
“Kenapa? Apa Mas takut kalau terus mengurusi Mba Ev, Mas akan teringat kenangan indah masa lalu?”
Ivander kembali menatap tajam Qeiza. “Nama dia sudah lama terkubur, Qei. Kenangan dengannya yang dulu ku pikir indah, ternyata hanya kenangan menyedihkan. Jadi, bukan itu alasan aku tak mau lagi mengurusi wanita itu. Aku sudah benar-benar muak dengannya. Apa kamu tidak percaya dengan Mas, Qei?”
Qeiza tersenyum lembut pada sang suami. Wanita itu tak mau, kebencian memenuhi hati Ivander. “Aku percaya Mas. Aku percaya jika Mas tak lagi mencintai Mba Ev. Tapi, kita tidak bisa mengabaikan orang yang butuh pertolongan, Mas.”
Ivander melengos. Pria itu mengembuskan napas kasar. Dia masih tak setuju dengan tindakan Qeiza yang ingin menjadi penanggung jawab atas kondisi kesehatan Evelyn.
“Aku tau, sulit bagi Mas untuk memaafkan Mba Evelyn. Dikhianati oleh orang yang pernah kita cintai, pasti itu sangat berat. Tapi, jangan menyimpan rasa benci terus menerus, Mas.”
“Apa kamu tau Qei, betapa merasa bersalahnya aku karena sudah jatuh cinta padamu padahal aku memiliki seorang istri? Tapi, ternyata, istri yang aku jaga perasaannya, sudah berkhianat sejak sebelum kami menikah.”
Ivander tersenyum kecut, sebelum melanjutkan ucapannya.
“Aku sangat membencinya bukan karena hal itu Qei. Aku menganggap jika kami sama-sama saling berkhianat dalam pernikahan. Dia berkhianat dalam pernikahan kami, akupun sama.”
Ivander berpindah posisi. Kini, pria itu duduk di hadapan Qeiza, menggenggam jemari wanita itu dan menatap dal netra kecoklatan milik sang istri.
“Aku membencinya karena dia ikut menyeret kamu dalam permainan busuknya. Aku masih belum bisa menerima, saat dia memfitnahmu. Kamu sampai dicaci maki semua orang, bahkan mendapatkan perlakuan kasar dari wanita lain.
“Bagaimana aku bisa memaafkan manusia br3ngsek itu? Dia membuat wanita yang begitu ku cintai, wanita yang sangat ku hormati, jadi begitu menderita. Kamu bahkan harus menemui psikolog. Kamu juga harus mengonsumsi obat-obatan dari psikiater. Bagaimana aku bisa memaafkan dirinya semudah itu?”
Qeiza tak dapat menahan senyum lebarnya saat mendengar ucapan sang suami. Kalimat demi kalimat yang dijalin Ivander, membuat Qeiza merasa begitu dicintai oleh pria itu. Qeiza menarik kedua tangan Ivander yang sedari tadi menggenggam jemari-jemarinya. Qeiza mengecupnya seraya mengucapkan terima kasih kepada pria itu. Qeiza berterima kasih atas cinta Ivander yang begitu besar padanya.
“Harusnya aku yang berterima kasih kepadamu, Qei. Terima kasih karena kamu telah hadir di hidupku.”
Ivander kembali berpindah. Pria itu kini duduk di sisi Qeiza dan membawa wanita itu ke dalam dekapannya.
“Izinkan aku membantu Mba Evelyn ya, Mas. Kali ini saja. Setelah ini, aku harap kita tidak bertemu dengannya lagi, hingga aku ataupun kamu tak perlu kembali menaruh rasa iba padanya,” ucap Qeiza.
Ivander menganggukkan kepalanya. Terpaksa pria itu menyetujui permintaan Qeiza. Istrinya telah menandatangani berkas pertanggungjawaban atas tindakan kemoterapi yang akan dijalani oleh Evelyn. Apapun yang menimpa mantan istrinya itu, Qeiza lah yang akan bertanggung jawab. Hal itu membuat Ivander pun menjadi resah.
__ADS_1
“Berjanjilah, ini adalah kali pertama dan terakhir, kita membantunya,” ucap Ivander sambil menyodorkan jari kelingkingnya pada Qeiza. Wanita itu pun menganggukkan kepala seraya mengaitkan kelingkingnya pada kelingking sang suami.
***
Keesokan harinya, Qeiza mendapatkan kabar sesaat sebelum kemoterapi Evelyn dilaksanakan. Wanita itu pun turut berdoa untuk kesembuhan mantan kakak madunya itu. Sementara Ivander hanya bisa tersenyum menyaksikan kebaikan hati sang istri.
Kemoterapi yang dilakukan Evelyn pun berhasil menghentikan penyebaran sel kanker di tubuh wanita itu. Namun, selain kemoterapi, ternyata Evelyn juga harus melaksanakan pengobatan dengan radioterapi satu Minggu setelahnya. Qeiza pun sudah menerima kabar itu dari pihak rumah sakit.
Lagi, Qeiza setuju untuk menjadi penanggung jawab seluruh tindakan medis untuk Evelyn.
“Saya ingin bertemu dengan orang yang menjadi penanggung jawab biaya kemoterapi saya, Sus,” ucap Evelyn, sesaat dirinya baru saja tersadar setelah proses kemoterapi dilaksanakan. Perawat itu pun menganggukkan kepalanya. Evelyn merasa sangat bahagia. Tak pernah disangkanya jika Ivander masih begitu memedulikan dirinya. Padahal, pria itu sudah mengatakan tidak mau lagi bertemu dengannya, tapi nyatanya pria itu masih menaruh perhatian padanya.
Sementara itu, Qeiza tengah bersiap untuk kembali ke kediamannya. Wanita itu baru saja selesai berganti pakaian dan hendak berpindah ke kursi roda saat ponselnya berdering.
“Rumah sakit,” gumam Qeiza. Qeiza pun meminta izin pada sang suami untuk menjawab panggilan telepon itu. Setelah sang suami mengizinkan, Qeiza langsung menjawab panggilan telepon itu.
“Selamat siang Bu Qeiza. Kami mau menginformasikan jika Bu Evelyn sudah siuman Bu. Katanya, beliau ingin bertemu dengan Bu Qeiza. Mungkin ingin mengucapkan terima kasih.”
“Oh begitu. Baiklah nanti saya ke sana. Mungkin sekitar sepuluh atau dua puluh menit lagi, karena saya sedang bersiap-siap untuk keluar dari rumah sakit,” jawab Qeiza.
“Orang yang menjadi penjamin pengobatan Bu Evelyn, akan ke sini sekitar sepuluh atau dua puluh menit lagi Bu. Soalnya dia sedang bersiap-siap untuk keluar dari rumah sakit.”
“Keluar dari rumah sakit? Dia di rawat di sini juga, Sus?”
“Iya Bu. Bu Qeiza kan habis melahirkan secara operasi caesar di rumah sakit ini. Mertuanya bahkan menyewa satu lantai rumah sakit untuk keluarga mereka menginap loh, Bu,” jawab perawat itu.
“Qeiza?” tanya Evelyn. Wanita itu tidak yakin dengan apa yang didengarnya. Perawat itu mengatakan jika orang yang menandai penjamin pengobatannya sedang bersiap-siap keluar dari rumah sakit. Bukankah yang menjadi penjamin pengobatannya adalah Ivander? Apa maksudnya istri dari penjamin itu yang tengah bersiap pulang dari rumah sakit?
“Iya Bu. Yang menjadi penjamin pengobatan Bu Evelyn adalah Bu Qeiza Hikaru.”
“Bukan Ivander? Bukannya yang kemarin menjadi penjamin saya adalah Ivander Bratajaya?”
__ADS_1
“Bukan Bu. Pak Ivander sudah tidak mau lagi menjadi penjamin. Bahkan kami harus mendatangi kamar rawat inap Bu Qeiza untuk bertemu Pak Ivander. Tapi, beliau menolak untuk kembali menjadi penjamin. Hingga Bu Qeiza menawarkan diri untuk menjadi penjamin.”
Evelyn terperangah dengan penjelasan sang perawat. Sejak tadi, wanita itu mengira jika Ivander yang kembali menjadi penjamin pengobatan dirinya. Tapi, berapa terkejutnya dia saat mengetahui jika Qeiza lah yang menjadi penjamin pengobatannya.
Dia baru mengenal Qeiza beberapa tahun belakangan. Bahkan dia sudah menyebarkan fitnah keji tentang wanita itu. Tapi, bagaimana bisa Qeiza mau menolong dirinya? Apa wanita itu sedang memamerkan diri?
Entah mengapa Evelyn merasa geram. Bahkan wanita itu menatap sinis pada Qeiza yang kini tengah mendekati dirinya dengan kursi roda.
Dengan senyum tipis, Qeiza membalas tatapan tajam Evelyn.
“Bagaimana kondisi, Mba? Sudah baikan?” tanya Qeiza lembut.
Evelyn tersenyum sinis. “Kenapa? Apa kamu menginginkan aku terkapar tak berdaya, hingga kamu bisa menyombongkan hartamu?!”
Qeiza sangat terkejut dengan penyambutan yang diberikan oleh Evelyn.
“Hei, Qeiza! Kamu tidak perlu menyombongkan harta suami atau mertuamu itu. Asal kamu tau, dulu akulah pemilik harta itu sampai kamu datang merebut Ivan dariku!”
“Maaf Mba. Aku tidak bermaksud untuk menyombongkan diri. Niatku tulus untuk membantu Mba Evelyn. Aku ingin Mba Ev sehat kembali,” lirih Qeiza.
“Sudah aku katakan. Buka topengmu kalau berada di hadapanku. Jangan sok suci di hadapanku. Kmu mungkin bisa mengelabui Ivan dan papinya yang kolot itu. Tapi tidak denganku! Aku tau betul wanita-wanita munafik sepertimu ini!”
Qeiza hanya bisa menggelengkan kepalanya, lalu berlalu dari ruangan itu. Ivander langsung menyambut sang istri.
“Sudah selesai?” tanya Ivander. Qeiza mengangguk. Dahi Ivander berkerut. Wanita yang sangat dicintainya itu menampilkan raut wajah sendu setelah keluar dari ruang perawatan Evelyn.
“Ada apa, Sayang?” tanya Ivander. Qeiza menjawabnya dengan menggelengkan kepala, “tidak ada apa-apa, Mas.”
“Kamu itu tidak pintar berbohong, Qei. Apa yang dia katakan sampai kamu sedih seperti ini?!”
“Mba Ev tidak berkata apa-apa, Mas. Ayo kita pulang saja,” lirih Qeiza.
__ADS_1
Ivander tentu saja tidak percaya begitu saja. Pria itu menitipkan Qeiza pada perawat yang ada di sana. Seketika Ivander menerobos masuk ke ruangan di mana Evelyn di rawat.
“Apa yang kamu katakan pada orang yang sudah menyelamatkan nyawamu?!”