Kata Mereka, Aku Pelakor

Kata Mereka, Aku Pelakor
Dunia baru Evelyn


__ADS_3

Evelyn berjalan tak tentu arah. Dirinya masih tidak tau harus berbuat apa. Wanita itu berusaha menghubungi teman-teman sosialitanya dulu. Berharap ada satu atau dua orang dari teman sosialitanya yang mau membantunya. Tapi, beberapa teman yang dihubungi tak ada yang menjawab panggilan telepon darinya.


“Dasar brengs3k! Dulu saja mereka selalu berbaik-baik padaku! Setelah aku keluar dari penjara, tak ada satu pun yang mau menjawab panggilan teleponku!”


Evelyn berteriak seperti orang gila di pinggir jalan. Banyak mata yang menatap aneh padanya. Tubuhnya yang lelah karena terus berjalan tanpa tujuan selama dua jam, membuat Evelyn memasuki sebuah restoran cepat saji. Setidaknya dia bisa makan sambil beristirahat di ruangan yang sejuk.


Evelyn sadar jika dia harus berhemat sekarang. Wanita itu harus menggunakan uang yang dilemparkan oleh Ivander dengan bijak. Restoran cepat saji mungkin adalah tempat yang tepat agar dia bisa makan makanan sembari bersantai di ruangan yang sejuk.


Hampir dua jam wanita itu berada di sana, sebelum memutuskan untuk kembali ke apartemen tempatnya tinggal dulu. Dengan menaiki ojek, Evelyn tiba di sana. Evelyn memohon untuk diizinkan tinggal di sana selama beberapa hari sebelum menemukan tempat tinggal. Tapi pihak apartemen tentu saja tidak mengizinkan hal itu.


Mereka semua tau kasus yang menimpa rumah tangga Evelyn dan Ivander. Mereka tak mau tersangkut dengan kasus itu, saat orang-orang mengetahui kalau wanita itu tinggal di kantor manajemen apartemen.


Evelyn memutuskan untuk pergi ke klub malam tempatnya biasa mencari hiburan. Dengan kondisi lusuh, Evelyn menghampiri Leonard.


“Sorry Ev. Aku tidak mungkin memberikan posisi penari untukmu.”


“Le, kamu adalah orang yang harus membantuku. Aku ditipu oleh salah satu penari pria mu!” pekik Evelyn. Leonard tertawa terbahak-bahak mendengar penuturan Evelyn.


“Ev, transaksi kamu dengan Jeremy dan Alex, kamu lakukan di luar club'. Jadi, kejadian yang menimpamu bukan bagian dari tanggung jawab club!”


“Tetap saja ini ada sangkut pautnya dengan club milikmu. Aku mengenal mereka semua di sini! Jika aku tidak ke sini, tidak mungkin nasibku jadi sial seperti ini!”


Lagi-lagi Leonard tertawa terbahak-bahak. Bagaimana mungkin Evelyn menyalahkan dirinya atas apa yang menimpa wanita itu?!


“Ev, harusnya kamu bersyukur karena aku tidak membocorkan video mesummu di club' ini. Asal kamu tau, sudah sejak lama Anggara menghampiriku dan meminta videomu saat di club'. Anggara bahkan menghampiriku beberapa bulan sebelum video asusila mu itu beredar!”


Evelyn terperangah. Ternyata keluarga besar Bratajaya sudah lama memantau dirinya.


“Aku butuh kerjaan, Le. Aku sudah tak punya apa-apa lagi. Aku bangkrut. Bahkan aku tak punya tempat tinggal. Aku tak tau harus bekerja apa. Yang aku bisa hanya melayani pria hidung belang.”


“Siapa yang mau memesanmu, Ev. Kamu sudah tua! Kamu tidak akan laku di pertunjukan. Para pria hidung belang yang hadir di sana menginginkan gadis muda. Kamu saja sewaktu di club' selalu memesan daun muda kan?!”


Evelyn berdecih. Yang dikatakan Leonard memang benar. Pasti tidak ada yang menginginkan wanita paruh baya seperti dirinya. Jika pun ada, pasti dengan tarif yang sangat murah.

__ADS_1


“Lagian, aku tidak mau mengambil risiko. Videomu sudah terlalu viral. Banyak yang mengenalimu di sini. Aku tidak mau terseret-seret dengan kasusmu itu!”


“Aku bersedia bekerja apa saja. Tolong beri aku pekerjaan dan tempat untuk berteduh,” lirih Evelyn.


“Tidak ada yang mau membantuku, Le. Kita kan berteman sudah lama. aku juga sudah banyak menggelontorkan dana di club' milikmu. Tolong bantu aku.”


“Oke. Aku akan memberikanmu pekerjaan. Kalau masalah tempat tinggal, kamu bisa tinggal di ruangan kecil yang ada di bangunan belakang dekat dengan ruangan para anggota keamanan. Ruangan itu sudah lama tak terpakai. Nanti aku akan suruh salah satu anggota keamanan membersihkannya dan membelikan kasur kecil untukmu. Tapi, apa kamu benar-benar mau melakukan pekerjaan apa saja?”


Dengan cepat Evelyn menganggukkan kepalanya. Leonard adalah pemilik club' paling terkenal di Ibu Kota. Jika tidak sebagai penari, mungkin dirinya akan ditawari pekerjaan sebagai pelayan yang menyuguhkan minum untuk para tamu. Menggunakan rok super mini dengan atasan terbuka sembari menawarkan berbagai macam minuman beralkohol. Pekerjaan seperti itu pun tidak masalah baginya. Begitulah pikir Evelyn.


Tapi, apa yang ada di pikiran wanita itu tak sebanding dengan kenyataan yang ada. Leonard menawarinya sebuah pekerjaan sebagai cleaning service.


“Tugasmu hanya membersihkan room setelah dipakai pelanggan VIP. Pekerjaannya hanya itu, mudah kan?”


“Le, tega sekali kamu memberiku pekerjaan hina itu! Aku tidak mau jadi cleaning service! Apalagi bagian pembersihan ruangan VIP. Kamu menyuruhku untuk membersihkan sisa-sisa sp*rma pelanggan mu! Cuih, aku tak sudi!”


Leonard hanya menggedikkan pundaknya. Pria itu tak peduli dengan teriakan Evelyn.


Evelyn hanya bisa menatap Leonard dengan kesal. Tapi, Evelyn tak punya pilihan. Saat ini sudah larut malam. Dirinya butuh tempat menginap. Dia juga butuh uang untuk menyambung hidup. Dan apa yang diucapkan oleh Leonard ada yang menarik perhatiannya. Bisa saja ada seorang pria yang tergoda padanya dan dia bisa keluar dari jerat kemiskinan ini.


Evelyn pun menyetujui tawaran Leonard. Sejak malam itu, Evelyn bekerja sebagai cleaning service di club' malam termewah di Ibu Kota.


Dengan memakai masker sebagai penutup wajah, Evelyn membersihkan ruangan demi ruangan VIP di club' malam itu. Wanita itu baru bisa istirahat ketika fajar menyapa.


***


Sejak saat itu, Evelyn tinggal di sebuah ruangan bekas gudang. Sebelum gajinya keluar, Evelyn membeli makan dari sisa uang pemberian Ivander. Walau pada awalnya merasa jijik dan enggan, tapi perlahan Evelyn mulai terbiasa membersihkan sisa-sisa cairan kenikmatan yang sering tercecer di ruang VIP club malam itu.


Evelyn sekuat tenaga menahan malu, saat teman-teman sosialitanya menangkap basah dirinya tengah menjalankan tugas sebagai cleaning service.


Beberapa teman-teman sosialitanya dulu bahkan sering melemparkan beberapa lembar uang pecahan dua ribu rupiah, saat melihat Evelyn.


“Lumayan tuh, buat makan sehari-hari. Kasihan kurus kering seperti itu.”

__ADS_1


Begitulah hinaan-hinaan yang sering diterima oleh Evelyn setiap bertemu dengan mantan teman sosialitanya. Namun, wanita itu tak membalasnya. Evelyn sadar jika dia membutuhkan pekerjaan itu. Tanpa rasa malu, Evelyn bahkan mengutip lembaran demi lembaran uang receh yang berserakan di lantai.


Wanita itu tak lagi memedulikan pandangan dan cacian yang dialamatkan padanya. Yang dia butuhkan hanya uang. Biaya perawatan wajahnya sangat mahal. Evelyn membutuhkan banyak uang untuk itu. Dia harus tetap kelihatan segar agar suatu saat ada pria kaya yang mengeluarkannya dari gudang tempatnya tinggal.


Namun, sepertinya apa yang direncanakan oleh Evelyn tak berjalan lancar. Beberapa kali uang yang dikumpulkan untuk biaya perawatan wajahnya, terpakai untuknya memeriksa kesehatan.


Beberapa bulan setelah dirinya bekerja di club' malam, panggul wanita itu sering sakit. Evelyn juga sering mengalami demam. Berulangkali wanita itu harus berobat ke rumah sakit karena radang panggulnya sering kambuh. Tubuh wanita itu bahkan semakin kurus dari hari ke hari.


Seperti saat ini, wanita itu sedang merintih menahan sakit di salah satu kursi tunggu di sebuah rumah sakit yang tak jauh dari klub malam tempatnya bekerja.


“Bu Evelyn.”


Wanita itu pun mengambil obat yang diberikan padanya setelah menunggu selama lima belas menit.


Namun, saat wanita itu hendak berjalan meninggalkan rumah sakit, Evelyn tersandung hingga terjatuh. Seorang gadis kecil membantunya berdiri dan memberikan kembali obat yang terlepas dari genggamannya tadi.


“Terima kasih anak cantik. Terima kasih karena sudah membantu tante.”


“Sama-sama Tante. Tante sedang sakit ya?”


Evelyn menganggukkan kepalanya. “Panggul Tante sering sakit-sakitan.”


“Anak Tante di mana? Kenapa tidak menemani Tante. Aku saja sekarang sedang menemani Mama periksa,” ucap gadis kecil itu.


Evelyn tersenyum tipis. Ah, andai saja dirinya hidup dengan normal seperti kebanyakan wanita lainnya. Mungkin dia sudah memiliki anak yang beranjak remaja, sekarang.


“Ibu kamu sakit?”


Gadis kecil itu menggelengkan kepalanya. “Mama sedang mengandung. Kata dokter, beberapa hari lagi kemungkinan adikku akan lahir. Aku senang sekali!” pekik gadis kecil itu.


Evelyn ikut tersenyum senang saat menatap gadis kecil itu. Tapi, beberapa saat kemudian, senyum wanita paruh baya itu luntur, saat melihat seorang pria memanggil gadis kecil yang cantik itu.


“Qiana ... Kenapa kamu menghilang?!”

__ADS_1


__ADS_2