
Benar kata pepatah, hidup itu bagai roda yang berputar. Tak selamanya kita berada di atas. Ada kalanya kita akan terjerembab ke bawah, terlindas, terinjak-injak. Seperti apa yang dialami oleh Evelyn. Wanita yang sejak remaja selalu bergelimang harta kini harus mengiba recehan dari orang-orang yang berlalu lalang di depannya. Evelyn tak pernah menyangka, jika dirinya akan menjadi seorang pengemis.
Dulu, hanya dengan bergelayut manja dan melayani para pria, wanita itu bisa mendapatkan uang berlimpah tanpa harus bersusah payah. Kini, dia harus memakai pakaian lusuh dan bau, bermandikan debu di jalanan untuk bisa mendapatkan sedikit uang hanya sekadar untuk mengganjal perut dan tempat berteduh.
Evelyn menjalankan pekerjaan dengan sangat baik. Wanita itu duduk dengan wajah lusuh. Sesekali terlihat Evelyn merebahkan tubuhnya. Bahkan wanita itu sering terlelap. Saat lapar dia membuka bungkusan nasi dengan menu lengkap. Evelyn bersyukur. Walau hanya tempe goreng dan tumis kangkung, wanita itu bisa kembali makan makanan yang bergizi.
Evelyn makan dengan sangat lahap. Dia tak peduli bagaimana debu terus beterbangan di sekitarnya. Asal kendaraan bermotor bahkan menambah aroma dari masakan yang dibawakan oleh Mak Yati. Dua botol air mineral pun sudah habis diteguknya sejak pagi hingga senja.
Ketika langit telah gelap. Saat pusat grosir itu sudah tak lagi menampakkan aktivitas. Danu kembali menghampiri Evelyn. Pria itu menghitung uang yang didapatkan oleh Evelyn, lalu mengambil uang sejumlah seratus ribu rupiah.
“Bukannya aku hanya membayar lima puluh ribu?”
“Lima puluh ribu untuk biaya operasional. Sedangkan lima puluh ribu lagi untuk makan malam kita,” ucap Danu. Evelyn tak bisa berkata-kata. Wanita itu hanya mengangguk dengan pasrah dan memasukkan sisa uang sebesar lima puluh ribu ke dalam dompet miliknya.
“Hebat juga kamu, sehari bisa dapat seratus lima puluh ribu,” ujar Danu. Pria itu pun kembali memapah Evelyn ke tempat di mana Evelyn berganti pakaian pagi tadi.
Dengan penerangan yang minim, Evelyn pun menanggalkan pakaian kumal itu dan kembali memakai pakaian miliknya. Kembali Danu memerhatikan tubuh mulus Evelyn.
“Besok kita pergi lebih awal,” ucap Danu sembari memapah Evelyn menuju sepeda motor miliknya. Evelyn hanya menganggukkan kepalanya tanpa berkata apapun. Danu kemudian membawanya ke sebuah warung kaki lima. Nasi uduk ditambah dengan lele yang digoreng kering beserta sambal dan lalapan, menjadi santap makan malam Evelyn dan Danu.
__ADS_1
Selesai makan, Evelyn mengajak Danu ke sebuah mini market. Wanita itu ingin membeli beberapa kosmetik. Evelyn mengambil sabun pencuci wajah, krim pelembab wajah, shampoo serta hand and body lotion. Wanita itu juga membeli perlengkapan lainnya.
Jika setiap hari dirinya bisa memperoleh uang lima puluh ribu rupiah, dia bisa terus membeli produk perawatan tubuh yang murah. Dia merasa kulitnya begitu kering karena sudah satu bulan tidak memakai pelembab di kulitnya. Sekarang, Evelyn bisa melakukannya lagi.
“Banyak sekali belanjaan mu,” ujar Danu. Evelyn tak mau menanggapi pria yang memiliki bau tak sedap itu. Jika bukan karena membutuhkan pria itu, Evelyn sudah melayangkan belanjaan berat itu ke kepala Danu. Pasalnya, sejak dia menyerahkan uang hasil mengemis, jemari nakal pria itu kerap bersemayam di dadanya saat sedang memapah dirinya.
Saat dalam perjalanan pulang pun, jemari Danu sering menari-nari di atas paha Evelyn yang berbalut celana panjang. Padahal tadi pagi, Danu tak bersikap Seperti itu.
Sudah pukul sepuluh saat Evelyn tiba di kamar kosnya. Wanita itu tertatih-tatih menuju kamar mandi. Walau tubuhnya terasa lengket, tapi Evelyn tak berniat untuk membersihkan tubuhnya. Evelyn hanya mencuci wajah dan menyikat giginya kemudian beranjak tidur. Itu semua karena Danu mengatakan, jika besok mereka akan berangkat pada dua jam lebih awal.
Di atas kasur busa yang tipis itu, Evelyn pun tertidur dengan sangat pulas malam ini. Wanita itu kembali bangun pada pukul empat pagi, karena satu jam lagi, Danu akan menjemputnya.
Evelyn membasuh seluruh tubuhnya dari ujung kepala hingga kaki. Memakai sabun dan shampo yang baru saja dibelinya malam tadi. Walau menggigil karena hari masih terlalu dingin, tapi Evelyn tetap membasuh tubuhnya. Kemarin tubuhnya sudah bermandikan debu jalanan, subuh ini, dia membersihkan semuanya.
Pusat grosir itu masih sangat sepi. Bahkan tidak ada terlihat orang lalu lalang saat Evelyn dan Danu tiba di sana. Cahaya matahari bahkan masih terlihat samar.
Danu kembali menyerahkan baju Kumal pada Evelyn. Namun, kali ini, pria itu tak menjauhkan diri saat Evelyn membuka pakaian. Pria itu masih terus berada di belakang Evelyn.
Evelyn begitu kesal saat mendapati Danu masih berada di dekatnya. Napas pria itu bahkan terasa di tengkuknya. Namun, Evelyn berusaha meredam rasa kesalnya.
__ADS_1
Evelyn pun mulai melepas kaos yang digunakannya. Danu kembali terbelalak menatap tubuh bening Evelyn. Saat Evelyn hendak memakai pakaian kumal yang tadi diberikan oleh Danu, pria itu telah lebih dulu menyergapnya dan menciumi pundaknya.
“Kamu harum sekali pagi ini. Sengaja ingin menggodaku ya?” bisik Danu. Evelyn meronta-ronta. Wanita itu meminta Danu melepaskan pelukannya. Namun, tentu saja Danu tak menggubrisnya. Pria itu sudah menahan hasratnya sejak kemarin. Namun, karena kondisi pusat grosir yang selalu ramai, Danu urung melampiaskan hasratnya itu.
Pria itu menghisap leher hingga pundak Evelyn hingga meninggalkan jejak-jejak kepemilikan di sana. Dengan satu tangannya, Danu bahkan berhasil membuka kancing celana yang dikenakan Evelyn hingga celana itu luruh. Dengan gegas, jemari Danu menyelinap ke balik kain segitiga yang menutupi kewanitaan Evelyn.
Evelyn yang sudah lama tak Merakan sentuhan seorang pria, langsung terbuai saat jemari Danu menggeseknya. Evelyn mendesis. Danu pun menyeringai.
“Kamu sudah basah,” bisik Danu. Tanpa menunggu lama, Danu melesakkan kedua jemari. Evelyn pun tak bisa menahan diri untuk tak mengerang. Wanita itu begitu menikmati saat jemari Danu menari-nari di dalam tubuhnya. Tak menunggu waktu lama, Evelyn pun terkulai.
Danu merebahkan tubuh ringkih Evelyn. Pria itu melucuti seluruh pakaian yang tersisa di tubuh Evelyn. Tanpa aba-aba, Danu membenamkan wajahnya di pangkal paha Evelyn yang bening. Pria itu begitu bahagia karena bisa menyaksikan secara dekat, kulit mulus wanita yang selama ini hanya bisa dia lihat di video-video adegan panas orang luar negeri.
Dengan rakus Danu menyantap bagian bawah Evelyn. Tanpa pria itu tau, sebuah penyakit berbahaya mengintainya. Evelyn menyeringai saat bagian tubuh Danu memasukinya.
“Selamat datang di neraka,” lirih Evelyn yang sudah dua kali mencapai puncak oleh permainan jemari dan mulut Danu.
Dengan menggebu-gebu Danu memacu diri. Dan tak butuh waktu lama hingga Danu menyemburkan laharnya dalam tubuh Evelyn. Evelyn yang belum merasa puas karena permainan Danu terlalu sebentar, langsung menyelipkan dua jemarinya. Mata Danu melebar menyaksikan adegan itu. Pria itu gegas mengambil ponsel dan merekam aksi Evelyn hingga wanita itu akhirnya menegang dan terkulai.
Evelyn merasa seluruh tubuhnya lemah karena tiga kali mencapai puncak. Jika dulu dia masih sanggup meladeni beberapa pria hingga mencapai puncak berkali-kali, kini tubuhnya seakan ringkih. Wanita itu bahkan tak sanggup untuk menegakkan tubuhnya.
__ADS_1
Dengan berbaik hati, Danu memakaikan baju kumal itu pada Evelyn. Lalu menggendong wanita itu dan merebahkannya persis di tempat kemarin. Tempat di mana Evelyn mengemis. Danu bahkan membelikan Evelyn bubur ayam dan menyuapi wanita yang sudah memuaskannya itu.
“Cari duit yang banyak, Sayang,” ujarnya sebelum meninggalkan Evelyn.