
“Adik saya tidak bersalah! Dia bukan pembunuh! Ini pasti fitnah! Ini semua fitnah!” teriak Mak Yati. Tidak hanya Mak Yati, istri Danu pun melakukan hal yang sama. Mereka tak mau Danu dijebloskan ke penjara.
“Kamu tidak membunuh kan, Bang? Tidak kan? Katakan pada polisi-polisi ini kalau kamu tidak membunuhnya!” ucap istri Danu yang bernama Eka.
Danu seketika tertawa terbahak-bahak. “Aku memang membunuhnya. Aku sendiri yang mencekik leher si ja'lang itu sampai dia meregang nyawa!”
Mak Yati dan Eka terperangah mendengar pengakuan Danu. Pria itu mengaku dengan mulutnya sendiri jika dia telah membunuh Evelyn—wanita yang belakangan ini selalu dibonceng oleh pria itu. Wanita yang bekerja pada Danu. Wanita yang belakangan menjadi sumber penghasilan Danu. Bahkan bukan hanya menambah penghasilan, Evelyn juga wanita yang sudah memuaskan impian Danu. Impian memadu hasrat dengan wanita berkulit bening, seperti yang biasa dia saksikan di video dewasa.
“Wanita itu mengidap HIV AIDS! Dasar ja'lang! Dia menularkan penyakitnya padaku!” teriak Danu.
Semua orang terperangah mendengar penuturan Danu. Tak terkecuali Indah dan suaminya. Mereka adalah orang yang paling sering berinteraksi dengan Evelyn. Indah dan suaminya pun mendadak takut. Mereka takut jika telah tertular oleh penyakit menjijikkan itu.
“HIV AIDS?! Jangan-jangan kita juga tertular Mas! Bagaimana ini?! Bagaimana jika kita tertular?!” pekik Indah.
Polisi yang mendengar teriakan “Tenang saja Bu. HIV AIDS tidak bisa menular begitu saja. HIV AIDS hanya menular melalui hubungan ****, penggunaan jarum suntik yang sama, ataupun kita terkena gigitannya hingga terluka. Kalau hanya sebatas sentuhan biasa tidak akan mungkin tertular. Bahkan hanya sekadar berciuman biasa saja, pun tidak akan menularkan virus itu.”
Indah dan beberapa warga yang berkumpul di sana mengangguk-anggukkan kepala mereka.
“Waah ... Jangan-jangan Bang Danu ada main dengan Mba Ev, ya? Makanya tertular!” pekik Indah.
Mata Eka membulat mendengar ucapan Indah. Ucapan wanita muda itu benar adanya. Jika sang suami mengaku tertular penyakit berbahaya itu, bukankah artinya sang suami melakukan hubungan se'ksual dengan Evelyn.
“Kamu main gila di belakangku, Bang?! Benar begitu?!”
Danu tidak menjawab pertanyaan istrinya. Pria itu membuang wajahnya, untuk menghindari tatapan sang istri.
“Jawab Bang?! Kamu main gila dengan wanita penyakitan itu?!” tanya Eka sekali lagi, seraya mengguncang-guncang tubuh Danu.
“Kalau iya, kenapa?! Hah! kenapa?! Kulitnya halus, putih dan mulus! Tidak berdaki seperti kulitmu itu! Hitam!” ucap Danu dengan setengah berteriak.
Seketika Eka melayangkan lututnya ke bagian paling sensitif milik sang suami. Danu pun meringis, menahan nyeri di bagian pangkal pahanya akibat tendangan bebas dari sang istri.
Eka seketika tertawa terbahak-bahak. “Rasakan itu!” pekiknya.
__ADS_1
“Bawa saja pembunuh itu ke penjara, Pak Polisi. Biar dia rasakan mendekam di penjara dengan tubuh penuh virus mematikan itu! Mau berselingkuh di belakangku, hah? Rasakan akibatnya! Sudah terkena penyakit, sekarang harus mendekam di balik jeruji!”
Danu pun langsung di gelandang. Diiringi tatapan tajam dari sang istri, dan tatapan jijik dari para warga, Danu meninggalkan kediamannya.
Itulah saat terakhir Eka bertemu dengan sang suami. Karena dirinya pun tak hadir saat hakim membacakan dakwaan yang ditimpakan kepada sang suami. Bagi Eka, hubungan pernikahannya dengan Danu berakhir saat itu juga. Walau suatu saat sang suami terbebas dari penjara, dirinya tak akan sudi untuk menerima pria itu kembali. Pria yang menikahinya lima belas tahun lalu itu, sudah terkena virus mematikan. Dia tak mau nantinya ikut terjangkiti virus mematikan itu. Lebih dari itu, sang suami juga telah mematikan perasaannya. Pria itu mengkhianati dirinya.
Tak akan ada kata maaf bagi seorang pengkhianat.
***
Sementara itu, di salah satu perumahan elite di Ibu Kota, Ivander dan Qeiza tengah duduk berdua sembari menikmati secangkir teh sembari menatap senja. Siang tadi, mereka baru saja mendapatkan kabar atas hasil dari persidangan kasus pembunuhan Evelyn.
“Sekarang kamu bisa bernapas lega kan, Sayang? Pria pembunuh itu sudah ditangkap dan dijatuhi hukuman dua puluh tahun penjara.”
Qeiza terlihat menganggukkan kepalanya dengan perlahan. Dirinya memang merasa senang karena pembunuh itu telah menjalani hukuman yang setimpal. Mungkin, dengan begitu, arwah Evelyn bisa tenang di alam sana. Tapi, entah mengapa masih ada hal mengganjal di hatinya.
“Kenapa lagi Sayang? Sepertinya masih ada yang kamu pikirkan? Kamu ingin melihat wajah pembunuh itu? Atau mau naik banding agar dia dijatuhi hukum mati? Kamu tidak kasihan dengan dia yang juga tertular penyakit Evelyn?”
Qeiza menghembuskan napas kasar.
Dahi Ivander berkerut, “melewatkan satu hal?” tanya pria itu. Qeiza pun menganggukkan kepalanya.
“Melewatkan apa?” tanyanya lagi.
“Kita belum menjenguk makam Mba Ev,” lirih Qeiza.
Wanita itu sebenarnya takut untuk menyampaikannya pada Ivander. Pasalnya, dia sudah berjanji pada sang suami dan juga sang mertua untuk tak lagi mengurusi apapun lagi perihal Evelyn.
“Kamu mau ke makam Ev?”
Qeiza kembali mengangguk pelan.
“Yasudah, besok aku akan minta sopir untuk mengantarkan kamu ke makam,” ujar Ivander.
__ADS_1
“Mas ... Apa Mas tidak mau ikut menjenguk makam Mba Ev?”
“Aku sama sekali tidak berminat, Sayang. Kalau kamu mau pergi ke sana, aku tidak akan melarangnya. Tapi, jangan bawa anak-anak ya. Anak-anak tinggal kan saja di rumah bersama nenek dan pengasuh mereka,” jawab Ivander.
Qeiza menghembuskan napas panjang. Wanita itu tau, memang tak mudah untuk membujuk sang suami. Pria itu terlanjur terlalu membenci Evelyn. Tapi, Qeiza masih tidak mau jika sang suami terus menyimpan kebencian di hatinya. Terlebih kepada orang yang pernah hadir di hidupnya.
“Mas ... Buat apa sih Mas simpan rasa benci itu. Mba Ev sudah tiada, Mas. Dia sudah meninggal. Tidak bisakah Mas menghapus rasa benci itu? Kasihan Mba Ev di alam sana. Dia pasti masih belum tenang di sana,” lirih Qeiza.
“Namanya orang sudah meninggal, itu sudah pasti tenang, Qei. Dia tidak bisa apa-apa lagi. Dia sudah meninggal, Qei. Itu artinya dia sudah tenang. Sudah tak lagi merasakan sakit. Bahkan sudah tak lagi merasakan apapun,” elak Ivander.
Kembali Qeiza mengembuskan napas panjang.
“Aku tidak ingin hati dan pikiran suamiku dipenuhi oleh kebencian, Mas,” lirih Qeiza. Wanita itu masih terus membujuk sang suami.
“Sesuai ucapan Mas. Mba Ev mungkin sudah tenang di sana. Tapi, saat Mas datang dan mengucapkan kata maaf untuknya, dia pasti akan bahagia di alam sana.”
Kali ini Ivander yang menghela napas panjang. Entah sejak kapan, istrinya itu menjadi wanita yang keras kepala. Padahal, biasanya, Qeiza adalah istri yang penurut.
Ivander pun tak habis pikir dengan istrinya itu. Padahal, semasa hidupnya, Evelyn terus berusaha menyakiti Qeiza. Tapi, istrinya itu masih terus berbuat baik pada Evelyn. Bahkan hingga maut sudah menjemput wanita itu, Qeiza masih terus berbuat baik pada Evelyn.
“Ayolah Mas, demi aku.”
“Demi kamu?” tanya Ivander, Qeiza pun mengangguk.
“Iya Mas. Demi aku,” ucapnya lagi.
“Bagaimana kalau aku ubah menjadi demi kita?”
“Demi kita? Maksud Mas apa?”
Ivander tersenyum sumringah. Pria itu menarik lengan Qeiza dan mendekapnya erat.
“Mas turuti keinginanmu, kamu juga turuti keinginan Mas,” ucap Ivander seraya menaik turunkan alisnya.
__ADS_1
“Memangnya ... Keinginan Mas apa?”