Kata Mereka, Aku Pelakor

Kata Mereka, Aku Pelakor
Mabuk kepayang


__ADS_3

Semesta seolah mendukung pasangan pengantin baru itu. Hujan rintik-rintik yang turun membasahi bumi, menambah kesyahduan malam pengantin Qeiza dan Ivander. Qeiza sudah menggenakan gaun malam minim itu lengkap dengan G-str*ng yang sama sekali tak menutupi **** *************.


Air conditioner yang menyala kencang ditambah hujan rintik yang semakin lama semakin deras, tak membuat suasana kamar itu berubah menjadi dingin. Dari menit ke menit, kamar itu malah semakin panas oleh aktivitas dua anak manusia yang beberapa waktu lalu, baru mengucapkan janji suci pernikahan.


Ivander sudah mengatur ponselnya dan ponsel Qeiza dalam mode diam. Itu artinya tak akan ada bunyi ataupun getar yang keluar dari ponsel mereka. Sengaja Ivander melakukannya. Tiga hari ini, dirinya tak akan membiarkan siapapun mengganggu aktivitas bulan madunya bersama Qeiza.


Sudah lama dia menanti waktu-waktu seperti ini. Waktu-waktu dia memadu kasih dengan sang pujaan hati. Ivander tak kan membiarkan keintiman ini diganggu oleh siapapun. Qiana saja bahkan diungsikan lebih dulu kepada Ivona. Meminta sang adik untuk membawa anak tiri dan juga mertuanya untuk berlibur lebih dulu.


Sebenarnya dia bisa saja mengajak Qeiza berbulan madu ke luar negeri atau luar kota agar tak ada yang menggangu. Tapi Ivander lebih memilih berbulan madu di rumah itu. Dia ingin menjelajahi Qeiza di rumah yang akan mereka diami selamanya. Rumah yang akan menjadi tempat baginya dan Qeiza menghabiskan waktu bersama anak-anak mereka kelak. Ivander ingin menciptakan memory itu di sana. Di rumah mewah pemberian ayahnya itu.


Dan saat ponselnya berkelap-kelip terus menerus, saat seorang wanita di sebrang sana tak henti menghubunginya, Ivander tengah sibuk membenamkan wajahnya di pangkal paha Qeiza. Memberdayakan lidah, bibir dan jemarinya untuk membuat istri keduanya itu terus mengerang hingga akhirnya mengejang, dan menyemburkan cairan ke wajahnya.


Ivander tersenyum puas saat sang istri merasa lemas. Penjelajahan bibir dan jemarinya akan tubuh wanita itu telah usai saat Qeiza kini terkulai.


Ivander menyempatkan diri untuk menyambar beberapa lembar tissue untuk membersihkan wajahnya. Sementara Qeiza hanya bisa menatap sang suami dengan mata sayu. Namun mata sayu itu mendadak mendelik saat melihat sang suami melepaskan satu-satunya pakaian yang menempel di tubuhnya.


Tanpa sadar, mulut Qeiza bahkan kini menganga saat menatap pahatan indah tubuh sang suami tanpa busana. Ivander terlihat bertambah jantan berjuta kali lipat, di mata Qeiza. Jantung wanita itu berdegup tambah kencang. Terlebih Ivander kini tengah merangkak ke arahnya. Jantung itu seakan hendak melompat keluar, saking tak kuatnya Qeiza menahan gejolak saat menatap bagian tubuh Ivander yang begitu jantan. Ivander pun menyadari jika sedari tadi Qeiza terus menatap kemaskulinannya itu.


Sembari tersenyum, Ivander mengambil posisi dan memulai penyatuan dengan lembut. Deru napas Qeiza dan Ivander seolah saling bersahutan. Detak jantung sepasang pengantin baru itu sudah benar-benar tak beraturan. Mereka berdua menikmati penyatuan itu.

__ADS_1


Hujan yang semakin lama semakin deras, seolah mengikuti ritme permainan Ivander yang semakin lama semakin bertambah cepat, semakin lama semakin bertambah brutal.


Qeiza pun yang tadinya hanya mengerang, kini berteriak melampiaskan rasa nikmat yang diterimanya bertubi-tubi. Sudah lama Qeiza tak merasakan kenikmatan ini, atau mungkin, baru kali ini dirinya merasakan nikmat yang begitu luar biasa seperti ini.


Sejak Ivander membenamkan wajah di sekitar pangkal pahanya, lutut Qeiza sudah gemetar. Rasa nikmat yang dirasakannya sudah luar biasa. Dan sekarang Ivander sedang bermanuver dengan gagah di bawah sana, membuat penyatuan itu bertambah luar biasa. Hingga Qeiza tak bisa untuk tak berteriak.


Tubuh wanita itu menegang diiringi pekikan kenikmatan yang sudah dirasakannya tiga kali malam itu. Disusul Ivander yang mengeram dengan jantan dan menyemburkan seluruh laharnya sembari menghentak-hentak di bawah sana.


Ivander masih berada di atas Qeiza, masih mendekap erat tubuh wanita itu. Tubuh mereka pun masih menyatu di bawah sana. Ivander masih betah dengan posisi itu. Ivander masih menikmati posisinya. Jika tak memikirkan Qeiza yang bisa saja kehabisan napas, Ivander akan terus menindih wanitanya.


“Malam ini mas senang sekali. Akhirnya mas bisa memilikimu seutuhnya, Sayang,” ucap Ivander yang kini tengah mendekap mesra sang istri, setelah pertempuran panas itu. Wajah Qeiza kembali merona. Bukan karena pernyataan Ivander yang senang karena sudah memiliki dirinya, melainkan karena Ivander memanggilnya dengan sebutan sayang. Ini adalah kali pertama pria itu memanggil dengan panggilan mesra seperti itu.


“Belum Mas,” jawab Qeiza.


“Habisnya, kamu dari tadi diam saja. Mas pikir kamu sudah tidur. Kamu senang tidak karena akhirnya kita bisa bersama?”


Qeiza hanya menjawabnya dengan menganggukkan kepala.


“Hanya mengangguk saja. Sepertinya hanya mas yang bahagia di sini,” cebik Ivander, karena istrinya itu sepertinya malas sekali mengeluarkan suara. Padahal, saat penyatuan tubuh mereka tadi, Qeiza begitu berisik.

__ADS_1


“Aku senang kok, Mas. Senang sekali. Aku hanya sedikit malu,” lirih Qeiza.


“Malu kenapa? Karena kamu terlalu berisik ya?” tebak Ivander.


Seketika Qeiza menyembunyikan wajahnya pada dada bidang Ivander. Wanita yang baru saja melepas status janda itu benar-benar malu dengan sikapnya tadi. Qeiza benar-benar tak dapat mengontrol dirinya. Rasa nikmat yang begitu luar biasa dirasakannya hanya bisa diekspresikan dengan berteriak.


“Tidak apa-apa, Sayang. Mas suka mendengarkan teriakanmu itu. Tapi, nanti, saat ada Qiana, kamu harus bisa mengendalikannya. Jangan sampai saat kita lagi asyik-asyiknya, Qiana malah bangun,” ucap Ivander terkekeh.


“Iiih ... Mas nyebelin,” rengek Qeiza sembari memukuli dada sang suami. Ivander semakin terkekeh karenanya.


***


Malam itu, Ivander dan Qeiza kembali mengulang olahraga malam mereka. Ivander masih belum puas jika hanya menyemburkan laharnya satu kali di dalam tubuh wanitanya itu. Dia ingin Qeiza segera mengandung benihnya.


Bahkan, begitu Qeiza membuka mata, pria itu kembali memasuki wanitanya itu. Selama tiga hari itu, Ivander terus menerus menghujam Qeiza bertubi-tubi. Pria itu tak memedulikan panggilan telepon dari Evelyn. Pesan dari wanita itu pun diabaikannya. Ivander begitu sibuk menghabiskan waktu bersama Qeiza.


Terkadang, saat Qeiza hendak menata makanan yang telah mereka pesan sebelumnya, Ivander malah menerkam wanita itu, melucuti pakaiannya, dan mengajaknya bercinta di meja makan. Qeiza tentu saja tak bisa menolak pria itu. Bukan karena dia takut akan dosa karena menolak keinginan sang suami. Tapi Qeiza sudah mabuk kepayang dengan permainan Ivander yang sangat jantan menurutnya.


Begitu pun dengan Ivander. Begitu dirinya memasuki Qeiza, Ivander merasakan miliknya itu begitu pas sekali dengan tubuh Qeiza yang mungil. Kemaskulinannya itu seperti diperas dan dihisap dengan kencang oleh tubuh Qeiza. Wanita itu tak perlu banyak bergerak, Ivander sudah merasakan nikmat yang luar biasa. Membuat pria itu begitu menggilai tubuh wanitanya itu. Terlebih raungan, erangan, dan teriakan Qeiza terdengar begitu merdu di telinganya. Membuat dirinya semakin berhasrat.

__ADS_1


Ivander benar-benar mabuk kepayang pada Qeiza.


__ADS_2