Kata Mereka, Aku Pelakor

Kata Mereka, Aku Pelakor
Pelakor itu apa?


__ADS_3

“Kamu kenapa?” tanya Melati panik. Pasalnya sang anak benar-benar terlihat acak-acakan dengan pakaian dan rambut yang basah. Qeiza tak menjawab pertanyaan sang ibunda, wanita itu malah kembali menangis sesenggukan.


“Sayang, ayo aku bantu bersihkan tubuhmu. Nanti kamu masuk angin,” bujuk Ivander. Qeiza mengangguk pelan. Dengan Ivander yang merangkul tubuhnya, wanita itu mengayun langkahnya perlahan.


Langkah kaki Ivander dan Qeiza seketika berhenti kala mendengar pertanyaan polos yang keluar dari putri kesayangan mereka.


“Nenek, pelakor itu apa?” tanya Qiana. “Tante yang jambak Mama tadi bilang, katanya Mama pelakor, Mama orang jahat. Mama bukan orang jahat kan Nek? Mama Qia orang baik,” rengek gadis kecil itu.


Qeiza semakin menangis mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Qiana. Wanita itu bahkan mendadak lemas mendengar penuturan sang anak. Tubuh Qeiza luruh. Wanita itu duduk terkulai sembari menangis sesenggukan.


Qiana yang melihat ibundanya terduduk di lantai, seketika berlari menghampiri.


“Mama hati-hati.”


Melihat sang buah hati berada di hadapannya, Qeiza pun Mendekap erat Qiana.


“Maafin Mama, Qi ... Maafin Mama. Mama tidak bisa menjadi contoh yang baik buat Qia.”


Qiana yang tak mengerti maksud sang ibunda hanya terdiam. Gadis kecil itu begitu sedih melihat keadaan Qeiza. Yang dilakukan Qiana hanya membalas pelukan erat ibu kandungannya itu.


“Sayang, ini bukan salah kamu. Kenapa kamu begini? Ayo, kita bersihkan tubuhmu dulu. Pakaian Qia juga pasti basah. Nanti kalian berdua bisa masuk angin. Ayo, ganti pakaian dulu.”


“Iya Qei. Kamu mandi dulu sana. Biar Qia ibu yang urus,” ucap Melati.


Walaupun tak tau persis apa yang terjadi di sekolah Qiana, tapi dari pertanyaan yang terlontar dari bibir sang cucu, Melati sedikit mengerti kejadian apa yang menimpa anaknya.


Inilah yang Melati takutkan sejak dulu. Qeiza dicap sebagai pelakor dan dibenci oleh orang lain.


Tapi, siapa wanita yang menjambak Qeiza? Apakah Evelyn? Bukankah istri pertama Ivander itu telah setuju dengan pernikahan ini?


Banyak sekali pertanyaan yang ada di benak Melati. Tapi, tentu saja dia tak akan menanyakan hal itu pada Qeiza. Putri tunggalnya itu pasti akan bertambah shock. Dia akan menanyakan hal itu pada Ivander, nanti.


Air mata Qeiza masih terus mengalir. Ingatan akan dirinya menjadi bulan-bulanan seorang wanita masih terekam jelas di ingatannya. Bagaimana tatapan wanita itu yang terlihat sangat membencinya, tatapan penghakiman dari orang-orang yang mengelilinginya tadi, serta tatapan patah hati Qiana yang melihatnya tak berdaya.

__ADS_1


Apa yang terjadi? Mengapa tiba-tiba semua orang menatap tak suka padanya? Mengapa wanita itu menyerangnya? Mengapa wanita itu menyebutnya sebagai seorang pelakor? Apa salahnya hingga diperlakukan seperti itu? Padahal, orang-orang yang berada di sana tadi, adalah orang-orang yang selalu mengajaknya berbincang hangat.


Qeiza hanya duduk di dalam bathtub dengan pandangan kosong. Sedangkan Ivander kini tengah membubuhi tangannya dengan shampo dan membalurkan ke rambut Qeiza. Memijat-mijat kepala sang istri dengan lembut. Berharap Qeiza menjadi tenang dan melupakan kejadian buruk tadi. Tapi sang istri masih saja diam dengan tatapan kosongnya. Hanya air matanya saja yang terus mengalir.


Ivander memandikan Qeiza seperti bayi. Pria itu bahkan dengan telaten memakaikan baju sang istri dan menyisir rambutnya.


“Qei ... Ada video yang sedang viral di sosial media,” ucap Ivander kala dirinya sudah duduk di ranjang, sembari memeluk Qeiza. Wanita itu tak menanggapi apa yang diucapkan oleh Ivander. Dirinya masih terus memikirkan kejadian tadi.


“Video itu tentang kita, Qei.”


Qeiza menegakkan tubuhnya. “Kita?”


Dengan berat, Ivander menganggukkan kepalanya. “Iya ... Tentang hubungan kita.”


Qeiza tertegun menatap Ivander. Pria itu mengatakan video viral yang beredar itu adalah video tentang hubungan dirinya dan Ivander. Qeiza pun menautkannya dengan kejadian di sekolah Qiana, tadi. Wanita yang menyerangnya tadi, selalu menyebutkan kata pelakor.


Apa video yang vital itu adalah video tentangnya yang menjadi orang kedua bagi pernikahan Ivander dan Evelyn?


“Apa aku boleh lihat video itu, Mas?” lirih Qeiza. Walau sudah tau tema dari video yang viral itu, Qeiza masih penasaran akan video yang diungkapkan oleh suaminya itu. Seperti apa video yang beredar itu? Apa video itu yang menyebabkan semua orang terlihat begitu benci padanya?


Qeiza mendekap mulutnya sendiri. Bagaimana mungkin bisa beredar video yang begitu kejam? Siapa yang membuat ini semua? Selain dirinya yang bergandengan tangan dengan Ivander yang masih berstatus sebagai suami Evelyn seorang, semua yang ada di video itu adalah fitnah.


Dirinya memang kerap keluar masuk hotel bersama Ivander, tapi itu saat mereka tengah bertemu klien. Bukan untuk menggoda Ivander dan tidur dengan pria itu.


Bahkan, kasus pelecehan yang dialaminya di Madura, dibuat seolah Qeiza lah yang menggoda pengusaha dari Madura itu.


Dan yang membuat Qeiza begitu terguncang, dalam video itu, dirinya bahkan dituding memiliki hubungan spesial dengan Andreas— ayah kandung Ivander, yang kini menjadi mertuanya.


Tubuh Qeiza gemetar. Bagaimana mungkin ada orang yang begitu keji memfitnahnya?


“Ini ... Ini bukan video tentang kita, Mas. Ini video tentang aku.”


“Maaf Qei ... Ini semua salahku,” lirih Ivander. Melihat tubuh sang istri bergetar hebat. Pria itu seketika menarik Qeiza kembali dalam dekapannya.

__ADS_1


“Menikah denganku hanya membuat kamu difitnah sana-sini. Maaf, Sayang. Maafkan aku.”


Qeiza hanya diam. Pikirannya membenarkan apa yang diucapkan oleh sang suami. Bisakah dia memberi maaf pada suaminya?


Jika saja dia tak menikah dengan Ivander, dia tak akan difitnah seperti itu. Dia tak akan mendapatkan perlakuan seperti tadi. Semuanya akan berjalan baik-baik saja.


Namun, dia tidak bisa membenci pria itu. Qeiza sangat mencintai Ivander. Dia sangat bahagia bisa menjadi istri pria itu. Tapi, tak pernah disangkanya akibat dari mencintai seseorang bisa sesakit ini.


***


Hari-hari berlalu. Qeiza tak pernah keluar rumah sejak hari itu. Wanita itu bahkan takut untuk membuka ponselnya. Akun sosial medianya diserang dengan ribuan komentar yang berisikan ujaran kebencian. Nomor ponselnya bahkan tersebar. Dan berulang kali Qeiza mendapatkan teror.


Istri kedua dari Ivander Bratajaya itu mengalami depresi. Qeiza jatuh sakit. Wanita itu tak sanggup menahan serangan mental yang dilancarkan bertubi-tubi padanya.


Semua orang membenci, menghina bahkan menyumpahi dirinya.


Setiap hari Qeiza hanya termenung dan menangis. Wanita itu bahkan tak berselera melakukan apapun.


Ivander berang. Akibat video viral itu, istrinya mengalami depresi. Namun, sudah satu Minggu berlalu, tapi tim yang dibentuk oleh Anggara belum juga memberikan hasil. Anggara hanya bisa memintanya untuk bersabar.


“Mas, kita sudah mendapatkan beberapa data yang sangat mencengangkan. Pokoknya Mas tenang saja. Biarkan mereka merasa tenang, merasa menang. Setelah bukti ini dikeluarkan, aku pikir, Evelyn bahkan tidak akan malu untuk menghirup udara.”


Anggara belum membuka apa yang ditemukannya. Ivander hanya bisa memercayai ucapan aduk iparnya itu.


Tekanan psikologis yang dialami sang istri, membuat Ivander mendatangkan seorang psikolog. Istri kedua Ivander Bratajaya itu pun melakukan sesi konseling setiap harinya. Setidaknya sesi konseling itu berhasil membuat Qeiza lebih tenang. Wanita itu tak lagi menangisi nasibnya. Qeiza sudah lebih bisa menerima keadaan dirinya.


Semua fitnah yang ditujukan padanya, dianggap wanita itu sebagai penggugur dosa-dosanya.


Wanita itu juga sudah bisa menerima dirinya. Menerima jika dia memang pernah menjalani hubungan terlarang dengan suami seseorang.


Qeiza berusaha berdamai dengan dirinya sendiri.


Selama hampir dua Minggu, hidup Qeiza bagai di neraka. Fitnah-fitnah keji itu semakin viral dari hari ke hari. Namun, bukankah matahari selalu bersinar cerah setelah badai?

__ADS_1


***


“Tanda tangani berkas ini. Aku ingin kita bercerai secepatnya!”


__ADS_2