Kata Mereka, Aku Pelakor

Kata Mereka, Aku Pelakor
Penolakan Melati


__ADS_3

Hari itu Ivander datang pagi-pagi sekali ke kantor. Bahkan para cleaning service belum selesai melakukan pekerjaan mereka. Ivander tersenyum menatap buket bunga yang dia beli saat perjalanan menuju kantor, tadi. Diletakkannya buket bunga itu di samping cincin. Persiapan sederhana itu sudah selesai. Ivander tinggal menunggu hadirnya Qeiza.


Rencananya, pria itu akan berlutut sembari memegang cincin, lalu kembali meminta wanita itu untuk menjadi istrinya. Kalau apa yang diucapkan oleh Evelyn benar adanya, Qeiza pasti akan menganggukkan kepalanya. Dan dirinya akan menyematkan cincin itu di jari manis Qeiza. Untuk selanjutnya, dia akan menyerahkan buket bunga itu.


Namun, apa yang direncanakan Ivander, dilanggarnya sendiri. Saat Qeiza masuk ruangannya dengan canggung dan ekspresi malu-malu, entah mengapa membuat Ivander merasa gemas pada wanita itu. Ivander menegakkan tubuhnya. Dengan senyum yang terus tersungging, pria itu melangkah mendekati Qeiza. Ivander duduk bersandar di depan meja kerjanya. Harusnya saat ini, dirinya berlutut sembari menyodorkan sebuah cincin pada Qeiza. Qeiza pun mengira hal yang sama. Dia pikir Ivander akan berlutut, menyerahkan cincin yang sedari tadi teronggok di meja kerja pria itu, lalu memintanya untuk menikah. Persis seperti yang pernah Ivander lakukan sewaktu di Madura.


Tapi, semuanya diluar kendali Ivander. Dia tak menyangka, kalau Qeiza begitu menggemaskan pagi ini. Mata Qeiza melebar, saat tiba-tiba Ivander meraih pinggangnya hingga tubuh mereka menempel erat. Wajah wanita itu seketika berubah merah.


“Katanya, kamu sudah bersedia menjadi istriku, hmm?” tanya pria itu. Ivander lebih terdengar seperti berbisik.


Qeiza dengan wajahnya yang merah menganggukkan kepala sembari menunduk. Tubuh bawah mereka yang menempel erat, membuat Qeiza tak berani menatap Ivander.


“Kamu benar-benar bersedia menjadi istriku?”


Qeiza kembali mengangguk, “i-iya Pak,” jawabnya.


“Kenapa masih panggil Pak. Panggil Mas, dong,” pintanya. Qeiza meremang saat jemari Ivander mulai mengusap-usap punggungnya.


“Iya Mas,” lirih Qeiza.


Qeiza yang terus menunduk membuat Ivander semakin gemas. Dikecupnya pipi janda beranak satu itu. Qeiza semakin merunduk, Ivander pun menjadi bertambah gemas. Diangkatnya dagu wanita itu, lalu Ivander memberikan kecupan-kecupan kecil di bibir merah muda milik Qeiza. Padahal mereka pernah berada dalam posisi yang lebih intim dari itu. Tapi entah mengapa, saat ini Qeiza merasa malu. Ivander menghujani seluruh wajah Qeiza dengan kecupan-kecupan gemas.


Qeiza mendorong tubuh Ivander, saat ada seseorang menyelinap masuk ke ruang kerja Ivander.


“Wow ... Maaf menganggu,” ucap Ivona.


Qeiza yang merasa tertangkap basah sedang bermesraan, berusaha melepaskan diri dari dekapan Ivander. Tentu saja pria itu tak membiarkan hal itu. Sudah lama dia menantikan hal seperti ini.

__ADS_1


“Kalian lanjutkan saja. Aku akan sabar menanti di sini,” ucap Ivona yang dengan santainya menghempaskan diri di sofa. Adik kandung Ivander itu bahkan sudah menggapai majalah dan mulai membacanya. Sementara Qeiza terus berusaha untuk lepas dari dekapan Ivander.


“Pak ... Malu dengan Mba Ivon,” lirih Qeiza. Ivander tentu saja tak memedulikan ucapan wanita itu. Ivander malah semakin menjadi. Pria itu semakin mengeratkan dekapannya, lalu membenamkan wajah pada lekuk leher Qeiza.


Ivander seolah membayar kerinduannya pada lekuk leher wanita itu. Disesapinya setiap sudut leher wanita itu. Cuping telinga Qeiza bahkan tak luput dari bibir pria itu. Qeiza yang meronta-ronta membuat Ivander bertambah gemas. Pria itu bahkan ingin menikahi wanita itu sekarang juga. Dia ingin memiliki Qeiza seutuhnya.


“Von, bisa tolong atur pernikahan untuk nanti sore? Sepertinya aku tidak bisa menunggu lebih lama untuk memiliki Qei.”


Qeiza mendelik mendengar ucapan Ivander. Sementara Ivona tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan kakak kandungnya itu.


“Mengurus berkas-berkas pernikahan tidak semudah itu, Mas. Mana mungkin urusan legal bisa dilaksanakan sore ini. Paling cepat besok besok siang,” balas Ivona.


“Pernikahan siri aja,” lirih Ivander.


Qeiza yang sedari tadi menunduk, seketika menatap pria itu.


Pernikahan siri?


“Aku tidak dinikahi secara resmi?”


Tersirat kesedihan mendalam saat Qeiza bertanya. Ivander menatap kedua manik kecoklatan yang kini menatapnya penuh harap.


“Aku akan menikahimu secara resmi secepatnya. Kamu dengar ucapan Ivon tadi kan? Menikah resmi tidak bisa mendadak. Paling cepat besok. Itu juga tidak mungkin terlaksana besok. Karena kita membutuhkan tanda tangan Evelyn. Dia masih berlibur bersama temannya,” jelas Ivander.


Qeiza kembali menunduk. Wanita itu mendadak ragu dengan keputusannya. Melihat itu, Ivander memegang dagu wanita itu. Mengangkat wajah Qeiza, hingga kini mereka kembali saling tatap.


“Aku sudah tidak tahan Qei. Aku ingin menjelajahi seluruh tubuhmu. Apa kau tidak menginginkannya juga?” bisik Ivander.

__ADS_1


Blussh ...


Wajah Qeiza kembali merona. Bisa-bisanya pria itu mengatakan hal seperti itu padanya. Walau Qeiza juga sudah lama mendamba sentuhan pria itu, tapi tentu saja wanita itu tak berani mengatakannya.


“Kau mau menikah denganku, sore ini?”


Dengan malu-malu Qeiza menganggukkan kepalanya. Bibir Ivander pun melengkung sempurna. Pria itu kembali meminta sang adik untuk mengatur pernikahan dirinya dan Qeiza, nanti sore.


Ivona juga mengajak Qeiza untuk memilih gaun pengantin yang akan dipakainya saat mereka akan mengucapkan janji suci pernikahan.


Ivona benar-benar menyiapkan semuanya dengan sempurna. Wanita itu juga menghias rumah Qeiza. Bersama Qeiza, mereka mengatur di mana prosesi pengucapan janji suci itu dilaksanakan.


Melati yang merasa bingung, bertanya pada sang anak.


“Sore ini, Mas Ivan akan menikahi Qei, Bu.”


“Sore ini? kenapa cepat sekali? Memangnya sejak kapan kalian mengurus berkas ke kantor urusan agama?” tanya sang ibu heran.


“Ini baru nikah siri, Bu. Pernikahan resminya nanti diselenggarakan, setelah berkas-berkas selesai semua,” jelas Ivona.


Seketika Melati marah. Qeiza sudah mau dijadikan sebagai istri kedua. Dan sekarang hanya akan dinikahi secara siri?


Melati menolak mentah-mentah. Dirinya tak akan memberikan izin pada Qeiza untuk menikah secara siri.


Ivona dan Qeiza menjadi bingung. Para pekerja yang dibayar untuk menghias kediaman Qeiza pun menghentikan pekerjaan mereka. Ivona lantas menghubungi sang kakak dan menyeritakan apa yang terjadi.


Dan satu jam berikutnya, Ivander sudah tiba dikediaman Qeiza. Pria itu menjelaskan, jika dirinya akan menikahi Qeiza secara resmi.

__ADS_1


“Saya takut tidak bisa menahan diri saat melihat Qei, Bu. Takut terjadi sesuatu yang saya inginkan,” ucap pria itu tanpa malu. Qeiza bahkan bersemu saat mendengar ucapan sang calon suami. Namun, Melati masih kekeuh. Wanita lanjut usia itu tak akan memberikan izin jika anaknya dinikahi secara siri.


“Kalau Pak Ivan takut hilang saat bertemu Qeiza. Anak saya akan saya pingit. Temui kami, setelah semua berkas selesai, dan Qeiza dinikahi secara pantas.”


__ADS_2