
Malam ini Ivander benar-benar terperangah dengan aksi Qeiza. Wanita yang biasa dalam kungkungannya itu, bertingkah tak biasa. Qeiza menelusuri tubuhnya, dari atas hingga ke bawah. Ivander hanya bisa membeku menyaksikan gerakan demi gerakan yang dibuat wanita itu pada tubuhnya. Terlebih perbuatan Qeiza pada bagian bawah tubuhnya.
Istri keduanya itu memang masih amatir. Ivander berulang kali merasa ngilu di sana, karena gigi Qeiza sesekali ikut mengelus miliknya di bawah sana. Walau belum mahir dan masih terlihat malu-malu, perlakuan Qeiza tetap membuat dirinya melayang.
Ivander bahkan semakin gemas dengan aksi yang dipertontonkan oleh wanita itu. Terlebih saat Qeiza mulai naik dan meliuk-liuk di atas tubuhnya. Apalagi saat itu Qeiza tak mau menatapnya, wanita itu menikmati gerakannya sembari melirik Ivander malu-malu. Ivander benar-benar begitu ingin menerkam istrinya itu.
Qeiza memang tak seperti Evelyn. Evelyn terlihat sudah begitu lihai saat aksi pertamanya. Wanita itu seperti sudah terbiasa, bahkan saat mereka melakukan penyatuan pertama kali.
Kali ini, Ivander benar-benar menahan hasratnya. Walau dia begitu gemas dan ingin menerkam Qeiza secepatnya, pria itu tak mau gegabah. Ivander membiarkan Qeiza menikmatinya.
Setelah tubuh Qeiza menegang dan jatuh di atas dadanya, barulah Ivander membawa wanita itu ke bawah kungkungannya, dan menghujam Qeiza bertubi-tubi hingga membuat mulut wanita itu tak berhenti mengerang.
Kewanitaan Qeiza meledak berkali-kali. Tubuhnya hampir remuk dihantam keperkasaan Ivander yang begitu brutal mengobok-oboknya.
“Kamu belajar dari mana yang seperti tadi?” tanya Ivander, sesaat setelah sepasang suami istri itu melakukan penyatuan yang penuh gelora.
“Mas tidak suka ya? Maaf ya Mas, itu pertama kalinya aku melakukan hal seperti itu.”
“Iya Mas tau. Mas tau kalau itu pertama kali kamu melakukan hal seperti itu. Punya Mas bolak-balik ngilu karena terkena gigi kamu,” bisik Ivander. Pria itu tersenyum kecil saat kembali mengingat Qeiza memanjakan dirinya di bawah sana.
“Iya, Mas, aku tau. Aku memang tidak jago seperti Mba Ev. Mas pasti kecewa, kan?” lirih Qeiza.
Wanita itu bahkan hampir menangis saat mengatakannya. Padahal dia sudah berusaha untuk menyenangkan sang suami. Namun, pria itu tampaknya tidak puas dengan pelayanan yang diberikannya tadi. Padahal Qeiza sudah bermenit-menit mengulum milik sang suami, tapi pria itu tak kunjung mencapai puncaknya. Tanpa diucapkan oleh Ivander, Qeiza pun sudah bisa tau jika sang suami tak puas dengan pelayanannya. Dan mendengar secara langsung rasa tak puas itu dari bibir Ivander, tentu saja membuat Qeiza semakin kecewa.
“Jangan sedih dong, Sayang. Namanya juga baru pertama kali. Nanti juga semakin lama semakin jago. Asal kamu rajin berlatih saja. Tapi ingat, latihannya harus dengan Mas!”
Qeiza hanya diam. Wanita itu tak menggubris ucapan sang suami. Dirinya masih diliputi oleh rasa kecewa walau sebenarnya Ivander tak memersalahkan keamatirannya.
“Qei, walau kamu tidak melakukan hal seperti itu, aku sudah sangat tergila-gila dengan kamu, dengan tubuhmu, dengan keseluruhan yang ada di diri kamu.”
__ADS_1
“Tapi, Mba Ev pasti sangat mahir kan, melakukan hal itu. Katanya, Mas sampai minta dua kali dilayani seperti itu dengan Mba Ev!”
Ivander mengumpat dalam hati. Evelyn benar-benar menebar racunnya pada Qeiza.
“Qei, jujur, dulu Mas sangat menyukai sewaktu Ev melayani Mas seperti itu. Tapi, itu dulu, saat Mas masih jadi pria bodoh yang mengabdi padanya. Sejak rasa itu hilang, Mas bahkan tak berhasrat lagi padanya.”
Qeiza menegakkan kepalanya. Wanita itu menatap tak percaya pada ucapan sang suami. Tak berhasrat katanya? Tak berhasrat tapi mencapai puncak sampai dua kali!
“Saat kamu melakukannya tadi, kamu terlihat sangat amatir. Berulangkali Mas merasa ngilu. Tapi, dulu, sewaktu baru menikah dengan Evelyn, dia sudah sangat mahir. Mungkin, dia sudah terbiasa melakukan hal itu dengan orang lain, sebelum kami menikah.”
Qeiza terperanjat mendengar penuturan sang suami. Dahinya berkerut, matanya menatap tajam pada Ivander. Wanita itu terlihat tak percaya.
“Aku jujur, Sayang. Aku pun baru menyadarinya saat melihat kamu di bawah sana, tadi. Dulu, aku mana terpikirkan, mengapa dia bisa begitu mahir melakukan hal itu. Dan sekarang, aku rasa, Evelyn sudah berulangkali mengkhianati pernikahan kami.”
“Jangan berprasangka, Mas,” ucap Qeiza yang kini sudah kembali merebahkan kepalanya pada lengan Ivander.
“Semoga ini yang terbaik untuk kita semua ya, Mas,” lirih Qeiza.
Malam itu, Qeiza terlelap dalam dekapan sang suami. Sementara Ivander, pria itu terus menyesali kebodohannya selama sepuluh tahun belakangan. Betapa dia dengan begitu bodohnya selalu memercayai Evelyn. Betapa dia merasa jadi anak yang begitu tak berbakti karena terus melawan setiap perkataan Andreas karena selalu membela wanita yang dulu sangat dicintainya.
Pukul dua dini hari saat Ivander mendapat laporan jika Evelyn baru tiba di kediamannya.
“Pergi ke mana kamu sedari tadi? Apa kamu bersenang-senang dengan pria itu sejak siang tadi? Jika pria itu adalah teman ranjangmu, berani-beraninya kamu menuding Qeiza yang berselingkuh dengan pria itu!”
Sejak saat itu, Ivander memeriksa laporan pengeluaran kartu kredit Evelyn. Selama sepuluh tahun, inilah kali pertama Ivander melakukannya.
Beruntung laporan kartu kredit Evelyn selalu tertaut pada surat elektronik miliknya, sehingga dengan mudahnya Ivander mengakses laporan itu.
***
__ADS_1
Siang itu, Evelyn mendapatkan kabar, jika Qeiza tak tampak di kantor, sehari setelah tragedi di restoran mewah itu. Salah satu sudut bibir Evelyn tertarik ke atas. Wanita itu semakin yakin, jika Ivander sudah begitu kecewa dengan Qeiza.
“Ini aku bawakan kamu makan siang, Hon. Ini menu dari restoran favorite kamu itu loh,” ucap Evelyn, begitu wanita itu berada di ruang kerja sang suami. Pria itu seketika kembali meletakkan ponsel yang baru dia gapai. Padahal dirinya hendak menghubungi Qeiza, namun urung dilakukan karena kehadiran Evelyn di sana.
“Harusnya kamu tak perlu repot-repot. Aku lagi tak berselera makan.”
Evelyn tersenyum, “aku tau kalau kamu sedang ada masalah dengan Qei. Tapi, kamu harus tetap makan, Hon. Aku tidak mau kalau kamu sakit karena wanita tak tau diri itu!”
Ivander hampir terkekeh mendengar ucapan Evelyn. Ivander merasa wanita yang sudah dinikahinya selama hampir sebelas tahun itu begitu lucu.
Bagaimana mungkin wanita itu bisa mengatakan jika Qeiza seorang wanita tak tau diri?
Bukankah harusnya dia mengatakan hal itu untuk dirinya sendiri?
“Bagaimana soal menyewa seorang wanita yang mau mengandung anak kita? Apa kamu sudah membicarakan hal itu dengan papi? Aku tau sih, pasti papi kamu yang kolot itu tidak setuju. Tapi, kamu bisa membela diri sekarang. Wanita yang papi kamu jodohkan itu bukan wanita baik. Memangnya dia mau, punya cucu dari seorang wanita peselingkuh?!”
Ivander memijat pelipisnya. Pria itu berusaha menahan amarahnya pada Evelyn.
“Kepalaku pusing, Ev. Mungkin, hari ini pun aku tidak bisa kembali ke rumah.”
“Tidak masalah. Kira-kira kamu menginap di rumah papi kamu, berapa lama?”
“Entahlah, mungkin dua atau tiga hari lagi,” jawab Ivander. Evelyn mendadak tersenyum sumringah. Wanita itu sudah membayangkan dirinya bisa bersenang-senang karena Ivander tak pulang ke rumah.
“Kamu jangan lupa sekalian bujuk papi agar kamu diperbolehkan bercerai, dan juga perihal sewa rahim itu.”
“Untuk bercerai itu sudah pasti. Aku sudah mantap untuk menceraikan istriku.”
Wajah Evelyn berbinar. Senyum wanita itu begitu sumringah saat mendengar Ivander sudah mantap untuk menceraikan Qeiza.
__ADS_1