
Sebelum mereka berangkat ke taman pemakaman umum, tempat di mana Evelyn dimakamkan, Ivander sudah mempersiapkan segala hal untuk acara bulan madu keduanya bersama Qeiza.
Beberapa hari yang lalu, pria itu memesan dua buah gaun malam yang begitu memesona untuk digunakan oleh Qeiza. Walau Ivander hanya mengajak Qeiza menginap di sebuah hotel bintang lima di kawasan Ibu Kota, tapi Ivander sudah begitu bahagia. Bayangan akan memiliki Qeiza seutuhnya selama tiga hari dua malam, membuatnya begitu bersemangat.
Ivander bahkan mengemasi sendiri barang-barang apa saja yang akan mereka bawa ke hotel. Beberapa lembar pakaian dirinya dan Qeiza, skincare milik sang istri, serta pompa ASI. Beberapa kantong ASI juga tak luput untuk dikemas oleh Ivander.
Pria itu benar-benar sudah menyiapkan segalanya dengan baik. Sepanjang perjalan pulang dari makam, wajah pria itu selalu sumringah. Membayangkan Qeiza hanya akan melayaninya selama tiga hari dua malam, benar-benar membawa kegembiraan di hati pria itu.
Sedangkan Qeiza, apa yang dirasakan olehnya berbanding terbalik dengan apa yang dirasa oleh sang suami. Dia begitu resah. Bagaimana kalau anak-anaknya terus mencari keberadaannya? Qiana mungkin sudah mengerti jika dirinya sedang pergi bersama Ivander. Tapi Sean? Anak itu masih terlalu kecil untuk memahami jika orang tuanya butuh waktu untuk berdua.
Membayangkan tidak bisa mendekap Sean selama 72 jam membuat hati Qeiza tak tenang. Qeiza gelisah. Akankan besok dia mampu berpisah dari kedua buah hatinya?
***
Keesokannya, pagi-pagi sekali Ivander sudah siap dengan sebuah koper di sisinya. Dia bahkan membantu Qeiza memandikan Sean dan membiarkan wanita itu mengontrol rasa sedihnya karena akan meninggalkan anak-anak mereka.
Namun, sesaat sebelum berangkat, saat Qeiza menyusui Sean sebelum akhirnya pergi bersama Ivander selama tiga hari, air mata wanita itu tak bisa lagi dibendung. Seluruh rasa gelisah dan sedihnya seolah tumpah saat itu.
Tangisan Qeiza bahkan semakin histeris saat Sean selesai menyusui. Sean bahkan ikut menangis histeris.
Jadilah rumah mewah itu sebagai adu tangisan antara Qeiza dan Sean.
“Qei ... Kamu hanya pergi selama tiga hari. Itu juga perginya tidak jauh. Seperti mau pergi ke Medan perang saja. Sean aman bersama Ibu dan yang lainnya di sini,” ujar Melati yang merasa lucu dengan kelakuan sang putri semata wayang.
Qeiza tak memedulikan ucapan sang ibu. Wanita itu terus menangis sesenggukan sembari memeluk dan menciumi wajah anak bungsunya itu.
“Mama kenapa suka sekali menangis sih?! Cengeng!” ketus Qiana. Qeiza memang kerap menangis di hadapan Qiana. Saat putri sulungnya itu tak lagi mau di antar sampai ke depan kelas saja, Qeiza menangis sesenggukan. Wanita itu bahkan menanyakan pada Qiana, 'apa sang anak sudah tak lagi menyayanginya?'
__ADS_1
Qiana sampai harus menutup wajahnya karena malu dengan sang ibu yang terus mengoceh sembari menangis selama mengantar dirinya hingga ke depan kelas.
Qeiza memang kerap berlebihan jika menyangkut anak-anaknya. Perasaan wanita itu memang begitu sensitif.
Sementara Ivander, melihat istri dan anaknya sama-sama menangis, membuatnya tak tega untuk memisahkan ibu dan anak itu. Namun, dia benar-benar butuh waktu hanya berduaan saja dengan Qeiza. Dia juga sudah memesan kamar VVIP selama dua malam. Tidak mungkin dia membatalkannya. Dan dia juga tak berniat untuk membatalkannya.
Akhirnya, Ivander hanya menunggu tangisan Qeiza dan Sean mereda.
Dan saat tangisan ibu dan anak itu sudah reda, Melati mengambil Sean dari pelukan Qeiza, dan Ivander menggenggam jemari sang istri.
“Kita pamit ya Bu. Titip anak-anak,” ucap Ivander pada sang mertua.
“Iya ... Kalian tenang saja. Bersenang-senanglah berdua. Kalian memang membutuhkan waktu untuk berdua,” ujar Melati.
Dengan tangan kanan yang menggenggam jemari Qeiza serta tangan kiri memegang koper, Ivander pun menggeret keduanya hingga ke depan mobil.
Qeiza terus murung. Bahkan hingga mereka sudah tiba di kamar hotel.
“Kamu suka kamar hotelnya Sayang?” tanya Ivander.
Qeiza hanya mengangguk pelan.
“Lihat, mereka bahkan menghias kamar ini dengan begitu indah. Ada kelopak-kelopak mawar, bahkan ada handuk angsa yang berbentuk hati,” lanjut Ivander. Qeiza hanya diam. Wanita itu sama sekali tak peduli dengan kondisi kamar itu. Dia benar-benar hanya memikirkan akan menghabiskan waktu selama tiga hari dua malam tanpa anak-anaknya. Tanpa Sean, lebih tepatnya.
Melihat sang istri yang terus sendu, Ivander langsung mendekap wanita itu dari belakang. Menenggelamkan wajahnya pada lekuk leher Qeiza. Menghirup dalam-dalam aroma tubuh wanita itu.
“Mas benar-benar rindu hanya berduaan saja dengan kamu, Sayang.”
__ADS_1
Qeiza masih diam dan tak menanggapi ucapan sang suami.
“Kamu mau tidak, kalau langsung Mas eksekusi,” lirih pria itu. Ivander bahkan sudah meninggal jejak-jejak kepemilikan di leher Qeiza.
“Aku masih tidak mood, Mas,” lirih Qeiza.
Ivander tersentak. Untuk pertama kalinya Qeiza menolak keinginannya. Sejak menikah, Qeiza selalu melayaninya dirinya dengan sangat baik. Wanita itu tak pernah menolaknya. Bahkan, beberapa hari setelah melahirkan, wanita itu berinisiatif melayani dirinya dengan sangat memuaskan.
Sesedih itukah sang istri saat berpisah dengan anaknya?
“Yasudah kalau kamu masih belum mood. Kita bisa mengobrol santai lebih dulu,” ucap Ivander.
Melihat Qeiza hanya diam, Ivander yang merasa kecewa melihat sikap sang istri, melepaskan pelukannya. Pria itu memilih untuk menyimpan koper mereka dan berganti pakaian.
Qeiza sudah duduk di tepi ranjang sembari membelai handuk yang berbentuk angsa. Wanita itu masih terlihat sendu. Padahal baru beberapa puluh menit mereka berpisah dengan Sean.
“Kamu tau Qei, ini pertama kalinya kita pergi berbulan madu. Sejak menikah, kita bahkan tidak pernah pergi berdua ke suatu tempat. Padahal, saat kamu masih menjadi asisten pribadiku, kita sering melakukan perjalanan berdua,” ucap Ivander.
“Sejak Sean hadir di tengah-tengah kita, kamu tidak pernah sekalipun menjadikan aku prioritas. Aku tidak apa-apa. Tidak masalah sama sekali. Kita memang harus memprioritaskan anak-anak di atas apapun. Hanya saja, aku begitu merindukan saat-saat kita bermesraan dengan santai. Sebentar saja, Qei. Aku hanya ingin memonopoli istriku yang cantik ini, sebentar saja.”
Ucapan Ivander membuat Qeiza tersentak. Tak pernah sekalipun Qeiza bermaksud mengacuhkan sang suami. Wanita itu bahkan selalu berusaha untuk selalu menyenangkan hati pria itu.
“Kapan aku mengabaikan kamu, Mas?”
Ivander tersenyum. Pria itu menggenggam jemari Qeiza, lalu membawa sang istri agar berdiri di hadapannya.
“Kamu tidak pernah mengabaikanku. Aku hanya rindu saat-saat kita hanya berdua. Aku sangat rindu. Apa aku tidak boleh meminta waktumu sebentar saja, Qei? Please ...”
__ADS_1