
Sudah tiga hari Qeiza berada di ruang rawat inap VVIP itu. Sudah tiga hari juga seluruh keluarga Bratajaya berada di sana. Membantu Qeiza mengurusi Qiana, bahkan Andreas ikut mengantar dan menjemput Qiana ke sekolah.
Qeiza merasa bersyukur karena mertuanya begitu menyayangi putrinya. Putri yang tak ada hubungan darah dengan keluarga Bratajaya. Tapi, baik Andreas maupun Ivona, menyayangi Qiana seperti mereka juga menyayangi Sean.
Wanita itu kini merasa jika hidupnya begitu sempurna. Qeiza teramat bahagia. Memiliki suami, mertua dan ipar yang sangat menyayanginya serta anak yang dibawanya. Terlebih keluarga sang suami memiliki kekayaan berlimpah.
Apa lagi yang harus Qeiza pinta pada sang pencipta? Selain kesehatan dan kebahagiaan keluarganya yang selalu terjaga. Semuanya kini sudah berjalan melebihi keinginannya.
Saat rasa bahagia yang Qeiza rasakan begitu membuncah, ponsel Ivander berdering saat seluruh keluarga itu tengah berbincang dengan hangatnya.
“Maaf, saya tidak punya urusan lagi dengannya!”
Ivander seketika memutuskan panggilan telepon itu secara sepihak. Seluruh keluarga Bratajaya yang berkumpul pun menatap ke arah pria itu. Termasuk Qeiza.
“Siapa Mas? Sepertinya Mas kesal sekali,” tanya Ivona.
Bukan hanya Ivona yang ingin tau mengenai siapa yang baru saja menghubungi Ivander. Qeiza, Andreas dan Melati pun juga merasa penasaran. Pasalnya nada suara Ivander meninggi saat menjawab panggilan telepon itu. Wajah pria itu juga terlihat sangat kesal.
“Dari rumah sakit,” jawabnya singkat.
“Dari rumah sakit? Rumah sakit mana, Mas? Siapa yang sakit?”
Pria itu menatap Qeiza yang baru saja melontarkan pertanyaan. Ivander mengembuskan napas panjang.
“Rumah sakit ini. Mengabarkan kondisi Ev.”
Ada yang berubah dari mimik wajah Qeiza saat Ivander menyebutkan nama Evelyn.
__ADS_1
Sebenarnya, Ivander tak ingin menyeritakan hal itu. Tapi, Qeiza dan semua orang yang kini berada di ruang rawat inap VVIP itu pasti akan terus memberikan pertanyaan jika dirinya tak menjawab. Ivander takut jika Qeiza kembali marah padanya.
“Memangnya, kondisi Mba Evelyn bagaimana, Mas? Dia masih dirawat di rumah sakit ini? Sejak kejadian itu, dia masih dirawat?” tanya Qeiza penasaran.
“Sudahlah Qei. Aku sudah tidak mau tau lagi apapun tentang dia,” ucap Ivander.
“Iya. Biarkan saja dia. Mereka kan sudah bercerai. Buat apa mengurusi wanita itu lagi. Lagian, dia itu sudah mendapatkan banyak harta dari Ivan. Sudah cukup lah apa yang diperbuat Ivan untuknya!” tegas Andreas.
Qeiza tau persis seberapa besar rasa benci Andreas pada Evelyn. Tapi, saat Ivander menyeritakan perihal kondisi kesehatan Evelyn padanya, malam itu, timbul rasa kasihan di hati Qeiza pada mantan kakak madunya itu.
“Tapi, kemarin malam, Mas Ivan cerita. Katanya, Mba Ev ditipu temannya, dan seluruh hartanya dibawa kabur. Kasihan dia. Bisa saja dia mau keluar dari rumah sakit tapi tak punya biaya,” ujar Qeiza.
“Biarkan saja Qei. Mungkin itu azab buat dia,” cebik Ivona.
Qeiza menatap Ivander. Sepertinya sang suami juga tak mau memikirkan masalah yang menimpa Evelyn. Qeiza pun hanya bisa mengembuskan napas panjang. Qeiza bisa memaklumi tindakan seluruh klan Bratajaya itu. Perbuatan Evelyn benar-benar mencoreng nama baik klan Bratajaya. Lebih dari itu, Evelyn sudah benar-benar menyakiti putra sulung di keluarga Bratajaya.
Namun, rasa iba di hatinya, tak bisa Qeiza abaikan begitu saja. Saat seluruh keluarga Bratajaya telah kembali ke kamar inap mereka masing-masing, Qeiza meminta Ivander menanyakan kondisi Evelyn. Apalagi pihak rumah sakit kembali menghubungi sang suami. Bahkan kini, salah satu perawat mendatangi kamar rawat inap VVIP, tempat di mana Qeiza di rawat.
“Saya tidak peduli dengan apapun yang terjadi padanya!” ketus Ivander. Qeiza terperanjat mendengar penuturan sang suami.
“Mas, jangan begitu. Kasihan Mba Evelyn.”
“Qei ... Sayang ... Aku tidak mau dia hadir lagi di tengah-tengah kita. Sudah cukup dia mengacaukan hidup kita,” jelas Ivander. Pria itu memang sudah benar-benar bosan dan muak, bahkan hanya mendengar nama Evelyn.
“Mas ... Aku tidak akan marah lagi jika Mas menolong Mba Ev. Yang penting, Mas selalu jujur dan membicarakannya lebih dulu ke aku,” ucap Qeiza.
“Qei ... Aku sudah banyak menolongnya. Bahkan, biaya perawatannya pun aku yang bayar. Tapi, kalau untuk bertanggung jawab soal kehidupannya lagi, aku tidak mau. Aku sudah tidak peduli Qei.”
__ADS_1
“Kalau begitu, biar saya saja yang menjadi penanggung jawabnya, Sus. Mana surat pernyataannya. Mulai sekarang, saya yang akan bertanggung jawab perihal pengobatan dan perawatan pasien atas nama Evelyn,” tegas Qeiza.
Ivander hanya bisa terdiam dengan mulut menganga saat melihat Qeiza menandatangani lembar pernyataan persetujuan tindakan kemoterapi yang harus dijalankan oleh Evelyn.
“Tolong langsung hubungi saya jika ada perkembangan tentang kesehatan Mba Evelyn.”
“Baik, Bu. Terima kasih. Nanti saya akan langsung menghubungi ke ponsel Bu Qeiza atau langsung datang ke ruangan ini,” ucap perawat itu.
“Jangan datangi saya ke sini. Saya tidak mau keluarga saya yang lain mengetahui hal ini. Hubungi saja melalui nomor ponsel yang saya berikan.”
Perawat itu mengangguk mendengar permintaan Qeiza, dan gegas meninggalkan ruang rawat inap VVIP itu.
Ivander menatap tajam sang istri saat perawat itu telah meninggalkan ruangan. Ivander mempertanyakan tindakan Qeiza yang menobatkan dirinya sebagai penanggung jawab atas kondisi kesehatan Evelyn.
“Mas, apa yang Mas rasakan saat melihat Mba Evelyn mendadak tak sadarkan diri, sore itu? Mas panik kan? Mas kasihan dengannya kan? Itu juga yang aku rasakan sekarang, Mas. Aku kasihan dengan Mba Ev. Dia butuh bantuan kita. Bukannya Mas sendiri yang katakan, jika sekarang, dia hanya hidup seorang diri. Dia sebatang kara, Mas,” jelas Qeiza.
Ivander mengusap kasar wajahnya. Pria itu benar-benar tak mau lagi terlibat dalam kehidupan Evelyn. Hidup dan mati wanita itu dia sudah tak lagi peduli. Bahkan, Ivander sengaja untuk tak lagi mau tau tentang kondisi Evelyn, agar rasa kasihan tak membebani hatinya.
Tapi, kini, malah Qeiza yang sengaja menariknya untuk kembali masuk ke kehidupan mantan istrinya itu.
“Rahasiakan dari Papi dan Ivona, Mas. Biar aku saja yang mengurusi apapun tentang Mba Evelyn.”
“Kamu baru saja melahirkan, Qei. Kamu jangan menyibukkan diri untuk mengurusi wanita tak tau diri itu. Biarkan saja dia merasakan akibat perbuatannya itu. Lebih baik, kamu fokus untuk mengurus Sean, Sayang,” pinta Ivander.
“Yasudah, Mas saja yang mengurusnya kalau begitu.”
Ivander tak membalas ucapan Qeiza. Pria itu hanya menghela napas kasar.
__ADS_1
“Kenapa? Apa Mas takut kalau terus mengurusi Mba Ev, Mas akan teringat kenangan indah masa lalu?”
Ivander kembali menatap tajam Qeiza. “Nama dia sudah lama terkubur, Qei. Kenangan dengannya yang dulu ku pikir indah, ternyata hanya kenangan menyedihkan. Jadi, bukan itu alasan aku tak mau lagi mengurusi wanita itu. Aku sudah benar-benar muak dengannya. Apa kamu tidak percaya dengan Mas, Qei?”