menunjukkan seberapa bahagianya dia memiliki istri seperti Qeiza.
“Qeiza sudah terlanjur membubuhkan tanda tangannya untuk membantu wanita tak tau diri seperti mu. Jadi, aku harap kamu bisa mengungkapkan ucapan terima kasih dengan benar kepada istriku. Kepada orang yang sudah berulangkali kamu fitnah.”
Tanpa mendengar jawaban dari Evelyn, Ivander berbalik arah dan meninggalkan mantan istrinya itu. Ivander keluar dari ruang rawat inap itu, dan menghampiri sang istri yang masih setia menantinya.
“Ev mau berbicara denganmu, Sayang,” ucap Ivander.
“Berbicara? Membicarakan perihal apa, Mas?”
Ivander berjongkok di hadapan sang istri. Pria itu menggenggam jemari Qeiza dan menatap dalam netra kecoklatan milik sang istri.
“Qei ... Evelyn ingin kembali menjadi madu mu. Bagaimana?”
__ADS_1
Mata Qeiza seketika terbelalak. Menjadi madunya kembali? Apa wanita itu ingin kembali menikah dengan suaminya? Apa Ivander juga menginginkan hal itu?
“Madu?” tanya Qeiza tercekat. Wanita itu hampir saja meneteskan air mata. Namun, Ivander seketika tersenyum lebar.
“Aku hanya bercanda, Sayang,” ucap Ivander seraya tertawa.
“Dia hanya mau mengucapkan terima kasih.”
“Terima kasih?” tanya Qeiza. Ivander menganggukkan kepalanya, “iya. Dia harus berterima kasih dengan benar kepada orang yang sudah memperpanjang waktu hidupnya di dunia ini,” jelas pria itu.
“Soal madu tadi?”
Kembali Ivander terkekeh. “Itu hanya bercanda Sayang. Buat apa aku menikah lagi dengan wanita tak tau diri itu?!”
Qeiza mengembuskan napas lega, mendengar pernyataan sang suami.
“Kalau aku mau menikah lagi, mending aku mencari gadis-gadis muda di luar sana,” cebik Ivander yang mulai mendorong kursi roda yang dinaiki oleh Qeiza.
“Mas!” pekik Qeiza.
Kembali Ivander terkekeh-kekeh. Namun, rahang pria itu kembali mengeras tatkala mereka sudah kembali masuk di ruang perawatan Evelyn.
“Asal kamu tau, istriku yang berhati malaikat ini, menggunakan tabungan pribadinya agar kamu bisa menyambung nyawa. Tabungan pribadi itu bukan uang yang aku berikan padanya. Uang itu adalah uang tabungan Qeiza selama dia menjanda, karena aku tak memerbolehkan doa menggunakan uang yang aku berikan untuk pengobatan wanita sepertimu.
“Uang yang dipakai Qeiza adalah uang yang harusnya dia gunakan untuk biaya pendidikan anaknya. Tapi, yang itu digunakan untuk pengobatan mu. Agar kamu bisa hidup lebih lama di dunia ini,” jelas Ivander.
“Bukankah sudah seharusnya kamu berterima kasih dengan benar, padanya? Bahkan, harusnya kamu bersujud dan mencium telapak kaki Qeiza.”
“Mas ... Jangan seperti itu. Aku tidak mengharapkan apapun dari Mba Ev. Bahkan untuk ucapan terima kasih pun tidak. Aku tulus Mba. Aku hanya harap kondisi Mba Ev membaik,” jelas Qeiza.
“Berlutut dan mencium telapak kakinya?! Cih! Jangan harap! Aku tidak pernah meminta bantuan darinya!” pekik Evelyn.
“Dan kau, wanita munafik, jangan harap kau mendapatkan ucapan terima kasih dari ku. Aku tidak butuh bantuanmu!”
Qeiza hanya bisa tertegun menyaksikan mantan kakak madunya yang bersikap begitu arogan, padahal wanita itu tengah menderita penyakit yang begitu serius.
__ADS_1