Kata Mereka, Aku Pelakor

Kata Mereka, Aku Pelakor
Masih tanda tanya


__ADS_3

Ivander tak dapat kembali terlelap. Tapi pria itu terus berpura-pura tidur. Dirinya tak mau Evelyn tau jika dia tengah terjaga.


Dengan membuka sedikit kelopak matanya, Ivander terus menyaksikan apa yang diperbuat oleh Evelyn. Terlebih wanita itu cukup lama berbaring di sana. Padahal wanita itu telah selesai dengan alatnya. Tubuh wanita itu bahkan sudah menegang dengan suara memekik. Tapi, Evelyn masih terus menatap layar ponselnya dengan kaki yang terbuka lebar.


Sepertinya wanita itu masih menikmati saat-saat klimaksnya.


Mulut wanita itu terus bergerak sembari menatap layar ponsel. Sesekali Ivander dapat melihat sebuah senyuman terukir di wajah cantik Evelyn. Ivander tak bisa mendengar dengan jelas apa yang diucapkan oleh wanita itu.


Apa dia sekarang sedang menghubungi seseorang? Atau sedang menyaksikan sebuah film dewasa?


Hampir satu jam Evelyn berada di sofa itu. Ivander sampai bosan mengintip apa yang dikerjakan oleh wanita itu.


Evelyn baru beranjak dari sana, saat mata Ivander hampir terpejam. Ivander kembali tersadar dari rasa kantuknya, saat Evelyn merangkak ke atas ranjang. Ivander pikir wanita itu akan kembali membuat lengannya menjadi bantal dan tidur sembari memeluk dada bidangnya. Namun, Evelyn tak melakukan hal itu. Evelyn tak lagi menunjukkan sikapnya yang manja dan terus menempel pada Ivander, seperti beberapa saat sebelumnya. Evelyn bahkan tidur dengan memunggungi Ivander.


Entah mengapa hal itu membuat Ivander merasa lega.


Sejak mengenal Evelyn, wanita itu memang tak pernah bermanja-manja padanya. Wanita itu sepertinya sangat sadar jika Ivander sangat mencintainya, saat itu. Hingga Evelyn merasa tak perlu bersusah payah bermanja-manja dengan pria itu. Karena Ivander sejak awal sudah bertekuk lutut padanya.


Melihat Evelyn bergelayut manja padanya sejak siang tadi, apalagi wanita itu menyuapinya saat makan siang, hal itu membuat Ivander merasa sedikit terkejut.


Apa akhirnya wanita itu merasa cemburu, karena dirinya lebih memerhatikan Qeiza, sekarang?


Ivander tak mau memusingkan hal itu. Bagaimana pun sikap Evelyn padanya sekarang, nama wanita itu sudah terlanjur hilang dari hatinya. Hanya ada seorang wanita yang kini ada di dalam hati dan pikirannya. Dialah Qeiza Hikaru.


Harusnya Ivander menyetujui saat Qeiza memintanya untuk menceraikan Evelyn. Rasa kasihan pada istri pertamanya itu, membuat Ivander merasa tak adil jika menceraikan Evelyn. Namun, saat dia melakukan penyatuan dengan Evelyn, saat Evelyn bergerak liar di atas tubuhnya, Ivander benar-benar merasa bersalah pada Qeiza.


Qeiza sedang berteman sepi di seberang sana, sementara dirinya asyik bercinta dengan wanita lain. Walau wanita yang kini tidur di sampingnya itu adalah istri sahnya.

__ADS_1


Ivander terus terbayang akan Qeiza yang merasa sepi. Hingga beberapa saat kemudian, terdengar suara dengkuran halus. Sepertinya Evelyn telah terlelap. Sepertinya wanita sangat kelelahan. Bagaimana tidak, entah sudah berapa kali tubuh wanita itu menegang. Rasa lelah yang menjalar di tubuhnya, membuat Evelyn langsung tertidur nyenyak.


Ivander melirik jam yang menempel di tembok kamarnya. Masih pukul satu dini hari. Masih lama sekali hingga fajar menyingsing. Dirinya sudah begitu rindu dengan sang pujaan hati. Ivander beranjak dari ranjang. Pria itu teringat belum membersihkan dirinya dari sisa-sisa kenikmatan Evelyn.


Pria itu pun memutuskan untuk membersihkan diri. Melihat Evelyn tidur dengan begitu nyenyak, Ivander berganti pakaian, lalu bersiap untuk kembali ke kediaman Qeiza.


Ivander sempat menoleh pada ponsel Evelyn yang tergeletak pada meja yang di samping sofa. Pria itu penasaran dengan apa yang ditatap oleh Evelyn pada ponsel itu, saat wanita itu memuaskan dirinya sendiri.


Namun, saat dirinya mengingat perjanjian antara dirinya dengan Evelyn—bahwa ponsel adalah ranah privasi dan mereka tak boleh saling mengeceknya— Ivander mengurungkan niatnya.


Ivander pun menyambar kunci mobil, dan melajukan kendaraannya secepat yang dia mampu. Hingga dua puluh menit kemudian, Ivander tiba di kediaman Qeiza.


Ivander menekan klakson satu kali, hingga gerbang mewah itu terbuka. Petugas kemanan merasa heran saat melihat majikannya tiba di rumah saat tengah malam.


“Malam Pak,” ucap salah satu petugas keamanan.


“Istri saya ada di rumah kan? Dari tadi saya hubungi ponselnya mati.”


Ivander membalasnya dengan menganggukkan kepala, lalu bergegas masuk. Pria itu tak mau membangunkan seisi rumah karena kehadirannya. Pria itu meminta petugas keamanan untuk membuka pintu rumah yang terkunci, dengan kunci cadangan yang tersimpan di ruang keamanan.


Ivander juga meminta duplikat kunci kamar tidurnya. Hingga pria itu dapat membuka kamar itu tanpa membangunkan sang istri yang pasti sudah terlelap.


“Pak Ivan sedang bertengkar dengan Bu Qei, kali ya? Masa minta kunci kamar juga,” bisik salah satu petugas keamanan.


“Jangan kepo dengan urusan majikan. Nanti gajimu dipotong baru tau rasa!”


Ivander tentu saja tak lagi mendengar bisik-bisik kedua petugas keamanan itu, karena Ivander mengayun langkahnya dengan cepat. Dirinya benar-benar merindukan Qeiza. Ivander bahkan menaiki tangga dengan berlari kecil.

__ADS_1


Membuka pintu kamarnya, Ivander sedikit terkejut karena tak mendapati wanita pujaannya di sana.


“Ke mana Qei?”


Ivander memeriksa ke kamar mandi yang memang berada di kamar itu, namun Qeiza tak ada di sana.


“Apa di kamar Qia?”


Wajah pria itu seketika sumringah saat mendapati Qeiza di sana. Setidaknya wanita itu tak kesepian karena ada Qiana bersamanya.


Padahal Ivander hanya ingin memeluk erat Qeiza begitu melihat wanita itu. Tapi, saat netranya menangkap daster yang dikenakan Qeiza tersingkap hingga menampilkan setengah paha wanita itu, sepertinya niat memeluk erat itu agak sedikit bergeser.


Berbeda saat bersama Evelyn, tadi. Wanita itu harus bersusah payah untuk membuatnya tergoda. Namun, saat ini, hasrat Ivander sudah begitu menggebu-gebu walau hanya melihat daster yang digunakan wanita itu sedikit tersingkap.


Perlahan Ivander menghampiri Qeiza. Beruntung Qiana memunggungi ibunya, hingga Ivander bisa dengan bebas mengaplikasikan pikiran liarnya.


Dengan perlahan, Ivander menyingkap daster sang istri hingga menumpuk di pinggang Qeiza Dengan perlahan Ivander mengusapnya dari bawah hingga ke atas. Posisi Qeiza yang tidur dengan posisi miring, memudahkan pria itu menggapai paha sang istri bagian dalam.


Pria itu bahkan sudah menggapai bagian yang tertutupi oleh kain segitiga sang istri. Dengan gemas, Ivander meremas bagian sensitif itu.


Qeiza yang terkejut seketika melayangkan kakinya. Qeiza hampir saja berteriak meminta pertolongan jika sang suami tak segera mengungkap jati dirinya.


“Ini Mas, Qei,” lirih pria yang baru saja di tendang oleh sang istri.


“Ya ampun, Mas. Maaf Mas, maaf.”


“Tendangan kamu kuat juga,” ucap Ivander. Qeiza pun membantu sang suami yang kini tengah terduduk di lantai untuk berdiri.

__ADS_1


“Habisnya Mas ngagetin saja. Aku pikir siapa yang menggerayangi aku,” gumam Qeiza.


“Kita bicaranya di kamar saja. Mas rindu sekali dengan kamu.”


__ADS_2