KEPEDIHAN

KEPEDIHAN
EPS-100


__ADS_3

"Ren, mana manantu mamah." mamah Lidya sudah sampai di rumah sakit dan langsung menuju tempat persalinan.


Ya, setelah sampai rumah sakit dan di priksa Dokter kandungan ternyata Monic mengalam rembes pada air ketubannya. Sedangkan kandungannya belum ada pembukaan


"Monic belum pembukaan mah, sedangkan air ketubannya keluar terus."


"terus bagaimana Ren keadaannya sekarang." mamah Lidya juga panik yang mendengar. Kebanyakan kalau air ketuban pecah dulu itu seccar. Pikirnya.


"bagaimana dok keadaan istri saya." Reno yang hendak menjawab perkataan mamahnya iya urungkan, ketika melihat dokter kandungan keluar dari ruangan sang istri.


"nyonya masih pembukaan satu tuan, dan nyonya tidak boleh turun dari tempat tidur. Takut air ketubannya habis. Kasian bayinya di salam."


"terus bagaimana jika ingin ke kamar mandi dok."


"biar nanti dipakaikan pempers sama suster di sini. Dan jika ingin buang air kecil cukup di pempers saja."


"baik, terima kasih dok."


"sama sama tuan, nanti saya akan kemari lagi. Jika ada sesuatu pencet saja tombolnya." Reno hanya mengangguk.


Reno berjalan masuk menemui sang istri yang sedang tertidur di brankar. Terlihat Monic baik baik saja di sana dan tersenyum padanya. Reno sedikit bernafas lega melihat istrinya tersenyum.


"sayang apa yang kamu rasakan, katakan padaku ya."


"aku tidak papa kak. Mamah di sini.?"


"tentu nak. Mamah kan mau melihat cucu mamah lahir. "


Monic hanya menanggapi dengan senyuman.


"kak, bagaiaman keadaan kakak.?" terlihat Fatih memasuki ruangan Monic dengan ke dua orang tuanya.


"dek, kakak gak papa. Tidak perlu cemas. Ini sudah biasa terjadi sama ibu hamil." kelakar Monic


Fatih hanya mendengus. Kakaknya itu selalu saja bercanda jika di tanya serius. "ya jelas kak sama ibu hamil. Mana ada bapak hamil. Kakak ini."


Semua orang yang ada di sana tertawa. Dan berbincang hangat mengenai calon cucu mereka.

__ADS_1


"awww kak sakit..." Reno langsung berjalan cepat mendengar rintihan sang istri, dia langsung menggenggam tangan istrinya, dan Monic mencengkram erat tangan Reno.


"tarik nafas sayang dan hebuskan." Monic terus melakukan apa yang di katakan sang suami.


"Monic tidak kuat kak. Cepat panggilkan dokternya." tanpa menunggu lama Reno segera bergegas memanggil dokter. Karna panik Reno tidak sadar jika bisa lewat call nurse di atas brankar.


tidak lama dokter pun masuk bersama Reno, untuk mengecek kondisi Monic. Semua keluarga Monic menunggu di luar dengan harap harap cemas.


"tarik nafas dalam bu." Monic pun menarik nafasnya dalam, lalu sang dokterpun mengecek pembukaannya sudah berapa. "apa ibu menahan buang air kecil. Karen kandung kemihnya besar bu."


"iya dok, saya takut kalau pipis nanti air ketubannya habis, dan saya tidak bisa pipis dalam posisi tiduran."


"boleh duduk, tapi tidak boleh turun ya bu. Cukup di atas tempat tidur. Bagi ibu hamil yang mengalami hal yang sama dengan ibu memang seperti ini."


"baik dok. Auwww dok mulai sakit lagi dok." Monic terlihat bercucuran keringat karena manahan sakit.


"bagus bu, memang ini yang di inginkan, biar pembukaannya cepat dan si kecil segera keluar."


Tidak lama Monic terlihat tenang kembali. Seperti tidak merasakan sakit. "sus tolong gantikan pempersnya karena gak nyaman, berat sekali sus."


"baik nyonya." kini Monic sudah di ganti pempers sama perawat yang berjaga.


"iya bu, pulang saja, istirahatlah, Monic di sini sama kak Reno gak papa." orang tua Monic pun pulang setelah memberi semangat untuk sang anak.


"kak aku juga ikut pulang ya kak, besok aku ke sini lagi."


"hati hati dek bawa Mobilnya." Fatih hanya mengangguk dan menyalami kedua orang tua Reno.


"mamah sama papah pulanglah, tidak perlu menunggu Monic di sini, ini sudah jam 11 malam mah." Monic juga meminta mertuanya untuk pulang. Kasian mereka sudah pada sepuh, tidak baik berlama lama di rumah sakit.


"benar gak papa sayang.?"


"tentu mah, kasian Raka di rumah tidak ada temannya."


"baiklah nak, kami akan pulang," mamah Lidya beranjak dari duduknya dan menghampiri sang menantu, "semoga cucu oma segera lahir ya sayang. Dengan keadaan sehat." mamah Lidya pun mencium kening Monic dan segera berlalu dari sana. "jaha menantu mamah."


"Monic juga istri Reno mah, kalau mamah lupa," Reno kesal karena sang mamah melototi dirinya dan menggeplak bahunya. Seakan akan dia akan mencelakai menantu kesayangannya.

__ADS_1


"tentu saja mamah ingat." sang mamah melengosi Reno, sedangkan papah Reno hanya menggeleng melihat kelakuan istri dan anaknya.


Ya setelah sekian tahun akhirnya kedua orang tua Reno mendapatkan kembali kehangatan sang putra yang sudah lama hilang.


Reno yang angkuh dan dingin kini kembali lagi seperti Reno yang ramaja, dimana selalu di isi kekocakan dan tawanya.


Kedua orang tua Reno bersyukur Reno di pertemukan kembali dengan Monic. Setidaknya sekarang sang putra tidak semena mena lagi.


"pah semoga anak kita akan selalu di limpahi kebahagiaan ya pah, dan bisa menjadi contoh yang baik buat anak anaknya kelak.


"amin amin mah. Kita doakan saja."


▪︎


"Kak ini rasanya sudah sangat sakit kak. Aku mau BAB, tolong panggilkan suster kak." Monic sudah sangat kesakitan. Dia mulai mengejak karena sakit,


"Huf, huf huf, kak, ah sakit."


"sabar sayang, jangan tutup mata ya sayang. Lihat kakak di sini, hem." Reno sungguh tidak tega melihat istrinya kesakitan seperti itu. Melihat wajah sang istri yang sangat merah, sudah di pastikan kalau itu sungguh sakit.


"sebentar bu jangan mengejak dulu. atur nafas dulu bu." Monic mulai mengatur nafasnya meskipun sakitnya semakin bertambah. "nah bagus bu bagus."


para suster sudah mulai memperbaiki posisi Monic dan mengangkat kakinya. "tarik nafas bu, ya bagus, mengejan bu."


"ahhhhhh, huf huf huf." Monic mulai mengejan sambil mencengkram kuat tangan sang suami yang ada di sisinya.


"ayo lagi bu, tarik nafasss, dan dorong bu..."


"ayo sayang, jangan tutup mata sayang. Buat buah hati kita. Semangat sayang."


"huf huf huf. Ahhhhhh." oek,,, oek,,, oek.


Tidak lama terdengar suara bayi yang menggema di seluruh ruangan itu. Reno yang melihat itu meneteskan air mata. meskipun dia sudah punya Raka, tapi ini pertama kalinya dia menemani sang istri lahiran. Sungguh bahkan kakinya seperti tidak sanggup berpijak. Dia merasa lemas seketika.


Melihat wajah sang istri ketika mengejan, sampai terlihat urat urat di wajahnya. Mempertaruhkan nyawa untuk sang putranya.


Tidak lama di susul bayi yang satunya, dan kini putra Reno dan Monic sudah berada di luar dan menggema mengeluarkan suara merdunya. ( oek... Oek...oek)

__ADS_1


"terima kasih sayang, terima kasih, kakak sangat mencintaimu" Reno langsung mencium bibir Monic sekilas tanda sangat bersyukur memiliki istrinya.


Reno tidak bisa membayangkan sesulit apa sang istri dulu, tanpa keluarga, kekurang biyaya, dan merawat sendiri sang putra, rasanya Reno ingin membunuh dirinya sendiri yang selalu meremehkan seorang wanita, ketika mengingatnya.


__ADS_2