
“Tanda tangani berkas ini. Aku ingin kita bercerai secepatnya!”
Bumi seolah berputar bagi Evelyn. Wanita itu membeku. Dirinya tertangkap basah tengah berpesta dengan tiga orang pria. Terlebih posisinya yang diapit seperti kue lapis. Milik para pria itu pun masih berada dalam tubuhnya saat Ivander berada di sana dan melemparkan berkas-berkas itu. Bahkan milik Jeremy masih terus berada dalam genggamannya.
Tubuh Evelyn yang tadi begitu panas karena permainannya dengan ketiga pria itu, mendadak jadi menggigil. Ivander melemparkan berkas perceraian itu tepat di hadapannya.
Ketiga pria itu pun sama terkejutnya. Mereka semua terpaku pada posisinya masing-masing. Hingga suara salah satu perangkat desa meninggi.
“Apa kalian tidak berniat menyudahi permainan ini?! Sudah ditangkap basah, masih saja dempet-dempet begini!”
Spontan ketiga pria itu beranjak dari tubuh Evelyn. Mereka kocar-kacir mencari pakaian yang berserakan di ruangan itu. Sementara Evelyn masih membeku di sana. Dengan tubuhnya bu*gilnya, Evelyn menatap Ivander penuh ketakutan.
“Kamu sepertinya bangga sekali dengan tubuhmu itu, hingga terus memamerkannya tanpa malu,” sindir Ivander.
Evelyn sepertinya tak terlalu mendengarkan ucapan sang suami. Wanita itu sibuk memikirkan cara untuk membuat Ivander tak marah padanya. Evelyn tak mau berpisah dengan tambang emasnya. Dari mana dia akan mendapatkan uang untuk memuaskan hasratnya setiap Minggu?
Wanita itu merangkak menghampiri Ivander kemudian memeluk erat kaki pria itu. Evelyn menangis tersedu di kaki sang suami.
“Maafkan aku, Van. Ini semua tidak seperti yang kamu pikirkan,” lirih Evelyn.
“Memangnya apa yang aku pikirkan tentangmu?”
Evelyn tergugu. Wanita itu tak tau harus berkata apa. Dia sudah tertangkap basah. Pembelaan apa lagi yang bisa dia jelaskan? Evelyn tau, penjelasan apapun tak akan bisa membuat pria itu percaya padanya. Yang bisa dia lakukan hanya meminta pengampunan pria itu.
Evelyn histeris. Wanita itu meraung-raung di kaki Ivander, meminta pengampunan pria itu.
__ADS_1
“Aku tak mau bercerai, Van. Aku sangat mencintaimu. Aku tidak bisa hidup tanpamu,” ucap wanita itu sembari menangis histeris. Tentu saja Ivander tak punya sedikit pun rasa iba melihat Evelyn menangis dan berlutut di kakinya. Pria itu malah semakin jijik saat menatap Evelyn tanpa busana dan merengek-rengek padanya.
“Jangan berbicara cinta setelah kamu berselingkuh dengan tiga orang pria sekaligus. Apa kamu pikir, aku tak melihat apa yang kamu lakukan sedari tadi di sini?! Apa kamu pikir, aku telinga ku terganggu sehingga tidak bisa mendengar saat kamu berteriak keenakan?!” ucap Ivander. Suara pria itu menggelegar. Bukan karena dia merasa dikhianati. Dia tak peduli akan hal itu. Ivander hanya merasa muak dengan tingkah Evelyn.
“Aku terpaksa, Van. Aku, aku terpaksa melakukannya. Itu semua karena kamu jarang pulang,” lirih wanita itu. “Kamu terlalu sibuk dengan istri barumu itu. Kamu tidak ada waktu untukku.”
Ivander semakin geram. Bisa-bisanya wanita itu menyalahkan dirinya dan Qeiza. Ivander benar-benar tak menyangka telah memelihara seekor ular berbisa selama sepuluh tahun ini.
“Jadi, kau menyalahkan aku? Maksud ucapanmu itu, kamu bercinta dengan pria lain karena aku menikah lagi, begitu?”
“Aku kesepian,” lirih Evelyn kemudian.
Ivander seketika tertawa terbahak-bahak. Kesepian katanya? Bukankah selama ini, wanita itu yang meninggalkan dirinya dalam sepi. Kenapa jadi dia yang merasakan kesepian?
“Pria itu sudah menyebarkan video percintaan kalian. Bukankah hubungan kalian sudah terjadi, bahkan dari sebelum kita menikah?”
Tubuh Evelyn semakin menggigil mendengarnya.
“Bahkan sejak dulu, kamu sering dikeroyok begini kan? Pantas saja setelah kita selesai bercinta, kamu masih sibuk memuaskan dirimu sendiri. Ternyata biasa main keroyokan?”
Bagaimana Ivander bisa mengetahui semua ini? Tidak mungkin Jeremy yang menyebarkan semuanya. Dulu, pria itu memang pernah beberapa kali merekam aksi mereka. Tapi, itu dilakukan oleh Jeremy untuk mengajarkan para pria baru yang dipesannya. Karena dia selalu menginginkan, para pria pesanannya itu, tau apa yang dia mau.
Ini pasti ulah Andreas, pikir Evelyn. Pria tua itu pasti telah menyelidiki dirinya. Evelyn teringat, beberapa hari lalu, Jeremy bercerita jika ada beberapa file video percintaan mereka yang hilang.
“Sudahlah, kamu jangan mencoba untuk berkelit. Villa ini sudah dilengkapi dengan kamera CCTV yang tersambung ke ponselku. Aku sudah tau, apa saja yang kalian kerjakan kalau di villa. Dua Minggu lalu kamu juga ke sini kan? Dan dia pria itu adalah pria yang berbeda dengan pria yang dua Minggu lalu kamu bawa ke sini? Aku susah tau semuanya, Ev. Jadi, apapun pembelaan yang kamu ucapkan, semuanya percuma.”
__ADS_1
Evelyn lemas. Wanita itu tak lagi memeluk kaki Ivander. Dirinya lemas dan tertunduk tak berdaya.
“Tanda tangani berkas perceraian itu.”
“Aku tidak akan pernah masuk bercerai!” teriak Evelyn. Wanita itu bersikukuh untuk tak mau bercerai. Tidak akan pernah. Evelyn bahkan menegakkan badannya, berdiri dan menyejajarkan tubuh dengan Ivander.
“Sampai kapanpun, aku tidak mau menandatangani surat itu!” ucap Evelyn yang masih tak memakai sehelai pun di tubuhnya.
“Ev, kita sudah menikah selama sepuluh tahun. Kamu pasti akan mendapatkan banyak harta gono-gini setelah kita resmi bercerai. Jadi, kamu jangan takut miskin. Barang-barang mewah yang kamu miliki juga sudah banyak kan? Kalau kamu hidup dengan benar, mungkin harta itu tidak akan habis sampai kamu tutup usia.
“Sebenarnya, aku bisa saja memasukkan permohonan perceraian itu tanpa tanda tanganmu. Kamu tau kan, relasi Papi ada banyak. Mengurusi perceraian seperti ini, pasti akan sangat mudah. Aku datang ke hadapanmu seperti ini, semata-mata karena aku masih menghargai kamu sebagai orang yang telah menemaniku selama sepuluh tahun.”
“Aku tetap tidak akan menandatangani surat ini!” tegas Evelyn.
Ivander mengembuskan napas kasar, lalu tersenyum pada Evelyn. Senyuman yang tak pernah dilihat oleh wanita itu sebelumnya. Dan, entah mengapa, Evelyn bergidik melihat senyuman itu. Ivander terlihat menakutkan dengan senyuman itu.
“Sudah aku katakan, surat itu kamu tanda tangani atau tidak, tidak akan merubah apapun. Perceraian itu akan tetap terjadi. Jangankan perceraian. Menghilangkan namamu dari data kependudukan di negara ini pun, aku mampu! Aku hanya berusaha menaruh sedikit rasa hormatku padamu.”
Ivander mencengkram erat rambut Evelyn. Pria itu menariknya hingga kepala wanita itu mendongak.
“Sekarang, kamu mau tanda tangani berkas itu atau tidak?!”
Evelyn mengangguk pelan. Ivander pun mengempaskan Evelyn hingga tersungkur tepat di sisi berkas perceraian. Wanita itu benar-benar ketakutan. Ivander yang dulu selalu bersikap lembut padanya sudah tak ada lagi. Pria yang dulu selalu menuruti kehendaknya sudah menghilang. Evelyn seolah tak mengenal lagi siapa sosok pria yang ada di hadapannya.
Dengan tangan gemetar, akhirnya Evelyn menandatangani surat perceraian itu.
__ADS_1