
“Di mana Alex sekarang? Kamu pasti tau kan keberadaan Alex?!” pekik Evelyn. Sementara Jaka hanya menjawabnya dengan mengangkat k dua pundaknya.
“Yang jelas dia sedang bersenang-senang dengan sepupuku yang cantik itu. Dia hanya memintaku menyerahkan tiket pesawat dan uang satu juta rupiah. Aku kira Alex sudah cukup baik karena memberikanmu tiket pulang dan juga yang saku.”
“Baik katamu?! Uang yang diberikannya adalah uangku sendiri! Dia juga membawa semua tabunganku!” teriak Evelyn.
“Aku memang suka suara teriakanmu saat kita bergumul tadi, tapi, tidak untuk saat ini. Jangan berbicara sambil berteriak di hadapanku. Kalau kamu tidak mau kembali ke Jakarta, kamu bisa bersenang-senang denganku lebih dulu. Kebetulan aku mendapatkan bayaran yang banyak karena sudah membawakan empat orang pria untukmu, dan sepupuku yang cantik itu untuk Alex. Jadi, mungkin kita bisa berlibur beberapa hari di sebuah resort sederhana.”
Evelyn yang merasa kesal, meludahi wajah Jaka. “Ternyata Alex meninggalkan aku karena kamu! Dasar ba*jingan!”
Plakk!!!
Jaka melayangkan telapak tangannya ke wajah Evelyn hingga darah segar mengalir di sudut bibir wanita itu.
“Jangan mengataiku ba*jingan, sementara dirimu sendiri adalah ja*lang!”
Jaka meninggalkan Evelyn yang tersungkur begitu saja. Sementara Evelyn kini berusaha menghubungi Alex. Namun, seberapa kalipun wanita itu menghubungi Alex, Evelyn tak mendapatkan hasil.
Evelyn memutuskan melaporkan Alex ke kantor polisi terdekat. Melaporkan tindak penipuan dan pencurian yang dilakukan oleh pria itu. Tapi, apa yang didapatkan oleh Evelyn diluar keinginannya.
“Ibu bukannya wanita yang viral beberapa bulan lalu ya. Yang berselingkuh dan bergumul dengan tiga orang pria?” tanya salah satu petugas di sana.
Niat Evelyn untuk mencari keberadaan Alex pun sirna sudah. Wanita itu memilih untuk segera melarikan diri dari kantor polisi itu. Dia tak mau menambah masalah. Jika dirinya terus ngotot untuk mencari Alex, bisa-bisanya dirinya kembali dijebloskan ke penjara karena melakukan dugaan suap pada oknum kepolisian agar bisa terbebas dari penjara.
“Si*al, jadwal terbang tinggal dua jam lagi. Kau harus segera ke bandara!” ucap Evelyn. Wanita itu hanya punya uang sebesar satu juta rupiah. Tidak mungkin dia bisa bertahan di Bali dengan uang itu. Mencari keberadaan Alex tak lagi menjadi prioritasnya. Kini Evelyn memutuskan untuk kembali ke Ibu Kota.
Evelyn menangis saat melihat uang di rekeningnya hanya tersisa 75.000 rupiah. Beberapa Minggu belakangan ini, Alex memang selalu memakai ponsel miliknya. Alex yang selalu bisa memuaskan hasrat Evelyn, tentu saja dengan mudah mendapatkan kepercayaan wanita itu. Ternyata, sejak saat itu, Alex sudah mulai memindahkan uang Evelyn ke rekeningnya sendiri.
Selama perjalanan, Evelyn terus menangis. Meratapi sikapnya yang terlalu percaya pada pria yang baru dikenalnya beberapa bulan saja. Evelyn menyesal telah mengeluarkan pria itu dari penjara!
***
Pukul 17:00 WIB, Evelyn tiba di Ibu Kota. Dan dua jam setelahnya, Evelyn tiba di sebuah apartemen mewah. Evelyn mencari-cari kartu apartemen miliknya. Namun, tentu saja Evelyn tak menemukannya. Alex lah yang terakhir kali menutup pintu kamar apartemen itu, saat mereka akan bertolak ke Bali.
__ADS_1
Evelyn gegas menuju lobby apartemen. Wanita itu melaporkan jika dirinya kehilangan kartu akses masuk ke apartemennya. Dirinya meminta duplikat kartu akses itu.
“Maaf, Bu. Menurut data yang kami punya, satu Minggu lalu, apartemen yang Ibu dan pasangan Ibu tempati, sudah beralih kepemilikan.”
“Beralih kepemilikan?! Tidak mungkin! Saya tidak pernah membuat apartemen ini sebagai jaminan hingga harus di sita. Saya juga tidak pernah menjual apartemen ini!”
Pihak manajerial apartemen saling tatap. Mereka pun memperlihatkan akte jual beli yang sudah dibubuhi tanda tangan Evelyn.
“Ini tanda tangan Ibu, kan?”
Evelyn terperangah. Dirinya baru ingat jika Alex pernah memintanya untuk menandatangani beberapa berkas. Evelyn yang percaya begitu saja pada Alex, tidak memeriksa dokumen yang ditandatangani olehnya.
“Lalu barang-barang saya ada di mana sekarang?” tanya Evelyn dengan bibir bergetar. “Saya ingin mengambil barang-barang saya.”
Evelyn masih bisa bernapas lega. Beragam perhiasan berlian dan juga tas-tas mewah miliknya, serta mobil mewahnya, bisa dia jual. Dengan uang penjualan barang-barang, dia akan menyewa apartemen sederhana untuk tempat tinggalnya sementara.
“Seluruh barang-barang di dalam apartemen, sudah diangkut oleh Pak Alex sendiri, Bu. Termasuk mobil yang berada di halaman parkir.”
Alex sudah menguras semua harta miliknya. Kini, wanita itu hanya mempunya beberapa lembar baju di dalam kopernya, serta uang sebesar 600.000 rupiah, karena telah dia pakai untuk makan malam dan ongkos taksi dari bandara.
Apa yang harus aku lakukan sekarang?
Evelyn masih berada di kantor manajemen apartemen. Wanita itu tak tau harus berbuat apa. Bahkan, dirinya tidak tau harus menginap di mana malam ini?
Haruskah dia menumpang di kantor manajemen apartemen ini?
Setelah itu, ke mana dia harus pergi?
Yang ada di benaknya saat ini hanya Ivander. Sejak dulu, ke mana pun dia berkelana, dengan siapapun dia bercinta, Ivander adalah tempatnya kembali. Pria itu Taka pernah mengeluhkan apapun padanya. Ivander selalu menerima apapun tentang dirinya.
Evelyn menyesal. Wanita itu menyesal karena kurang memperhatikan Ivander. Evelyn juga menyesal sudah membawa tiga orang pria ke villa milik keluarga Bratajaya. Harusnya dia bisa menyewa villa yang lain untuk bersenang-senang hingga Andreas tak bisa memantaunya.
Setelah memohon, Evelyn akhirnya diizinkan untuk menginap di ruang tunggu kantor manajemen apartemen mewah itu. Besok, dirinya akan menemui Ivander. Evelyn akan kembali mengiba. Kalau perlu, dirinya akan bersujud di hadapan sang mantan suami bahkan bersujud pada Qeiza.
__ADS_1
Evelyn akan meminta belas kasihan pada sepasang suami istri itu. Ivander pasti tidak akan tega melihatnya sengsara begini. Qeiza yang bodoh itu juga pasti akan memaafkan dirinya. Begitulah pikir Evelyn.
Dan wanita itu benar-benar menjalankan idenya tersebut. Evelyn berdandan sangat cantik, pagi itu.
“Pak, saya titip koper dan pakaian saya di sini dulu ya. Nanti, saya akan datang lagi mengambilnya. saya paling hanya pergi sebentar. Mungkin setelah makan siang saya akan kembali ke sini. Dan mungkin kembali membeli salah satu unit di apartemen ini.”
Taksi online yang dipesan oleh wanita itupun tiba. Gegas Evelyn menaikinya. Dan dalam waktu 45 menit, Evelyn tiba di Bratajaya Corporation tepat pukul 10:00 WIB.
Dengan angkuh, Evelyn memasuki lobby Bratajaya Corporation. Wanita itu terus melangkahkan kakinya menuju ruang kerja Ivander. Sorot mata seluruh staff tentu saja mengarah padanya.
Bukankah seharusnya wanita itu berada di penjara? Kenapa bisa ada di sini? Untuk apa wanita tak tau diri itu kembali ke perusahaan? Apa dia akan menemui CEO mereka? Apa hubungan Evelyn sudah membaik dengan CEO Bratajaya Corporation? Apa mereka akan rujuk kembali?
Begitulah bisik-bisik yang terdengar saat Evelyn kembali menjejakkan kaki di perusahaan sang mantan suami.
“Maaf Bu, mau bertemu siapa?” tanya Rina, salah satu staff dari team sekretaris CEO.
“Kamu sudah lupa dengan saya?! Saya ini mantan istri CEO kalian! Tolong jangan bersikap tidak sopan!” pekik Evelyn saat Rina menahannya untuk masuk ke ruangan CEO.
“Tapi Pak Ivan sedang ada tamu di dalam. Tidak bisa diganggu, Bu.”
“Siapa kamu berani melarang-larang saya! Ivan yang menyuruh saya ke sini! Kami mau rujuk. Mau dipecat kamu, HAH?!”
Rina saling tatap dengan beberapa staff team sekretaris.
“Maaf Bu. Tapi Pak Ivan benar-benar sedang ada tamu. Ibu mungkin bisa menunggu di ruang tunggu,” ucap Rina.
Evelyn yang tidak terima dengan perlakuan Rina, menarik rambut wanita itu sekuat tenaga. “Apa kamu tidak mendengar apa yang saya katakan?! Hah!!”
“Maaf Bu. Maafkan saya. Sakit Bu. Tolong lepaskan saya,” lirih Rina.
“Ada apa ini?” tanya Ivander. Evelyn seketika melepaskan cengkraman tangannya pada rambut Rina. Wanita itu berlari dan menghambur ke pelukan Ivander Bratajaya.
“Honey,” lirih Evelyn.
__ADS_1