
Setelah hampir empat jam menunggu, dokter pun keluar dari ruang operasi. Sudah ada Melati di sana. Wanita lanjut usia itu dihubungi Ivander beberapa menit setelah Qeiza masuk ruang operasi. Tadinya, kehadiran melati di sana untuk membawa Qiana pulang. Tapi, gadis kecil itu tak mau meninggalkan ibu dan calon adiknya.
“Bagaimana kondisi istri saya, Dok?”
“Ibu dan anaknya selamat dan dalam kondisi baik. Bapak bisa melihat bayi Bapak di kamar bayi, beberapa saat lagi. Begitu pun dengan Bu Qeiza. Kondisinya baik. Hanya saja, Bu Qeiza masih belum sadarkan diri. Tapi semua tanda vitalnya berfungsi baik. Mungkin karena pengaruh bius yang disuntikkan saat Bu Qeiza dalam keadaan pingsan. Bu Qeiza masih berada di ruang ICU karena masih membutuhkan pengamatan kesehatan. Bapak juga sudah bisa melihatnya dari luar.”
“Di mana ruang ICU nya Dok?”
Seorang perawat pun menunjukkan jalan kepada Ivander. Tadinya, perawat itu ingin menunjukkan kepada Ivander di mana letak kamar bayi. Tapi, sepertinya pria itu lebih mengkhawatirkan kondisi sang istri.
Air mata Ivander lolos begitu saja saat menyaksikan tubuh Qeiza terbujur dengan banyak alat medis menempel di tubuhnya.
“Maafkan aku, Qei. Maafkan aku,” lirih Ivander.
Sementara Qiana sudah merengek saat menyaksikan sang ibu dari balik kaca luar ruangan. “Mama,” lirih Qiana.
Ivander membawa sang anak sambung ke dalam dekapannya. Seolah mereka saling menguatkan lewat pelukan itu. Namun, di tengah suasana haru itu, ponsel Ivander berdering. Ternyata itu dari pihak rumah sakit. Mereka menghubungi Ivander karena ingin mengabarkan jika Evelyn telah siuman. Sebagai orang yang berperan menjadi penanggung jawab atas kondisi wanita itu, mereka ingin Ivander menandatangani sebuah berkas, sekaligus membicarakan perihal kondisi kesehatan Evelyn.
“Maaf, Bu. Saya bukan siapa-siapanya. Saya juga sedang sibuk mengurusi istri saya yang baru melahirkan dan tak sadarkan diri. Jadi, silakan bertanya pada pasien mengenai orang yang bisa bertanggung jawab padanya,” ketus Ivander.
Ivander langsung memutuskan panggilan telepon itu begitu saja. Dirinya tak mau lagi diganggu perihal urusan Evelyn. Dia tak mau kembali melakukan kesalahan yang sama. Dia tak mau mengurusi mantan istrinya itu dan mengabaikan istri sah nya seperti yang dia lakukan tadi.
Namun, pihak rumah sakit kembali menghubunginya.
“Berapa kali saya katakan, saya tidak ada hubungan apapun dengan pasien itu!”
“Tapi, kata pasien, Bapak adalah mantan suaminya.”
__ADS_1
“Iya, benar. Saya adalah mantan suaminya. Mantan. Jadi, saya sudah tidak ada hubungannya lagi dengan wanita itu!”
“Justru itu, Pak. Justru karena Bapak adalah mantan suaminya. Kamu juga perlu mengecek kondisi kesehatan Bapak. Ini ada hubungannya dengan kondisi kesehatan pasien dan juga Bapak. Pasien mengidap suatu penyakit yang kemungkinan ditularkan ke Bapak. Apa lagi kami mendapatkan info, jika Bapak dan pasien baru berpisah beberapa bulan ini.”
Kondisi kesehatan? Penyakit menular? Penyakit apa yang diderita Evelyn dan kemungkinan menular padanya?
Ivander terus bertanya-tanya. Pria itu bimbang. Haruskah dia kembali meninggalkan Qeiza di sana? Bagaimana jika Qeiza sadar saat dirinya tak ada di sana?
Ivander sudah memutuskan. Dirinya tak akan lagi meninggalkan Qeiza hanya demi menolong Evelyn. Walau berulangkali pihak rumah sakit menghubunginya, Ivander tetap pada pendiriannya. Pria itu mengatakan posisi dirinya. Jika para petugas kesehatan itu mau, mereka bisa bertemu dengan Ivander di sana.
Ivander bahkan belum sempat menengok keadaan bayinya. Tapi, sekarang dirinya harus mendengarkan keterangan tentang kondisi kesehatan Evelyn.
“Bapak silakan melihat hasil pemeriksaan laboratorium Bu Evelyn. Setelah itu, Bapak bisa ikut kami untuk melakukan pemeriksaan juga.”
Ivander pun menuruti ucapan dokter itu. Dia membaca kesimpulan hasil pemeriksaan lengkap milih Evelyn. Wanita itu positif terkena HIV AIDS.
“Beberapa bulan sebelum bercerai, saya sudah memeriksa kesehatan saya secara lengkap dan hasilnya negatif, Dok. Saya juga sudah tak lagi melakukan hubungan suami istri beberapa bulan sebelum kami bercerai.”
“Untuk hasil yang lebih akurat. Apakah Bapak bersedia mengikuti tes kesehatan lengkap sekali lagi?”
Terpaksa Ivander menganggukkan kepalanya. Walau merasa berat karena harus kembali meninggalkan Qeiza, mau tak mau Ivander mengikuti langkah kaki sang dokter.
Hampir satu jam Ivander melakukan pemeriksaan. Tentu hasilnya tak langsung keluar begitu saja. Ivander bahkan menyempatkan diri untuk bertemu Evelyn. Melalui dokter, Evelyn mengiba agar Ivander mau menjenguknya. Wanita itu ingin bertemu Ivander. Walau mungkin ini adalah untuk terakhir kalinya.
“Hon,” lirih Evelyn, saat melihat Ivander menjenguknya.
“Terima kasih kamu telah mau datang menjengukku, Hon."
__ADS_1
“Tolong berhenti memanggilku dengan sebutan itu. Kita sudah bukan lagi suami istri. Dan aku rasa hubungan kita tidak baik-baik saja sehingga kamu merasa akrab denganku.”
Evelyn menganggukkan kepalanya. Ingin rasanya dia mendekap erat Ivander. Dia sangat merindukan pria itu. Bayangan Ivander yang menggendongnya sebelum dia tak sadarkan diri tadi, begitu membekas di benak Evelyn. Wanita itu tak mau menghapus kenangan itu. Mungkin, itu adalah dekapan terakhir Ivander untuknya.
“Maafkan aku, Van. Mungkin kamu bisa saja tertular penyakitku. Aku terkena HIV AIDS, Van. Maafkan aku jika kamu tertular. Aku berharap hasil pemeriksaanmu baik. Aku tidak ingin kamu tertular. Kamu orang baik, Van. Kamu tidak boleh terkena penyakit hina itu,” lirih Evelyn.
Ivander menghela napas kasar. Masih ada sedikit rasa iba di hati pria itu, saat menyaksikan wanita yang dulu pernah dicintainya, wanita yang pernah bertahun-tahun mendampingi hidupnya, kini terbaring lemah karena beberapa penyakit menggerogoti tubuhnya. Tidak hanya HIV AIDS, Evelyn juga terkena Hepatitis B, Hepatitis C dan juga kanker sarkoma kaposi.
“Aku sudah melupakan masa lalu kita yang kelam itu, Ev. Aku tidak ingin mengingat-ingatnya lagi. Sejak aku tau jika kamu sering berhubungan dengan banyak pria. Aku sudah melakukan pemeriksaan kesehatan. Bahkan aku Beberapa kali melakukan pemeriksaan kesehatan dan hasilnya negatif. Aku bahkan juga mengecek kondisi kesehatanku di Singapura. Hasilnya sama. Aku tak terjangkit virus hina itu.”
Sebuah senyuman tulis tercetak di wajah Evelyn. Wanita itu berucap syukur. Mungkin ini adalah pertama kalinya bagi Evelyn berucap syukur. Wanita itu memang tak pernah memiliki rasa syukur di hatinya, sejak dulu. Tapi, kali ini dia benar-benar bersyukur karena tak menulari Ivander.
Mungkin, penyakitnya ini baru terinfeksi ke tubuhnya setahun belakangan ini. Siapa pria yang terjangkit virus yang tak ada obatnya ini? Apa Alex? Atau pria-pria yang bersama dengannya di Bali, sembilan bulan lalu?
“Aku permisi dulu. Aku harap kita tidak akan pernah bertemu lagi. Karena menolongmu tadi, Qeiza aku abaikan dan dia mengalami pendarahan. Sekarang istriku sedang tak sadarkan diri. Aku pun semakin bertambah benci kepadamu, Ev. Kenapa kamu selalu hadir di hidupku dan mengacaukan semuanya?”
“Maafkan aku, Van. Aku benar-benar minta maaf.”
“Sudahlah. Aku tidak mau berurusan denganmu lagi. Hubungi orang yang bisa mengurusimu. Jangan pikirkan biaya rumah sakit. Aku sudah menanggungnya. Ini juga ada uang untuk peganganmu. Dengan tulus aku mengharapkan kesehatanmu membaik, Ev. Dan semoga kita tidak akan pernah bertemu lagi.”
Diiringi tangis Evelyn yang mendadak pecah karena mendengar penuturan Ivander, pria itu melangkah menjauh. Dengan sedikit berlari, Ivander kembali ke ruangan tempat di mana istrinya berada.
Ivander tersenyum, saat mengetahui Qeiza telah sadarkan diri. Tapi, sepertinya wanita itu menatap kesal padanya
***
“Urusi saja mantan istrimu, Mas,” lirih Qeiza seraya menatap Ivander dengan geram.
__ADS_1