Kata Mereka, Aku Pelakor

Kata Mereka, Aku Pelakor
Kekesalan Evelyn


__ADS_3

Evelyn benar-benar berang. Bagaimana mungkin dirinya tak diberi tahu tentang pernikahan suaminya dengan Qeiza?! Harusnya dia hadir di sana. Harusnya saat itu dirinya juga ikut duduk bersanding bersama Ivander dan Qeiza. Agar orang-orang di sekeliling Qeiza tahu, jika wanita itu telah merebut suaminya. Agar orang-orang di sekitar Qeiza menaruh empati padanya.


Agar orang-orang di sekitar Qeiza menyalahkan wanita itu dan simpati padanya karena rela berbagi suami. Padahal dirinya sudah mempersiapkan hal itu.


Evelyn ingin orang-orang berkomentar jika Ivander adalah pria bodoh. Pria bodoh yang rela menduakan istri secantik dirinya demi Qeiza yang tak ada apa-apanya.


Sekarang, semua rencananya telah gagal. Dirinya gagal memermalukan Qeiza. Ini semua pasti rencana sang mertua, pikirnya. Ivander tak mungkin mengabaikannya. Tiga hari yang lalu, Ivander terlihat menghubungi dirinya. Pasti pria itu ingin memberitahukan perihal rencana ayahnya.


“Dasar orang tua brengsek! Kenapa tidak mati saja sih!” teriak Evelyn.


“Aku harus menghubungi Ivan. Aku harus memintanya pulang. Biar janda itu tau, siapa yang dicintai Ivan!”


Malam itu, Evelyn pun berusaha untuk menghubungi Ivander. Namun, berulangkali Evelyn menghubungi sang suami, berulangkali juga dirinya harus menelan rasa kecewa.


***


Sementara itu, sepasang pengantin baru tengah berada di sebuah rumah mewah. Rumah mewah yang sengaja dibeli oleh Andreas, sebagai hadiah untuk pernikahan Qeiza dan Ivander. Lebih tepatnya, rumah itu dibelikan Andreas untuk Qeiza. Karena nama Qeiza Hikaru lah yang tertera pada sertifikat rumah itu.


“Welcome home, Qei,” ucap Ivander, begitu mereka berdua memasuki rumah mewah itu. Qeiza menatap pria yang baru beberapa jam menjadi suaminya itu.


Welcome home?


Apa mereka akan tinggal di sini setelah menikah? Di rumah yang sangat mewah ini?


“Ini rumah siapa, Mas?”


“Rumah kamu dan Qiana. Rumah yang dibelikan Papi untuk kalian,” jawab Ivander santai. Pria itu menyeret sebuah koper kecil, sebelum akhirnya kembali mengunci pintu rumah.


“Pak Andreas memang meminta aku dan ibu berkemas, agar kami pindah rumah setelah pernikahan kita. Tapi, aku tidak menyangka kalau rumahnya akan sebesar ini,” gumam Qeiza. Wanita itu masih begitu takjub saat menyaksikan rumah mewah yang akan ditinggalinya nanti.

__ADS_1


“Tiga hari ini, pekerja masih Mas liburkan. Paling hanya ada security yang menjaga di depan. Qiana dan Ibu, besok akan diajak berlibur dulu oleh Ivona. Katanya, mereka mau ke Taman Safari dan menginap tiga malam di Puncak,” ucap Ivander. Pria itu menggiring sang istri hingga ke kamar yang akan mereka tempati.


Taburan kelopak mawar menghiasi sekitar ranjang. Sepasang angsa putih yang terbuat dari handuk, saling menautkan paruhnya di atas ranjang. Entah mengapa, melihat hiasan kamar itu membuat wajah Qeiza bersemu. Dirinya baru tersadar akan malam indah ini. Ini adalah malam pengantinnya bersama Ivander. Apalagi tiba-tiba Ivander memeluknya dari belakang.


“Tiga hari ini, Mas ingin bereksplorasi,” bisiknya.


“Eks - eksplorasi?” tanya Qeiza. Ivander yang tengah menenggelamkan wajahnya pada lekuk leher Qeiza mengangguk.


“Hmm ... Mengeksplorasi tubuhmu,” lirih Ivander. Seketika tubuh Qeiza meremang. Jawaban pria itu terlalu m*sum menurut Qeiza. Bulu-bulu halus di tubuh Qeiza serempak berdiri mendengar ucapan Ivander yang kembali sibuk melanjutkan pekerjaannya pada lekuk leher wanita itu.


“Mas mandi dulu ya. Kamu bisa bereskan pakaian kamu ke lemari. Atau ... Kamu mau mandi bersama?”


Ivander yang tadinya hendak melepaskan Qeiza dari dekapannya, kembali merangkul erat pinggang istri keduanya itu saat bayangan mandi bersama, terlintas di benaknya.


“Mas lebih dulu saja yang mandi. Aku, aku membereskan pakaian dulu,” ucap Qeiza gugup.


“A-aku mandi sendiri saja Mas,” jawab Qeiza.


“Yakin?”


Mata Qeiza sedikit membulat, saat bagian tubuh Ivander menyentuh bokongnya. Dapat dirasakannya bagian tubuh Ivander sudah mengetat di bawah sana.


Qeiza mengangguk pelan. Ivander beringsut setelah mengecup puncak kepala wanita itu sebelumnya.


“Yasudah Mas mandi dulu ya,” ucap pria itu. Qeiza menghela napas lega. Entah mengapa rasanya dia belum siap jika mereka harus mandi bersama. Qeiza masih merasa malu jika harus membuka seluruh pakaiannya di hadapan pria yang baru saja menjadi suaminya itu.


Qeiza pun merapikan pakaiannya. Wanita itu hanya membawa sedikit pakaian sesuai saran Ivona. Saat dirinya membuka pintu lemari, Qeiza terperangah. Pantas saja sahabatnya itu menyuruhnya membawa sedikit pakaian, karena dalam lemari pakaian yang baru itu, sudah tersedia banyak pakaian. Qeiza pun merapikan pakaiannya yang ada di koper.


Qeiza baru selesai merapikan pakaian, tepat di saat Ivander keluar dari kamar mandi. “Masih belum selesai, Qei?”

__ADS_1


“Sudah kok, Mas. Ini baru selesai,” jawab Qeiza. Seketika wajah Qeiza memanas saat menyaksikan Ivander keluar dari kamar mandi hanya menggunakan celana super pendek. Rambut pria itu yang masih terlihat basah, dada Ivander yang bidang, otot-otot lengan pria itu yang sangat maskulin, ditambah perut pria itu yang seperti roti sobek, membuat degup jantung Qeiza tak beraturan.


Melihat tingkah Qeiza, Ivander tersenyum dan gegas menghampiri wanita itu. Rasanya gemas sekali melihat ekspresi istrinya itu.


“Sekarang giliran kamu yang mandi,” ucap Ivander, yang sudah kembali memeluk wanita itu dari belakang. Qeiza pun menganggukkan kepalanya. Dengan yang tertunduk malu-malu itu berusaha melepaskan diri dari dekapan Ivander. Rasanya Qeiza hampir tak bisa bernapas dipeluk oleh Ivander yang setengah bug*l itu.


Saat hendak melangkah menuju kamar mandi, mata Qeiza terpaku pada sebuah kotak yang berada di atas ranjang.


“Itu kotak apa, Mas? Hadiah?”


Mata Ivander pun mengikuti arah mata Qeiza.


“Oh iya ... Hampir saja lupa. Itu hadiah dari Ivon buat kamu.”


Qeiza hanya mengangguk-anggukkan kepalanya sembari mengucapkan huruf O.


“Katanya, harus kamu buka begitu tiba di kamar,” ucap Ivander.


Harus di buka begitu tiba?


“Kamu buka dulu saja sebelum mandi.”


Mengikuti ucapan sang suami, Qeiza pun membuka kotak hadiah itu. Secarik kain berwarna pastel. Dengan santai Qeiza mengeluarkan pakaian itu. Dia pikir ini hanya sebuah pakaian tidur yang dihadiahkan oleh Ivona. Kain itu sangat lembut, Qeiza ingin segera memakainya, sesuai pesan yang tertulis pada kartu yang berada di atas pakaian itu.


Namun, mata Qeiza terbelalak saat melihat ternyata pakaian itu sangat minim bahan. Mungkin, jika dipakai, gaun itu tidak bisa menutupi bokongnya dengan sempurna. Mata Qeiza semakin terbelalak, saat Ivander mengambil sesuatu dari dalam kotak itu. Sesuatu yang sengaja diletakkan di bawah gaun malam minim itu.


“Yang ini juga dipakai ya,” bisik Ivander yang sudah duduk di sampingnya. Qeiza mengambil jalinan tali yang kini dipegang oleh Ivander.


“Ayo, buruan mandi. Mas sudah tak sabar melihat kamu memakai hadiah dari Ivon itu.”

__ADS_1


__ADS_2