Kata Mereka, Aku Pelakor

Kata Mereka, Aku Pelakor
Perasaan bersalah


__ADS_3

Semburat jingga di atas langit petang itu terlihat begitu indah. Mungkin ini adalah terakhir kali dirinya menatap keindahan petang di jalanan yang penuh debu dan asap kendaraan bermotor.


Besok, Qeiza akan menjemputnya. Wanita itu akan membawanya ke sebuah rumah yang nyaman. Mantan adik madunya itu juga berjanji akan menyediakan makanan-makanan sehat untuknya, serta kembali menjadi penanggung jawab untuk masalah kesehatannya.


Evelyn tersenyum lembut saat melihat sorot ketulusan dari mata Qeiza saat mengucapkan janji itu. Evelyn pun berjanji akan berterima kasih dengan benar pada Qeiza, besok. Dia pun berjanji akan hidup dengan baik. Menjadi wanita baik-baik seperti Qeiza.


Evelyn begitu gembira sore itu. Segepok uang yang diberikan oleh Qeiza tadi, rencananya akan dia berikan kepada Mak Yati dan Indah yang telah banyak membantunya selama ini. Evelyn bahkan sudah membagi dua uang itu.


Evelyn mengambil ponselnya. Wanita itu mencari nama Qeiza, lalu mengirimkan pesan pada wanita itu. Namun, pesan itu tak terkirim. Dirinya lupa jika Qeiza sudah memblokir nomor ponselnya.


“Aku harus membeli nomor ponsel yang baru. Besok, aku akan minta Qeiza menjemputku di rumah kos. Aku juga akan meminta Mak Yati membuatkan makanan enak untuk menyambut kedatangan Qeiza,” ucap Evelyn.


Senyum sumringah wanita itu terus terpancar. Akhirnya dia bisa terbebas dari dunia yang begitu menyiksa ini. Begitulah ingin Evelyn.


Nyatanya, dia bukan hanya terbebas dari dunia yang begitu menyiksanya. Evelyn bahkan harus meninggalkan dunia yang fana ini untuk selamanya.


Danu yang seperti kerasukan setan, tiba-tiba menyeretnya ke tempat sepi, lalu mencekiknya. Dirinya tak bisa bernapas. Pria itu tak memedulikan dirinya yang tengah meronta-ronta karena kekurangan oksigen.


Danu mencekik sekaligus menghempaskan kepalanya ke tembok yang kasar.


Evelyn merasa ada darah mengalir di kepala belakangnya. Pandangannya mendadak menjadi gelap. Evelyn pingsan. Namun, itu tak lantas membuat Danu berbelas kasih dan melepaskan cengkeramannya pada leher wanita itu. Danu masih mencekiknya dengan erat. Pria itu masih membenturkan kepala Evelyn ke dinding yang kasar itu.


Danu baru melepaskan Evelyn saat dia merasa nadi wanita itu tak lagi berdetak. Danu memastikan sendiri jika sudah tak ada napas yang berembus dari hidung Evelyn.


Danu merampas semua uang yang ada di tas Evelyn. Pria itu terperangah saat di tas Evelyn terdapat segepok uang. Dia juga membawa ponsel wanita itu.


Danu melihat ke kiri dan ke kanan saat hendak keluar dari lorong sempit itu. Saat dia memastikan tidak ada orang yang melihatnya, Danu gegas meninggalkan lorong itu. Gegas Danu mengambil sepeda motornya. Pria itu melaju kencang.

__ADS_1


Danu langsung membersihkan dirinya begitu tiba di rumah. Dia menyimpan uang beserta ponsel Evelyn di dalam lemari miliknya. Bahkan, istrinya pun tak diberitahu. Danu menyimpan semuanya seorang diri.


Saat Mak Yati menanyakan keberadaan Evelyn, Danu hanya memberitahukan jika wanita itu kabur saat di rumah sakit.


Sementara itu, Qeiza yang sudah mengatur segala hal untuk Evelyn, terlebih dahulu membuka blokir nomor ponsel Evelyn. Begitu Qeiza membuka blokir itu, Qeiza pun langsung mengirimkan pesan pada mantan kakak madunya itu.


“Mba, aku tidak bisa pergi menemui Mba Ev secara langsung. Ada seseorang yang aku urus ke sana. Namanya Pak Narto. Mungkin sebentar lagi dia tiba di sana. Nanti, dia yang akan membawa Mba Ev ke rumah lamaku. Rumahnya sudah dibersihkan, Mba Ev jangan khawatir. Semuanya sudah diurus. Mba Ev hanya perlu mengikuti Pak Narto. Sekali lagi, aku minta maaf karena tidak bisa menemui Mba Ev secara langsung.”


Begitulah isi pesan yang dikirimkan oleh Qeiza.


Namun, ponsel Qeiza berdering beberapa saat kemudian. Pak Narto mengabarkan jika Evelyn tidak berada di tempat yang telah Qeiza sebutkan.


“Coba Bapak bertanya kepada orang sekitar. Kemarin Mba Ev mengemis di situ. Pengemis yang pakai baju berwarna putih kumal,” ujar Qeiza. Narto pun mengikuti instruksi Qeiza. Untungnya ada seorang pedagang yang tau kondisi Evelyn. Narto pun kembali memberikan kabar itu pada Qeiza. Betapa terkejutnya Qeiza saat Pak Narto mengabarkan sebuah berita duka.


“Tidak mungkin, Pak. Kemarin itu, walau Mba Ev terlihat pucat, tapi dia masih terlihat cukup kuat,” isak Qeiza.


Qeiza pun segera membuka sebuah potret yang dikirimkan oleh Narto. Kaki Qeiza mendadak lemas saat menyaksikan potret itu. Benar itu adalah Evelyn, mantan kakak madunya. Orang yang telah dia rebut suaminya.


Qeiza menangis histeris. Ivander yang ada di dekat Qeiza pun, seketika menghampiri istrinya.


“Kenapa Sayang?”


“Mba Ev, Mas ... Mba Ev,” lirihnya.


Ivander menghelat napas berat saat Qeiza menyebutkan nama mantan istrinya itu.


“Mba Ev menjadi korban pembunuhan, Mas.”

__ADS_1


Mata Ivander melebar. Sang mantan istri menjadi korban pembunuhan? Bagaimana bisa?


“Apa itu karena Mba Ev memegang uang yang banyak ya Mas? Katanya Mba Ev dibunuh oleh penjambret, Mas. Semua barang-barang miliknya tidak ada di TKP saat mayatnya di temukan. Ini pasti karena aku sudah memberi Mba Ev yang begitu banyak, jadi seseorang menjambret hingga membunuh Mba Ev,” ucap Qeiza sembari menangis sesenggukan.


“Aku tidak akan mungkin bisa memaafkan diriku, Mas. Aku sudah mencuri suaminya, sekarang aku bahkan mengambil nyawanya.”


Qeiza masih histeris. Wanita itu terus menyalahkan dirinya sendiri.


“Sayang ... Belum tentu seperti itu. Kamu jangan menyalahkan diri sendiri. Tujuan kamu memberinya uang kan untuk membantu Evelyn. Tapi, jika pun terjadi seperti itu, itu pasti sudah takdirnya. Usia Evelyn mungkin memang hanya sampai di situ,” jelas Evelyn.


Namun, tampaknya Qeiza tak mendengarkan nasihat sang suami. Wanita itu masih menyalahkan dirinya atas apa yang menimpa Evelyn.


Ivander benar-benar merasa sedih saat ini. Bukan karena kabar meninggalnya Evelyn, tapi karena sang istri terlihat begitu frustasi.


“Mas akan usut kasus ini. Kamu tenang saja. Sekarang, bagaimana kalau kita melihat jasad Evelyn. Mas akan minta pihak rumah sakit mengautopsinya.”


Qeiza menganggukkan kepalanya. Sepasang suami istri itu pun gegas pergi ke rumah sakit. Melihat kondisi jasad Evelyn.


Qeiza kembali histeris saat melihat tubuh Evelyn terbujur kaku. Ivander terus mendekap tubuh sang istri. Pria itu berusaha untuk menenangkan Qeiza.


“Kamu tidak salah Qei. Kamu hanya ingin menolongnya.”


Seperti itulah ucapan yang terus dilontarkan oleh Ivander untuk menenangkan sang istri.


“Aku sudah mengirimkan tim investigasi terbaik di negeri ini. Penjahat yang membunuh Evelyn akan segera ditemukan. Mas harap, kamu tidak lagi menyalahkan diri mu sendiri. Karena kalau tidak, Mas akan menyalahkan Evelyn atas apa yang kamu alami ini.”


Qeiza menatap tajam sang suami. “Bagaimana mungkin Mas bisa menyalahkan orang yang sudah meninggal?!”

__ADS_1


__ADS_2