
Sudah dua jam lebih Ivander meninggalkan Qeiza. Pria itu sudah melakukan pemeriksaan laboratorium lengkap. Ivander juga sudah bertemu Evelyn dan benar-benar mengakhiri hubungannya dengan wanita itu. Ivander tak akan lagi mau tau tentang apapun yang bersangkutan dengan mantan istrinya itu.
Saat urusannya dengan Evelyn selesai, pria itu pun berlari-lari kecil di sepanjang koridor rumah sakit. Dia ingin secepatnya melihat kondisi Qeiza. Bagaimana kondisi wanita yang dicintainya itu, sekarang? Apa kekasihnya itu sudah tersadar?
Ivander tersenyum sumringah saat menatap dari balik pintu kaca, kala menyaksikan sang pujaan hati telah sadarkan diri. Di ruangan itu ada sang mertua serta anak sambungnya yang sepertinya tengah menumpahkan rasa khawatir mereka akan kondisi Qeiza.
Ivander hanya memerhatikannya dari balik kaca. Pria itu akan masuk ke sana jika Melati dan Qiana sudah beranjak dari ruangan itu.
“Qei sudah sadar, Van,” ucap Melati, begitu wanita lanjut usia itu keluar dari ruang perawatan Qeiza.
“Iya, Bu. Ivan bisa melihatnya dari sini. Qei sudah lama siumannya, Bu?”
“Sudah dari tiga puluh atau empat puluh menit yang lalu. Tadi dia mencari kamu. Ibu bilang kamu keluar sebentar. Ibu juga katakan kalau ibu tidak tau kamu pergi ke mana, karena kan kamu perginya cukup lama, Ibu takut salah-salah bicara. Ayo, kamu masuk. Jelaskan sama Qei. Dia sudah menunggumu dari tadi.”
Ivander menganggukkan kepalanya. Gegas pria itu menemui sang istri. Ivander langsung mengecup dahi wanita yang sangat dicintainya itu. Dia benar-benar merasa bersyukur karena sang istri sudah membuka mata.
“Syukurlah kamu sudah siuman, Sayang,” ucap Ivander seraya tersenyum lembut. Qeiza yang masih sedikit berada dalam pengaruh bius, membalas senyuman itu dengan tatapan tajam.
“Kondisi anak kita bagaimana, Mas?!” ketus wanita itu.
“Aku belum sempat melihat bayi kita, Qei. Aku tunggu kamu siuman dulu. Nanti, setelah ini, aku akan langsung menemui buah hati kita. Dia pasti begitu memesona seperti kamu.”
“Dari tadi kamu ke mana saja? Aku siuman sudah cukup lama, Mas. Tapi kamu tidak ada. Bahkan, setelah menghilang selama itu, kamu juga tidak melihat bayi kita?!”
“Maaf, Qei. Sebentar lagi aku akan ke sana. Aku akan melihat bayi kita. Kata dokter, bayi kita sehat dan lucu.”
“Tidak perlu lah, Mas. Urusi saja mantan istrimu itu,” lirih Qeiza seraya menatap Ivander dengan geram. Wajar jika Qeiza merasa geram dengan sikap Ivander. Pria itu sudah mengabaikan keberadaannya dan lebih memilih menggendong Evelyn hingga mengakibatkan tekanan darahnya mendadak naik dan mengalami pendarahan.
Dan kini, saat dia tau jika dirinya sudah melahirkan beberapa jam lalu, namun sang suami belum menjenguk anak mereka, tentu saja membuat Qeiza kesal setengah mati pada sang suami.
Apa yang dilakukan oleh pria itu sedari tadi, hingga tak sempat melihat buah hati mereka? Padahal Ivander menghilang cukup lama. Apa sedari tadi pria itu sedang sedang bersenang-senang dengan mantan istrinya?
__ADS_1
“Kamu jangan suka mikir yang aneh-aneh, Qei. Mas belum sempat menjenguk bayi kita karena Mas mengkhawatirkan kamu. Jadi, Mas menunggu kamu siuman lebih dulu, setelah itu baru melihat bayi kita.”
“Oh ya? Tapi, saat aku sadar, Mas tidak ada di sini? Ke mana? Sibuk mengurusi mantan istri? Kalau masih cinta dan tidak bisa melupakannya, kembali saja dengan dia!”
Qeiza tak bisa lagi menahan sesak di dadanya. Air matanya pun tak terbendung lagi. Hati wanita itu begitu sakit. Bahkan mengalahkan rasa sakit akibat operasi yang baru saja dijalaninya.
“Mas tadi melakukan pemeriksaan laboratorium lengkap, Qei. Setelah itu Mas memang menemuinya sebentar. Dia saat ini sedang sakit—”
Belum sempat Ivander menyelesaikan ucapannya. Qeiza sudah mengusir pria itu.
“Pergi Mas!”
“Sayang ... Dengarkan penjelasan Mas dulu.”
“Aku tidak mau melihat wajah, Mas. Pergi!” usir Qeiza sekali lagi. Ivander menghela napas berat. Pria itu sadar jika dirinya memang bersalah.
“Sebelum Mas pergi, lihatlah anak kita satu kali saja. Setelah itu pergilah ke wanita yang Mas cintai dengan sepenuh hati itu!”
Kembali Ivander menghela napas berat.
Qeiza yang tadi enggan melihat Ivander, kini menoleh dan menatap tajam pria itu. “Bagaimana mungkin aku tidak menangis kalau hatiku terasa sangat sakit, Mas?! Dan, melihat Mas terus berada di sini, membuat hatiku bertambah sakit!”
“Maaf, Qei. Mas akan pergi sekarang juga. Melihat buah cinta kita, setelah itu kembali kepada wanita yang sangat Mas cintai,” ucap Ivander seraya mengecup lama dahi Qeiza.
Bersamaan dengan itu, air mata Qeiza mengalir lebih deras.
Apa ini adalah kecupan selamat tinggal yang diberikan oleh pria itu?
“Kamu jangan terlalu sedih. Jangan banyak pikiran yang aneh-aneh. Ingat, kamu baru selesai operasi. Kondisi hati dan pikiranmu memengaruhi kuantitas ASI. Mas pergi dulu.”
Usai menasihati sang istri dan berpamitan, Ivander pun meninggalkan ruang perawatan itu. Qiana yang terlelap di pangkuan sang nenek, adalah pemandangan pertama yang dilihat pada Ivander, saat dirinya keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
Pria itu berjongkok, lalu membelai rambut anak sambungnya itu. Qiana pasti sangat lelah karena sudah menunggu berjam-jam di rumah sakit, pikir Ivander.
“Maaf karena Papa sudah menyakiti hati Mama kamu, Qi.”
Sembari mengelus rambut sang anak, Ivander terus meminta maaf pada Qiana, walaupun itu diucapkannya dalam hati.
“Ivan melihat bayi dulu, Bu. Dia pasti merasa bingung. Sudah dilahirkan ke dunia, tapi tidak ada satupun yang menjenguknya,” ucap Ivander yang mendadak sendu.
“Iya Van. Jangan lupa potret dia ya. Nanti, katakan, kalau ibunya belum pulih total, jadi belum bisa bertemu. Neneknya juga sedang memangku kakaknya yang lagi tidur. Bayi itu sebenarnya mengerti kalau kita ajak bicara. Nanti, katakan seperti itu ya Van. Biar cucu ibu tidak sedih,” ucap Melati.
Ivander mengangguk dan tersenyum pada sang ibu mertua. Dengan gegas pria itu menuju kamar bayi. Menghampiri sang buah hati yang telah lama dinanti. Bukan hanya dirinya sendiri saja yang menantikan kehadiran darah dagingnya lahir ke dunia, tapi juga keluarga besar Bratajaya.
Ivander menepuk dahinya. Ah, dia terlupa memberitahukan perihal kelahiran klan Bratajaya kepada ayahnya. Padahal, karena pria lanjut usia itulah, dirinya bisa menikahi Qeiza dan mempunyai dua orang anak, saat ini.
Sembari melangkah, Ivander merogoh saku dan mengeluarkan ponselnya. Pria itu menghubungi sang ayah kandung. Memberitahukan jika anak keduanya telah lahir ke dunia.
Betapa bahagia Andreas mendengar kabar itu. Walau saat ini sudah larut malam, pria itu memaksa akan datang ke rumah sakit.
“Pokoknya Papi akan datang saat ini juga. Papi ini melihat wajah jagoan kecil itu!”
“Sudah malam, Pi. Mending Papi istirahat di rumah. Besok pagi ke sini lagi. Qiana juga akan Ivan suruh pulang. Kasihan tidur di kursi tunggu. Soalnya kan Qeiza masih di ruang intensif. Belum dipindahkan ke rawat inap.”
Hampir saja Andreas memaki putra sulungnya itu.
“Kamu pesan dua kamar VVIP di rumah sakit itu. Biar Qiana tidur di sana sebelum Qeiza dipindahkan. Kamar yang satunya untuk Papa. Nanti, Papa minta Ivona dan anak-anaknya juga menginap di sini.”
“Memangnya bisa begitu, Pi? Lagian ini rumah sakit, bukan hotel, Pi.”
Andreas memijat pelipisnya. “Yasudah, biar anak buah Papi yang urus. Papi akan pesan satu lantai rumah sakit itu, untuk keluarga kita. Biar lebih privasi.”
“Satu lantai rumah sakit? Tidak perlu sampai seperti itu lah, Pi. Kan kasihan nanti yang tidak kebagian kamar, Pi”
__ADS_1
“Ivan ... Ivan ... Benar ya kata Viona. Kamu itu senang sekali memelihara beg*. Dengan uang, semua bisa dilakukan, Van. Jangankan satu lantai rumah sakit, seluruh rumah sakit itu bisa Papi sewa! Lagian, tidak banyak yang bisa memesan kamar VVIP di rumah sakit. Sudah, kamu urus saja keluarga kecil kamu. Sisanya biar Papi yang urus.”
Andreas yang merasa kesal dengan keluguan sang anak lelaki yang sudah berusia paruh baya itu, memutuskan panggilan telepon itu secara sepihak. Pria lanjut usia itu langsung menghubungi asistennya dan meminta anak buahnya itu memesan satu lantai rumah sakit. Andreas juga mengabarkan kepada Ivona, agar anak cucunya bisa berkumpul di rumah sakit untuk melihat kelahiran cucu yang sudah dinanti-nantikan selama belasan tahun.