
Sore itu, suasana di rumah kediaman Qeiza begitu riuh. Walau hanya dihadiri oleh keluarga inti, tapi kondisi di rumah itu begitu meriah. Delapan orang anggota keluarga Bratajaya. Ditambah David yang juga membawa anak dan cucunya serta para pekerjanya yang membantu untuk mengambil potret kebersamaan keluarga Bratajaya, ikut serta berkumpul di ruangan itu. Tak lupa para pekerja yang ikut membantu keluarga Bratajaya selama menginap di rumah sakit, serta para pekerja di kediaman Qeiza, turut meramaikan acara itu.
Ada sekitar tiga puluh orang berkumpul di sana.
Setelah mengambil banyak potret keluarga, acara tersebut dilanjutkan dengan makan bersama di pekarangan samping rumah itu. Dengan tema barbeque, Andreas mengundang salah satu chef ternama di Indonesia untuk memasak santap malam mereka malam itu. Tak ada perbedaan antara keluarga dan pekerja. Mereka semua larut dalam kebersamaan. Hanya Ivander dan Qeiza saja yang melewatkan acara santap malam itu.
Qeiza yang baru saja melahirkan, serta Sean yang masih berusia beberapa hari, mengharuskan ibu dan anak itu untuk beristirahat. Tadinya Melati yang ingin menemani anak dan cucunya itu, tapi Ivander bersikeras agar dirinya saja yang turut serta bersama anak dan istrinya ke kamar mereka.
Setelah berganti pakaian tidur, Qeiza pun menyusui Sean. Seperti biasa, Ivander selalu berada di sisi sang istri ketika wanita itu menyusui sang anak.
Ivander meletakkan Sean ke dalam box bayi, saat anaknya itu telah terlelap.
“Kamu lelah, Sayang? Mau aku pijat?” tanya Ivander, setelah berhasil meletakkan Sean ke dalam box bayi. Qeiza hanya tersenyum menanggapinya. Wanita itu memang merasa sedikit lelah. Tapi, Qeiza sudah berjanji pada dirinya sendiri kalau malam ini, dirinya harus melayani sang suami. Sudah terlalu lama sang suami tak mendapatkan perhatiannya. Terlebih Ivander sudah sangat banyak membantunya dalam mengurusi Sean dan Qiana. Qeiza ingin mengucapkan rasa terima kasihnya pada sang suami, dengan memuaskan pria itu.
“Sini Mas, duduk,” ucap Qeiza.
Ivander pun duduk di tepi ranjang, persis samping sang istri. “Ada apa? Kamu mau membicarakan sesuatu?”
Mata Ivander seketika terbelalak saat jemari Qeiza meraba miliknya dari luar celana. “Qei,” lirih Ivander. Pria itu memang sudah tak lagi bisa menahannya. Dirinya tidak pernah lebih dari dua hari tak dijamah oleh Qeiza. Kini, enam hari sudah, hasratnya tak tersalurkan. Pria itu begitu menggebu-gebu.
Ivander gegas meninggalkan Qeiza, berlari menuju kamar mandi yang terdapat di kamar itu. Rupanya Ivander tak percaya diri sebelum membersihkan bagian bawah tubuhnya. Dan Ivander keluar dari kamar mandi begitu saja, tanpa menutup asetnya yang sudah begitu siap bertempur.
Qeiza hendak berlutut di lantai seperti biasanya, namun Ivander menahannya. Tak seperti biasanya, pria itu meletakkan sebuah bantal untuk alas duduk Qeiza. Ivander merasa kasihan jika Qeiza berlutut di lantai. Pria itu membiarkan Qeiza duduk di atas bantal lalu mengulum miliknya.
__ADS_1
Ivander mencengkram rambut Qeiza. Pria itu terus menerus mengerang melampiaskan rasa nikmat yang menjalari seluruh tubuhnya. Qeiza sudah begitu mahir dalam melayaninya.
Qeiza memejamkan matanya saat Ivander menyemburkan cairan cintanya ke wajah wanita itu. Qeiza yang kini berlumuran cairan putih itu, membuat hasrat Ivander makin menggebu. Walau sudah menyemburkan cairan cintanya, keperkasaan pria itu tak kunjung reda. Qeiza terpaksa menggunakan jemarinya, karena mulutnya sudah merasa keram.
Kembali Ivander membasuh Qeiza dengan cairan cintanya. Dan pria itu kini harus membantu Qeiza membersihkan tubuhnya yang berlumur cairan lengket itu.
Dengan begitu telaten, Ivander membasuh seluruh tubuh Qeiza, mulai dari ujung rambut hingga kaki dengan air hangat.
Sementara itu, di pekarangan rumah itu, dua asisten rumah tangga mengeluh karena Ivander dan Qeiza tak kunjung membukakan pintu kamar, saat mereka hendak mengantarkan makanan.
“Sudah saya ketuk dan panggil-panggil, tapi tidak ada tanggapan dari Bu Qei dan Pak Ivan, Pak.”
“Ah, si Bucin itu pasti minta yang macam-macam dengan Qei. Memang dasar tuh orang, istri baru melahirkan sudah minta macam-macam!” cebik Ivona. Andreas hanya tertawa mendengarnya. Sejak tadi pria lanjut usia itu sudah menyaksikan Ivander terus menempelkan wajahnya pada lekuk leher Qeiza. Jadi, dirinya tak heran lagi jika Ivander melakukan sesuatu dengan istrinya.
Sementara itu, di dalam kamar yang mewah itu, Ivander tengah membantu sang istri memakai korset. Mengaitkan kancing-kancing korset hingga Qeiza merasa nyaman menggunakan kain yang membalut perutnya itu.
Sean kembali merasa lapar. Bayi berusia lima hari itu menjerit, seolah menyatakan jika dirinya tengah kelaparan. Ivander pun mengambil sang anak dari box bayi dan menyerahkannya pada Qeiza yang sudah duduk bersandar di atas ranjang.
Ivander mengelus rambut sang istri, saat wanita itu tengah menyusui bayinya. Ivander merasa kasihan pada Qeiza. Sehabis melayaninya selama tiga puluh menit tanpa henti, Qeiza kini harus menyusui bayi mereka. Betapa lelahnya wanita ini. Ivander pun berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menyakiti hati Qeiza sekecil apapun. Dia akan berusaha menjadi suami siaga. Suami yang selalu bisa diandalkan oleh Qeiza.
“Mas ... Aku lapar,” rengek Qeiza, ditengah-tengah proses menyusui.
Sebagai suami siaga, Ivander gegas melangkahkan kakinya menuju pintu kamar. Pekarangan rumah adalah tempat yang menjadi tujuan pria itu. Dia akan membawa banyak makanan untuk sang istri. Qeiza tengah dalam masa menyusui. Dari apa yang telah Ivander baca, wanita menyusui kerap merasa lapar. Apalagi, tadi wanita itu sudah melayaninya dengan sangat memuaskan. Dia harus melayani istri yang sangat dicintainya itu bak seorang ratu.
__ADS_1
“Kenapa Mas?” tanya Qeiza, saat melihat Ivander tiba-tiba mematung di depan pintu kamar.
“Makanan sudah tersaji di depan pintu, Sayang!” ucap Ivander antusias. Pria itu langsung mendorong meja saji yang penuh berisi makanan.
“Kamu mau makan apa dulu, Sayang? Salad? Atau snack lebih dulu?” tanya Ivander.
“Nanti saja, Mas. Setelah Sean selesai menyusu.”
“Biar Mas yang suapi. Kamu fokus saja menyusui si Boss Baby itu,” jelas Ivander. “Ayo, mau makan apa?”
“Yasudah, aku mau salad dulu deh Mas. Setelah itu Steaknya ya. Aku sangat lapar,” ujar wanita itu. Ivander membawa semangkuk salad untuk sang istri dan menyuapinya. Qeiza pun makan dengan sangat lahap.
Sejak lima hari lalu, Ivander begitu terpana setiap melihat Qeiza menyantap makanan. Qeiza menyantap makanan dengan tempo yang sangat cepat. Wanita itu sangat lahap. Bahkan, lebih lahap dibandingkan saat wanita itu tengah mengandung.
“Sekarang saatnya hidangan utama,” ucap Ivander. Pria itu dengan hati-hati memindahkan steak yang berada di atas hot plate ke sebuah piring berwarna putih, lalu membubuhi saus yang berwarna kecoklatan di atasnya.
“Dagingnya well done kan, Mas?” tanya Qeiza saat Ivander tengah mengiris-iris daging yang berada di atas piring itu.
“Iya Sayang. Matang dengan sempurna kok.”
Kembali Ivander menyuapi Qeiza.
“Sean mau diletakkan di box dulu?” tanya Ivander, saat pria itu tau, jika sang anak sudah selesai menyusui.
__ADS_1
Qeiza menggelengkan kepalanya. Dirinya tak mau kegiatannya menyantap steak A5 itu terganggu. Steak yang dia nikmati adalah salah satu steak terenak dan termahal di dunia. Tentu saja Qeiza tak mau kegiatannya itu terganggu. Setelah menyantap habis seluruh steak itu, barulah Qeiza meminta Ivander untuk meletakkan kembali anaknya itu ke dalam box bayi.