KEPEDIHAN

KEPEDIHAN
EPS-58


__ADS_3

"Papah di sini juga?" Reno berjalan mendekati sang papah dan duduk di sebelahnya.


"Bagaimana Ren, papah sudah mendengar ceritanya dari mamah, apa ada yang ingin kamu jelaskan ke papah dan mamah?" Tuan Darmawan merasa anaknya sudah sangat keterlaluan. Bagaimana bisa anak kebanggaannya merusak nama baik kelaurga.


"Nanti saja di rumah pah."


"Obati dulu luka diwajahmu itu Ren, mumpung masih di sini." Timpal sang mamah. Lidya pun tidak mungkin marah terhadap keluarga Cindy meski membuat anak semata wayangnya babak belur, karena ini memang salahnya.


"Nanti saja mah," pandangannya masih menyorot Monic yang masih setia duduk di kursi dekat pembaringan pasien sambil mengelus tangan sang putra.


"Apa mamah sama papah tidak ingin pulang, ini sudah siang mah,pah, biarkan Reno yang menjaga Raka, nanti kalau Raka sadar akan Reno kabari." Reno berharap kedua orang tunya pulang, karena ingin berduaan dengan Monic.


"Iya mamah sama papah akan pulang dulu, nanti sore kami akan kemari lagi," Lidya pun beranjak dari sofa untuk berjalan menuju Monic. Monic yang sadar itu segera berdiri. "Mamah pulang dulu ya Mon, kamu istirahatlah biar Raka di jaga ayahnya." Lidya mengelus punggung Monic dengan sayang,  Monic menyalimi tangan Lidya dan berjalan menuju tuan Darmawan untuk menyalami juga.


"Baik tante, nanti Monic istirahat, tante sama om hati hati ya, dan terima kasih sudah berkunjung kemari."


"Apa yang kamu katakan, Raka itu cucuku, sudah sewajarnya aku kemari. Dimana keluargamu Mon," lanjut mamah Lidya. Karena semenjak berada di ruangan Raka, mereka tidak melihat kelaurga Monic.


"Di kos adik saya tan, tadi subuh saya menyuruhnya untuk istirahat di tempat Fatih."

__ADS_1


"Ah baiklah, kami pulang dulu ya jangan lupa makan ya. Dari pagi kamu belum sarapan." Monic hanya mengangguk sambil tersenyum.


Setelah kedua orang Tua Reno berlalu dari sana, Monic kembali duduk di kursi dekat pembaringan sang putra. Reno yang melihat itu menghebuskan nafasnya frustasi. Kenapa Monic masih saja menjaga jarak seperti ini.


"Awwww husttt" ringis Reno, Monic yang mendengar desisan Reno langsung berdiri dan berjalan menghampiri, "apa anda kesakitan??"


"Iya, sakit banget." Bohong Reno, Reno berharap Monic mau mengobatinya atau setidaknya duduk di sebelahnya untuk mengajaknya mengobrol.


"Kalau begitu saya akan memanggil prawat biar di obati lembam di wajah anda." Monic berbalik dan berjalan menuju pintu, baru mau pengang gangang pintu, Reno sudah memegang terlebih dahulu lengan Monic.


"Kalau prawat yang harus mengobati lembam di wajahku, mending tidak perlu, aku bisa mengobati lukaku sendiri." Reno melepas tangannya dari lengan Monic. Monic yang melihat raut kecewa di wajah Reno merasa bersalah.


"Permisi mb, apa saya bisa meminta air es."


"Untuk apa Nyonya?"


"Untuk mengompres lembam di wajah"


"Baik nyonya tunggu sebentar," susterpun berlalu dari sana untuk mengambil air es, tidak lama susterpun kembali dengan baskom di tangannya dan menyerahkan pada Monic.

__ADS_1


"Terima kasih mb" Monic menerimanya dan berlalu dari sana.


Monic masuk kedalam kamar rawat Raka dan melihat Reno sudah terlelap di sofa. Monic berjalan mendekat dan memandang wajah Reno dengan dalam.


"Hufff kasian sekali Reno, wajahnya sampai seperti ini, apa yang terjadi pada Reno, tapi aku juga tidak berani bertanya, apa hakku bertanya." Gumam Monic.


Monic duduk di dekat Reno dan mulai mengompres wajah Reno. Reno sebenarnya sudah terbangun ketika ada suara pintu di buka. Hanya saja Reno sengaja tidak membuka matanya.


Reno menikmati kompresan dari tangan Monic. Reno bersyukur mendapatkan bogeman dari om Mahendra setidaknya Monic yang merawat lembamnya kali ini


Tidak lama Monic slesai mengompres wajah Reno, Monic masih betah duduk di bawah dekat wajah Reno sambil memperhatikan wajah tampat yang masih bertahta sempurna di hatinya. Pelan pelan Monic mengelus wajah Reno yang masih tertidur. Monic menyusuri wajah Reno.


"Cintaku masih begitu besar padamu Ren, andai kamu tidak menorehkan luka sedalam ink Ren. Mungkin aku masih bisa bertahan. Andai kamu mencintaiku dengan tulus mungkin aku akan menjadi wanita yang sangat bahagia Ren, tapi yasudahlah semua sudah berlalu. Semoga kamu bahagia dengan wanita yang akan menjadi istri kamu. Aku tidak sejahat itu untuk menyakiti prasaan wanita lain. Lirih Monic. Monic berdiri dan menuju kamar mandi untuk menaruh baskom tadi.


"auww..." Monic terkejut ketika keluar kamar mandi tiba tiba di peluk dengan erat oleh seseorang, dan sudah pasti orang itu Reno, karena memang Reno yang ada di sana.


"Ren..."


"Hust biarkan seperti ini dulu, aku sangat merindukanmu..." Monic diam mematung mendengar bisikan Reno.

__ADS_1


__ADS_2