Kata Mereka, Aku Pelakor

Kata Mereka, Aku Pelakor
Dasar Pelakor!


__ADS_3

“Heh, pelakor. Selama ini, kalau dinas keluar kota ngapain saja dengan Boss? Jalan-jalan ke mall sambil bergandengan tangan ya?!”


“Anak dijadikan tameng tuh, biar si Boss terpikat.”


“Pintar sekali mencari celah.”


“Dasar pelakor!”


Rekan kerja memanggil dirinya sebagai pelakor, benar-benar membuat Qeiza shock. Apakah mereka sudah mengetahui mengenai pernikahannya dengan Ivander? Dari mana mereka tau? Sejauh apa mereka tau?


Qeiza bagai diintimidasi. Beberapa pasang mata menatapnya dengan sinis. Mereka mencemoohnya. Qeiza terdiam beberapa saat sebelum akhirnya buka suara.


“Tolong laporan yang tertunda segera dikirim ke email saya. Karena Pak Ivan mau memeriksanya!” ketus Qeiza. Wanita itu memilih untuk tak menanggapi rekan-rekan kerjanya.


“Merasa di atas awan ya karena Pak Ivan mulai tergoda!”


Lagi, Qeiza tak membalas ucapan itu. Qeiza mengembuskan napas kasar dan hanya menatap tak suka pada rekannya itu.


“Heh, Pelakor! Dengar ya, wanita-wanita penggoda seperti kamu ini, ujung-ujungnya akan dicampakkan. Apalagi oleh pria sesempurna Pak Ivan. Kamu sadar diri dong. Kamu ini tidak ada seujung kuku bagi Bu Ev. Bagai surga dan neraka! Langit dan bumi! Jadi jangan sombong baru jadi simpanan CEO!”


“Aku bukan wanita simpanan!” ujar Qeiza sembari menatap tajam satu per satu wanita yang mengintimidasi dirinya.


“Sekarang, kembali bekerja. Kerjakan tugas kalian. Jangan hanya bergosip dan bergunjing. Atau saya akan melaporkan betapa kalian tidak becus bekerja!”


Rasanya Qeiza ingin segera berlari ke ruang kerja suaminya. Mengadukan segala apa yang didengarnya. Menyurahkan rasa sakit hatinya pada orang-orang yang menggunjingnya. Tapi, Qeiza tak mau menambah beban pikiran sang suami ataupun mertuanya. Toh, sang mertua sudah berjanji akan mengumumkan mengenai pernikahannya dengan Ivander.


Dia bukan wanita simpanan. Dia adalah istri sah Ivander Bratajaya secara hukum dan agama. Dia tak merebut pria itu. Istri pria itu sendiri yang menyerahkan suaminya. Dia bukan seorang pelakor seperti yang orang-orang tuduhkan padanya.


Qeiza pun berusaha untuk menutup mata dan telinganya dari setiap cemoohan yang diterimanya.


Sejak hari itu, suara-suara sumbang terus terdengar ke mana pun Qeiza melangkah. Semua orang selalu berbisik-bisik saat melihat Qeiza.


Qeiza pikir, begitu pernikahan antara dirinya dan Ivander diumumkan, cemoohan-cemoohan itu tak pernah lagi didengarnya.


Dia pikir, dengan statusnya sebagai istri dari seorang Ivander Bratajaya akan membuat para staff itu berhenti menggunjingnya.

__ADS_1


Padahal, Andreas membuat perayaan meriah. Pemilik Bratajaya Corporation itu menunjukkan betapa dirinya menyayangi Qeiza dan merestui pernikahan itu. Bahkan Evelyn berulangkali menunjukkan sikap hangatnya.


Bukankah itu semua menunjukkan jika dirinya begitu diterima di keluarga Ivander?


Bukankah itu menunjukkan jika dirinya bukanlah seorang pelakor?


Toh, istri pertama Ivander pun terlihat merestui hubungan mereka. Itu artinya tak ada yang direbut dan tak ada yang merebut. Harusnya gelar itu tak lagi didengarnya. Harusnya orang-orang berhenti mencemoohnya.


Namun, apa yang diterima Qeiza membuat wanita itu tak habis pikir. Kenapa para karyawan itu masih menggunjingnya?


“Dasar pelakor!”


“Tuh, si pelakor lewat.”


“Awas, awas, ada pelakor!”


“Di depan sikapnya sok baik! Lagaknya bak ibu peri, padahal di belakang, jual selangkang*n!”


“Pak Andreas yang sudah lanjut usia saja, digoda! Apalagi Pak Ivan yang masih segar bugar. Janda tidak tau diri!”


“Padahal Pak Ivan dan Bu Evelyn, couple goals banget. Harmonis dan selalu rukun. Eh, datang si wanita penggoda! Dasar pelakor!”


Seperti itulah kasak-kusuk para staff Bratajaya Corporation. Sekarang, setiap kali Qeiza berjalan melewati mereka ucapan-ucapan seperti itu selalu terdengar.


Qeiza hanya bisa mengelus dada seraya mengembuskan napas berat setiap mendengar itu semua. Wanita itu tak mengira akan menerima sanksi sosial seperti ini.


Salahkah dia karena memilih menjadi istri kedua? Bukankah ini semua terjadi atas restu dari semua pihak terkait? Lantas, mengapa semua orang yang tak berhubungan dengan mereka, malah menghakimi?


***


Hari itu, hari di mana Evelyn mendatangi kediaman lama Qeiza, Andreas menghubungi wanita itu. Gegas Evelyn beranjak ke sana. Mengendari mobil dengan kecepatan maksimal, akhirnya Evelyn tiba di kediaman Andreas dua puluh menit kemudian.


“Dasar orang tua brengs3k! Aku tau, pasti ini semua ide anda kan? Anda yang mengatur agar Ivan menikahi perempuan s*alan itu sewaktu aku di luar kota!”


Andreas hanya menatap sang menantu sembari menggelengkan kepalanya. Wanita di hadapannya ini sama sekali tak punya sopan santun. Bisa-bisanya dia memaki mertua yang sudah memberikan kehidupan mewah padanya.

__ADS_1


“Sekarang beritahukan di mana Ivan? Di mana suamiku?!”


“Kenapa kau tidak menghubunginya saja?”


“Aku tau, ponsel Ivan anda yang pegang kan? Jika Ivan memegang ponselnya sendiri, tak mungkin pesan dan panggilan telepon dariku diabaikannya!”


Seketika Andreas tertawa terbahak-bahak. Bisa-bisanya Evelyn menuduhnya memegang ponsel sang anak. Tak sadarkah wanita itu, jika sang suami tengah tak ingin diganggu?


“Ivan sudah dewasa. Aku tak perlu menyimpan ponselnya. Kalau dia tak menjawab panggilan telepon atau pesanmu, itu artinya dia tak ingin masa bulan madunya diganggu oleh siapapun. Si-a-pa-pun! Ivan pasti sangat menikmati masa-masa bulan madunya bersama Qeiza.”


“Bulshit!”


Kembali Andreas terbahak-bahak mendengar ucapan Evelyn. Wanita itu seakan menolak percaya jika Ivander tengah menikmati masa bulan madunya. Wanita itu masih penuh dengan bayang-bayang jika Ivander begitu mencintai dirinya.


“Terserah kau mau menganggap ucapan ku ini sebagai omong kosong. Yang jelas, aku meminta kau ke sini, karena ada satu hal. Aku sudah menyiapkan sebuah perayaan meriah untuk menyambut nyonya baru di keluarga Bratajaya.


“Aku tidak hanya merayakannya dengan seluruh staff Bratajaya Corporation. Aku juga mengundang beberapa kolega perusahaan dan akan mengenalkan Qeiza kepada mereka semua.”


“Apa?! Yang benar saja?! Buat apa mengenalkan wanita s*alan itu kepada semua orang? Bisa besar kepala dia!”


“Qeiza Hikaru sudah menjadi istri sah Ivander Bratajaya. Dia juga seorang Nyonya di klan Bratajaya. Dia berhak mendapatkan pengakuan.”


Tangan Evelyn mengepal erat. Wajah wanita itu seketika berubah merah. Evelyn murka!


“Kalau kau masih ingin menikmati harta kekayaanku dengan menjadi istri seorang Ivander Bratajaya, aku harap kau bisa menjaga sikap selama acara berlangsung. Kau mengerti maksud ucapanku bukan?”


Evelyn hanya bergeming. Dia tau jika dirinya tak bisa melawan Andreas.


“Saya bisa dengan mudah memisahkan kau dari Ivan. Akan ada orang yang terus memerhatikan sikapmu selama acara. Saya harap kau mengerti bersikap. Saya tak perlu menjelaskan mengenai apa yang harus kau perbuat kan? Saya rasa, wanita licik seperti kau ini mengerti apa yang harus kau lakukan.”


Karena ancaman Andreas, mau tak mau, dirinya bersikap hangat kepada Qeiza sepanjang acara. Wanita itu bahkan terlihat seolah sangat menyayangi Qeiza. Ivander yang masih belum terlalu paham dengan kelicikan Evelyn, hanya bisa mengucapkan terima kasih karena Evelyn begitu menerima Qeiza. Pria itu bahkan berjanji akan adil kepada kedua istrinya.


“Aku tidak masalah jika kamu banyak menghabiskan waktu bersama Qei, Hon. Aku mengerti kok kebiasaan pengantin baru.”


Begitu pengertiannya seorang Evelyn. Wanita itu rela di madu. Bahkan rela memberikan kesempatan pada sang suami untuk lebih banyak menghabiskan waktu bersama istri mudanya. Begitulah citra Evelyn di mata semua orang, saat ini. Termasuk di mata Ivander.

__ADS_1


__ADS_2