Kata Mereka, Aku Pelakor

Kata Mereka, Aku Pelakor
Glamping


__ADS_3

Suasa di kediaman Andreas malam ini, begitu riuh. Ketiga cucunya tengah sibuk bermain kembang api bersama para pengasuh mereka.


Ivona, Anggara dan Andreas tengah menikmati secangkir teh hangat sembari menunggu menu barbequ mereka matang. Glamping atau glamour camping adalah istilah yang cocok untuk kegiatan yang mereka lakukan.


Tenda besar yang mewah. Peralatan tidur yang mirip hotel bintang lima, serta bahan-bahan masakan dengan kualitas premium.


Para asisten rumah tangga kali ini tidak ikut bergabung dalam acara keluarga Bratajaya itu. Setelah menyiapkan perlengkapan kemah yang super mewah di pekarangan rumah, mereka meninggalkan kehangatan keluarga besar Bratajaya.


Qeiza duduk tak jauh dari tenda, karena sambil menyusui Sean, sementara Ivander membantu Anggara dan Ivona memangang bahan barbeque untuk makan malam mereka. Sementara Andreas bermain tebak-tebakan bersama ketiga cucunya.


Sesekali Ivander menghampiri Qeiza dan memastikan istri dan anaknya merasa nyaman. Ivander melongok ke dalam apron menyusui dan memastikan anaknya tak terganggu oleh suara riuh di sekitarnya.


“Ngintip apa Mas?!” cebik Ivona. Suara lantang Ivona, membuat seluruh anggota keluarga Bratajaya menatap Ivander yang masih mengintip dari balik apron menyusui. Anggara dan Andreas yang mengerti arah pertanyaan Ivona, sontak tertawa geli melihat kepala Ivander yang masih menghilang di telan apron menyusui.


“Mas hanya mengecek kondisi Sean,” ujar Ivander yang sudah keluar dari apron menyusui itu.


“Mengecek Sean atau mengecek yang lain?!”


“Mungkin Mas Ivan takut dihabiskan oleh Sean, Pi!” jawab Ivona.


“Sama anak sendiri kok ya saingan sih, Van ... Van,” ledek Andreas.


Ivander hanya terlihat menghela napas kasar. Pria itu sudah terbiasa menjadi bulan-bulanan adik dan ayahnya sejak dulu. Tumbuh sebagai pria yang terlalu polos, membuat Ivona dan Andreas gemas dengan Ivander dan selalu menggoda pria itu.


Sementara Qeiza hanya tersenyum setiap kali adik ipar dan ayah mertuanya menggoda Ivander. Bagi Qeiza, pria berusia empat puluh tahun itu terlihat begitu menggemaskan setiap kali Ivona dan Andres berhasil menggodanya.


“Padahal Mas benar-benar sedang mengecek Sean. Mas kan tidak mau dia sampai tidak bisa tidur karena di sini terlalu banyak angin dan berisik,” lirih Ivander.


“Sean baik-baik saja, Mas. Kalau Sean rewel dan terlihat tak nyaman, aku juga akan masuk ke tenda dan menidurkannya di kasur bayi,” balas Qeiza.


Ivander menganggukkan kepalanya. Pria itu pun kembali menghampiri Ivona dan Anggara yang masih sibuk dengan tugas memanggangnya.


“Sudah puas ngintipnya, Mas?”

__ADS_1


“Apa sih, Von. Mas benar-benar melihat Sean kok!” ucap Ivander sembari melirik tajam pada sang adik.


“Nanti malam, jangan bertingkah aneh-aneh, Mas. Ada anak-anak di tenda. Ada Papi juga. Kalau kita berdua sih bisa ngacir sebentar ke ruang ganti di pojok sana,” ucap Ivona yang terus terkekeh sedari tadi.


“Iya kan, Beib?”


Anggara mengangguk saat sang istri menyikut pelan lengannya. “Iya ... Nanti kita melipir sebentar ya. Biar bisa tidur pulas nanti malam,” balas Anggara. Ivander hanya berdecak kesal karena digoda oleh kedua adiknya itu.


Dan Ivander semakin bertambah kesal, saat Ivona dan Anggara benar-benar pergi ke sebuah ruang ganti yang berada tak jauh dari kolam renang yang juga ada di pekarangan luas itu.


“Mereka benar-benar melipir ke ruang ganti,” lirih Ivander.


Pria itu mengusap kasar wajahnya. Dia tak mungkin mengajak Qeiza untuk beranjak dari tenda untuk mengikuti jejak Ivona dan Anggara ke ruang ganti. Itu semua karena posisi mereka berada di ujung tenda. Jika mereka ingin keluar tenda, harus lebih dulu melewati ketiga bocah yang sudah begitu lelap dan juga Andreas. Apalagi pria lanjut usia itu belum juga terlelap, sudah pasti akan bertanya banyak hal padanya dan juga Qeiza. Ayah kandungnya itu pasti akan menertawakan dirinya habis-habisan, begitu pula dengan kedua adiknya itu.


Ivander hanya bisa menatap Qeiza yang tertidur sembari memunggungi dirinya, karena harus menyusui Sean.


Namun, saat Ivander merasa tak mungkin untuk melampiaskan hasratnya, Qeiza berbalik arah hingga kini menghadap ke arah dirinya.


“Sean sudah tidur?”


Qeiza menganggukkan kepalanya, “baru saja tidur. Ayo Mas, aku sudah tak tahan,” ucap Qeiza.


“Yasudah ayo.”


Sepasang suami istri itu pun berjalan keluar dari tenda. Dan, seperti yang diperkirakan oleh Ivander sebelumnya, Andreas menanyakan tentang apa yang akan mereka perbuat.


“Mau ke toilet, Pi,” jawab Qeiza. Dengan tangan saling menggenggam, sepasang suami istri itu berjalan menuju toilet yang menyatu dengan ruang ganti.


“Loh, ikutan juga?” tanya Ivona yang hendak kembali ke tenda bersama sang suami, setelah hampir 30 menit mereka menghilang dari tenda.


“Apa sih, Von. Ini loh, Qeiza mau ke toilet!”


Ivona dan Anggara tak menanggapi. Sepasang suami istri itu terkekeh melihat reaksi Ivander, lalu gegas kembali ke tenda.

__ADS_1


“Kenapa sih, Mas?”


“Tau tuh Ivon dan Angga! Mereka kan habis begitu!” ucap Ivander kesal.


“Begitu?” tanya Qeiza.


“Iya begitu,” jawab Ivander lesu. Kali ini Qeiza yang terkekeh melihat ekspresi lesu sang suami. Qeiza pun berlari kecil menuju toilet dan gegas menuntaskan kegiatan berkemihnya.


“Sudah selesai?” tanya Ivander. Qeiza mengangguk cepat. Wanita itu tiba-tiba masuk dalam dekapan sang suami. “Mas mau?” tanya Qeiza.


Mendengar pertanyaan sang istri, tentu saja Ivander mendadak bersemangat. Wajah lesu yang tadi terpancar di wajahnya, kini sirna sudah. Mata pria itu membulat sempurna.


“Sebentar, Mas kunci pintu dulu,” ucap Ivander. Melepaskan Qeiza dari dekapannya, Ivander mengunci pintu ruang ganti itu.


Ivander membekap erat mulutnya sendiri, saat dengan gemulainya jemari-jemari lentik Qeiza menari-nari di bawah sana.


Ivander dan Qeiza kembali ke tenda setelah kegiatan itu selesai.


“Cie ... bisa tidur nyenyak nih,” ejek Ivona begitu Ivander dan Qeiza tiba di tenda. Ivander tak lagi menampilkan raut kesal seperti biasanya. Pria itu tersenyum sumringah sembari menaik turunkan alisnya. Tanda bahwa apa yang diucapkan oleh sang adik, benar adanya. Malam ini, dirinya pasti tidur dengan nyenyak, karena Qeiza sudah membuatnya melayang, tadi.


***


Sementara itu, saat keluarga Bratajaya begitu menikmati kegiatan berkemah itu, seorang wanita tengah berjalan tertatih-tatih di pinggir jalan.


Setelah menjalan kemoterapi dan radioterapi dengan biaya dari Qeiza, tiga hari pasca pelaksanaan tindakan itu, Evelyn keluar dari rumah sakit. Selain tak ada lagi yang menjadi penjamin, Evelyn pun tak memiliki uang sepeser pun untuk dirawat di rumah sakit.


Menaiki angkutan umum, akhirnya Evelyn berhasil tiba di sebuah klub malam, tempat di mana dia biasanya bertempat tinggal.


Namun, nasib buruk kembali menimpa wanita itu. Pemilik klub malam itu, mengetahui tentang penyakit yang diderita oleh Evelyn.


Tanpa sebelas kasihan, pria itu mengusir Evelyn dari sana.


“Jangan pernah kembali lagi ke sini. Aku tak mau klub milikku bangkrut karena orang-orang tau mengenai penyakit salah satu babu di klub ini!”

__ADS_1


__ADS_2