
Ivander pulang dari kediaman Qeiza dengan lesu. Berulangkali dirinya menghubungi Evelyn. Ivander berjalan mondar-mandir berharap agar istrinya itu segera menjawab panggilan telepon darinya, lalu bergegas pulang dan menandatangani berkas persetujuan agar dirinya bisa menikah lagi. Namun, Evelyn tak kunjung menjawab panggilan telepon itu.
“Sabar Mas. Bukannya dia akan pulang tiga hari lagi?”
“Itu terlalu lama Von. Jika tiga hari lagi aku baru mendapatkan tanda tangan Ev, mungkin aku baru bisa menikahi Qei lima atau enam hari lagi. Itu terlalu lama. Aku ingin secepatnya menyunting Qei, Von!”
Seketika Ivona tertawa terbahak-bahak. “Dasar bucin!” teriak wanita itu. Ivander tak menanggapi ejekan dari sang adik. Yang ada di benaknya adalah, bagaimana caranya dia bisa menikahi Qeiza secepatnya.
Hingga beberapa menit kemudian, Andreas datang menghampiri sang anak yang terlihat frustasi. Melihat Ivander begitu kacau, Andreas pun terkekeh.
“Kenapa kamu?” tanya pria lanjut usia itu. Ivander hanya melengos, tak menjawab pertanyaan sang ayah. Dia tau sang ayah pasti akan mengejeknya. Andreas kembali terkekeh melihat sikap anaknya. Persis seperti anak kecil yang inginnya tak dituruti.
“Perlakuan kamu yang tiba-tiba ingin menikahi Qeiza secara siri, menunjukkan kalau kamu tidak menghargai Qeiza. Dia sudah mau dijadikan yang kedua, dan sekarang hanya dinikahi secara siri. Wajar kalau ibunya Qei marah.”
“Inikan hanya sementara, Pi. Aku tentu saja akan menikahi Qei secara resmi. Aku hanya tidak mau tiba-tiba Qeiza berubah pikiran dan membatalkan keputusannya untuk menikah denganku.”
Andreas menghela napas panjang dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Urutan yang benar itu, kamu membawa papi untuk bertemu dengan ibunya Qeiza. Dengan cara baik meminta Qeiza untuk menjadi istrimu. Kemudian membicarakan perihal acara pernikahan kalian. Bukan ujug-ujug datang, mendekor rumah orang, dan menikahi anaknya secara siri. Bu Melati tersinggung dengan tindakanmu itu. Walaupun Qeiza itu seorang janda, dan hendak dijadikan istri kedua, tapi kamu jangan merendahkan Qeiza. Kamu juga terkesan tak menghargai Bu Melati. Kamu tak memikirkan apa pendapat ibunya Qeiza. Itu salah, Van. Tindakan kamu ini sudah sangat salah.”
Ivander terperangah. Dirinya tak berpikir sejauh itu. Yang ada dipikirannya hanya memiliki Qeiza secepatnya. Dia pikir, jika dirinya dan Qeiza sudah saling cinta, untuk apalagi menunda? Tapi, setelah mendengar penjelasan sang ayah, Ivander merasa bersalah. Begitulah hasrat manusia. Terkadang kita dibuat tak bisa berpikir dengan benar, hanya menurutinya saja.
Ivander pun tampak menyesali perbuatannya.
__ADS_1
“Ivan sama sekali tidak bermaksud merendahkan Qei, Pi,” lirih pria itu. Andreas tersenyum dan menepuk-nepuk pundak sang anak.
“Iya, papi tau. Papi sudah berbicara dengan Bu Melati. Semua berkas sudah papi urus. Papi juga sudah mengurus jasa wedding organizer untuk membuat syukuran sederhana di kediaman Qeiza. Tiga hari lagi pernikahan kalian dilaksanakan.”
Mata Ivander membulat sempurna. Tiga hari lagi?
“Tapi Ev juga baru kembali dari berlibur, tiga hari lagi, Pi,” ucap Ivander.
“Kita tidak membutuhkan kehadirannya!” tegas Andreas.
“Bukannnya kita membutuhkan surat persetujuan Ev agar Ivan bisa menikah lagi secara resmi?”
“Kamu tenang saja, sebelum wanita tak tau diri itu menemui Qeiza, papi sudah meminta dia menandatangani berkas persetujuan itu. Kebetulan sekali dia pergi berlibur, jadi dia tidak bisa menghadiri pernikahan kalian. Papi juga sudah mewanti-wanti agar warga sekitar kediaman Qeiza tidak tau menahu perihal Qeiza yang jadi istri kedua. Bu Melati tak mau Qeiza menjadi bahan gunjingan para tetangga. Statusnya yang menjadi janda, sudah membuat Qeiza mendapat banyak cemoohan. Kalau mereka tau, Qei menikah dan menjadi istri kedua, entah apa yang akan mereka gunjingkan lagi?
Ivander tak menyangka jika sang ayah memikirkan sampai sejauh itu. Ivander bahkan tak memikirkan bagaimana tanggapan warga sekitar terhadap Qeiza.
Ah, Ivander benar-benar menyesal. Bagaimana mungkin dirinya bisa begitu egois dan memikirkan diri sendiri seperti itu? Qei sudah mengalah untuk menjadi istri kedua, harusnya dia bisa lebih bersikap bijaksana. Harusnya dia bisa memikirkan posisi Qeiza. Harusnya dia bisa menghormati Melati— wanita yang kelak akan menjadi ibunya.
***
Persiapan pernikahan terus berjalan. Para tetangga kasak-kusuk saat melihat halaman rumah Qeiza dihiasi dekorasi yang sangat elegan. Perbincangan-perbincangan tak mengenakkan pun terjadi. Pernikahan Qeiza yang terjadi mendadak membuat sebuah dugaan.
Qeiza hamil di luar nikah. Qeiza tengah berbadan dua, saat ini. Qeiza mengandung anak haram.
__ADS_1
“Masa iya, tiba-tiba langsung menikah begitu saja. Sudah pasti hamil duluan itu.”
“Si Qei itu kan suka pergi-pergi ke luar kota. Jangan-jangan itu cuma alasannya saja. Padahal dia menginap bersama pacarnya!”
“Jangan-jangan dia hamil dengan bossnya itu, tapi pacarnya yang bertanggung jawab.”
Tak hanya di lingkungan kediaman Qeiza saja, yang terjadi kehebohan. Bratajaya Corporation juga terjadi kehebohan. Entah dari mana asal kehebohan terjadi. Yang jelas, para staff dan karyawan, tengah membicarakan sebuah foto yang beredar di tengah-tengah mereka.
Sebuah foto yang menampilkan kemesraan antara Ivander dan Qeiza. Sebuah foto yang menampilkan betapa bahagianya raut wajah Qeiza, ketika Ivander menggenggam erat jemarinya.
“Wah bener-bener deh janda yang satu itu. Tidak salah dulu kita menjulukinya sebagai janda genit!”
“Rumah tangga Pak Ivan dan Bu Evelyn kan baik-baik saja. Mereka sudah menikah sepuluh tahun loh. Tidak pernah ada berita miring mengenai pernikahan mereka. Sekarang Pak Ivan malah terjebak rayuan janda genit itu!”
“Kalian terbayang gak sih, tentang apa yang mereka lakukan setiap kali bepergian ke luar kota atau luar negeri?”
“Jangan-jangan si Janda itu menggoda Pak Ivan sewaktu mereka menginap di hotel! Dasar janda tak tau diri!”
“Sudah pasti itu. Sudah pasti Janda itu masuk ke kamar hotel Pak Ivan dan menggodanya! Kalau tidak, bagaimana mungkin Pak Ivan berselingkuh dengan seorang wanita yang tak lebih cantik dan seksi dibandingkan istrinya sendiri!”
Qeiza tentu saja tak tahu menahu mengenai berita yang menyebar di tempatnya bekerja. Karena Qeiza sudah mengambil cuti, saat Ivander kembali melamarnya.
Sementara itu, seorang wanita cantik tengah tersenyum tipis, saat menerima laporan tentang kehebohan yang terjadi di Bratajaya Corporation.
__ADS_1
“Rasakan itu, Qeiza Hikaru. Itu adalah hadiah karena sikap lancangmu mendekati pria tua itu, dan memintanya untuk menjodohkanmu dengan Ivan. Dasar perempuan licik! Untung Ivan cinta mati denganku. Jika tidak, dia pasti sudah mengikuti saran pria tua dan perempuan licik itu untuk menyeraikan aku.”