Kata Mereka, Aku Pelakor

Kata Mereka, Aku Pelakor
Makan siang bersama


__ADS_3

“Kita sudah lama tak bertemu. Kamu terus menghabiskan waktu bersama istri keduamu. Apa aku tidak berhak menuntut walau hanya sekadar makan siang bersama?” ucap Evelyn. Wanita itu benar-benar bertutur kata dengan lembut hingga membuat Qeiza begitu tak enak hati. Qeiza sudah memonopoli Ivander selama satu bulan ini. Bagaimana mungkin dirinya bisa membiarkan Evelyn mengemis hanya sekadar untuk makan siang bersama suaminya? Suami yang telah dia rebut waktu dan kasih sayangnya dari wanita cantik itu.


“Mas ... Kamu pergi makan siang dengan Mba Ev saja. Jatah makan siang kamu, bisa aku berikan kepada office boy.” ucap Qeiza.


“Berikan semua saja, Qei. Aku ingin kita pergi makan bertiga. Bukankah harusnya kita saling mengakrabkan diri. Tadinya aku ingin makan berdua saja dengan kamu. Tapi karena takut suasana menjadi canggung, ada baiknya Ivan juga ikut. Lagian, aku merindukannya. Sudah beberapa Minggu kami tak bertemu.”


Qeiza tercengang. Bagaimana mungkin wanita yang telah berbagi suami dengannya, bisa bersikap begitu baik? Wanita itu mengajaknya makan siang bersama. Istri pertama Ivander Bratajaya mencoba akrab dengannya. Evelyn berusaha agar rumah tangga mereka bertiga berjalan lancar.


Bukankah seharusnya dirinya yang memulai kebaikan ini? Harusnya dia yang berusaha untuk lebih akrab dengan Evelyn.


“Mba saja yang makan berdua dengan Mas Ivan. Mba pasti merindukan Mas Ivan. Mas Ivan pun begitu. Kita bisa makan siang berdua, lain kali. Mungkin ... besok.”


“Hari ini aku ingin kita makan bertiga, Qei. Untuk urusan rindu, aku memang sangat merindukan Ivan,” ucap Evelyn yang kini kembali bergelayut manja di lengan Ivander.


“Tapi, nanti malam, kamu pulang ke rumah kita ya, Hon. Aku rindu denganmu. Juga dengan ini,” ucap Evelyn sembari membelai kejantanan Ivander. Qeiza melempar pandangannya. Wanita itu tak mau melihat apa yang dilakukan oleh Evelyn. Sementara Ivander menegur istri pertamanya itu.


“Apa-apaan sih Ev!” pekik Ivander. Perasaannya yang telah pudar dengan wanita itu, membuatnya merasa risih dengan perlakuan Evelyn, terlebih ada Qeiza yang menyaksikan semua itu. Ivander tak mau membuat istri barunya itu merasa sakit hati.


“Kenapa sih? Aku dan Qeiza kan sama-sama istri kamu. Wajar kan kalau aku memegangi ini. Qeiza juga pasti begitu. Iya kan Qei?”


Qeiza tergagap. Wanita itu tak menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Evelyn. Karena Qeiza tak seperti itu. Dirinya merasa malu jika menggoda Ivander seperti itu.


“Yasudah, kalau begitu kita berangkat sekarang saja. Bagaimana? Aku sudah sangat lapar.”


Masih tetap bergelayut manja di lengan Ivander, Evelyn menarik lengan pria itu. Sementara Ivander sedari tadi tak lepas menggenggam jemari Qeiza. Mereka bertiga berjalan berdampingan. Ivander yang berjalan di antara kedua istrinya sembari menggenggam erat jemari Qeiza. Sementara di sisi satunya, Evelyn berjalan sembari bergelayut manja di lengan pria itu.


Pemandangan itu tak luput dari perhatian seluruh staff Bratajaya Corporation.


“Qei, kamu duduk di belakang tidak masalah kan?” tanya Evelyn begitu mobil milik Ivander tiba di lobby. Qeiza hanya mengangguk-anggukkan kepalanya sembari tersenyum. Bisik-bisik para staff pun tak bisa dielakkan. Mereka mengumpat Qeiza karena mengganggu kebahagiaan Evelyn dan Ivander.

__ADS_1


“Kenapa sih itu pelakor ngikut terus. Heran deh. Dasar tidak tau malu!”


“Namanya juga pelakor, sudah pasti tidak tau diri!”


Siang itu, seluruh staff Bratajaya Corporation menggunjing Qeiza yang tak tau diri menurut mereka.


Sementara itu, Qeiza benar-benar merasa tak enak hati berada di antara Ivander dan Evelyn. Terlebih istri pertama Ivander Bratajaya itu terus bergelayut manja di lengan suaminya— suami mereka.


Evelyn bahkan tidak mau mengecup leher hingga telinga pria itu. Evelyn benar-benar menunjukkan kepemilikannya terhadap Ivander. Qeiza yang duduk tepat di hadapan sepasang suami istri yang terlihat mesra itu, sibuk mengalihkan pandangan. Dirinya berusaha untuk tak melihat kemesraan Evelyn dan Ivander.


Namun, sesekali Qeiza tak dapat menahan rasa penasarannya karena Ivander terus berdecak karena perbuatan Evelyn.


Saat makanan tiba, Evelyn berusaha menunjukkan keromantisan dirinya bersama Ivander. Wanita itu benar-benar ingin Qeiza melihat sendiri bagaimana Ivander takluk padanya. Evelyn menyuapi Ivander.


Ivander terperangah. Hal seperti ini tak pernah dilakukan Evelyn sebelumnya. Dengan wajah bingung, pria itu menata sang istri pertama, lalu membuka mulut dan menerima suapan pemberian Evelyn.


Ivander hanya menjawabnya dengan mengangguk.


“Restoran ini tempat aku dan Ivan berkencan pertama kali, Qei,” cebik Evelyn. Qeiza yang sedari tadi makan dengan menunduk, kini menegakkan kepalanya. Wanita itu berusaha menampilkan sebuah senyuman. Qeiza merasa kehadirannya di sana bagai seekor nyamuk pengganggu.


Ivander yang mendengar Evelyn memanggil nama Qeiza, menyadarkan pria itu, jika istri keduanya itu masih berada di sana. Sedari tadi dirinya seolah terlupa akan kehadiran Qeiza. Ivander sibuk menyingkirkan jemari Evelyn yang terus menerus menggodanya di bawah sana. Ivander bahkan sempat mendadak terpaku saat Evelyn menyuapinya.


Ivander memandang Qeiza. Wanita itu tak terlihat bercahaya seperti biasanya. Qeiza terlihat redup. Terlihat jelas jika Qeiza merasa tak nyaman berada di antara dirinya dan Evelyn. Wanita itu memaksakan senyumnya.


Andai dirinya berpisah dari Evelyn sebelum menikahi Qeiza, pasti wanita itu tak akan menatapnya dengan sendu seperti sekarang. Begitulah pikir Ivander.


“Kalau kencan pertama kalian di mana, Qei?” tanya Evelyn.


Qeiza terlihat gelagapan. Wanita itu kini saling tatap dengan sang suami. Qeiza tak tau harus menjawab apa?

__ADS_1


Haruskah dirinya mengatakan jika kencan pertama mereka di sebuah kamar hotel yang terletak di Madura? Tapi, jika dia mengatakannya, bukankah itu artinya membuka boroknya sendiri? Berkencan dengan pria beristri.


“Berbincangnya nanti saja dilanjutkan. Kita nikmati makanan ini saja. Pekerjaan kita banyak, Qei,” sela Ivander. Pria itu paham saat melihat tatapan mata Qeiza yang seolah meminta bantuannya. Dan ucapan yang dilontarkan Ivander benar-benar menyelamatkan Qeiza.


Qeiza, Ivander dan Evelyn kini hanya sibuk menyantap makan siang mereka. Sesekali Evelyn menyuapi Ivander ataupun minta disuapi oleh pria itu. Sementara Qeiza menyantap makanannya dengan terus menundukkan wajahnya.


“Ayo Qei, aaak ... Kamu juga cobain ini,” ucap Ivander, saat pria itu baru saja selesai menyuapi Evelyn. Qeiza membuka mulutnya dengan ragu. Sesekali wanita itu mencuri pandang pada Evelyn yang menatapnya tajam.


“Bagaimana? Enak kan?”


Qeiza mengangguk sembari tersenyum. Lagi-lagi wanita itu mencuri pandang pada Evelyn.


“Mas juga mau coba makanan punya kamu.”


Qeiza pun menyuapi sang suami. “Ternyata enak juga chicken cordon blue di sini. Selama ini Mas kalau ke sini hanya memesan steak saja. Lain kali mas mau cobain menu yang kamu pesan itu. Enak.”


Qeiza hanya membalas ucapan Ivander dengan sebuah senyuman lembut. Qeiza paham, jika apa yang dilakukan oleh Ivander adalah salah satu upaya pria itu bersikap adil padanya.


“Oh iya, Hon. Nanti aku menunggu di ruangan kamu saja ya.”


“Menunggu?” tanya Ivander heran. Evelyn menganggukkan kepalanya.


“Nanti, kamu harus pulang ke rumah kita loh. Sudah satu bulan kamu tidak pulang!” cebik Evelyn.


“Aku banyak pekerjaan, Ev. Kamu kembali ke rumah saja. Nanti malam aku janji akan pulang.”


“Aku kesepian kalau di rumah tidak ada kamu,” rengek Evelyn. “Aku tunggu kamu di ruang kerjamu saja. Aku tidak masalah kalau harus menunggu hingga larut malam.”


Ivander menghela napas berat. Pria itu tak mau Evelyn menungguinya. Berada di meja makan yang sama dengan kedua istrinya saja sudah membuatnya sesak. Bagaimana dia bisa berada di ruangan yang sama dengan Evelyn dan Qeiza hingga sore hari?

__ADS_1


__ADS_2