Kata Mereka, Aku Pelakor

Kata Mereka, Aku Pelakor
Penerus Klan Bratajaya


__ADS_3

“Selamat datang Sean Bratajaya,” ucap Andreas, Ivona beserta suami dan kedua anak wanita itu.


Mereka memang sudah menyiapkan sebuah pesta kecil-kecilan untuk menyambut kedatangan sang calon penerus klan Bratajaya. Penerus yang sudah lama dinanti-nantikan oleh Andreas Bratajaya. Karena hanya anak Ivander lah yang bisa menyanding nama Bratajaya di belakang namanya.


Dekorasi berwarna biru mendominasi rumah mewah itu. Balon-balon berwarna biru dan putih tersebar di ruangan itu, sebuah cake berhiaskan tokoh kartun boss baby, turut menambah keceriaan di sana.


Sean Bratajaya tentu saja tak mengerti apa yang terjadi di ruangan itu. Bayi yang baru saja selesai menyusu itu, malah tidur dengan sangat nyenyak.


Qiana lah yang terus bersorak melihat ruang tamu yang kini penuh dengan balon. Bersama kedua anak Ivona, Qiana mengelilingi cake yang begitu menggemaskan itu. Ketiga anak kecil itu bersorak-sorai sembari mengelilingi cake yang berada di atas sebuah meja kecil.


“Sean boss baby ... Sean boss baby ... Sean boss baby ...!”


Bayi yang tengah dipangku oleh sang ibunda, hanya menggeliat mendengar namanya dipanggil oleh ketiga kakak-kakaknya.


Andreas begitu bahagia menyaksikan pemandangan itu.


“Sayang ... Apa kau melihatnya? Kedua anak kita sudah bahagia dengan pasangan dan anak-anak mereka. Aku merindukanmu, Sayang. Tolong katakan pada Tuhan agar menjemputku sekarang. Aku sudah siap. Tugasku pun sudah selesai,” lirih Andreas.


Tentu saja tidak ada yang mendengar gumaman pria lanjut usia itu. Mereka larut dalam suasana penuh kegembiraan di ruangan itu.


“Ayo, kalian ganti baju dulu. Sebentar lagi Om David datang,” ucap Ivona.


“David?” tanya Ivander. Pria itu tentu saja tau, siapa itu David. Pria lanjut usia itu adalah sahabat karib sang ayahanda. David adalah pria yang selalu mengambil potret kebersamaan keluarga Bratajaya. Bahkan pria itu yang mengambil potret pernikahan Andreas Bratajaya.

__ADS_1


“Sudah saatnya kita mengganti foto keluarga,” ucap Andreas. Ivander dan Qeiza pun bergegas mengganti pakaian mereka dengan pakaian yang sudah disiapkan oleh Ivona.


“Biar aku yang membantu Qiana berpakaian, Qei. Kamu biar di make up dulu,” ucap Ivona. Qeiza menganggukkan kepalanya. Seorang make up artist pun mengikuti langkah kaki Qeiza, masuk ke ruangan yang memang khusus disiapkan untuk bermake-up.


Hampir tiga puluh menit Qeiza berada di ruangan itu. Tangis Sean pun terdengar. Putra kedua Qeiza itu ternyata sudah merasa lapar. Gegas Qeiza menghampiri sang buah hati yang tengah meraung menahan lapar.


Qeiza pun langsung menyusui Sean saat itu juga. Sementara Ivander hanya sibuk menyaksikan pemandangan yang sudah lama dia idam-idamkan. Hal sederhana yang begitu dinantinya selama bertahun-tahun. Menyaksikan sang istri menyusui anaknya. Selama lima hari di rumah sakit, Ivander tak pernah sekalipun absen menemani Qeiza menyusui Sean. Pria itu selalu duduk di samping Qeiza, memastikan sang istri tidak kelelahan ataupun tertidur sembari menyusui anaknya. Memastikan kalau-kalau istrinya itu merasa lapar atau membutuhkan sesuatu ketika tengah menyusui Sean Bratajaya.


Ivander ingin menjadi kepala rumah tangga yang selalu siaga. Selalu ada saat dibutuhkan istri dan anak-anaknya.


Rumah tangga seperti ini, sudah lama diidamkan oleh pria itu. Akhirnya Ivander merasa lengkap sebagai seorang pria.


“Mas, kok masih belum siap-siap sih?!” ketus Ivona saat menyaksikan Ivander masih menggunakan baju yang sama.


“Aku tadi menjaga Sean. Tidak mungkin kan aku membiarkan anakku ini sendirian,” kilah Ivander.


“Von, mending kamu bawa Qiana ke depan sana. Aku menunggu Qeiza selesai menyusui. Aku mau membantu Qei mengurusi Sean lebih dulu.”


“Mau bantu apa, Mas? Memerah susu?!” pekik Ivona. Qeiza tertawa kecil mendengar ucapan adik ipar sekaligus sahabatnya itu.


“Kamu jangan suka bicara sembarangan. Ada Qiana di sini. Sudah pergi sana. Bawa sekalian make-up artist itu. Biar mendadani Bu Melati saja. Aku tidak mau disentuh oleh wanita selain istriku. Biar Qeiza yang mengurusi aku!” cebik Ivander. Ivona hanya bisa menghela napas panjang, meredam rasa kesal melihat tingkah sang kakak lelaki.


“Perasaan, dulu Mas mau-mau saja tuh di sentuh MUA,” cebik Ivona. Ivander hanya melirik malas pada adik kandung yang selalu meledeknya itu.

__ADS_1


“Oh iya, lupa. Istri Mas yang dulu mana mau mengurusi Mas,” lanjut Ivona. Adik kandung Ivander itu tertawa terbahak-bahak sembari meninggalkan Ivander dan juga Qeiza yang masih menyusu pada sang ibunda.


“Mas cuci muka dulu saja, setelah itu ganti baju dengan baju yang sudah disiapkan oleh Ivon,” ucap Qeiza saat Ivona dan Qiana sudah keluar dari kamarnya. Ivander menganggukkan kepalanya. Pria itu langsung menjalankan perintah Qeiza.


Qeiza tengah berganti pakaian saat Ivander selesai dengan tugasnya.


“Mas ... Tolong tarik resletingnya,” ucap Qeiza sembari menunjukkan punggungnya pada sang suami. IVander gegas menghampiri sang istri. Bukannya langsung menuruti ingin sang istri, pria itu malah mengecup punggung Qeiza yang terbuka. Qeiza hanya bisa tersenyum menerima perlakuan sang suami. Sudah enam hari dia tak melayani Ivander. Pria itu pasti sudah sangat berhasrat saat ini.


“Mas ... Ayo buruan. Orang-orang pasti sudah menunggu kita.”


Ivander pun menarik resleting gaun yang dipakai Qeiza. Namun, tentu saja pria itu tak membiarkan Qeiza lolos begitu saja. Ivander pun memeluk erat sang istri dari belakang.


“Mas rindu, Sayang,” lirihnya. Ivander bahkan menenggelamkan wajahnya pada lekuk leher Qeiza. Menghirup dalam-dalam aroma tubuh wanita itu. Ivander benar-benar merindukan Qeiza. Padahal 24 jam penuh selama lima hari, pria itu ada di samping Qeiza. Tapi, entah kenapa rasa rindunya begitu membuncah pada sang istri. Mungkin selama di rumah sakit, mereka tak benar-benar hanya berdua. Keluarga, kerabat bahkan rekan bisnis silih berganti datang menjenguk pewaris tahta Bratajaya itu.


Qeiza melepaskan tangan Ivander yang membelit di pinggangnya. Wanita itu berbalik badan hingga kini menatap sang suami. Qeiza menggantungkan kedua tangannya di pundak pria itu.


“Bagaimana kalau nanti malam saja, Mas. Aku tidak enak, Mas. Orang-orang sedang menunggu kita di bawah,” ucap Qeiza. Wanita itu bahkan sudah memindahkan sebelah tangannya ke wajah pria itu. Membelai wajah sang suami hingga berakhir pada dagu pria itu yang kini ditumbuhi bulu-bulu halus. Qeiza berjinjit dan mengecupnya. Tubuh Ivander seketika bergetar. Dadanya berdesir. Padahal Qeiza hanya mengecup singkat dagunya, tapi jantung pria itu sudah berdebar dengan sangat kencang.


“Nanti malam, aku akan melayani, Mas. Tapi, sekarang, kita harus bergegas. Semakin cepat acara ini selesai, bukankah semakin cepat kita bisa bermesraan?”


Ivander bagai sebuah robot yang menuruti perintah yang dibuat untuknya. Qeiza terlalu memesona sore itu. Andai saat ini Qeiza memintanya untuk terjun dari balkon, tanpa pikir panjang, pria itu pasti akan langsung melaksanakannya.


Qeiza hanya tersenyum menyaksikan sang suami yang begitu menuruti inginnya. Wanita itu pun menarik lengan pria itu hingga Ivander duduk di sebuah kursi rias yang sudah disiapkan oleh Qeiza saat sang suami membersihkan wajahnya, tadi.

__ADS_1


Qeiza pun dengan lihai memoles bedak dan lip balm berwarna nude di wajah Ivander. Pria itu terlihat semakin tampan.


Qeiza menggandeng lengan Ivander yang tengah menggendong Sean. Mereka pun bersiap melakukan sesi pemotretan.


__ADS_2