
Malam itu, seluruh keluarga Bratajaya menginap di rumah mewah Qeiza. Dan baru kembali ke kediaman mereka masing-masing keesokan sorenya.
Sementara Ivander, baru kembali ke perusahaan satu Minggu setelah Qeiza kembali ke rumah. Sebenarnya Ivander masih belum mau untuk meninggalkan Qeiza dan Sean, tapi, pria itu harus menghadiri rapat direksi.
Hari ini, Andreas akan membagikan seluruh sahamnya pada anak dan cucunya. Andreas dan Sean mendapatkan 75% saham Bratajaya Corporation sedangkan Ivona mendapatkan sisanya.
Bukan hanya membagi seluruh kepemilikan saham Bratajaya Corporation, Andreas juga sudah menghubungi pengacara untuk membagi seluruh harta miliknya. Pria lanjut usia itu benar-benar bersiap untuk meninggalkan dunia ini.
“Ivan ... Ivon ... Papi serahkan seluruh perusahaan di tangan kalian. Papi harap, kalian bisa mengelolanya dengan baik. Ingat, perusahaan ini dibangun dengan tetes keringat kakek kalian,” ucap Andreas, saat dirinya sedang bersama kedua anaknya di ruang kerja Ivander.
Ivona dan Ivander dengan mantap menganggukkan kepalanya. Dengan segenap hati mereka berjanji akan saling membahu untuk mengelola perusahaan itu dengan baik.
“Papi jangan khawatir. Perusahaan akan baik-baik saja. Papi sudah mengajari kami banyak hal. Sekarang, kami akan menerapkan semuanya,” ucap Ivander.
“Iya Pi. Sekarang Papi bisa bersantai. Atau Papi mau berlibur ke luar negeri? Biar Ivon urus semuanya.”
Andreas menggelengkan kepalanya. Pria itu tersenyum lembut, menatap putri kesayangannya sudah tumbuh dengan baik. Gadis kecilnya itu, bahkan sudah memiliki dua orang anak. Andreas mengembangkan kedua tangannya, dan Ivona spontan masuk ke dalam pelukan sang ayahanda.
“Papi tidak ingin berlibur ke mana-mana. Papi hanya ingin berkumpul bersama anak-anak dan cucu-cucu Papi. Apa kalian keberatan, jika setiap akhir pekan, Papi menginap di rumah kalian secara bergantian?” tanya Andreas.
“Tentu saja tidak, Pi. Kami justru sangat senang. Atau, jika Papi mau, setiap akhir pekan, kita semua menginap di rumah besar?” tanya Ivander.
__ADS_1
“Atau digilir saja. Minggu pertama kita semua menginap di rumah besar, Minggu kedua menginap di rumah Mas Ivan, dan hari ketiga menginap di tempat Ivon. dan setiap akhir bulan, kita menginap di Villa atau pergi berlibur ke luar kota atau luar negeri. Jadi, setiap akhir pekan kita semua selalu berkumpul,” usul Ivona.
Andreas, Ivander dan Ivona pun telah menyepakati hal itu. Mereka akan menghabiskan waktu bersama di setiap akhir pekan.
“Yasudah, kalian lanjut bekerja. Papi mau menemui seseorang lebih dulu,” ungkap Andreas.
“Bertemu siapa, Pi?” tanya Ivona.
Andreas tak menjawab. Pria itu hanya menghadirkan sebuah senyuman untuk kedua anaknya. Dengan didampingi oleh asisten pribadinya, Andreas melangkahkan kakinya menuju lobby kantor dan menunggu mobil yang akan membawanya ke tempat yang sering dia kunjungi akhir-akhir ini.
Tak ada yang tau jika belakangan, Andreas sering mengunjungi tempat itu. Hanya sopir dan asisten pribadinya saja yang mengetahui hal itu. Itupun Andreas selalu mewanti-wanti agar hal tersebut dirahasiakan dari keluarganya.
Dan, setelah menempuh satu jam perjalanan, Andreas akhirnya tiba sebuah taman pekuburan mewah yang berlokasi di daerah Karawang — Jawa Barat.
“Halo Sayang. Apa kabar?” sapa Andreas sembari mengusap nisan pada makam sang istri.
“Ternyata, kamu tidak merindukanku, ya? Kenapa kamu masih belum meminta Tuhan untuk mencabut nyawaku. Aku sudah sangat merindukanmu,” lirih Andreas.
“Tugasku sudah benar-benar selesai. Anak-anak kita sudah bahagia dengan keluarga mereka masing-masing. Seluruh harta kekayaan kita juga sudah aku bagi-bagikan untuk Ivan dan Ivon. Tidak ada lagi yang harus aku urus di dunia ini. Bantu aku, Sayang. Bantu aku katakan pada Tuhan untuk mencabut nyawaku. Aku sudah begitu merindukanmu.
“Selama ini, aku kuat bertahan karena harus mengurus anak-anak kita. Dan sekarang, sudah tidak ada lagi yang harus aku urus. Apakah aku belum boleh untuk bertemu denganmu. Aku sangat-sangat merindukanmu, Sayang.”
__ADS_1
Pria lanjut usia itu terus mengobrol dengan batu nisan sang istri. Ucapan yang terlontar dari bibir Andreas pun selalu sama setiap harinya. Dia begitu merindukan kekasih hatinya itu. Dia sangat ingin bertemu dengan wanita yang begitu dipujanya itu.
Andreas ingin segera bertemu sang pujaan hati. Dirinya ingin agar Yang Maha Kuasa, mencabut nyawanya secepat mungkin.
Petang itu, Andreas berjalan kaki menyusui taman pemakaman mewah itu. Entah apa alasan Andreas menyusuri taman itu dengan berjalan kaki. Padahal dibutuhkan waktu dua puluh menit agar dia bisa menghampiri mobil mewahnya yang berada di halaman parkir.
“Pak ... Ayo naik ke mobil,” ucap Jody, yang sudah bertahun-tahun menjadi asisten pribadi Andreas.
“Jangan ganggu saya, Jod. Saya ingin berjalan-jalan sendiri sampai ke tempat parkir,” ucap Andreas.
“Itu jauh sekali, Pak. Bapak bisa kelelahan nanti.”
“Saya memang sudah lelah di kehidupan ini, Jod. Siapa tau dengan berjalan kaki di makam ini, Saya bisa cepat-cepat beristirahat di sini.”
Jody terperanjat mendengar penuturan Andreas.
“Kamu jalan saja lebih dulu, atau pantau saya dari belakang. Jaga jarak tiga meter dari saya!” perintah Andreas. Jody pun terpaksa menuruti perintah Andreas. Pria itu mengikuti Andreas dengan jarak tiga meter di belakang pria lanjut usia itu.
Andreas sudah seperti ayah bagi Jody. Mereka bertemu saat Jody hendak bunuh diri karena tidak mampu membayar biaya kelahiran anaknya. Andreas yang hampir saja menabrak Jody, seketika memberikan pekerjaan pada pria itu. Dan kini, sudah lima belas tahun berlalu. Anak Jody sudah beranjak remaja. Pria itu memiliki hutang Budi yang teramat banyak pada Andreas. Mendengar ucapan Andreas yang telah lelah menjalani hidup, membuat Jody tanpa terasa meneteskan air mata. Pria lanjut usia itu memang kerap kali mengungkapkan kerinduannya pada sosok sang istri, sejak dia bertemu dengan Qeiza.
Andreas pernah bercerita, jika wajah dan sikap Qeiza benar-benar mengingatkan pria lanjut usia itu pada sang istri. Andreas juga begitu berharap jika wanita seperti Qeiza bisa mendampingi Ivander. Dan saat ini, semua yang diharapkan oleh Andreas sudah terpenuhi.
__ADS_1
“Pak Andre pasti merasa jika tugasnya sudah selesai,” lirih Jody. Tanpa terasa, pria yang sudah bekerja dengan Andreas selama lima belas tahun itu, meneteskan air mata. Mungkin Andreas merasa tugasnya sudah selesai. Tapi, orang-orang di sekelilingnya pasti belum siap untuk ditinggalkan oleh pria itu.
Jody merogoh saku dan mengambil ponselnya. Pria itu terlihat menghubungi seseorang.