
Siang itu, Ivander tak berhasil membujuk Evelyn agar kembali ke kediaman mereka. Evelyn ngotot ingin menemani Ivander di kantor.
Merasa hal itu akan membuat Qeiza tak nyaman, Ivander lebih memilih mengajak Evelyn pulang. Pulang ke rumah yang sudah satu bulan di singgahi oleh Ivander.
Sementara Qeiza diantar Ivander hingga lobby kantor. “Kamu tunggu sebentar. Biar aku mengantar Qei sampai ruangan,” titah Ivander pada Evelyn.
“Aku bisa ke ruangan sendiri, Mas. Tidak perlu Mas antar. Kasihan Mba Evelyn menunggu sendiri.”
“Banyak orang di sini. Lagian ada hal penting mengenai pekerjaan yang harus aku sampaikan. Biar Ev menunggu di sini saja,” balas Ivander.
“Aku tidak apa-apa kok menunggu di sini, Qei. Jangan lama-lama ya, Hon,” ucap Evelyn sembari mengecup mesra pipi Ivander. Pria itu hanya membalasnya dengan tersenyum tipis.
Seperti hari-hari biasanya— setelah mereka menikah— Ivander menggenggam jemari Qeiza dan berjalan beriringan menuju ruang kerja mereka.
“Maaf ya soal yang di restoran,” ucap Ivander begitu mereka sudah berada dalam elevator.
“Maaf soal apa, Mas. Tidak ada yang salah selama kita di restoran tadi.”
“Sikap Ev tadi. Seharusnya dia tidak bersikap begitu di depan kamu,” jawab Ivander.
“Mas, Mba Evelyn kan juga istri kamu. Sikapnya wajar kok. Mungkin Mba Ev sudah menganggap aku sebagai saudaranya. Jadi dia bersikap biasa saja.”
“Justru sikap dia tak biasa Qei. Dia tak pernah bergelayut manja seperti itu. Apalagi menyuapi aku. Biasanya, dia sibuk dengan ponselnya dan memberi kabar pada teman-teman sosialitanya. Sepertinya ... dia ingin membuat kamu cemburu,” lirih Ivander.
Qeiza tersenyum dan menatap sang suami.
“Wajar jika Mba Ev ingin membuat aku cemburu. Aku sudah merebut suaminya.”
Ivander menggeser posisinya hingga kini berhadapan dengan Qeiza. Pria itu menangkup kedua pipi istri keduanya itu.
__ADS_1
“Tidak ada yang kamu rebut. Aku yang memilih kamu, Qei. Dan Ev menyerahkan dengan suka rela. Bagi dia, asal uang bulanannya tak berkurang, itu sudah cukup. Jadi, kamu sama sekali tak merebutku darinya. Dia yang melepaskanku,” jelas Ivander. Pria itu menunduk dan mengecup bibir Qeiza.
“Mas, jangan begitu. Ini di kantor, nanti ada yang lihat.”
Ivander tak mendengarkan permintaan Qeiza. Kejadian di elevator itu sudah pasti ada yang melihat. Elevator itu dilengkapi dengan kamera pengawas.
Para staff yang berada di ruang pengawas memang menyaksikan adegan itu. Mereka menjadi saksi bagaimana Ivander memperlakukan Qeiza dengan begitu intim. Berkali-kali Qeiza mencoba menjauhkan pria itu agar tak terus menciumnya, berkali-kali juga Ivander tambah mengeratkan pelukannya.
Ivander baru melepaskan Qeiza setelah pintu elevator terbuka, tepat di lantai tujuan mereka. Ivander kembali menggenggam jemari Qeiza dan membawa wanita itu menuju ruang kerja mereka.
Sebenarnya tidak ada pekerjaan yang harus dikerjakan Qeiza saat itu juga. Ivander hanya mencari alasan agar Evelyn tak mengikutinya. Pria itu hanya ingin memberikan salam perpisahan pada Qeiza. Malam ini dirinya tak bisa menemani istri mudanya itu. Walaupun merasa berat, tapi Ivander harus adil. Dirinya juga harus membagi waktu dengan Evelyn, walau dia sendiri enggan melakukannya.
Qeiza berbalik, menatap Ivander yang mengunci ruang kerja. Tak biasanya Ivander melakukan hal itu. Karena memang tak ada yang berani masuk ke ruangan itu tanpa seizin Ivander.
Namun, pria itu tak mau kejadian siang tadi terulang lagi. Dirinya tak mau diganggu kembali oleh Evelyn.
“Sini Sayang,” ucap Ivander sambil menepuk-nepuk pahanya. Tanda bahwa dia ingin agar Qeiza duduk di pangkuannya. Qeiza mendadak ragu. Hadirnya Evelyn di kantor membuat wanita itu tak enak hati jika harus kepergok bermesraan dengan Ivander seperti siang tadi.
Dengan ragu Qeiza menghampiri Ivander, lalu menduduki dirinya di pangkuan pria itu.
Ivander kembali meminta maaf pada Qeiza. “Maaf kenapa Mas?”
“Maaf karena malam ini, Mas tidak bisa menemanimu. Mas harus menginap di tempat Evelyn. Kamu tidak marah kan?”
Walau merasa berat, tapi Qeiza berpura-pura untuk memberikan sebuah senyuman pada sang suami.
“Tidak mungkin aku marah, Mas. Seharusnya malah Mba Evelyn yang marah padaku. Mas sudah satu bulan tidak pulang ke rumahnya.”
Ivander tak memedulikan ucapan wanita itu. Pria itu mulai menghujani wajah Qeiza dengan kecupan-kecupan gemas, sebelum akhirnya menenggelamkan wajahnya pada lekuk leher Qeiza. Dihirupnya dalam-dalam aroma tubuh Qeiza. Dirinya pasti akan sangat merindukan wanita itu. Membayangkan akan meninggalkan Qeiza saja sudah membuatnya rindu. Apalagi harus benar-benar berpisah dengan wanita itu, malam ini.
__ADS_1
Hampir tiga puluh menit Ivander memuaskan dirinya akan tubuh Qeiza. Sudah banyak tanda kemerahan di sekitar leher dan dada wanita itu. Evelyn bahkan sudah berulangkali menghubungi pria itu. Ivander terus mengabaikannya. Pria itu masih ingin mendekap erat Qeiza.
“Mas ... Ponsel Mas dari tadi berbunyi terus. Mungkin itu Mba Evelyn.”
“Biarkan saja. Toh, aku akan menginap di rumahnya malam ini. Biarkan saja dia menunggu sebentar lagi. Mas masih merindukanmu,” lirih Ivander.
“Kita saja belum berpisah, Mas. Masa sudah rindu?”
“Coba kamu bayangkan, Qei. Kita belum berpisah saja, Mas sudah merindukanmu. Bagaimana jika Mas tak bisa melihatmu selama beberapa jam? Mas pasti akan sangat rindu. Apalagi mas akan menghabiskan malam tanpa kamu.”
Qeiza tertawa kecil mendengarkan pernyataan pria itu. Sebenarnya Qeiza merasa melayang mendengar gombalan Ivander yang sudah merindukan dirinya sebelum mereka berpisah. Tapi, Qeiza kembali tertampar pada keadaan. Bukan hanya dirinya yang menjadi istri Ivander Bratajaya. Bukan hanya dirinya uang ada di hati pria itu. Bahkan mungkin, dirinya hanya menempati bagian kecil hati pria itu. Saat Ivander sudah bersama Evelyn, pria itu pasti melupakannya.
“Mas kan tidak akan melewati malam sendirian. Ada Mba Ev yang akan melayani Mas, nanti malam. Mas pasti akan melupakan aku.”
Walaupun merasa hatinya sakit, tapi Qeiza berusaha mengucapkan kalimat itu dengan tersenyum. Ivander kembali menangkup kedua pipi Qeiza. Menatap dalam pada netra kecoklatan milik wanita yang dicintainya itu.
“Mas sangat mencintaimu, Qei. Tidak mungkin mas melupakanmu. Qeiza Hikaru selalu ada di hati dan pikiranku.”
Qeiza melebarkan senyumnya. Walau namanya hanya menempati bagian kecil hati dan pikiran pria itu, itu sudah membuat Qeiza merasa senang. Setidaknya dirinya ada di hati dan pikiran Ivander.
Qeiza sudah menutup matanya saat Ivander kembali ingin memagut bibirnya. Namun, suara ketukan pintu membuat Ivander menghentikan aksinya. Qeiza bahkan bergegas turun dari pangkuan sang suami. Wanita itu membenahi pakaiannya. Mengaitkan kembali kancing bajunya, dan merapikan rambutnya yang sudah pasti tak lagi rapi.
“Jangan membenahi pakaian terlalu jauh dari sofa ini. Nanti terlihat CCTV, Qei,” ucap Ivander. Qeiza hanya mengangguk dan kembali merapikan pakaiannya. Sementara Ivander masih duduk di sofa dan memerhatikan Qeiza yang tengah merapikan diri.
“Mas, buka aja pintunya. Aku sudah selesai kok.”
Ivander menuruti permintaan Qeiza. Dengan malas, pria itu mengayun langkah menuju pintu dan membukanya.
Evelyn menyelinap masuk begitu saja.
__ADS_1
“Kenapa lama sekali sih, Hon!”