
Sikap Qeiza yang semakin hari semakin aneh, membuat Ivander terpaksa mengikuti saran yang pernah diberikan oleh Ivona. Pria itu berharap, Qeiza akan kembali memercayai dirinya jika mereka terus dekat.
Qeiza pun kembali berperan sebagai sekretaris pribadi CEO Bratajaya Corporation— Ivander Bratajaya— yang tak lain adalah suami wanita itu.
Qeiza begitu bersemangat di hari pertamanya kembali bekerja. Pagi-pagi sekali wanita itu sudah terlihat rapi. Qeiza begitu antusias karena dirinya dapat terus mendampingi Ivander selama dua puluh empat jam penuh.
Kini, ke mana pun pria itu pergi, Qeiza pasti ada di sampingnya. Qeiza tidak akan memberikan celah pada sang suami untuk menatap wanita lain.
Namun, saat Qeiza baru saja selesai bersiap, wanita itu mendadak kesal saat melihat tampilan Ivander.
“Mas, kok pakai kemeja yang itu sih?!” ketus Qeiza saat melihat Ivander tak lagi menggunakan kemeja berukuran jumbo yang tak disetrika itu.
“Sayang ... Kamu kan sudah kembali bekerja, kalau Mas pakai baju kebesaran itu, Mas malu. Lagian, nanti kita akan terlihat tak serasi. Masa istrinya cantik begini, suaminya seperti gembel,” lirih Ivander.
Qeiza mengembuskan napas kasar. Wanita itu sebenarnya tak setuju dengan argumen yang dilontarkan oleh sang suami. Dia masih tak suka melihat Ivander tampil menawan seperti dulu. Rasa was-was jika Ivander akan digoda oleh wanita-wanita di luar sana, masih menghantuinya.
Tapi, apa yang diucapkan sang suami ada benarnya. Penampilan mereka pasti terlihat tak serasi. Tidak mungkin Ivander terlihat lusuh, sedangkan dia begitu rapi. Bisa dipastikan orang-orang akan berpikir jika dirinya sibuk memikirkan diri sendiri dan mengabaikan penampilan sang suami.
“Lagian, kamu tidak perlu khawatir jika ada wanita yang tertarik dengan Mas. Kan kamu sekarang sudah kembali menjadi sekretaris pribadi Mas, berada di sisi Mas terus. Kamu bisa katakan pada seluruh dunia, jika Mas ini adalah milikmu sepenuhnya. Iya kan?”
Qeiza pun mengangguk. Sementara Ivander bersorak dalam hati. Pria itu tak henti berucap syukur di dalam hati. Akhirnya dia terbebas dari pakaian lusuh itu.
“Tapi, Mas harus janji satu hal. Mas harus selalu menggenggam tanganku ke mana pun kita pergi! Jangan pernah lepaskan tanganku. Awas saja kalau Mas melepaskannya!”
“Kamu tuh semenjak hamil tambah galak, Qei,” ucap Ivander sembari terkekeh.
“Jangan mengalihkan pembicaraan! Mas mau berjanji kan?!”
__ADS_1
Ivander menghampiri sang istri dan membawa wanita itu ke dalam dekapannya. Tentu saja Ivander menyetujui hal itu. Sebenarnya, setelah resmi menikahi Qeiza, pria itu sudah sangat ingin unjuk kemesraan di hadapan seluruh staff. Namun, Qeiza selalu menolak.
“Mas tidak akan melepaskan kamu, sampai kapanpun, Qei.”
Bisikan mesra yang dilontarkan oleh Ivander, membuat Qeiza merona. Tentu saja hal itu membuat mood Qeiza menjadi baik.
Kini, sepasang suami istri itu berangkat bersama menuju Bratajaya Corporation.
Ada rasa cemas di hati Qeiza, saat kembali menginjakkan kaki di perusahaan milik mertuanya itu. Wanita itu sempat ragu untuk turun dari mobil. Qeiza kembali teringat akan tatapan-tatapan sinis para staff yang selalu diterimanya, sejak awal dia bergabung di perusahaan itu. Masih terngiang pula di telinganya, bagaimana fitnah-fitnah itu ditujukan padanya. Hampir semua staff menatap sinis padanya. Hampir semua staff berkata pedas padanya.
Ivander menatap heran pada Qeiza yang tak kunjung melangkahkan kakinya keluar. Padahal, biasanya, wanita itu akan langsung keluar begitu dirinya membukakan pintu mobil.
“Sayang ... Ayo turun,” ajak Ivander. Qeiza masih bergeming di dalam sana. Hingga Ivander mengguncang pelan pundak sang istri.
”Sayang, kenapa?”
Qeiza terkesiap. Wanita itu menatap sayu pada sang suami.
“Aku takut, Mas.”
“Takut kenapa?”
“Takut dengan pandangan para staff. Apa yang akan mereka katakan kalau melihatku kembali bekerja. Video tentang aku yang menjadi orang ketiga itu, apa masih menjadi perbincangan para staff?”
Ivander menghela napas, pria itu menampilkan sebuah senyuman lembut pada sang istri. “Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan. Bukankah aku sudah mengklarifikasi semuanya saat konferensi pers waktu itu. Lagian, Ivona juga sudah menyampaikan beberapa permintaan maaf dari para staff buatmu, kan?”
Qeiza mengangguk pelan.
__ADS_1
“Itu artinya, mereka sadar jika mereka telah salah menilai kamu. Tidak ada lagi yang perlu kamu khawatirkan.”
Qeiza menghirup napas dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Benar apa yang dikatakan sang suami. Permintaan maaf beberapa staff yang Ivona sampaikan padanya beberapa Minggu lalu, harusnya membuat dia tak perlu lagi merasa cemas. Tujuan dirinya kembali bekerja adalah agar bisa terus berada di sisi Ivander, memantau pria itu setiap detik. Tidak ada satu hal pun yang boleh mengacaukan rencananya itu. Dia harus berada di sisi pria itu selama 24 jam penuh.
Dan, sepertinya janjinya, Ivander menggenggam erat jemari Qeiza begitu mereka memasuki lobby Bratajaya Corporation. Bukan hanya menggenggam, Ivander bahkan beberapa kali mengecup punggung tangan wanita itu. Qeiza tentu saja merasa senang dengan perlakuan sang suami. Wanita itu terus tersenyum sumringah.
Senyum Qeiza semakin sumringah, kala Ivander mendekap erat tubuhnya, saat mereka berada dalam elevator. Ivander sengaja ingin mempertontonkan kemesraan antara dirinya dengan Qeiza.
Kemesraan CEO Bratajaya Corporation dengan sang istri terus menjadi perbincangan hangat. Tatapan hangat Ivander saat melihat sang istri, malah membuat para staff wanita semakin mengidolakan CEO perusahaan mereka.
Kali ini, Qeiza tak lagi mendengar bisik-bisik para staff yang mencibir dirinya sebagai pelakor. Tidak ada lagi yang menggunjingnya sebagai wanita penggoda. Namun, bukan berarti Qeiza lepas dari omongan para staff.
Qeiza terus menjadi bahan obrolan para staff, terutama staff wanita. Betapa Qeiza beruntung mendapatkan suami seperti Ivander. Ivander yang macho. Ivander yang selalu bersikap lembut. Ivander yang selalu romantis. Ivander yang selalu memanjakan istrinya.
Banyak sekali puji-pujian terhadap CEO Bratajaya Corporation itu. Tentu saja hal itu membuat Qeiza merasa kesal. Wanita itu pun melampiaskan amarahnya pada sang suami.
“Harusnya kamu senang dong, Qei,” ucap Ivander.
“Mas! Bagaimana mungkin aku senang mendengar banyak wanita terus memuji kamu!” ketus Qeiza.
Ivander tersenyum. Meredakan kecemburuan istri yang tengah mengandung, ternyata tak semudah bayangan Ivander. Pria itu pikir, dengan kembalinya Qeiza sebagai sekertaris pribadinya, akan membuat wanita itu tak lagi menaruh curiga dan cemburu berlebihan padanya. Tapi ternyata, istrinya itu masih juga menaruh rasa cemburu berlebihan padanya. Namun, Ivander paham, sikap berlebihan sang istri dipengaruhi oleh hormon kehamilan.
“Sayang, kamu tau kan kalau dari dulu para staff wanita selalu memuji-muji aku. Aku tampan, keren, awet muda dan lagi sebagainya. Mereka semua memuji fisik aku. Tapi, sekarang mereka memuji-muji aku, karena sikapku ke kamu. Itu artinya mereka bisa melihat seberapa besar cintaku untuk kamu. Dan cintaku memang sebesar itu. Bahkan jauh lebih besar daripada apa yang mereka pikirkan. Aku teramat sangat mencintai kamu, Qeiza Hikaru.”
“Gombal!” ketus Qeiza.
Qeiza tak dapat menyembunyikan rona kemerahan di wajahnya saat Ivander menyatakan perasaan cintanya. Dan, Ivander semakin tau apa yang harus dia perbuat untuk meredakan kecemburuan sang istri.
__ADS_1
Ivander mulai banyak mengungkapkan perasaannya pada wanita itu. Ivander juga semakin sering memuji Qeiza. Bahkan pria itu selalu memuji Qeiza dan mengungkapkan rasa cintanya, saat mereka tengah berada di antara banyak orang.
Keromantisan Ivander dan Qeiza pun sampai di telinga Evelyn. Walau dirinya tidak pernah mencintai Ivander, entah mengapa mendengar betapa Ivander begitu memuja seorang Qeiza Hikaru, tentu saja membuat Evelyn kesal. Rasanya Evelyn ingin menghancurkan kebahagiaan wanita itu.