
Evelyn melepas semua harga dirinya. Bayangan akan kehilangan warisan Andreas, membuat wanita itu berlutut di hadapan Qeiza.
“Tolong saya, Qei”
Qeiza terus menolak permintaan Evelyn. Namun, istri dari Ivander Bratajaya itu terus memohon hingga berlutut. Melati yang menyaksikan hal itu dari balik tembok sampai terperangah. Wanita lanjut usia itu merasa iba melihat Evelyn berlutut di hadapan sang anak. Tapi, walau begitu, hati kecil Melati masih tak menginginkan anaknya menjadi istri kedua bagi Ivander.
Apakah wanita itu berada dalam tekanan? Hingga rela berlutut dan memohon pada wanita lain untuk menjadi madunya? Secinta apa Evelyn terhadap Ivander hingga rela melakukan hal itu?
Evelyn terus memohon. Dirinya tak boleh gagal. Saat ini dia dihadapkan oleh dua pilihan. Mengajukan gugatan perceraian lalu bertahan hidup dengan harta gono-gini dari Ivander, atau membujuk Qeiza agar mau menerima pinangan Ivander agar pria itu tetap mendapatkan warisan dan dirinya bisa berfoya-foya seperti biasanya.
Tadinya, Evelyn pikir, membujuk Qeiza adalah hal yang mudah. Dia pikir Qeiza akan langsung menjawab iya atas lamaran Ivander setelah dirinya memohon pada wanita itu.
Nyatanya, Evelyn sampai harus berlutut dan mengiba pada janda beranak satu itu. Itu pun masih belum juga mendapatkan hasil.
Harus pakai cara apa lagi buat membujuk janda ini? Dasar janda brengsek! Aku sudah berlutut seperti ini, tapi dia masih belum mau menerima lamaran Ivan! Apa kau pikir aku rela melepaskan Ivan dan memberikannya padamu secara cuma-cuma?! Jangan mimpi Qeiza. Jangan pernah bermimpi untuk bisa menggantikan posisiku dan menjadi satu-satunya istri dari Ivander Bratajaya. Karena Ivan dan kekayaannya, selamanya akan menjadi milikku!
“Aku tau kalau kamu mencintai Ivan, kan?”
Qeiza hanya diam dan tak menjawab pertanyaan yang baru saja dilontarkan oleh Evelyn. Bagaimana dia harus menjawabnya? Apakah dia harus menjawab dengan lantang 'ya, aku mencintai suamimu'? Tidak mungkin seperti itu kan?
“Aku akan meminta Ivan untuk berbuat adil. Aku juga yakin kalau Ivan bisa berbuat adil. Tolonglah Qei, terima lamaran Ivan.”
“Apa Bu Evelyn yakin ingin dimadu? Apa Ibu ikhlas menerimanya?”
Evelyn tentu saja menganggukkan kepalanya dengan mantap. Bagaimana mungkin dia bisa tak yakin? Dengan Ivander menikahi Qeiza, itu artinya pria itu tak akan dicoret dari daftar penerima warisan Andreas. Lagian, Ivander tak akan mungkin bisa jatuh hati pada wanita yang kini ada di hadapannya. Ivander terlalu mencintai dirinya. Ivander begitu tergila-gila padanya. Pria itu menikah hanya karena menuruti keinginan sang mertua. Begitulah pikir Evelyn.
__ADS_1
“Tidak mungkin ada wanita yang rela dimadu, Bu. Saya pun demikian. Sewaktu Pak Ivan melamar saya, saya meminta Pak Ivan untuk bercerai lebih dulu. Itu semua karena saya tak ingin berbagi suami,” jelas Qeiza.
Evelyn terperangah mendengar penuturan Qeiza. Benar apa yang dipikirkannya sejak tadi. Qeiza memang berniat membuatnya berpisah dari Ivander.
Dasar janda licik! Tidak tau diri! Kau pikir siapa dirimu? Bisa-bisanya meminta Ivan menceraikanku!
“Tolong jangan minta Ivan menceraikan saya, Qei. Walaupun saya tau pasti, Ivan tak mungkin mau untuk menceraikan saya. Tapi, mertua saya .... Mertua saya akan melakukan apa saja agar kami bercerai. Apalagi kalau kamu tidak mau menerima lamaran Ivan.”
Evelyn kembali berdrama. Wanita itu kini menangis sesenggukan. Seolah meratapi nasibnya yang malang. Entah mengapa Qeiza merasa semakin sakit mendengar penuturan Evelyn.
Apa selama ini Ivander tak benar-benar tulus menyayangi dirinya dan Qiana, seperti yang pria itu ucapkan dan tunjukkan? Apa pria itu hanya berakting? Apa dia melakukan semuanya atas suruhan Andreas? Sebesar itukah cinta Ivander terhadap Evelyn?
Banyak sekali pertanyaan yang ada dibenak Qeiza. Pun dengan Melati yang masih menguping pembicaraan itu dari balik tembok.
“Ibu dan Pak Ivan saling mencintai, tak seharusnya Pak Andreas memisahkan kalian. Saya tidak akan membiarkan Pak Andreas memisahkan kalian. Saya akan mengatakan kalau saya tak akan pernah mau menikah dengan Pak Ivan walaupun kalian berpisah.”
Evelyn terlihat panik. Jika Qeiza berbicara seperti itu pada Andreas, bisa dipastikan dirinya akan hidup melarat karena Ivander tak akan mendapatkan warisan dari sang mertua.
“Mertuaku pasti akan langsung mengurus perceraian kami, dan Papi akan menyarikan wanita lain untuk Ivan,” ucap Evelyn.
“Saya setuju Ivan menikah lagi, karena wanita itu adalah kamu, Qei. Saya tau kamu wanita baik. Saya yakin kamu bisa mengurus Ivan dengan baik, karena kan kamu sudah terbiasa menghabiskan waktu dan mengurusi Ivan. Saya mohon dengan sangat Qei. Terimalah Ivan.”
Evelyn yang masih berlutut, kini mengatupkan tangannya, memohon pada Qeiza. Bahkan wanita itu memohon dengan air mata yang terus bercucuran.
Rasanya Evelyn ingin sekali melayangkan telapak tangannya ke wajah Qeiza. Bahkan dirinya ingin menarik rambut Qeiza dengan kencang, dan menghempaskan kepala janda beranak satu itu ke tembok. Harga dirinya benar-benar sudah tercabik-cabik, saat ini. Tapi wanita yang ada di hadapannya itu, masih belum mau menerima tawarannya.
__ADS_1
“Saya akan pikirkan dulu, Bu. Saya juga akan mendiskusikannya dengan ibu saya,” lirih Qeiza kemudian. Wanita itu benar-benar tak tega melihat kondisi Evelyn yang berlutut di hadapannya sembari menangis. Dirinya tak menyangka, jika Andreas yang selama ini bersikap lembut, bisa begitu jahat pada menantunya.
“Apa perlu saya juga berlutut dan memohon pada ibu kamu, Qei.”
“Tidak perlu Bu. Bahkan Ibu tak seharusnya berlutut di hadapan saya,” lirih Qeiza. Mendengar ucapan Qeiza, wanita itu merasa tak perlu lagi repot-repot berlutut di hadapan Qeiza. Wanita itu pun menegakkan badannya dan kembali duduk di samping Qeiza, sembari menggenggam jemari janda beranak satu itu.
“Itu karena saya benar-benar ingin kamu menjadi maduku, Qei. Saya pastikan orang-orang akan iri melihat rumah tangga kita, karena kita akan jadi madu yang akrab seperti kakak adik. Kamu juga jangan panggil saya dengan sebutan ibu. Panggil saya dengan sebutan 'kak' tau 'mba'!” ucap Evelyn antusias. Sebenarnya wanita itu hanya berpura-pura antusias, agar Qeiza segera mengikuti permainannya. Dia sudah sangat lelah sekali membujuk Qeiza.
“Bagaimana Qei? Kamu mau kan menjadi maduku. Saya jamin kita semua akan hidup bahagia bersama!”
Qeiza masih belum memutuskan. Janda beranak satu itu meminta waktu untuk memikirkan semuanya. Evelyn mengumpat dalam hati. Upayanya berlutut di depan Qeiza terasa sia-sia.
Evelyn berujar akan datang dan membujuk Qeiza setiap hari. Dan benar saja, keesokan sorenya, Evelyn kembali datang dan membujuk Qeiza. Bahkan sudah tiga hari Evelyn bolak balik ke rumah Qeiza, membujuk wanita itu sembari berlutut. Evelyn mengatakan akan terus melakukan hal itu hingga Qeiza menerima lamaran Ivander.
Setiap malam Qeiza tak dapat terlelap. Janda beranak satu itu bahkan izin tak masuk kerja dengan alasan pribadi Senin itu.
Permohonan Evelyn terus dipikirkannya. Menurut Qeiza, tak ada salahnya dia menerima Ivander. Toh, istri pria itu menyetujuinya. Keluarga besar pria itu juga sangat mendukung pernikahan kedua Ivander terjadi.
Qiana juga merasa bahagia dekat dengan Ivander. Pun dengan dirinya. Gadis kecil itu bahkan terus menanyakan Ivander dua hari ini, karena biasanya mereka akan menghabiskan akhir pekan bersama, seperti beberapa Minggu belakangan.
Jika dirinya menikah dengan Ivander, Qiana pasti bahagia karena terus bisa menghabiskan akhir pekan bersama pria itu. Dirinya juga bahagia terus ada di sisi Ivander. Evelyn juga akan bahagia karena tak lagi diteror Andreas.
Semua orang akan bahagia jika pernikahan itu terjadi. Lantas apa salahnya menerima lamaran pria itu?
Dan di hari keempat Evelyn datang, Qeiza mengatakan dirinya bersedia menjadi madu Evelyn. Janda beranak satu itu berjanji akan menerima Ivander, jika pria itu kembali melamarnya. Wajah Evelyn seketika berbinar. Bayangan akan hidup melarat karena tak akan mendapat warisan Andreas, lenyap begitu saja.
__ADS_1
Evelyn melenggang menuju kantor Ivander setelah menghubungi pria itu sebelumnya.
“Qeiza sudah bersedia menjadi maduku. Kamu tinggal melamarnya kembali, Hon.”