Kata Mereka, Aku Pelakor

Kata Mereka, Aku Pelakor
Nasihat Melati


__ADS_3

Telepon dari Evelyn tadi, membuat Ivander merasa lebih lega. Pria itu mengirimkan sebuah pesan suara kepada adik kandungnya. Ivander menyeritakan seluruh isi perbincangannya dengan Evelyn tadi, pada Ivona.


Saat Ivander baru saja keluar dari kamarnya, pintu kamar Qiana yang berada persisi di sebelah kamarnya, terbuka. Qiana melangkah sembari mengucek matanya. Ivander pun menghampiri anak sambungnya itu, dan membawa Qiana dalam gendongannya.


“Anak Papa baru bangun tidur, ya?”


“Iya Papa. Kok Papa dan Mama sudah pulang kerja?”


“Iya. Papa dan Mama pulang lebih awal. Kita temui Mama di bawah, yuk,” ajak Ivander.


Sebenarnya, pria itu sedari tadi ingin membuka pintu penghubung kamarnya dengan kamar Qiana. Ivander ingin membangunkan anak sambungnya itu, dan menggunakan gadis kecil itu untuk mendekati Qeiza. Namun, karena merasa tak tega mengganggu waktu tidur anaknya itu, Ivander memutuskan untuk menghampiri sang istri, seorang diri.


Namun, siapa yang mengira jika Qiana bangun di saat yang tepat?


Mengayun langkah dengan penuh semangat, Ivander mencari keberadaan sang istri. Mulai dari ruang keluarga, ruang makan, dapur, ruang tamu, taman belakang hingga ruang bermain Qiana. Tapi, Qeiza tak ada di sana.


“Mama di mana ya Qi?”


“Qia tidak tau, Pa,” jawab gadis kecil itu santai. “Tanya Bibi saja, Pa,” usul Qiana. Ivander mencubit gemas pipi gadis kecil itu. Saking bersemangatnya Ivander menemui Qeiza, pria itu sampai terlupa untuk bertanya pada orang-orang yang bekerja di rumahnya itu.


“Ibu dari tadi di kamar Bu Melati, Pak.”


Ivander mengembuskan napas kasar. Tidak mungkin dirinya mengetuk pintu kamar sang mertua untuk mencari Qeiza. Lagian, jika dirinya memanggil Qeiza dari luar kamar, wanita itu pasti tak mau membuka pintu. Sudah pasti sang mertua lah yang akan membukakan pintu untuknya. Pasti akan terasa canggung sekali. Karena Ivander tau, jika Qeiza pasti sedang mencurahkan isi hatinya pada mertuanya itu.


Pria itu tersadar dari lamunannya, saat Qiana memanggil namanya.


“Qia, nanti papa ketuk pintu kamar nenek, Qia yang panggil Mama, ya.”


“Oke Papa,” jawab Qiana.


Sesuai keinginan Ivander, Qiana pun memanggil sang ibu, setelah ayah sambungnya itu mengetuk pintu sebanyak tiga kali. Dan, benar saja. Mendengar suara Qiana, Qeiza gegas membuka pintu kamar sang ibu.


Qeiza terperanjat saat Ivander juga ada di sana bersama anaknya.

__ADS_1


“Qia baru bangun?” tanya Qeiza. Gadis kecil yang masih berada di dalam gendongan Ivander itu menganggukkan kepalanya.


“Kalau begitu, sekarang saatnya mandi. Ayo sini, biar Mama saja yang gendong,” ucap Qeiza sembari menjulurkan tangannya.


“Qia mau berendam di kamar mandi Papa Mama, tidak?”


Qiana yang sangat senang jika diajak berendam air hangat di bathtub yang ada di kamar mama dan papanya sembari bermain gelembung sabun, tentu saja menganggukkan kepalanya dengan antusias. Senyum Ivander pun seketika merekah. Sementara Qeiza hanya melirik sekilas pada sang suami. Namun, senyum merekah yang ditampilkan oleh pria itu, mampu membuat Qeiza merasa senang.


Setidaknya sang suami berusaha untuk meluluhkan hatinya. Sedari tadi Qeiza sudah kesal, karena sang suami tak kunjung mencarinya. Padahal dia ingin Ivander membujuk dan menenangkan hatinya yang tengah kesal.


Ivander menunggu di ranjang, saat Qeiza menyiapkan perlengkapan Qiana untuk berendam. Pria itu sudah menyiapkan kalimat-kalimat terbaik untuk membujuk Qeiza agar tak lagi merajuk.


“Ingat ya, jangan lompat-lompat, jangan berdiri, jangan keluar dari bathtub. Duduk saja sambil bermain busa sabun, ya. Mama ambil baju Qia,” ucap Qeiza. Qiana yang sudah tau aturan itu, segera menganggukkan kepalanya. “Siap Boss,” jawabnya.


Qeiza terperanjat dan berteriak kecil saat Ivander menarik tangannya dengan tiba-tiba.


Ivander rupanya mendengar percakapan antara Qeiza dan Qiana. Pria itu pun beranjak dari ranjang dan menunggu Qeiza di depan pintu kamar mandi.


Ivander langsung menangkap lengan wanita itu, begitu Qeiza terlihat. Ditariknya lengan Qeiza hingga tubuh wanita itu masuk dalam dekapannya.


“Jangan marah terus, pikiran Mas jadi kacau kalau kamu marah,” lirih Ivander.


“Siapa yang marah? Aku tidak marah.”


“Oh ... Mas pikir kamu marah.”


Entah mengapa, mendengar kalimat yang dilontarkan oleh Ivander, membuat Qeiza merasa kesal. Wanita itu menatap tajam pada sang suami.


“Kalau kamu tidak marah, ayo, layani Mas, sekarang,” bisik pria itu sembari meremas bok*ng Qeiza.


Qeiza pun berusaha melepaskan cengkraman tangan Ivander di bok*ongnya. “Ada Qia, Mas. Lagian aku mau menyiapkan pakaian Qia. Sebentar lagi mandinya selesai!”


“Aah ... Biar saja Qia berendam lebih lama sedikit. Mas janji gak akan lama,” rengek Ivander.

__ADS_1


“Aku tidak percaya kalau Mas bisa sebentar. Pasti akan lama. Nanti Qia keburu keriput kelamaan berendam,” ucap Qeiza yang akhirnya berhasil lepas dari pelukan Ivander.


Qeiza melangkah menuju kamar Qiana, Ivander pun mengikuti wanitanya itu. “Kalau begitu setelah Qia selesai mandi, ya,” bujuk pria itu.


“Aku capek Mas. Tadi kan sudah!”


Langkah kaki Qeiza mendadak terhenti karena Ivander memeluknya dari belakang. “Kalau begitu, nanti malam ya.”


Nanti malam? Bukankah nanti malam pria itu akan menginap di rumah istri pertamanya?


“Mas masih sangat merindukanmu, Qei. Kamu tau kan, kalau Mas tidak bisa berlama-lama berjauhan dari kamu.”


Ungkapan yang keluar dari bibir sang suami, membuat Qeiza tersenyum tipis. Wanita itu merasa berbunga-bunga. Rasa kesal yang tadi bersemayam pun mendadak hilang.


“Yasudah,” lirih wanita itu.


“Yasudah apa?”


“Ya, nanti malam kan?” tanya Qeiza.


Ivander seketika sumringah. Seperti ini ternyata cara membujuk wanita yang sedang cemburu, pikir Ivander.


Sore itu, setelah Qiana selesai mandi, Ivander dan Qeiza pun puas bercengkrama dengan anak mereka. Hal yang tidak bisa setiap hari mereka lakukan, karena Ivander dan Qeiza biasanya tiba di rumah saat hari sudah mulai gelap.


Dan saat Qiana baru saja terlelap. Ivander menghampiri sang istri, lalu menagih janji. Qeiza mengangguk.


“Aku ke toilet dulu, Mas,” ucap Qeiza. Ivander mengangguk antusias. Pria itu menyemprot parfum ke seluruh tubuhnya. Ivander bahkan sudah melepaskan seluruh pakaian yang menempel di tubuhnya. Dirinya berencana akan langsung menyergap Qeiza begitu wanita itu keluar dari toilet.


Tak hanya Ivander, nyatanya Qeiza juga memoles seluruh tubuhnya dengan wewangian. Walau sore tadi sehabis mandi Qeiza sudah memoleskan wewangian, tapi, karena saran dari sang ibunda, Qeiza kembali menyapukan lotion harum itu ke seluruh tubuhnya.


Dengan memakai gaun malam berbahan satin, wanita itu berjalan dengan anggun, menghampiri Ivander yang tengah tidur dengan posisi menyamping hingga gini bisa dengan leluasa menatap Qeiza yang semakin lama semakin mendekat.


Qeiza mendadak menjadi gugup, saat menyaksikan tubuh Ivander yang telah polos. Tapi, saat mengingat nasihat sang ibu, Qeiza pun memberanikan dirinya.

__ADS_1


“Kalau istri pertamanya Ivan mengatakan jika Ivan menyukai apa yang diperbuatnya, kamu lakukan hal itu juga. Kalau bisa pelayanan yang kamu berikan lebih baik dari dia. Buang semua gengsi dan sikap malu-malu kamu itu. Ivan itu kan suami kamu. Tidak masalah kalau kamu bersikap seperti wanita nakal di hadapan suamimu demi memuaskan dia.”


Sembari berjalan, Qeiza menurunkan tali gaun malamnya satu persatu, hingga kini wanita itu melangkah hanya dengan menggunakan pakaian dalamnya. Ivander menegakkan tubuhnya saat melihat sikap qeiza yang tak biasa itu.


__ADS_2