Kata Mereka, Aku Pelakor

Kata Mereka, Aku Pelakor
Sakit yang dirasa Qeiza


__ADS_3

“Mau apa lagi Mas ke sini?!” ketus Qeiza saat melihat sang suami hadir lagi di sisinya. Ivander baru saja masuk ke ruang rawat intensif. Pria itu menghampiri Qeiza sembari tersenyum lembut.


“Mas hanya menuruti keinginan kamu.”


“Justru yang aku inginkan itu, tidak lagi melihat wajah Mas!”


Pria itu mengecup singkat bibir Qeiza. “Bukannya tadi kamu yang bilang, setelah menemui Sean, Mas harus kembali pada wanita yang Mas dicintai sepenuh hati.”


“Iya benar. Kenapa Mas tidak pergi ke sana?! Kenapa kembali ke sini?!”


Pria itu tersenyum lembut, menatap dalam netra kecoklatan milik sang istri. Tangannya juga tak henti membelai kepala Qeiza.


“Kenapa kamu bertanya seperti itu? Mas kembali ke sini, ya karena wanita yang Mas cintai sepenuh hati itu, hanya kamu. Satu-satunya wanita yang Mas cintai setengah mati hanya Qeiza Hikaru,” jelas pria itu.


“Bullshit!”


“Qei ....”


“Kalau Mas memang hanya mencintai aku, kenapa Mas mengabaikan aku dan lebih memilih mantan istri Mas itu?! Aku sedang hamil anak Mas! Tapi, Mas malah sibuk menggendong mantan istri Mas itu, mengabaikanku dan pergi begitu saja tanpa satu patah kata pun. Sepertinya Mas panik sekali saat melihat dia sakit seperti itu! Mas bahkan tidak ada di sampingku saat perutku terasa sakit dan mengalami pendarahan! Semua ucapan Mas itu hanya omong kosong!”


Ivander menelan ludahnya dengan susah payah. Apa yang diucapkan Qeiza, walaupun tak sepenuhnya benar, tapi tak sepenuhnya salah. Dirinya memang tak ada di samping Qeiza saat sang istri itu mengalami pendarahan.


“Mas minta maaf. Mas tidak bermaksud mengabaikan kamu. Awalnya, saat tau wanita yang kesakitan itu adalah Ev, Mas tidak mau menolongnya. Tapi sedang tidak ada banyak orang di lorong itu. Qiana juga mendesak Mas untuk segera menolong Ev. Mas terpaksa menolongnya.”


“Mas, tolong jangan berbicara hal omong kosong. Mas sama sekali tak terlihat terpaksa melakukannya. Saat aku menghampiri Mas dan minta penjelasan, wajah Mas panik dan meninggalkan aku begitu saja! Apa itu yang namanya terpaksa? Mas bahkan meninggalkan aku sangat lama!”


“Dia mendadak pingsan, Qei. Mas harus buru-buru membawanya ke IGD. Mas tidak mau disalahkan kalau terjadi apa-apa dengannya. Mas pikir, dengan buru-buru mengantarkan dirinya ke IGD, Mas bisa secepatnya kembali menemui kamu dan menjelaskan segalanya. Tapi, ternyata pihak rumah sakit juga meminta Mas mengurus administrasi terlebih dulu,” jelas Ivander.

__ADS_1


Qeiza mengalihkan pandangannya. Penjelasan dari Ivander, tak lantas membuat wanita itu memaafkan sang suami. Anak yang dikandungnya hampir saja dalam bahaya akibat perbuatan suaminya itu. Bahkan, nyawa Qeiza bisa saja tak selamat jika sang dokter terlambat memberikan penanganan. Hati Qeiza masih terlalu sakit untuk bisa memaafkan sang suami.


“Maafkan Mas, Qei. Mas tau, kamu pasti sangat kecewa. Tapi, Mas jujur Qei. Tidak ada wanita lain di hati Mas selain kamu. Apalagi dia, Qei. Dia hanya masa lalu. Dan bersamanya bukanlah masa lalu yang indah. Jadi, tidak ada alasan untuk Mas masih mengingatnya apalagi masih menaruh hati padanya.”


“Mas tidak tau kan, bagaimana takutnya karena tiba-tiba banyak darah mengalir di kakiku?! Aku terduduk di lantai. Kepalaku terasa kaku. Kakiku bersimbah darah. Dan tidak ada seseorang yang menolongku. Hanya ada Qiana yang menangis dan berteriak minta tolong di sana. Di mana kamu, Mas? Di mana kamu? Kamu malah sibuk menolong mantan kamu. Sementara istrimu terkapar dan tidak ada yang menolong!”


Ivander terisak. Pria itu benar-benar menyesal tak ada di samping Qeiza saat istrinya itu membutuhkannya. Berulangkali Ivander berucap maaf, namun Qeiza tetap mengabaikannya.


“Mending kamu antarkan ibu dan anakku pulang. Kasihan mereka dari tadi hanya duduk di luar sana!”


Ivander menghela napas kasar. Qeiza marah besar padanya. Ivander bahkan seperti tak mengenal sosok wanita yang terbaring di hadapannya itu. Tak ada senyuman lembut yang terpatri seperti biasanya.


“Mereka juga ibu dan anakku, Qei. Kamar untuk ibu dan Qia sedang disiapkan. Papi sudah menyewa satu lantai untuk keluarga kita menginap. Mereka semua akan menemani kamu selama kamu di rawat di sini. Kami semua menyayangi kamu, Qei.”


“Mereka semua yang menyayangi aku, kamu tidak!”


“Sudahlah Mas. Aku tidak ma—”


Belum selesai Qeiza mengumpat, wanita itu sudah merasakan nyeri pada bekas operasinya. Ivander pun merasa panik karena hal itu.


“Kenapa Sayang? Sakit ya? Makanya, kamu jangan banyak pikiran, Qei. Jangan emosi terus. Aku cinta kamu Qei. Cinta sekali. Jangan berpikiran macam-macam. Aku tidak akan bertemu dia lagi, aku janji,” bujuk Ivander.


Qeiza masih meringis. Nyeri pada bekas jahitan operasinya, membuat Qeiza tak terlalu mendengar dengan seksama ucapan sang suami. Sampai sang mertua pun tiba di sampingnya.


“Ivan hanya merasa kasihan dengan mantan istrinya itu. Percaya sama Papi. Hanya kamu yang dicintai Ivan sekarang,” ucap Andreas.


“Wanita itu terkena penyakit HIV AIDS. Bukan hanya itu, dia bahkan terkena penyakit ganas lainnya. Dokter memperkirakan umurnya tidak akan lama lagi.”

__ADS_1


Penjelasan Andreas tentang kondisi Evelyn, membuat Qeiza menoleh dan menatap sang suami. Ivander pun menganggukkan kepalanya.


“Makanya tadi dokter meminta aku untuk melakukan pengecekan ulang. Itu alasan kenapa aku tadi pergi begitu lama tanpa sempat menjenguk Sean— anak kita. Aku habis melakukan pemeriksaan lengkap,” jelas Ivander.


“Maaf Mas,” ucap Qeiza. Wanita yang baru saja melahirkan putra keduanya itu merasa bersalah dengan ivan-. Wanita itu sudah menuduh sang suami berselingkuh. Padahal Ivander hanya berusaha menggunakan sisi kemanusiaannya untuk menolong Evelyn.


“Tidak apa-apa, Sayang. Aku tau, aku juga salah. Aku salah karena tak ada di samping kamu saat kamu butuhkan. Maafkan aku,” ucap Ivander. Pria itu pun mendaratkan sebuah kecupan yang cukup lama pada dahi sang istri.


“Karema kesalahpahaman ini sudah selesai, sekarang kamu bawa Papi untuk melihat cucu kebanggaan itu!” ucap Andreas.


Ivander pun menyanggupinya. Setelah berpamitan dengan sang istri Ivander dan Andreas pun beranjak dari ruang rawat intensif itu.


“Aku hanya mengantarkan Papi sebentar saja. Nanti, aku akan buru-buru kembali ke sini. Tunggu ya.”


“Temani Papi saja, Mas. Biarkan Papi melihat cucunya sampai puas. Setelah itu, tolong minta sopir untuk menjemput Ibu dan juga Qia.”


“Ibu kamu dan cucu Papi yang cantik itu, sudah berada di salah satu kamar VVIP di rumah sakit ini. Kamu tenang saja. Kami akan selalu berada di sisi kamu,” ucap Andreas sembari mengelus puncak kepala sang menantu kesayangan.


“Terima kasih banyak, Pi,” balas Qeiza.


Ivander dan Andreas pun melangkahkan kaki mereka menuju ruang perawatan bayi.


Tapi, begitu tiba di luar kamar rawat intensif, Andreas seketika menempeleng Ivander.


“Dasar anak bo doh. Bisa-bisanya menolong wanita jala ng itu! Kalau terjadi sesuatu dengan menantu dan cucu Papi, bagaimana?! Hah! Bagaimana?!”


Ivander hanya bisa mengusap-usap kepalanya sembari meminta maaf pada sang ayah.

__ADS_1


“Jangan pernah temui dia lagi. Kamu sudah memberinya terlalu banyak harta. Dan itu sudah lebih dari cukup!” tegas Ivander.


__ADS_2