
Sementara itu, sejak membunuh Evelyn dan membawa seluruh uang dan ponsel milik wanita itu, Danu selalu berdiam diri di rumahnya. Dirinya selalu resah. Bukan karena dia habis membunuh seseorang. Yang dia bunuh adalah seorang pengemis tanpa sanak saudara. Siapa yang mau menuntut kejahatannya? Polisi pun tidak akan mengusut kasus meninggalnya seorang pengemis di jalan. Polisi terlalu sibuk untuk melakukan hal tidak penting itu. Wanita yang terbunuh itu hanyalah seorang wanita lusuh dan kumuh.
Danu resah akan penyakit yang kemungkinan akan dijangkitinya. HIV AIDS. Apakah dia akan tertular penyakit itu? Pasalnya, selama dua Minggu belakangan, dia selalu melampiaskan hasratnya ke dalam tubuh wanita itu. Atau ... apakah virus itu sudah mulai menggerogoti tubuhnya?
Danu hampir frustasi. Sudah dua hari dia terus berada di kediamannya. Tak melakukan kegiatan apapun. Pria itu hanya duduk di teras rumahnya dengan tatapan kosong. Danu bahkan tak pernah menjawab sapaan para tetangga yang tengah berjalan melewati rumahnya.
Selama dua hari juga, sang istri selalu bertanya alasan sang suami tak pergi mencari nafkah. Pasalnya, jika Danu tak berangkat mengemis, tak akan ada makanan yang tersaji di rumah itu.
Namun, setiap sang istri bertanya alasan mengapa dia tak kerja, Danu bukannya memberikan jawaban, pria itu malah memberikan beberapa lembar uang seratus ribu rupiah kepada sang istri agar wanita itu tak lagi bertanya padanya. Tentu saja cara itu sangat ampuh untuk menghentikan pertanyaan yang terus terlontar dari mulut istrinya.
Bukan hanya sang istri, Mak Yati— kakak kandung sekaligus pemilik rumah kos di mana Evelyn tinggal— juga menanyakan keberadaan Evelyn pada Danu.
Jika kemarin Danu tak menggubris pertanyaan itu, kali ini dia menjawab pertanyaan sang kakak dengan penuh amarah.
“Kenapa dari kemarin kakak selalu bertanya tentang dia?! Dia sudah pergi entah ke mana! Dasar ja'lang! Wanita kurang ajar!” Danu terus mengumpat saat menyeritakan perihal Evelyn pada sang kakak. Sementara Mak Yati hanya menatap heran pada sang adik. Mengapa adiknya bisa semarah itu? Apakah Evelyn kabur dengan membawa semua uang hasil mengemisnya?
Dahi Yati mengerut, “dia pergi ke mana? Barang-barang dia di kamar itu kapan mau diambil?” tanya wanita itu.
“Dia tidak akan pernah bisa kembali. Bakar saja semuanya! Dasar pembawa penyakit!” ketus Danu.
Setiap sang kakak membicarakan perihal Evelyn, Danu selalu teringat akan perkataan seorang perawat tentang penyakit yang diidap oleh Evelyn. Rasa amarah pun kembali menguasai pria itu. Danu gegas mengayun langkah menuju kamar yang biasa ditempati oleh Evelyn.
“Biar aku bakar semuanya!”
Mak Yati yang mendengar itu pun, gegas mengikuti langkah Danu. Mak Yati histeris saat Danu melemparkan seluruh barang milik Evelyn lalu membakarnya begitu saja.
“Danu! Sudah gila ya! Bagaimana kalau Ev kembali ke sini?! Bagaimana kalau dia ingin mengambil barang-barang miliknya?!” teriak Mak Yati.
“Aku pastikan dia tidak akan pernah kembali lagi ke sini!” ucap Danu di tengah kobaran api.
__ADS_1
Api itu melahap semua pakaian Evelyn serta kasur dan alat kosmetik yang biasa digunakan wanita itu. Mendengar teriakan Mak Yati, serta asap yang mengepul di udara, banyak warga yang berkerumun menyaksikannya.
Drama kebakaran itu pun terhenti saat beberapa pria berseragam polisi, mendatangi area rumah kos itu. Rupanya aparat kepolisian sudah mengetahui keberadaan Danu.
“Itu Pak yang bernama Danu,” ucap salah seorang warga, sembari menunjuk ke arah Danu. Mata Danu terbelalak saat ada banyak pria berseragam polisi mencarinya.
Pria itu dikepung.
Danu berlari tunggang langgang, menghindar dari kejaran para polisi. Beberapa polisi ikut berlari mengejarnya, dan beberapa lagi menggerebek rumah pria itu.
Polisi menemukan sebuah tas wanita yang berisi puluhan lembar uang ratusan ribu beserta ponsel dan kartu identitas milik Evelyn.
“Suami saya kenapa Pak? Dia salah apa? Itu punya suami saya. Kenapa Bapak mengambilnya. Kalau mau mengambil tasnya, ambil saja. Tapi uang itu berikan padaku!” ketus istri Danu.
Polisi menunjukkan barang bukti pada istri Danu. “Di dalam tas ini ada kartu pengenal atas nama Evelyn. Berarti tas ini bukan milik Bapak Danu. Dia merampasnya dari seseorang.”
“Suami saya merampok tas?”
“Ibu kenal dengan pemilik tas ini?” tanya pihak kepolisian.
“Iya. Dia salah satu penyewa di rumah kos milik saya,” jawab Mak Yati. Mak Yati terlihat gelisah. Apa yang terjadi antara Danu dan Evelyn, hingga polisi turut hadir di lingkungan tempat tinggalnya saat ini?
“Rumah kos? Jadi Bu Evelyn juga tinggal di daerah ini?”
Mak Yati menganggukkan kepalanya, menjawab pertanyaan polisi.
“Boleh kami melihat ruangan yang biasa ditinggali oleh pemilik tas ini?”
Yati kembali menganggukkan kepalanya. Wanita paruh baya itu lantas mempersilakan pihak kepolisian untuk masuk ke kamar kos yang biasa ditempati oleh Evelyn.
__ADS_1
“Barang-barangnya sudah dibakar oleh adik saya. Bersama sampah-sampah di depan tadi. Adik saya itu, pria yang tadi dikejar-kejar oleh polisi lainnya.”
Polisi menyisir ruangan dengan luas 12m² itu. Sama sekali tidak ada satu barangpun yang tersisa di sana.
“Ibu Evelyn yang tinggal di rumah kos ini, telah meninggal dunia. Dan, yang menjadi terduga dalam kasus pembunuhan itu adalah pria yang bernama Danu.”
Mata Yati terbelalak, begitu juga dengan istrinya Danu. Mereka tentu saja tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh polisi itu.
Pasalnya, walau bekerja di jalanan, Danu tak pernah terlibat dalam tindak kekerasan. Pria itu selalu hidup dalam damai. Bahkan Danu tidak suka kericuhan.
Tak lama, terdengar suara teriakan dari arah belakang. Rupanya Danu telah tertangkap. Betis pria itu terkena timah panas yang dilontarkan oleh salah satu aparat kepolisian yang tadi mengejarnya. Danu menjerit kesakitan saat peluru panas itu menempel di betisnya.
“Adik saya tidak mungkin membunuh, Pak. Ini pasti fitnah!”
“Iya, ini pasti fitnah. Suami saya orang baik!”
“Semuanya akan dibuktikan di pengadilan,” jawab sang polisi.
Saat kakak dan istri Danu menyangkal perbuatan Danu yang membunuh Evelyn, di luar sana, Danu menjerit-jerit. Pria itu memberontak saat dua orang pria berseragam polisi menyeretnya.
“Dia memang pantas mati! Dia pantas mati! Dia sudah menularkan penyakit berbahaya padaku! Dia memang pantas mati! Evelyn si ja'lang itu wanita terkutuk!”
Begitulah teriakan Danu.
Warga pun semakin ramai berkerumun. Tak terkecuali Indah dan suaminya yang berada di rumah saat itu.
Mak Yati berlari menghampiri adiknya yang digelandang polisi.
“Adik saya tidak bersalah! Dia bukan pembunuh! Ini pasti fitnah! Ini semua fitnah!” teriak Mak Yati. Tidak hanya Mak Yati, istri Danu pun melakukan hal yang sama. Mereka tak mau Danu dijebloskan ke penjara.
__ADS_1
“Kamu tidak membunuh kan, Bang? Tidak kan? Katakan pada polisi-polisi ini kalau kamu tidak membunuhnya!” ucap istri Danu.
Danu seketika tertawa terbahak-bahak. “Aku memang membunuhnya. Aku sendiri yang mencekik leher si ja'lang itu sampai dia meregang nyawa!”