
“Maaf ya, karena siang ini Mas tidak bisa menemanimu makan. Ada hal yang perlu mas diskusikan dengan Papi,” ucap Ivander, saat mereka sudah berada di kantor. Ivander menoleh pada wanita yang kini hanya menatapnya.
“Kamu mau menanyakan apa? Atau ada hal yang ingin kamu bicarakan?” tanya Ivander. Pria itu menghampiri Qeiza di meja kerjanya. Ivander hanya perlu berseluncur sedikit dengan kursinya hingga tiba di sisi Qeiza, karena meja kerja mereka memang bersebelahan.
“Apa Mas ingin membicarakan hal yang sama dengan Papi?”
“Hal yang sama?” tanya pria itu. Qeiza mengangguk.
“Mengenai perceraian,” jelas Qeiza. Ivander mengembuskan napas berat kemudian tersenyum pada wanita yang kini digilainya itu.
“Habisnya, kamu tidak mau memberikan saran atau komentar.”
“Bolehkah aku berbicara terus terang, Mas?”
Qeiza benar-benar ragu, apakah dia harus mengungkapkan isi hati yang sebenarnya pada sang suami? Apa pria itu tidak akan tersinggung, bahkan melabeli dia sebagai wanita egois jika dia mengungkapkan perasaannya?
“Qei ... Tentu saja Mas itu ingin mengetahui apa yang ada di hati dan pikiranmu. Ingin sekali, malah. Kamu terlalu tertutup, Qei. Kita ini kan sudah menikah. Berbagilah denganku.”
“Apa Mas tau, kalau aku sering digunjing di kantor ini?”
“Di gunjing?”
Qeiza mengangguk pelan, “iya Mas. Mereka melabeli aku sebagai pelakor,” ucap wanita itu seraya menunduk. Ivander segera membawa wanita itu dalam dekapannya. Pria itu menggiring Qeiza hingga ke sofa, agar sang istri merasa lebih nyaman berada dalam pelukannya.
“Apa kamu merasa sebagai pelakor? Apa kamu merasa kalau kamu merebutku dari Ev?”
Qeiza menggedikkan pundaknya, “entahlah Mas. Yang aku tau, jika Mas kemudian bercerai dengan Mba Ev, orang-orang pasti melabeli aku dengan sebutan yang lebih parah dari pelakor.”
Ivander menyugar rambutnya. Pria itu tak mengira, jika perbuatannya menikahi Qeiza, berdampak tak baik bagi kehidupan sosial wanita itu.
Haruskah dia mengumumkan pada dunia, bagaimana perlakuan Ev padanya hingga dia bisa berpaling pada kelembutan hati Qeiza?
Haruskah pria itu memberitahukan, jika Evelyn selalu acuh padanya, dan hanya menginginkan hartanya saja?
Kenapa semua orang hanya menyalahkan Qeiza. Padahal dirinya lah yang lebih dulu terpikat pada istri keduanya itu.
“Aku minta maaf, Qei. Aku minta maaf karena telah menyusahkan kamu.”
Qeiza bergeming. Wanita itu tak membalas permintaan maaf dari Ivander. Ini sepenuhnya bukan salah Ivander. Dirinya juga bersalah dalam hal ini. Dirinya begitu mudah terbuai akan sikap pria itu, padahal dia tau Ivander pria beristri, saat itu. Dijuluki sebagai pelakor, Qeiza hanya bisa menerima dengan lapang dada.
Toh, orang-orang juga tau, jika hubungannya dengan Evelyn berjalan baik.
Tapi, jika Ivander dan Evelyn berpisah, apa yang akan orang-orang pikirkan terhadap dirinya?
__ADS_1
Mereka pasti menuduh dirinya sudah menghasut Ivander.
“Evelyn memang begitu pintar memainkan situasi. Aku akan memikirkan jalan terbaik untuk kita. Kamu, aku dan dia. Jangan khawatir ya.”
Qeiza hanya mengangguk-anggukkan kepalanya dalam dekapan sang suami. Wanita itu memang berharap menjadi satu-satunya istri seorang Ivander Bratajaya. Tapi apa itu mungkin?
Tadi malam, Ivander sudah mengungkapkan isi hatinya. Pria itu tak lagi nyaman berada di sisi Evelyn. Malam itu, Ivander membuatnya melayang. Ivander mengatakan, jika dirinya adalah satu-satunya wanita yang kini bertahta di hati pria itu.
Andai Ivander seutuhnya menjadi miliknya, akan kah Evelyn ikhlas menerimanya? Akan kah wanita itu mau jika dicerai oleh Ivander? Mereka sudah mengarungi bahtera selama hampir sebelas tahun. Orang-orang pasti akan memberikan label yang jauh lebih buruk dari seorang pelakor, pada dirinya. Sanggupkah dia menerima cercaan itu sepanjang hidupnya?
Qeiza berharap, apa yang akan diputuskan oleh Ivander, benar-benar berdampak baik untuk mereka bertiga.
***
Qeiza masih betah dalam dekapan sang suami, saat ponsel pria itu berdering.
“Coba dilihat dulu, Mas. Siapa tau papi yang menghubungi,” ucap Qeiza, saat Ivander tak mau melepaskan dekapannya.
Dengan malas, Ivander menyambar ponselnya yang ada di atas meja kerja. Pria itu mengembuskan napas kasar saat menatap nama yang tertera pada layar ponselnya.
“Kenapa?” ketus pria itu.
“Kamu di mana?”
“Di kantor,” jawab Ivander malas.
“Kita sudah hampir sebelas tahun menikah. Harusnya, kamu sudah hapal jadwal kerjaku! Kamu itu terlalu sibuk dengan dirimu sendiri hingga selalu mengabaikanku!”
Melihat Ivander berbicara melalui panggilan telepon dengan suara yang sedikit berteriak, membuat Qeiza ingin menghampiri Ivander, lalu mengusap-usap lengan pria itu, agar Ivander bisa meredam rasa kesalnya.
Tapi, Qeiza tak melakukan hal itu. Tanpa diberitahu oleh Ivander, Qeiza yakin jika yang menghubungi pria itu adalah Evelyn. Qeiza tak mau ikut campur dalam permasalahan sang suami dengan istri pertamanya.
“Kamu itu pergi terlalu cepat, Van. Kamu kan pemilik perusahaan, harusnya kamu santai sedikit.”
“Ini perusahaan Papiku, jika kamu lupa. Aku hanya karyawan yang digajinya setiap bulan!” ketus Ivander.
“Yasudah, kamu jangan sewot begitu. Karena kita tidak bisa sarapan bersama, nanti siang aku ke kantor ya, kita makan berdua. Kali ini hanya berdua. Sudah lama kita tidak makan berduaan saja,” rengek Evelyn.
“Hari ini aku ada janji makan siang bersama Papi.”
“Kalau begitu, kamu jemput aku sebelum bertemu papi. Makan siang bersama papi juga tidak masalah.”
Ivander mengembuskan napas kasar. Pria itu sudah bosan meladeni ucapan Evelyn.
__ADS_1
“Kamu tau kan, kalau papi itu tak pernah menyukai kamu? Qei saja tidak ikut bergabung bersama kami.”
Qeiza tidak diajak? Padahal Qeiza adalah menantu yang sangat diharapkan oleh pria lanjut usia itu. Evelyn tak percaya dengan ucapan sang suami. Wanita itu memutuskan jika nanti siang, dirinya akan pergi ke perusahaan untuk membuktikan kecurigaannya.
“Kalau begitu, kamu jangan lupa pulang ke sini ya, nanti sore.”
Ivander tak langsung menjawab ucapan Evelyn. Pria itu enggan kembali ke kediaman Evelyn. Belum tentu nanti malam dirinya bisa kabur ke kediaman Qeiza seperti malam tadi.
“Hon, kamu dengar kan? Pulang kerja nanti, kamu harus kembali ke sini, ya. Kamu harus bersamaku Minggu ini!” titah Evelyn.
Ivander hanya menjawabnya dengan berdehem. Setelah memberi kecupan jarak jauh, Evelyn memutuskan panggilan telepon itu.
Wajah Ivander seketika kusut. Pria itu kembali melangkahkan kaki, menghampiri Qeiza yang masih duduk di sofa.
Ivander menyandarkan kepalanya pada pundak Qeiza. Pria itu kembali meminta maaf. Siang ini, dirinya tak bisa menemani Qeiza makan siang. Malam nanti pun, dirinya tak bisa memeluk wanita itu hingga tertidur.
“Memang sudah seharusnya Mas menginap di sana. Mba Ev hanya meminta waktu satu Minggu, Mas. Padahal aku sudah menahan Mas selama satu bulan. Mungkin, untuk ke depannya, Mas bisa bergantian menginap setiap satu minggu.”
Ivander kembali menghela napas berat.
***
Dua jam sebelum makan siang, Ivander bersama Ivona mengunjungi kediaman ayah mereka.
Anggara Pratama— suami Ivona— sudah ada di sana beberapa menit sebelum Ivander dan Ivona tiba
“Kamu mau membicarakan apa, Van?”
“Ada yang janggal dengan sikap Ev belakangan ini,” jawab Ivander.
“Belakangan ini? Memangnya belakangan ini kamu selalu bertemu dengan wanita kurang ajar itu?!”
Ivander menggelengkan kepalanya. Pria itu menyeritakan perihal hasrat Evelyn yang menjadi-jadi, sejak mereka berlibur ke Paris. Ivander juga menyeritakan perihal Evelyn yang memuaskan hasrat dirinya sendiri sembari menatap layar ponsel.
“Sejak dulu sudah Papi katakan. Ada yang tidak beres di otak ****** itu!” ucap Andreas.
“Ga, coba kamu bantu selidiki si Evelyn. Minta bantuan dengan teman kamu yang waktu itu. Pantau dia setiap keluar rumah. Ikuti ke mana pun dia pergi. Pastikan detektif itu memberikan update setiap satu jam.”
“Beres Pi. Dan sebenarnya ada yang aku tau perihal Evelyn.”
Semua mata kini memandang pada Anggara. Termasuk Ivona. Wanita itu juga tidak tau apa yang ingin dilaporkan sang suami.
“Aku sudah mengetahui hal ini sejak dua tahun lalu. Namun, aku ragu untuk menyampaikannya karena cinta Mas Ivan begitu besar pada Evelyn sebelumnya. Aku takut Mas Ivan tak percaya, lalu menuduhku berbohong.”
__ADS_1
Anggara terlihat mengirimkan sebuah foto yang membuat semua orang yang kini tengah menatap ponsel, membelalakkan mata mereka.
“Kenapa tidak kamu katakan dari dulu, Beb. Ini bisa jadi alasan Mas Ivan menceraikan wanita tak tau diri itu!”