Kata Mereka, Aku Pelakor

Kata Mereka, Aku Pelakor
Tuntutan


__ADS_3

Hari itu, selepas Evelyn menandatangani surat perceraian, wanita itu dan ketiga pria pemuas itu, digiring ke balai desa. Bersamaan dengan munculnya cahaya berwarna jingga di atas langit, keempat manusia yang telah melakukan perbuatan terlarang itu, berjalan beriringan bersama perangkat desa dan beberapa warga.


Semburat cahaya mentari memperlihatkan bagaimana wajah raut wajah Evelyn. Tak ada raut penyesalan di sana. Sepanjang perjalanan wanita itu malah terus mengumpat dalam hati. Kebencian dirinya terhadap Andreas bertambah. Wanita situ masih mengira bahwa sang mertua lah yang memata-matai dirinya dan memberitahukannya pada Ivander, lalu merencanakan penggerebekan ini.


Evelyn melangkah dengan penuh amarah. Wanita itu ingin secepatnya tiba di balai desa, memberikan keterangan seadanya, lalu kembali ke Ibu Kota.


Dia harus bersiap-siap. Ivander akan segera mengajukan gugatan perceraian ke pengadilan agama. Dia harus menyelamatkan barang-barang mewah miliknya. Dia juga harus menghitung besaran harta gono-gini yang akan didapatkannya setelah perceraian.


Evelyn pikir, urusan di balai desa akan cepat terselesaikan. Wanita itu tidak tau, jika ada sesuatu hal yang menunggunya di sana.


Mata Evelyn membulat. Wanita itu menyaksikan ramai orang berkerumun di sana. Beberapa membawa kamera, beberapa menyorotinya menggunakan ponsel. Bahkan ada beberapa mobil patroli kepolisian di sana.


Puluhan orang menyerbu. Mengerubungi wanita itu dengan segudang pertanyaan. Evelyn terus menunduk. Untuk pertama kalinya dia merasa malu. Wanita itu tak mengira ada banyak wartawan di sana.


“Apa benar anda berselingkuh sejak awal menikah?”


“Apa anda seorang maniak?”


“Apa benar, anda berselingkuh sejak masa pacaran dengan CEO Bratajaya Corporation?”


“Apa yang membuat anda tetap berselingkuh walau sudah menikah? Apa karena suami anda tidak bisa memuaskan?”


“Apa benar, anda yang memfitnah istri muda suami anda?”


Tak ada satu pun pertanyaan yang dijawab oleh Evelyn. Dengan kawalan beberapa aparat, wanita itu terus melangkah menuju sebuah meja panjang yang sudah di persiapkan. Sepertinya, subuh itu akan digelar sebuah konferensi pers.


Kenapa harus ada konferensi pers? Dia bukan seorang artis. Walau termasuk dalam salah satu dari seratus orang terkaya di Indonesia, kehidupan keluarga besar Bratajaya tak pernah disorot media sebelumnya.

__ADS_1


Banyak pertanyaan melintas di benak wanita itu.


Kini, Evelyn dan ketiga pria pemuasnya itu, berdiri berjejer di belakang seorang pria yang memakai seragam kepolisian. Bukan hanya beberapa polisi yang berada di sana. Ada juga Ivander, Anggara dan kuasa hukum dari Bratajaya Corporation di sana.


“Hari ini saudari E dan saudara J ditangkap karena ketahuan melakukan tindakan pidana kesusilaan,” ucap seorang aparat kepolisian.


Mata Evelyn mendelik seketika. Apa ini artinya dia akan dijerat oleh pasal-pasal hukum? Apa dia akan dipenjara?


“Saudari E dan saudara J juga ditangkap karena terbukti melakukan penyebaran video asusila mereka berdua, serta video fitnah yang viral sebelumnya mengenai saudari Q yang dituduh sebagai pelakor.”


“Jadi video yang viral yang beredar sebelumnya itu adalah fitnah, Pak? Pak Ivander tidak berselingkuh dengan sekretaris pribadi Bapak itu?” tanya seorang wartawan.


“Terus terang, saya memang menaruh hati dengan sekretaris pribadi saya itu. Tapi, Qeiza bukan wanita yang mau berhubungan dengan pria beristri. Jadi, berita perselingkuhan itu tidak benar.”


“Lalu, kenapa pada akhirnya sekretaris anda mau diajak menikah?”


“Mungkin istri anda dalam paksaan saat melakukan itu?”


Ivander tersenyum mendapat pernyataan seperti itu.


“Papi saya menuntut seorang keturunan. Ev, tidak mau hamil. Dia takut tubuhnya melar. Jadi, Papi saya berusaha mendekatkan saya dengan Qeiza yang dulu adalah sekretaris pribadinya. Dan Evelyn menyetujui hal itu karena dia benar-benar tak ingin memiliki anak. Tak ingin hamil, dan tak ingin mengurusi seorang anak. Makanya dia membujuk Qeiza.”


Para wartawan saling pandang. Mungkin mereka tak mengira ada wanita seperti Evelyn. Yang lebih merelakan berbagi suami, ketimbang mengandung dan mengurus seorang anak.


Seorang wartawan pun kembali mengajukan pertanyaan.


“Bagaimana soal berita Pak Andreas yang juga memiliki hubungan dengan istri kedua anda, sebelumnya?”

__ADS_1


“Kalau mereka punya hubungan spesial, tidak mungkin Papi saya menjodohkan Qeiza dengan saya. Sudah pasti dia yang akan menikahi Qeiza. Papi saya sangat mencintai Almarhumah Mami. Jadi, Papi tak pernah punya niat untuk berhubungan dengan wanita lain. Dan, saat melihat Qeiza, Papi teringat akan Mami. Bukan hanya orang-orang, saya dan adik saya bahkan mengira Papi ingin menikahi Qeiza. Karena Papi terus menerus membanggakan dia.


“Tapi, ternyata tidak. Papi justru ingin saya yang menikahi Qeiza. Papi ingin saya merasakan betapa bahagianya menikah dengan wanita yang mengurusi kita dengan baik. Hal yang tidak pernah saya dapatkan selama berumahtangga di dengan Ev,” jelas Ivander.


Pagi itu, Ivander menjawab pertanyaan-pertanyaan dari para wartawan dengan gamblang. Sementara Evelyn semakin menunduk karena semua yang berada di sana menatap jijik padanya.


Bukan hanya orang-orang yang hadir di balai desa saja yang menatap jijik, orang-orang yang mendengarkan siaran langsung konferensi pers dari salah satu media gosip online pun, ikut menatap jijik dari layar ponsel mereka masing-masing.


Berita perbuatan asusila Evelyn terus menyebar. Seluruh negeri mengetahui perbuatan be*jat wanita itu. Terlebih pembacaan sidang dakwaan wanita itu dilakukan secara terbuka. Semakin bertambah jijiklah orang-orang pada wanita yang sebentar lagi menyandang status janda itu.


Seluruh staff Bratajaya Corporation pun akhirnya tak lagi salah paham pada Qeiza. Melalui Ivona, beberapa staff menyampaikan permintaan maaf pada istri kedua Ivander itu.


Sementara Evelyn didakwa dengan pasal berlapis. Perzinahan, perselingkuhan, pencemaran nama baik, serta perdagangan manusia. Begitupun dengan Jeremy.


Anggota IT yang dipimpin Anggara, berhasil membuat Ivander dan dirinya bebas dari jerat undang-undang ITE. Evelyn dan Jeremy lah yang terkena dakwaan itu.


Saat pembacaan putusan persidangan, Evelyn mendapatkan hukuman selama delapan tahun penjara. Begitu pun dengan Evelyn. Sementara dua pria lainnya, hanya dituntut dengan hukuman satu tahun penjara.


Wanita itu menangis meraung-raung di kaki Ivander. Memohon pada pria itu agar mencabut tuntutannya. Tapi Ivander bergeming. Pria itu memutuskan untuk tak lagi peduli pada Evelyn.


Jerat kasus yang menimpa Evelyn, membuat sudah perceraian Ivander dan wanita itu menjadi lebih mudah. Tidak perlu waktu lama. Tak ada lagi proses mediasi. Satu bulan setelah pengajuan, tepat dihari ulang tahun pernikahannya yang ke sebelas, Evelyn dan Ivander resmi bercerai.


Untuk terakhir kalinya, Ivander menghampiri Evelyn. Pria itu memberikan surat perceraian mereka. Ivander juga menyerahkan beberapa aset dan sejumlah harta gono-gini untuk wanita itu.


Rumah yang selama ini ditinggal oleh Evelyn, menjadi milik wanita itu seutuhnya. Para pekerja yang berada di sana, kini dipekerjakan di kediaman Andreas dan Ivona.


Sebuah mobil mewah yang biasa dipakai wanita itu pun, diberikan begitu saja pada Evelyn. Wanita itu juga mendapatkan sejumlah uang atas tabungan Ivander.

__ADS_1


Miliaran rupiah berhasil wanita itu dapatkan dari hasil perceraiannya dengan Ivander. Dengan uang itu, Evelyn akhirnya bisa bebas bersyarat. Wanita itu menjadi tahan kota. Walau tak dipenjara, Evelyn tak bisa keluar dari Ibu Kota.


__ADS_2